
Di sebuah tebing yang menjorok ke lautan, pukul 10 malam, dengan pistol ditodongkan ke kepala, mana mungkin Alicia bisa tenang meskipun Bryan terus berkata jika ia akan menyelamatkannya. Padahal Bryan sendiri sedang ditodong pistol juga dari belakang, dipaksa menandatangani sebuah surat perjanjian.
Sudah 15 menit Alicia dengan tangan terikat ke belakang dan mulut disumpal kain bau berdiri dekat sekali dengan bibir tebing. Satu dorongan kecil saja bisa membuatnya benar benar terjatuh di kegelapan sana.
Suara ombak menabrak karang terdengar seperti nyanyian kematian. Angin bertiup kencang seolah ingin mendorong Alicia agar laut dapat memeluknya, menjadikan gadis itu bagian dari keindahan misterius dari kegelapan abadi. Atau malah, itu suara panggilan kematian dari hiu yang lapar? Yang sudah menunggu gumpalan daging jatuh dari langit.
Alicia menarik napas panjang. Berusaha menetralkan pikirannya yang kacau dan deru napasnya yang tersengal.
Apa benar pilihannya hanya mati? Apa benar Bryan ingin ia mati?
"Emb... emmm...." air mata gadis itu mengalir deras. Ia tidak tahu surat perjanjian apa yang bisa membuat Bryan begitu lama berfikir. Bahkan laki laki itu sudah beberapa kali dipukuli agar lekas memberikan tanda tangan. Tapi tetap saja enggan, keras kepala menolak.
Bryan menghembuskan napas panjang, menatap mata coklat Alicia yang meminta pertolongannya. Ia sangat ingin menyelamatkan gadis itu, bahkan meskipun Bryan ternyata memang tidak mencintainya, Bryan tetap harus menyelamatkannya, sebagai bentuk tanggung jawab terakhir. Mengembalikan gadis itu ke orang tuanya dan memohon ampun karena melibatkannya ke masalah yang serius seperti ini.
Tapi Bryan tidak mau menandatangani surat menyerah atas hak waris, ia sudah menyiapkan segalanya selama 3 tahun terakhir ini. Bagaimana mungkin masa masa sulitnya melawan para pembunuh bayaran, tidak pernah tidur hingga jatuh sakit, dan perjuangannya menemukan orang orang hebat akan ia buang begitu saja?!
Bryan kembali menatap mata Alicia. Lebih berharga mana gadis itu dengan ambisinya?
Tidak! bukan itu itu masalahnya, begitu Bryan menandatangani perjanjian tersebut, tidak ada jaminan bahwa mereka akan membiarkan Bryan dan Alicia lolos. Lebih masuk akal mereka akan mendorongnya dan Alicia ke laut seolah olah mati bunuh diri.
Kenapa begitu? Tentu saja karena sejak awal rencananya memang begitu. Alicia adalah saksi hidup jika surat perjanjian ini dilakukan dengan paksaan maka Bryan bisa mengajukan pembatalan. Sedangkan untuk Bryan sendiri, ia adalah ancaman besar, baik statusnya maupun kecerdasannya. Maka sejak awal para pembunuh itu memang ditugaskan untuk melenyapkan ancaman tersebut.
Secerdas apapun, bukankah mayat tidak bisa bersaksi?
Namun sejujurnya Bryan sadar jika ia tidak bisa apa apa, di belakangnya ada 3 orang, dua diantaranya memegang senjata. Di dekat Alicia ada 4 orang, dua memegang senjata dan dua lainnya memegang bahu gadis itu.
Menurut atau tidak hasilnya adalah game over.
"Emmbbb..." Alicia menatap Bryan, memohon.
Tangan Bryan bergetar, tidak ia tidak bisa!
'Maaf, Alicia'
Bryan membuang bolpoin yang ia pegang.
*DOR
pelatuk pistol yang dekat sekali dengan Alicia ditarik.
"EEMMBB.... HIKS.... HUUUU..."
Sebuah tembakan tepat di depan mata Alicia membuat gadis itu bergetar, semakin ketakutan. Mata Alicia memerah, wajahnya pucat pasi membayangkan peluru itu menembus dagingnya. Kakinya kehilangan tenaga hingga jatuh terduduk di tanah.
Apalagi tembakan itu sangat dekat dengan telinganya, membuat telinga gadis itu berdenging nyaring, kepalanya langsung sakit dan tidak bisa berfikir jernih lagi.
Dua orang menarik rambut Alicia untuk memaksa gadis itu kembali berdiri, tanpa ampun meskipun dengan wanita sekalipun. Karena mereka adalah seorang profesional.
Kali ini tatapan mata Alicia bukan lagi memohon agar Bryan menolongnya. Tapi tatapan penuh kebencian. Apakah Bryan memang begitu membencinya pula hingga ingin ia mati?
Alicia bukan gadis yang berfikir panjang. Maka dia jelas sekali tidak paham jika dilakukan tidak dilakukan hasilnya sama sama kematian.
"Tanganku meleset, tuan muda Damian. Tapi kali ini tidak akan terjadi lagi." laki laki separuh baya itu mengancam.
*Klak klak
Peluru baru dimasukkan.
Bahkan sekarang Bryan tidak berani menatap mata Alicia.
__ADS_1
"Anda bersedia mengambil bolpoinnya atau saya akan mencoba peluru kedua, tuan muda?" suara itu penuh penekanan. Dari seorang pembunuh berusia lebih dari 40 tahun. Mengetuk ngetuk kepala Alicia menggunakan pistol miliknya. Alicia hanya bisa berdoa, sembari menahan gejolak takut dan benci di hatinya. Air matanya banjir, gadis hanya bisa pasrah.
Ia berjanji tidak akan ke klub lagi.
Ia berjanji akan rajin belajar dan menjadi anak yang patuh dengan orang tua.
Ia berjanji akan menghargai setiap waktu dan nafas yang dianugerahkan Tuhan untuknya.
Alicia belum mau mati. Ia tidak mau. Siapapun itu, bahkan meskipun ia harus meminta pertolongan pada hantu penunggu tebing di sini. Siapapun itu, tolong...
...****************...
"Ini mobil Bryan." gumam Areka.
"... Naik ke tebing... cepat!"
"Iya iya aku tahu."
Areka mendengus, sejak tadi orang yang ia gendong terus menyuruh nyuruhnya seperti seorang babu.
"Kau benar benar beban! Seharusnya orang sakit tidak usah ikut. Padahal aku sendiri cukup kalau hanya berurusan dengan manusia." sungut Areka. Dengan kecepatan penuh menaiki tebing yang terjal sembari menggendong Ken di punggungnya.
Sebenarnya Areka tidak peduli pada makhluk klan iblis ini. Tapi Ken menawarkan sesuatu yang tidak bisa Areka tolak. Janji klan iblis seperti sumpah harga diri, Areka tahu jika Ken tidak mungkin mengkhianati sebuah kesepakatan.
Dan kesepakatannya sederhana, Areka hanya harus membawa Ken kepada Alicia.
Sementara Ken sendiri sudah hampir selesai melakukan regenerasi tubuhnya sendiri. Hanya tinggal memperbaiki organ dalamnya saja, yang penting luarnya tidak mengeluarkan darah saja sudah cukup untuknya bertemu dengan Alicia.
"Kau tahu, di sepanjang jalan ini ada mayat baru."
Ken mengangguk. Ia juga mencium bau darah segar. Tapi karena banyak pepohonan, sinar purnama tidak bisa masuk. Ken juga menghemat mana sihirnya, ia tidak berusaha melihat mayat yang bergelambir di pepohonan.
Jantung Ken berdegup dengan kencang, rasanya benar benar tidak nyaman. Ia tiba tiba memaksa turun dari punggung Areka.
"Hei kenapa? Apa yang terjadi?" Areka bertanya.
*Deg
*Deg
*Deg
Ken sudah berlari, melompat ke atas dahan pohon, terus mempercepat kakinya untuk sampai di atas tebing.
"Alicia..." gumam Ken, mencengkeram dadanya yang sakit.
Sesuatu sudah terjadi pada gadisnya.
50 detik saja Ken sudah sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah tebing dari ujung hutan kecil di atas laut lepas. Cahaya purnama dapat menyinari tempat itu tanpa terhalang apapun.
Tapi Alicia tidak di sana. Pertarungan sudah selesai, bantuan dari orang orang Bryan datang 5 menit yang lalu, langsung menembaki orang orang yang mencoba membunuh tuannya. Bryan berhasil selamat dari maut.
Sedangkan Alicia yang berada di ujung tebing kehilangan keseimbangan karena dua orang yang memeganginya ditembak dari jarak jauh. Gadis itu jatuh, terjun bebas ke laut lepas.
Menyisakan Bryan yang terduduk lemah di dekat tebing. Tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Alicia. Kalaupun Bryan jago berenang, laut di bawah sana sedang ganas ganasnya menyambut purnama, kedalaman dan kegelapannya saja sudah tidak masuk akal untuk dicoba. Jika ia gila dan memaksa untuk menolong tunangannya itu, yang ada mereka akan mati berdua.
Benar, Bryan tidak salah, keputusannya tidak salah. Setidaknya salah satu dari mereka masih hidup, setidaknya ia masih hidup.
Benar, Bryan berfikir besok saja ia sendiri yang akan mencari mayat Alicia. Bryan berdoa supaya gadis itu memaafkannya.
__ADS_1
Itu adalah pilihan paling logis yang terpikirkan oleh otak Bryan. Heyy orang gila mana yang mau masuk ke tengah laut di tengah malam begini?!
Ken!
Orang gila itu adalah Ken.
Tanpa pikir panjang, begitu melihat gadisnya tidak ada di sini Ken melompat, melewati tubuh bergetar Bryan yang hanya pasrah oleh keadaan.
"Aku datang, Alicia... Aku sudah di sini..." gumam Ken.
*BYURR !
Ken menutup matanya, berkonsentrasi penuh untuk menggunakan pendengarannya saja. Sedetik ia sudah bisa menemukan keberadaan Alicia, Ken segera berenang semakin dalam ke lautan. Sayangnya bukan hanya Ken yang berenang mendekati gadis itu, tapi sang penunggu tempat juga sudah mengincar gadisnya. Tubuh Alicia berdarah, itu benar benar mengundang nafsu makan sang predator lautan.
Ken jauh lebih cepat dari hiu itu, tapi Hiu itu lebih dekat dengan Alicia.
Sebelum sang hiu menusukkan gigi tajamnya pada Alicia, Ken berhasil menarik tangan gadisnya untuk menghindar. Ken memeluk erat tubuh dingin Alicia, menempelkan telinganya pada dada gadis itu.
Sedangkan di depannya, hiu masih mengejar, tidak mau membiarkan mangsanya lolos begitu saja.
Bukannya berenang menghindar Ken malah santai tersenyum. Ia tiba tiba ingat percakapannya saat pertama bertemu dengan gadis itu.
"Ken, kau bisa memanggilku Ken. Kau mau bersenang senang sekarang Alicia?"
"Tentu saja Ken. Ayo kita mulai dengan berselancar!"
"Haha, gadis yang berani, kau tidak takut hiu?"
"Bukankah kau akan menjagaku, Ken?" Alicia menatap manja.
"Aku akan membuat sate hiu jika mereka berani menampakkan diri di depanmu, nona."
Ken mengangkat tangannya ke depan.
'Aku akan membuatkan sate hiu terenak untukmu, nonaku.' ujar Ken dalam hati.
Hiu itu berenang dengan sangat cepat, mulutnya terbuka lebar menampakkan runcing runcing giginya yang kuat mengoyak besi sekalipun.
Sayang sekali hiu itu salah paham, jika ia seekor predator lautan. Orang yang hiu kira mangsanya ini adalah makhluk yang pernah berada di pucuk dunia, makhluk dengan kekuatan tertinggi baik di darat maupun air.
Ken hanya perlu Mengibaskan tangannya untuk membuat gelombang besar yang mendorong sang raja lautan itu jauh darinya sejauh mungkin dan akan terus menjauh. Hiu itu tersadar jika ia layaknya ikan teri bagi sang pemilik kekuatan terhebat.
...****************...
Ken menekan nekan dada Alicia, berusaha mengeluarkan air dari dalam sana.
Hanya butuh 3 kali tekanan Alicia sadar, terbangun dan terbatuk hingga muntah. Tubuhnya masih lemas, dada dan tenggorokannya sakit, panas. Tapi ia masih hidup!
"Hok... ohok! ohok!"
Ken menepuk nepuk punggungnya. Syukurlah, syukurlah...
"Haah... Haa..." Nafas Alicia tersengal. Gadis itu belum sadar jika yang menolongnya adalah seseorang yang paling ia tunggu. Alicia kembali berbaring, kepalanya masih sakit dan berputar putar, pandangannya mengabur, telinganya berdenging nyaring karena kemasukan banyak air. Ia belum punya tenaga untuk sekedar tahu siapa malaikat penolongnya ini
Ken tersenyum.
"Aku akan mencabut kata kataku yang bilang kalau manusia itu mudah mati." Ken merengkuh tubuh lemah Alicia. Memeluknya erat. Syukurlah Syukurlah... sedangkan gadis itu malah tertidur. Alicia teramat lega karena bisa menghirup udara lagi, namun ia juga sangat lelah di saat bersamaan.
"Iya, tidak apa apa, istirahatlah. Aku akan menjagamu." Ken mengecup lembut kening gadis itu.
__ADS_1
"Selamat tidur, Alicia."