Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
24. Jangan menangis


__ADS_3

"Haa... Syukurlah... masih sempat." suara berat itu dekat sekali dengan telinga Alicia. Tinggal sepersekian detik panah itu menghujam, ia menutup mata, memeluk erat tubuh hangat Alicia, mencium aromanya yang menenangkan.


"Alicia... kau ini gadis yang menyenangkan, lucu, dan cengeng. Jangan menangis ya." lirihnya.


Alicia dapat merasakan detak jantung yang semakin melemah saat panah putih masuk ke dalam tubuhnya. Badan yang penuh darah itu berat, membuat Alicia terjatuh.


"Ken... kau berat... Jangan bercanda begini dong... Cepat berdiri!" Alicia membentak, suaranya bergetar. Air mata sudah membasahi pipinya.


Cairan lengket dan hangat mengalir, Alicia memeluk erat tubuh dingin di atasnya. Menangis begitu keras sesaat tidak ada tanda tanda kehidupan lagi pada raga ini.


Elena dan Areka bertindak cepat. Sebelum rubah yang lain datang, mereka berdua berhasil menyeret Alicia dan tubuh Ken masuk ke dalam portal.


......................


Di tempat lain, yang begitu jauh, berada di hutan pedalaman Kanada, Rafaela jatuh terduduk. Mengenakan mantel, hujan mengguyur tubuhnya.


Ia memeluk lutut, pandangannya mengabur karena air matanya menggenang.


Ia yang sudah memberikan segalanya pada Ken tentu dapat merasakan sesuatu yang buruk itu.


"Segera... Segera setelah saya menemukan Dalius dan Helius saya akan kembali pada anda, lalu menagih hadiah pada anda... saya tahu jika anda bukan seorang pengecut yang mengkhianati janji..."


Rafaela mengusap air matanya yang jatuh. Kembali menegakkan kakinya.


"Bahkan meskipun menjadi zombie, anda harus bangkit dari kematian dan menepatinya."


Tugas dari sang lord harus tetap dituntaskan.


...****************...


Sudah lewat tengah malam. Alicia duduk bersandar pohon merah muda di dunia lain milik Elena, menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya yang lemas kehilangan tenaga.


Ia sudah lelah menangis. Kepalanya sakit, hatinya sesak.


Sedangkan Areka dan Elena membawa Ken ke dalam danau air ajaib. Menidurkannya di batu besar yang ada di sana.


"Ini sudah tidak bisa." gumam Elena. Ia tidak lagi merasakan tanda tanda kehidupan. Bahkan darah Ken saja sudah tidak mengalir. Air ajaib tidak bisa menghidupkan raga yang telah kehilangan sukmanya, air kehidupan hanya bisa melakukan regenerasi sederhana pada kulit dan daging. Membuat wajah dan tubuh berlubang Ken kembali utuh.


Areka mengepalkan tangan, ini salahnya.


Jika ia tidak meminta bantuan Ken, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Mereka tidak perlu pergi ke sarang rubah dan tidak perlu membuat Ken bertarung habis habisan sendirian seperti ini.


Ken juga benar, seharusnya mereka tidak melibatkan Alicia. Omong kosong soal naik level, manusia itu tetaplah beban. Ia juga beban, seharusnya mereka diam saja dan membiarkan Ken meledakkan semuanya dari jauh.


Tidak, seandainya Areka tahu ini yang akan terjadi, pasti ia tidak akan melibatkan Ken dan Alicia. Ia bisa menyusup ke sana bersama Elena dan membebaskan para manusia itu dengan kemampuan portal Elena.


Ada begitu banyak rencana. Kenapa ia sangat bodoh sehingga memilih rencana dengan resiko paling besar?!

__ADS_1


Areka merutuki dirinya sendiri. Ia egois dan keras kepala, tidak pernah mendengarkan pendapat Ken dan yang lain. Menjadikan Ken sebagai korban atas kepercayaan dirinya dan kesombongannya yang sudah diluar batas. Apanya yang jenius, ternyata ia sangat bodoh dan tidak berguna!


"Ini bukan salahmu. Ini keputusan Ken." Elena memeluk Areka yang hanya diam membisu menatap mayat di depannya. Jantung Areka berdetak kencang, Elena sangat mengenalnya, Areka adalah orang yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kemalangan orang lain.


Areka menepis tangan Elena. Mendekat pada Ken yang memejamkan mata seperti sedang tertidur pulas, menarik kerah bajunya.


"Hei iblis sialan! Seorang monster sepertimu tidak mungkin mati semudah ini kan?! Bangun b*ngsad! Kau belum membuat kontrak tapi sudah berani meninggalkan Alicia, dasar pecundang!" Areka berteriak, mengguncang guncangkan tubuh tak bernyawa itu. Menampar pipinya berkali kali. Percuma, tubuh itu sudah dingin, wajah pucat nya sama sekali tidak memerah.


"Sialan!" Areka memukul batu tempat Ken dibaringkan.


Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Elena memeluk kepala Areka, membelai lembut. Gadis itu bisa merasakan betapa sakitnya hati Areka. Perasaan bersalah dan tidak berdaya tercampur menjadi sebuah titik gelap yang pedih.


Elena paham sekali apa yang terjadi. Meski awalnya Areka membenci Ken yang sejatinya seorang klan iblis, Ken adalah seseorang yang telah 2 kali menyelamatkannya. Ken adalah iblis aneh yang entah kenapa memiliki perasaan lembut yang begitu misterius. Mampu membuat Areka nyaman dan mempercayainya.


Elena mengetahui beberapa masa lalu Ken yang begitu kejam dan sadis. Sangat benar jika Ken disebut sebagai iblis berdarah dingin, yang mampu membunuh tanpa ekspresi. Tapi Ken yang sekarang berbeda, Elena dapat merasakan ada perasaan kasih dalam dirinya, begitu tulus dan putih.


Ironi bukan? Perasaan sayang paling tulus ditemukan pada makhluk yang paling hitam, yang tinggal di tempat gelap paling gulita.


"Aku minta maaf tidak bisa berbuat apapun." lirih Elena. Areka memeluk erat tubuhnya, menangis tanpa suara.


"Apa aku boleh tidur di sini?" terdengar suara parau seorang gadis yang kedua matanya merah bengkak.


Setelah lama menangis akhirnya Alicia mampu melangkahkan kakinya masuk ke dalam danau, dimana mayat Ken berada.


Areka mengalihkan mata, tak kuasa melihat wajah tanpa ekspresi Alicia.


"Tidak perlu, aku ingin berdua dengannya." mata Alicia menatap kosong. Elena benar benar merasa sedih melihatnya, tapi gadis itu mengangguk. Mengajak Areka untuk keluar dari danau air ajaib. Menyisakan Alicia sendirian, bersama dengan iblisnya.


Kaki Alicia melangkah mendekat, air ajaib ini sama seperti udara, bahkan lebih jernih dan nyaman.


Tangan Alicia membelai lembut wajah tampan Ken. Jemarinya bermain di hidung, mata, dan mulutnya yang putih pucat.


"Kau pembohong." lirih Alicia, tersenyum sendu. Ia baru sadar jika Ken yang tidak tersenyum begini terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.


"Kau bilang akan berada di sisiku selamanya."


"Kau bilang mau mengajakku kencan di tempat yang ingin ku kunjungi. Kau bilang mau membuatkan ku sate hiu." Alicia tertawa, mengingat saat pertama bertemu dengan Ken.


Gadis itu menangkup wajah Ken, lantas mencium lembut bibirnya.


"Haah... Tidak bekerja ya... Padahal kau seperti putri tidur. Ken, bukankah seharusnya kau bangun setelah mendapatkan ciuman..." Alicia tertawa hambar. Lantas tiduran di atas tubuh Ken, menyandarkan kepalanya di dada yang berhenti berdetak itu.


Kosong, tubuh itu kosong.


"Aku minta maaf karena sudah mengabaikan mu seharian ini." Alicia menggerakkan jemarinya di dada bidang Ken.


"Tapi kau menyebalkan sekali. Kenapa kau tidak bertanya padaku ha?! Kau tidak peduli, kau tidak khawatir kalau aku cuek seperti tadi?"

__ADS_1


"Aku kan ingin ditanya, ingin diperhatikan. Kenapa kau pura pura tahu dan membiarkanku saja, membuatku bingung dan bertengkar dengan pikiranku sendiri... kau tidak peka Ken bodoh! Pantas saja tidak ada gadis yang tahan denganmu. Hanya aku... Hanya aku yang membutuhkanmu."


"Baiklah tuan iblis, meski kau tidak bertanya aku akan menjelaskannya padamu. Haha... Aku baik sekali ya... baik baik begini aku single lo, kau bangun dong biar aku tidak dijodohkan dengan orang lain lagi." Alicia mendongak, melihat wajah Ken dari bawah, dagu Ken yang tegas, jakunnya yang menonjol, dan kulitnya yang putih bersih.


Gadis itu perlahan naik, menggigit leher Ken.


"Aku gadis nakal ya... Hukum aku Ken..." bisik Alicia.


Lagi lagi Alicia menangis tanpa suara, level menangis yang paling sakit. Lantas menarik napas panjang. Alicia menggenggam tangan Ken, menautkan jemari Ken pada jemarinya. Tertawa kecil menyadari betapa besar tangan itu. Tangan yang selalu merengkuhnya, memeluknya, dan melindunginya dari berbagai macam bahaya.


Bahkan rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng terkuat.


Kali ini, tameng itu berhasil dihancurkan. Tak apa, asal seseorang dibaliknya selamat.


"Elena menunjukkan masa lalu mu, aku minta maaf karena sempat takut. Habisnya kau seram sekali sih, kau benar benar kuat ya." Alicia menjelaskan lirih, sembari memejamkan matanya yang lelah.


"Kau marah sekali ya padaku? Kau pasti kecewa padaku karena tidak menerima masa lalu mu. Ya Ken, kau menang. Aku menyesal sekarang karena sudah menaruh rasa takut itu."


"Lucu sekali ya... Aneh sekali ya... aku ini benar benar tidak tahu diri."


"Padahal kau baik sekali padaku. Padahal kau selalu menjagaku..." suara Alicia tercekat.


"Sekarang apa aku benar benar sendiri Ken?" lanjutnya.


Alicia tertawa kecil, hambar, itu tawa yang terdengar menyakitkan.


"Sepertinya Elena benar. Aku ini memang benalu. Rasanya aku kehilangan alasan hidup lagi. Aku tidak bisa melakukan apa apa sendiri, kau tega sekali meninggalkanku, dasar jahat!"


Alicia diam sebentar, mengusap air matanya.


"Aku benar benar minta maaf, hiks... Ken... Aku tidak takut padamu... aku tidak akan mengacuhkan mu lagi."


Alicia kembali terisak.


"Tolong... kembalilah" Alicia memukul dada Ken.


"KAU BILANG AKAN MENGABULKAN SEMUA KEINGINANKU KAN?!"


"Aku ingin kau kembali padaku... Ayo kita buat kontraknya..."


"Bangun... kumohon... untuk yang terakhir..."


Alicia berteriak parau, tangannya lemah memukul mukul dada tak berdetak itu.


Percuma... tidak akan terjadi apapun.


Raga itu sudah kosong.

__ADS_1


Bahkan saat gadis itu tertidur meringkuk kedinginan, tangan Ken tidak bergerak memeluknya.


__ADS_2