Sania

Sania
17


__ADS_3

Sania turun dari ojek online pesanannya kemudian berjalan masuk kekantor.


Dilihatnya kantor masih sepi karena masih pukul setengah 8, aktifitas kantor dimulai pukul 9.


Sania memasuki kamar mandi, didepan cermin dia kembali melihat bercak bercak merah dilehernya, hasil karya Fadhil.


Tak cuma satu ada beberapa yang terlihat dan terpaksa Sania menggunakan syal untuk menutupi lehernya.


"Siallll, jijik banget gue liatnya " gumam Sania sambil melilitkan syal dileher sania.


Dibukanya hp sania, ia mengirim kan pesan pada fadhil dan terlihat tersenyum puas.


"Dia udah nggak akan bisa ngancem gue lagi" ucap Sania didepan cermin sambil tersenyum, kemudian keluar meninggalkan toilet.


Sania berjalan menuju ruangan kerjanya dan tak sengaja bertemu dengan sahabat nya Yaya.


"Ehh ngapain loo pake ginian"tanya Yaya sambil memegang syal sania.


"Emm anu gue lagi nggak enak badan makanya pake ginian biar anget, iyaa nggak enak badan" ucap Sania ragu dan membuat Yaya sedikit heran.


"Masa sih sakit padahal keliatannya loe  seger seger aja tuh" ucap Yaya sambil memegang dahi Sania.


"Ehh itu kepala gue pusing iyaa pusing badan gue juga tadi ngerasa dingin " ucap Sania dengan nada gugup.


" Ya udah lah ya kalo Lo emang sakit nggak kuat istrirahat aja nggak usah dipaksain kerja " ucap Yaya


"Iyaaa iyaa , siap mbak broo, ya udah ya gue duluan ya " ucap Sania meninggalkan Yaya yang masih heran dengan perilaku sahabatnya itu.

__ADS_1


Yaya merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu karena Sania itu tipe cewek yang simpel dalam berpakaian nggak ribet sampai harus mengenakan syal ataupun topi.


Tapi ya mungkin selera Sania sudah berubah, pikir Yaya.


Setelah memasuki ruangannya Sania sedikit lega karena terbebas dari segala pertanyaan Yaya.


" Untung aja Yaya nggak curiga, Fadhil sialan bikin gue kayak gini" gumam Sania sambil mengepalkan tangan nya .


Sania mulai bergelut dengan tumpukan berkas yang sudah ada di ruangan nya. Hingga bunyi telepon menghentikan aktivitas kerja nya.


" Sania Aruan keruangan saya segera". Ucap pak Kevin atasan Sania lewat telepon.


"Baik pak " jawab Sania dan menutup telepon.


Diliriknya jam tangan nya masih pukul 10 pagi, kok tumben banget udah dipanggil aja sama pak bos, batin Sania sambil berjalan menuju ruangan CEO .


" Permisi pak, bapak memanggil saya" ucap Sania sambil berjalan mendekati meja Kevin.


Brakkkk


Terlihat kevin melempar kan setumpuk berkas dimeja depan sania berdiri, Sania sedikit tersentak.


" Kamu ini kerja disini udah berapa lama, niat kerja nggak , masa ngurusin dokumen kayak gitu aja masih aja salah gimana sih nggak becus banget" ucap Kevin dengan nada tinggi dan marah .


"Maaf pak , saya akan perbaiki" ucap Sania sambil mengambil berkas diatas meja.


" Saya nggak mau tau kamu harus selesaikan hari ini, jangan harap kamu bisa pulang Sania aruan kalau kerjaan kamu ini nggak selesai" ucap Kevin dengan nada dingin dan ketus.

__ADS_1


"Baik pak, saya permisi, sekali lagi saya minta maaf" ucap Sania sambil berlalu meninggalkan ruangan kevin.


Kevin masih terlihat emosi, dia mengendurkan dasinya kemudian menyadarkan kepalanya dikursi yang ia duduki.


Pikiran nya melayang, membayangkan apa yang sudah dilakukan Sania tadi malam dengan mantan brengsek Sania itu.


" Cewek bodoh, bener bener bodoh" gerutu Kevin sambil mengepalkan tangan nya.


Sania memasuki ruang kerjanya , meletakkan semua berkas yang ia bawa dari ruangan bos nya itu, Sania sedikit heran dengan perlakuan bosnya itu, tidak seperti biasanya.


Separah apapun sania membuat kesalahan tidak pernah melihat bosnya Semarah itu .


Apalagi hanya masalah berkas salah sepertinya itu sudah biasa bagi Sania dan bos nya tidak pernah Semarah itu bahkan sampai membentak2 Sania seperti tadi .


Sania duduk dan memijat pelipisnya.


" Duh bener bener sial gue hari ini" gumam Sania.


Mungkin si bos lagi patah hati apa ditolak cewek jadinya galak minta ampun batin Sania kemudian mulai membuka berkas berkas yang dinilai salah oleh bosnya itu.


Sania heran berkas yang ia bawa dari ruangan bosnya itu sama sekali nggak ada yang perlu diperbaiki karena memang nggak ada kesalahan.


Sania membolak-balik kan lagi berkasnya hingga berkas yang terakhir masih sama nggak ada satu kesalahan pun. Dibukanya berulang ulang dan diteliti dengan benar memang berkas nya nggak bermasalah.


Sania sedikit frustasi.


" Gila apa ya si bos " batin Sania sedikit emosi. Kemudian merapikan semua berkasnya. Dan menidurkan kepalanya diatas meja karena merasa pusing dan frustasi dengan tingkah laku bosnya itu .

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2