
Saat mereka makan malam, Opa David melihat bibir cucu laki-lakinya. Kemudian dia melihat ke arah Selvi. Selvi menundukkan kepalanya dan atmosfer di meja makan cukup sunyi.
Papa Alex dan istrinya tengah pergi liburan. Jadi hanya ada mereka bertiga di dalam rumah itu.
Setelah makan malam Selvi pergi ke kamarnya di sisi lain Alex tengah dipanggil oleh Opanya pergi ke ruangan belajar.
"Apa yang terjadi di antara kalian berdua? Dasar pria brengsek! Apa yang terjadi terhadap orang tuamu, tidak ada hubungannya dengannya. Dia tidak bersalah. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal suatu hari nanti."
Setelah dimarahi oleh Opanya, Alex kembali ke kamarnya. Alex berbaring di atas tempat tidur, tapi dia tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan wajah Selvi. Mata Selvi yang tampak marah. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya.
'Apakah dia menyukai Selvi atau tidak?'
Saat Opa David bertanya tentang pertanyaan itu kepadanya. Dia tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya. Pak David mengatakan kepadanya untuk menjauh dari dia tidak mencintai Selvi biarkan Selvi menjalani hidupnya sendiri.
Opa David ingin Alex bersikap seperti kakak pagi Selvi. Tapi Alex tidak bisa. Dia tidak bisa memperlakukan Selvi sebagai adiknya. Dia tidak bisa membiarkan Selvi menjalani hidupnya sendiri. Jika Selvi menikah dengan pria lain, maka Selvi akan menjauh darinya.
Alex tidak menginginkan hal itu. Dia hanya ingin Selvi berada di sisinya. Dia tidak bisa membiarkan seseorang membawanya pergi, bahkan walau tidak ada cinta di antara mereka.
...----------------...
Hari berikutnya...
Mereka berdua meninggalkan kediaman Opa David bersama. Alex mengantar Selvi ke tempat bekerjanya sebelumnya. Selvi keluar dan Alex memegang tangan Selvi. Dia mengusap rambut Selvi dengan lembut.
"Aku akan menjemputmu setelah bekerja."
"Apa?" Ucap Selvi tampak terkejut.
Dia pikir bahwa dia salah dengar.
"Aku akan ada di sini jam 06.00." Ucap Alexia melihat ke arah jam yang ada di tangannya setelah Selvi keluar dia pun mengendarai mobilnya pergi.
Selvi tampak terdiam dan dia tidak berjalan sedikitpun sampai mobil Alex menghilang. Alex yang mengendarai mobilnya melihat wajah Selvi yang tampak melongo dan menemukan hal itu tampak menggemaskan. Dia bahkan tersenyum melihat wajah membingungkan Selvi.
Selvi begitu sibuk sepanjang hari. Dia bahkan lupa tentang apa yang dikatakan oleh Alex.
Saat dia berjalan keluar dari dalam studio setelah bekerja, dia melihat sebuah mobil mewah berada di luar studio dan itu adalah mobil Alex. Sopir berdiri di samping mobil menunggu dirinya.
Alex memang benar-benar menjemput dirinya.
__ADS_1
Sopir melihat Selvi dan memanggil Selvi.
"Nona Selvi. Tuan Alex menunggu Anda di dalam mobil."
Leo membuka pintu belakang untuk Selvi. Selvi pun masuk kemudian. Sopir menjalankan mobil menjauh dari studio tempat Selvi bekerja.
Di dalam mobil Alex tengah sibuk membaca dokumen. Selvi melihat ke arahnya dan dia merasa dia ingin meninjau wajah Alex.
Dia mencoba untuk menurunkan emosinya dan mengalihkan kepalanya ke sisi lain. Selvi tampak terdiam. Dia tidak mau mengganggu Alex..
Beberapa saat kemudian m, mobil berhenti di depan sebuah restoran. Sopir membuka pintu untuk Alex dan Selvi.
Alex membuka kancing jasnya dan berjalan masuk ke dalam restoran.
"Ayo makan lebih dulu."
Selvi benar-benar ingin meninju wajah Alex. Dia hanya bisa mengikuti Alex masuk ke dalam restoran. Tampak seorang manajer datang dan menyapa Alex.
"Tuan Alexander, ruangan privasi Anda sudah siap."
Alex hanya mengangguk dan mengikuti manajer dari restoran itu.
Tepat saat Selvi menaruh makanan di mulutnya, Alex tiba-tiba berkata, "Ayo kita menikah...."
Selvi begitu terkejut dan hampir tersedak dia pun terbatuk. Alex memberikan minuman untuknya. Setelah Selvi tenang dia melihat ke arah Alex dan bertanya.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
Alex lantas mengulang kalimatnya lagi.
"Ayo kita menikah..."
Selvi menunjuk ke arah dirinya dan Alex.
"Sapa? Kita menikah? Apa kau makan sesuatu yang salah Ucap Selvi.
Alex melihat ke arah sikap Selvi yang mengejek dirinya. Wajahnya mulai murka. Dia mencoba untuk menahan emosinya.
"Aku serius." Ucap Alex.
__ADS_1
Selvi melihat ke arah Alex dan berhenti makan.
"Kenapa?" Tanya Selvi.
"Karena Opa.," Balas Alex.
Di masa lalu Alex menolak Selvi dan sekarang dia ingin menikah dengan Selvi.
'Apakah dia pikir pernikahan adalah sebuah permainan?' pikir Selvi.
"Tidak. Kenapa aku harus menikah denganmu?" Ucap Selvi menolak Alex.
Alex berusaha menahan amarahnya dan berkata dengan tajam.
"Selvi, kau harus menikah denganku." Ucap Alex.
"Siapa yang mengatakan itu?" Tanya Selvi.
"Aku!" Ucap Alex.
"Kau sendiri? Kenapa aku harus mendengarkan mu?" Tanya Selvi lagi.
"Karena aku adalah suamimu." Balas Alex.
"Suami?" Ucap Selvi lagi.
"Kau sudah menjadi milikku 4 tahun yang lalu." Ucap Alex santai.
Wajah Selvi dipenuhi kemarahan. Dia berdiri dan berkata kepada Alex.
"Terima kasih untuk makan malamnya." Ucap Selvi.
"Selvi kau mau pergi ke mana? Kita belum selesai bicara." Ucap Alex.
"Aku sudah mengatakan tidak kepadamu." Ucap Selvi.
Dia lalu mengambil tasnya dan berlari keluar dari dalam restoran itu.
Bersambung....
__ADS_1