
Dua hari kemudian Selvi berada di studio foto. Saat ponselnya bergetar, dia dengan cepat mengangkat ponselnya dan melihat nama Opa David di layar. Dia tersenyum karena dia yakin bahwa Opa David pasti sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk memperingatkannya tentang kencan buta yang akan dilakukannya. Dia lantas dengan cepat membalas dengan menelpon balik Opa David.
"Iya Opa, aku tidak lupa. Sekarang aku sudah bersiap-siap untuk pergi." Ucap Selvi seraya melihat ke arah asistennya dan memberikan tanda kepadanya untuk membereskan semuanya.
"Iya Opa, aku akan melakukannya. Aku akan mengenakan gaun yang indah."
"Hmmm... Baiklah. Samai ketemu Opa." Ucap Selvi lalu menutup sambungan telepon dan menghela nafas.
Setelah itu Selvi mengambil tasnya dan berjalan keluar dari dalam studio foto. Saat dia mengendarai mobilnya, Alena menelpon dirinya.
"Kau ada di mana? Apa kau tengah ada di jalan pulang menuju rumah?" Tanya Alena.
"Yup. Ada apa?" Tanya Selvi.
"Aku ingin makan malam denganmu. Jack juga ikut." Balas Alena.
Selvi melihat ke arah jalanan dan membelokkan mobilnya ke kanan.
"Aku tidak bisa hari ini karena aku ada pertemuan dengan seseorang." Ucap Selvi.
"Siapa?" Tanya Alena.
Selvi tidak menjawab pertanyaan Alena. Dia fokus dengan menyetir.
"Oh aku ingat! Kau punya kencan buta hari ini.... hahaha." Ucap Alena mengejek Selvi.
Selvi hanya bisa menghela nafas. Alena menggodanya lagi..
"Kau harus mengenakan gaun yang indah dan membuat dirimu tampil sempurna. Aku mendengar bahwa dia adalah seorang dokter dan dia juga tampan. Wooow... Jangan lupa untuk mengambil gambar dirinya." Ucap Alena.
"Untuk apa?" Tanya Selvi.
"Aku akan membantumu untuk menilainya. Jika dia baik, kau bisa langsung berhubungan dengannya. Jika dia seksi, kamu bisa membawanya pulang ke rumah dan tidur dengannya." Ucap Alena.
"Otak mesum mu itu mulai lagi." Ucap Selvi.
__ADS_1
"Hai, bukankah Opa ingin kau menikah secepatnya dan pria ini juga cucu dari temannya. Jadi kenapa tidak?" Ucap Alena.
"Diam lah, aku sudah tiba di rumah. Bye....," Ucap Selvi.
Selvi merasa jika temannya itu sedikit gila. Dia pun menggelengkan kepalanya dan dengan cepat berjalan keluar dari dalam mobilnya saat dia tiba di apartemennya.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Selvi keluar lagi dan berkendara menuju sebuah hotel mewah. Dia langsung pergi ke restoran yang ada di dalam hotel itu. Setelah menanyakan tentang seseorang yang akan bertemu dengannya dalam ruangan privasi, pelayan pun membawanya ke sebuah ruangan privasi.
"Maaf aku terlambat." Ucap Selvi saat masuk ke dalam ruangan itu.
"Selvi? Apa itu benar kau?" Ucap pria itu.
Selvi mendengar sebuah suara yang familiar dan dia melihat ke arah pria itu yang ternyata adalah dokter Tomi.
"Dokter Tomi!" Ucap Selvi begitu terkejut.
Setelah itu, kemudian mereka berdua tertawa..
"Ayo duduklah lebih dulu." Ucap Tomi menarik sebuah kursi untuk Selvi.
"Bagaimana kabarmu Selvi? Ini sudah cukup lama. Kau jauh lebih cantik sekarang." Ucap Tomi.
"Iya memang sudah cukup lama kita tidak bertemu dokter Tomi." Balas Selvi.
Selvi masih saja tertawa.
"Aku tidak menyangka bahwa kencan buta untukku adalah dirimu dokter Tomy." Ucap Selvi kemudian pelayan membawakan makanan untuk mereka.
"Ini sangat lucu. Aku masih tidak percaya bahwa ini adalah dirimu dokter. Tidakkah kau masih di luar negeri? Sejak kapan kau kembali?" Tanya Selvi.
"Sudah cukup lama. Opa memintaku untuk kembali kemari. Bagaimana dengan dokter Adriana? Apakah dia ada di sini juga?" Tanya Selvi.
"Dia masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Tapi dia akan kembali secepatnya." Ucap dokter Tomi.
"Tunggu dulu. Jadi jika kau dan dokter Adriana tidak putus, kenapa kau ada di sini?" Tanya Selvi.
__ADS_1
'jangan bilang kau mau selingkuh darinya.' pikir Selvi.
Tomi hanya tertawa.
"Kami baik-baik saja. Sebenarnya aku bertemu dengan Opa David di rumah sakit. Dia adalah pasienku. Hari itu saat dia mengetahui bahwa Opa ku adalah temannya. Dia pun datang dan memintaku untuk membantunya. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia khawatir tentang cucu laki-lakinya dan cucu perempuannya. Dia mau mereka bersama, tapi cucu laki-lakinya menolak. Cucu laki-lakinya itu mengatakan bahwa dia tidak mencintai cucu perempuan Opa David. Namun, Opa David mengatakan bahwa dia tidak mempercayai hal itu. Jadi dia memintaku untuk datang dan melakukan kencan buta dengan cucu perempuannya untuk membuat cucu laki-lakinya itu cemburu. Sebenarnya aku sudah menolak hal itu. Tapi saat dia menunjukkan fotomu kepadaku, aku begitu terkejut. Aku tidak pernah menyangka bahwa cucu perempuannya adalah dirimu." Ucap Tomi.
Selvi tertawa saat dia mendengarkan penjelasan Tomi.
"Kau sangat baik. Tapi, apakah kau tidak takut jika orang yang akan kencan denganmu itu akan jatuh cinta denganmu dan mengambil mu dari dokter Adriana? Adriana akan membunuhmu. Apakah dia tahu tentang hal ini?" Tanya Selvi.
"Iya, Adriana tahu. Dia bahkan memintaku untuk memperkenalkan mu kepada kolega kami. Dia juga seorang dokter hebat." Ucap Tomi. "Jadi aku setuju untuk membantu Opa David dan juga mengambil kesempatan untuk bertemu denganmu dan oh iya, ini untukmu." Ucap Tomi.
Dia menaruh sebuah amplop di hadapan Selvi dan Selvi pun membuka amplop itu.
"Kau akan menikah? Wow! Selamat!" Ucap Selvi.
"Terima kasih. Tapi kau harus datang oke." Ucap dokter Tomi.
"Aku akan datang." Balas Selvi.
"Jadi bagaimana rencana kita sekarang? Apa kita akan terus melanjutkan akting kita seperti yang diminta oleh Opa David untuk melanjutkan rencananya? Sebenarnya Opa David tidak mau kau menikah dengan pria lain. Dia hanya ingin kau menjadi istri dari cucu laki-lakinya itu dan dia yakin bahwa cucunya itu mulai menyukaimu. Dia mengatakan bahwa dia bisa melihat perubahan yang ada pada cucunya dalam dirimu." Ucap Tomi.
"Opa David salah. Alexander tidak pernah menyukai aku." Balas Selvi.
"Selvi aku temanmu. Aku ingin kau menjawab ku sejujurnya. Apakah kamu menyukai Alex?" Tanya Dokter Tomi.
"Apakah aku menyukainya? Aku tidak tahu." Balas Selvi yang tampak bingung.
Tapi Selvi sendiri mengingat bahwa kapanpun dia berada dekat dengan Alex, dia selalu gugup, takut dan jantungnya berdetak kencang. Tapi dia juga merasa nyaman saat dia tidur dalam pelukan Alex. Dia suka dipeluk oleh Alex yang membuatnya merasa tenang di dalam hatinya. Tapi dia tidak mau mengakui hal itu.
Pada awalnya Selvi tidak menyukai Alex karena dia begitu arogan. Tapi setelah sering bersama dengannya beberapa kali, dia merasakan hal yang berbeda. Itulah perasaan sebenarnya yang ada dalam diri Selvi tapi bagaimana dengan Alex sendiri. Selvi tidak bisa memprediksi perasaan Alex kepadanya. Sikap Alex begitu berbeda terhadap dirinya. Kadang-kadang Alex begitu lembut, kadang-kadang Alex melihat ke arahnya dengan penuh kebencian dan sikapnya yang terlalu dominan terhadap dirinya juga terlalu berlebihan.
Selvi menghela nafas dan dia pun melambaikan tangannya.
Bersambung...
__ADS_1