Sang Istri

Sang Istri
Curhat Pada Alena


__ADS_3

Selvi berada di dalam sebuah kafe bersama dengan Alena. Dia terlihat sangat kacau saat ini. Dia menyandarkan kepalanya di meja sementara Alena pergi memesan kopi dan beberapa kue.


"Ada apa dengan dirimu?" Tanya Alena seraya memberikan secangkir kopi kepada Selvi. "Kau terlihat sangat kacau. Kau terlihat seperti tidak tidur dengan nyenyak semalam. Lihat lah mata panda mu itu. Apakah pria itu begitu hebat semalam? Berapa banyak ronde yang kalian berdua lakukan semalam? Wow! Aku tidak menyangka bahwa dalam kencan pertama mu kau begitu kelelahan. Aku memberikan dua jempol ku kepadamu." Ucap Alena.


"Apa yang kau bicarakan? Aku di sini kelelahan dan kau malah bicara omong kosong." Ucap Selvi kesal.


"Apa maksud mu tidak ada yang terjadi semalam?" Tanya Alena.


"Tidak ada. Memangnya apa yang kau harapkan? Apa kau tahu siapa kencan buta ku itu?" Ucap Selvi.


"Siapa?" Balas Alena balik bertanya.


"Dokter Tomi." Ucap Selvi.


"Apa? Bagaimana bisa? Kenapa dia? Bukankah dia berkencan dengan Adriana?" Ucap Alena dengan raut wajah yang tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Selvi padanya.


Kemudian Selvi mulai menceritakan kepada Alena tentang semuanya.


"Jadi Opa David masih ingin kau menjadi istri dari cucunya?" Tanya Alena.


Selvi mengangguk. Alena kemudian mengambil kue dan memberikannya kepada Selvi.


"Makan lah lebih dulu. Kemudian ceritakan apa yang terjadi kepadamu semalam. Kenapa kau sampai terlihat sangat kacau seperti ini." Ucap Alena lagi.


"Semalam adalah malam tidak keberuntunganku." Ucap Selvi.


Selvi kembali mulai menceritakan kepada Alena bagaimana dia kedapatan menyumpahi Alexander dihadapan orangnya secara langsung. Alena yang mendengar hal itu sontak tertawa terbahak dengan ketidakberuntungan Selvi. Kemudian Selvi kembali melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana dia mendapati Alex yang marah dalam apartemennya, saat dia kembali ke apartemennya. Kemudian tentang Alex yang menyiksanya sepanjang malam.

__ADS_1


"Apa kalian berdua melakukan hubungan itu?" Tanya Alena.


"Tidak! Dasar gila! Dia itu membuatku membantunya bekerja sepanjang malam sampai jam 03.00 pagi hari. Lena dia mengatakan bahwa itu adalah hukuman karena aku sudah berbicara buruk tentang dirinya. Dia benar-benar pria brengsek dan badjingan." Ucap Selvi.


Selvi kemudian menyesap kopi yang ada di depannya.


"Aku tidak tahu kapan dia meninggalkan apartemenku. Aku begitu kelelahan jadi aku tertidur. Aku tidak tahu apapun, semua yang aku tahu adalah saat aku bangun, dia sudah pergi." Ucap Selvi.


"Bukankah hal yang normal bagimu untuk tetap terjaga sepanjang malam?" Tanya Alena.


"Iya memang benar bahwa aku sudah terbiasa bergadang. Tapi ini berbeda. Kau tahu, bekerja dengan mengatur file dan memasukkan data adalah pekerjaan yang paling membosankan. Kau tahu sendiri bahwa aku tidak menyukai hal itu. Maksudku, dia punya seorang asisten dan sekretaris. Tapi dia malah sengaja melakukan hal itu untuk menyiksaku." Ucap Selvi.


Selvi tidak mengatakan kepada Alena bahwa Alex juga menciumnya semalam.


"Vi, apa kau merasa aneh tentang sikap Alexander terhadapmu? Aku rasa Opa nya memang benar. Mungkin Alexander memang mulai menyukai dirimu. Itulah kenapa dia suka untuk membuat masalah denganmu." Ucap Alena.


"Omong kosong. Dia hanya ingin membully diriku. Dia merasa bahagia untuk selalu membuatku menderita dan marah." Ucap Selvi.


Selvi kembali merasa begitu marah saat dia mengingat tentang kejadian semalam.


"Jadi apa rencana mu sekarang? Tommy tentu saja tidak mungkin. Hmmmm.... Bagaimana jika kau bergabung dengan website kencan buta? Aku bisa mendaftarkan mu di sana." Ucap Alena serius.


"Tidak... tidak..." Ucap Selvi menggelengkan kepalanya.


"Atau kau bisa membawa Roy bersamamu dan memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihmu." Ucap Alena lagi.


"Tidak mungkin. Aku tidak mau menjadi skandal dengan dirinya. Jangan membawanya masuk ke dalam masalah ini." Ucap Selvi.

__ADS_1


"Tapi kau tahu dia menyukaimu." Ucap Lena.


"Itulah kenapa aku tidak mau memberikan harapan palsu kepadanya. Aku hanya memperlakukannya sebagai adikku saja." Ucap Selvi.


Alena menghela nafas.


"Oh kau benar. Bagaimana dengan Jack? Kau pernah menyukainya bukan? Mungkin masih ada kesempatan bagi kalian berdua." Ucap Alena lagi.


"Aku tidak bisa. Aku memang pernah menyukainya, tapi tidak sekarang. Aku hanya memperlakukannya sebagai temanku saja." Ucap Selvi lalu berdiri. "Aku harus pergi sekarang. Dani akan membunuhku jika aku tidak menyelesaikan pemotretan hari ini." Ucap Selvi.


...----------------...


Sementara itu di ruangan meeting...


Alex tengah mendengar stafnya membacakan laporan bulanan. Mereka tengah melakukan meeting bulanan. Bahkan walau Alex mendengarkan stafnya, tapi dalam pikirannya dia tengah memikirkan tentang Selvi.


Saat dia meminta Selvi untuk mengatur file miliknya semalam, Selvi terlihat begitu menggemaskan saat dia marah dan kesal. Tanpa Alex sadari, ada senyuman di wajahnya. Para staf yang melihatnya seperti itu, tampak terkejut. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat senyuman Alex yang seperti itu.


"Tuan..." Ucap asistennya.


Alex lantas kembali kepada kesadarannya.


"Baiklah selanjutnya kalian berikan saja laporannya kepada Leo." Ucap Alex kemudian dia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan pertemuan.


Dia kembali ke ruangannya. Dia duduk di kursinya dan melanjutkan menandatangani dokumen yang ada di hadapannya. Bahkan walau dia hanya tidur selama 2 jam semalam, tapi dia tidak merasa lelah sedikitpun. Mungkin karena semalam dia tidur dengan nyenyak.


Semalam setelah melihat Selvi tidur di atas meja, dia menggendong Selvi dan membawanya ke kamarnya. Kemudian dia keluar untuk membereskan semuanya. Setelah itu dia kembali ke kamar Selvi dan berbaring di samping Selvi. Dia pun menarik Selvi ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dia terlihat memeluk Selvi dalam tidurnya. Dia merasa begitu bertenaga saat dia bangun keesokan harinya dengan adanya Selvi di sampingnya, seolah Selvi adalah obat baginya.


Bersambung...


__ADS_2