
"KAU? Apa yang kau lakukan?" Ucap Selvi ingin melepaskan tangannya dari Alex.
Tapi Alex memegangnya dengan sangat erat.
"Lepaskan aku Alex." Ucap Selvi lagi.
"Tidak, kita harus bicara." Ucap Alex.
Alex membuka pintu belakang mobilnya dan mendorong Selvi masuk, kemudian dia juga ikut masuk. Setelah itu dia meminta sopir untuk membawa mereka menjauh dari rumah itu. Selvi tampak begitu marah.
"Apa yang kau inginkan? Aku rasa kita tidak punya apapun yang harus kita bicarakan." Ucap Selvi.
Wajah Alex tampak muram.
"Siapa kekasihmu itu?" Tanya Alex.
"Itu bukan urusanmu." Balas Selvi.
"Beraninya kau berkencan dengan seseorang." Ucap Alex lagi.
"Memangnya kenapa? Ngomong-ngomong itu bukan urusanmu. Ini adalah kebebasanku dan tidak ada hubungannya dengan dirimu." Ucap Selvi tegas.
__ADS_1
Mata Alex tampak dingin dan penuh kemarahan. Ekspresi yang tampak di wajah Alex jauh lebih marah lagi saat dia mendengar ucapan Selvi.
"Tidak ada urusan denganku?" Ucap Alex.
Selvi tiba-tiba tertawa.
"Tentu saja Tuan Alex." Ucap Selvi yang langsung mengangkat tangannya dan menutup mulutnya. "Maksudku Kakak."
Saat Alex mendengar Selvi memanggilnya dengan sebutan Kakak, wajah Alex jauh lebih marah. Rahangnya tampak mengeras.
"Hentikan mobilnya sekarang dan keluarlah." Teriak Alex memerintahkan kepada sopirnya itu.
Sopir itu lantas dengan cepat menghentikan mobil ke sisi jalanan dan dia ingin keluar dari dalam mobil. Tapi Alex menatap sopir itu dengan tajam dari kaca. Kemudian sopir itu duduk dengan diam setelah melihat mata Alex.
'Pria badjingan ini mau meninggalkan aku di area yang sepi ini.' ucap Selvi dalam hati.
Di dalam mobil, sopir melihat ke arah Selvi yang masih berdiri di tempatnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat wajah bosnya membuat dia tetap diam.
Sementara itu tatapan Alex tetap melihat ke arah Selvi.
'Wanita itu memiliki sifat yang begitu keras kepala.' pikir Alex.
__ADS_1
Alex sebenarnya berharap bahwa Selvi akan meminta maaf dan berbaikan dengannya setelah itu Alex akan mulai mengejar dirinya. Tapi Selvi memilih untuk berjalan keluar dari dalam mobilnya. Jadi kemarahan semakin memuncak dalam hatinya.
Dia kembali melihat ke arah wanita keras kepala yang berada di luar mobilnya itu. Melihat Selvi tidak memperhatikan dirinya, Alex pun tiba-tiba membuka mulutnya.
"Jalan." Ucap Alex kepada sopirnya.
Mobil itu dengan cepat pergi dari area itu. Selvi melihat ke arah mobil Alex yang sudah menjauh dan wajahnya tampak marah dan juga kesal. Matanya mulai memerah dan dia melihat ke sekeliling lagi. Kediaman keluarga Opa David jauh dari halte bis dan tempat itu juga jarang dilewati oleh taksi.
'Pria itu tidak punya hati hingga dia tega menelantarkan aku di tempat ini.' ucap Selvi dalam hati.
Selvi alu mengambil ponselnya dan mencari nomor yang familiar. Tiba-tiba orang yang berada di seberang telepon langsung menjawab panggilan darinya.
Setelah beberapa saat, Selvi mulai memeluk tubuhnya sendiri karena udara yang terasa begitu dingin.
Dani tengah berada di jalan untuk bertemu dengan temannya saat dia mendapat panggilan dari Selvi. Mengetahui kondisi Selvi, dia dengan cepat merubah arahnya untuk pergi menjemput Selvi. Sementara itu di dalam mobil Alex, sopir terus melihat ke arahnya dari cermin.
Dia ragu untuk membuka mulutnya dan saat dia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia mendengar suara dari bosnya itu.
"Putar balik." Ucap Alex.
Sopir itu merasa lega, jadi dia dengan cepat memutar balik mobil ke tempat awal di mana dia meninggalkan Selvi.
__ADS_1
Bersambung....