
Hari berikutnya.....
Selvi terbangun karena suara bel di pintu kamarnya. Dia membuka pintu dan melihat Alex berdiri di depan pintu m. Selvi berpikir jika dia sedang bermimpi. Dia pun kembali menutup pintu itu.
Wajah Alex tampak murka dan dia kembali mengetuk pintu seraya berteriak pada Selvi.
"Selvi..... buka pintunya."
Selvi masih terkejut. Dia mengusap matanya dan memukul kepalanya sendiri.
'Aku tidak bermimpi bukan? Itu benar-benar dia. Kenapa dia ada di sini?' Ucap Selvi dalam hati.
"Selvi, buka pintu sialan ini atau kau mau aku merusaknya." Teriak Alex.
Selvi menaruh tangannya di gagang pintu dan kemudian membukanya.
"Kenapa... kenapa kau ada di sini?" Tanya Selvi.
Alexander melihat dari atas ke bawah tubuh Selvi.
Selvi mengikuti pandangan Alex dan menyadari bahwa dia masih mengenakan sebuah piyama pendek.
__ADS_1
"Beraninya kau menutup pintu lagi." Ucap Alex.
Selvi berpura-pura tidak bersalah. Dia melihat ke arah Alex dan kembali bertanya padanya.
"Kenapa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" Tanya Selvi.
"Apa kau mau bicara di sini terus atau di dalam?" Ucap Alex.
"Kau tidak boleh masuk ke dalam kamar seorang wanita yang tidur sendirian." Ucap Selvi.
"Oh benarkah?" Ucap Alex.
Dia mendorong Selvi dan berjalan masuk ke dalam kamar itu. Selvi mengepalkan tangannya dan memarahi Alex dalam hati.
Alexander melihat ke arah ruangan kamar hotel itu. Kamar itu tidak terlalu buruk tapi juga tidak terlalu bagus. Kamar itu sederhana dan Alex tidak pernah tinggal di kamar seperti itu. Dia melihat sekeliling kamar itu melihat tanda-tanda adanya pria lain. Selvi hendak bertanya kepada Alex apa yang dia inginkan tepat saat ponselnya berdering. Dia lalu berjalan ke arah meja dan mengambil ponselnya.
"Vi, aku minta maaf. Aku harus kembali sekarang. Ada sesuatu yang salah dengan produksinya." Ucap Alena.
"Apa yang terjadi? Kau tunggulah aku. Aku akan ikut denganmu." Ucap Selvi.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku sudah berada di bandara dengan Dani. Kami sudah akan terbang. Aku akan menelpon mu nanti." Balas Alena. "Tapi walaupun kau mau datang kau tetap tidak bisa menyusul kami." Ucap Alena lagi.
__ADS_1
Selvi melihat ke arah jam dan semua yang dikatakan Alena memang benar.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil penerbangan berikutnya. Hati-hati, dan biarkan aku tahu apa yang terjadi setelah kau mengetahuinya." Ucap Selvi.
"Baiklah." Balas Alena.
Selvi menutup sambungan telepon dan tetap terdiam beberapa saat.
'Aku harus berkemas sekarang.' Ucap Selvi dalam hati.
Setelah itu Selvi mulai mengambil kopernya dan mulai menaruh pakaiannya. Dia benar-benar tidak menghiraukan Alexander. Dia mengingat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor Ferry. Setelah tersambung dua kali, Ferry akhirnya mau mengangkat telepon itu.
"Ferry, apa kau masih tidur? Alena dan Dani sudah pergi. Aku akan menyusul mereka di penerbangan berikutnya. Bagaimana denganmu?" Ucap Selvi.
"Maaf aku baru saja bangun." Ucap Ferry.
"Apakah Nisa bersamamu?" Tanya Selvi.
"Iya, semalam dia datang. Aku sudah menerima pesan dari Alena. Aku akan tetap berada di sini semalam lagi dan akan kembali bersama dengan Nisa." Ucap Ferry.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali lebih dulu. Sampai bertemu lagi dan berikan salam ku kepada Nisa." Ucap Selvi.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, telepon aku saat kau sudah sampai." Ucap Ferry.
Bersambung...