Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
20. Rubah


__ADS_3

Siapa Alicia?


Hanya manusia biasa, lemah, dan tidak memiliki keistimewaan khusus. Bahkan bisa dibilang tidak berguna, tidak punya teman, dan mudah dihancurkan.


Siapa Ken?


Seorang dari ras iblis, disegel karena melakukan pembantaian terhadap klan lain, puncak rantai makanan, kuat, cerdas, berani, dan penuh pertimbangan.


Level mereka terlalu jauh untuk menjadi pasangan kontrak.


......................


#Alicia POV


Elena membawaku ke tempat lain yang berbeda dengan yang tadi. Hanya ada kami berdua di sebuah sungai yang berwarna hitam, pohon merah, dan awan mendung abu abu gelap. Ini tempat yang dingin dan cukup menyeramkan.


"Heeh, aku pikir kau akan menangis setelah dipisahkan dengan pangeranmu." Elena tersenyum mengejek, duduk di dahan pohon, menatapku rendah.


Tidak, meski aku memang takut dibawa ke tempat aneh ini, aku tidak akan menangis. Aku percaya pada Ken.


"Apa maumu?!"


"Alicia, awalnya aku pikir kau gadis yang menarik karena mampu memanggil iblis dengan level tinggi seperti Ken. Tapi setelah bertemu denganmu secara langsung, haah aku sungguh kecewa." Elena menghela napas, melihatku dengan tatapan yang rasanya membuatku ingin mencolok mata birunya.


Aku tidak mengerti apa yang Elena katakan. Tapi kata katanya menyebalkan sekali, sangat mirip dengan Areka.


"Apa kau tau iblis seperti apa yang ingin menjalin kontrak denganmu?"


Aku menggeleng, tidak tahu. Tapi aku tidak peduli masa lalu Ken, yang penting adalah dirinya yang sekarang. Ken baik dan selalu menjagaku saja sudah cukup.


"Biar aku perlihatkan." Elena melompat turun dari dahan pohon, tiba tiba memegang tanganku lagi.


Sebuah suara seperti masuk ke dalam kepalaku, suara teriakan histeris dan tangisan memohon ampun. Kepalaku rasanya mau pecah, aku terduduk di tanah memejamkan mata. Lalu seperti langsung berada di kepalaku, aku melihat seseorang yang begitu kukenal berpenampilan sangat berbeda.


Di sebuah perkampungan penduduk seperti di zaman tradisional, masih menggunakan kayu dan jerami, saat malam hari begitu gelap tapi ada nyala api yang merubah senyap menjadi ramai oleh nyanyian kematian.


Kebakaran, tombak, dan busur panah yang patah berserakan dimana mana. Penduduk berlarian meminta pertolongan. Hanya ada 3 orang diselimuti bayangan hitam legam yang menyerang penduduk itu.


Sementara seseorang yang kukenal hanya duduk di atas pohon, tersenyum menikmati seolah yang di depannya adalah sebuah pertunjukan. Sembari memegang sebuah bola mata di tangan kanannya.


Bahkan ada anak anak yang mati tertimpa kayu dari rumah penduduk. Ibu ibu hamil yang perutnya tertusuk busur, dan orang orang tua renta yang terbakar. Tiga orang itu tidak peduli, bayangan hitamnya menarik orang orang yang berhasil kabur, melemparnya kembali ke dalam api.


"Hentikan... Hentikan!" Kepalaku semakin sakit, terfokus pada Ken dengan mata merahnya hanya menguap melihat tragedi mengerikan itu.


Tidak! Itu bukan Ken ku!


Elena melepaskan tangannya. Aku terseok berjalan ke sungai. Memuntahkan isi perutku, sangat mual melihat apa yang masuk ke dalam kepalaku.


"Bagaimana? Itu belum seberapa. Apa kau mau melihat lagi yang lain?"

__ADS_1


Aku menggeleng, tidak mau melihatnya lagi. Air mataku jatuh. Aku takut, tangan dan kakiku belum berhenti bergetar.


"Alicia, hanya tinggal waktu saja Ken akan kembali ke jati dirinya lagi."


"Tidak. Kau menipuku! Itu bukan Ken. Itu hanya ilusi yang kau buat!" Aku menyangkalnya, meski sejujurnya hatiku pun tidak yakin saat mengatakannya.


Elena tersenyum simpul. Mengusap pipiku.


"Poor Alicia..."


...****************...


#Normal POV


Sementara itu di tempat yang lain, Areka dan Ken sedang bergerak mencari seseorang dari klan siluman yang bisa mereka ancam untuk memberikan informasi.


Siluman rubah merubah diri menjadi manusia dan menggantikan tempat mereka menjalani aktivitas. Menjadi orang orang penting lalu mengubah banyak sekali kebijakan. Sebenarnya Areka tidak peduli, tapi karena siluman rubah itu menyusup di kampusnya mau tidak mau hal itu mempengaruhi hidup tenang Areka.


"Aku sudah mempersiapkan lomba dengan tim penelitiku selama beberapa Minggu, tiba tiba mereka membatalkan acaranya. Profesor dan dosenku juga aneh, mereka sering salah masuk kelas dan bertingkah menyebalkan."


Ken mengangguk, ia jadi tahu alasan kenapa tidak ada yang peduli dengan pembulian yang dilakukan Lyodia terhadap Alicia. Meskipun teman teman lain takut dengan Lyodia, jelas seharusnya dosen atau pengawas universitas tidak akan membiarkan pembulian berlarut. Kalau memang ada banyak yang telah digantikan oleh siluman rubah, hal itu jadi jelas.


Ken dan Areka menyusup di ruang salah satu profesor yang dicurigai Areka. Sebenarnya kurang tepat disebut menyusup karena Areka masuk dengan menendang pintunya.


Dan demi melihat apa yang ada di depannya, Areka hampir melempar siluman rubah itu dengan meja.


Apa yang ada di depan mereka benar benar gila. Menggunakan wajah Profesor tua berusia 50 tahunan, siluman rubah itu sedang berusaha melucuti pakaian salah satu mahasiswi yang pingsan


"Boleh kubunuh sekarang?" Ken menoleh pada Areka, meminta pendapat.


Ternyata Areka malah sudah mengangkat kursi kayu di ruangan itu. Melemparkannya dengan telak ke arah profesor gadungan yang menyamar.


Siluman rubah mengangkat tangannya, kursi itu meledak menjadi beberapa bagian, tercerai berai.


"Sialan! Beraninya ikan amis sepertimu menggangguku bersenang senang!" siluman rubah itu berdiri. Samar samar di belakang tubuhnya keluar ekor berwarna jingga gelap. Ia masih fokus pada Areka yang menatapnya marah, tangannya terangkat membuat api biru, itu api rubah.


"Aku bisa membuatmu jadi ikan panggang, B*ngs*d!" Siluman rubah itu murka, hendak melempar api rubahnya pada Areka.


Sampai ketika matanya melirik pada orang di sebelah, yang sejak tadi tidak ia pedulikan.


Aura hitam pekat menguar dari tubuh tinggi besar yang menatapnya dengan pandangan jijik.


Api rubahnya seketika padam. Raut murkanya digantikan dengan wajah ketakutan seperti melihat setan.


"K-kau... ah... Saya mohon ampun..." siluman rubah itu langsung bertekuk lutut. Sujud di hadapan pemilik kekuatan mutlak. Tubuhnya bergetar menahan bayangan akan kematian. Masih jelas sekali di otaknya semengerikan apa kejadian ribuan tahun lalu.


"Haah benar kan, kalau ada kau masalahnya jadi cepat selesai." celetuk Areka. Ia sedikit kesal karena menyadari perbedaan perilaku yang rubah ini tunjukan saat melihatnya dan Ken.


Ken mengangkat bahu, ia kan tidak melakukan apapun.

__ADS_1


"Hei rubah jelek, ikut kami sekarang." Areka menarik kerah baju rubah itu. Menyeretnya keluar. Mereka langsung naik ke atap dalam sekali lompatan, portal terbuka. Ken dan Areka yang sedang membawa profesor gadungan itu masuk ke dalam 'dunia lain' milik Elena.


"Rubah cabul sialan ini! Kau mau apa dengan anak manusia tadi ha?!" Areka melempar buruannya ke tanah, langsung menginjak kakinya.


"A-aku membantunya ganti baju!"


Areka menarik napas panjang, ia hilang kesabaran, mengangkat batu di dekatnya. Tanpa ba bi bu lagi ia lempar untuk yang kedua kali. Siluman rubah itu tidak meledakkannya, hanya menghindar dengan gesit ke samping, ia takut mengusik Ken yang hanya diam menyimak pembicaraan.


"Jangan bertele tele ikan amis. Cepat selesaikan. Aku tidak punya banyak waktu." Ken duduk di salah satu dahan pohon, ia mulai kesal karena Areka seperti menikmati pembuliannya. Sudah 1 jam ia meninggalkan Alicia dengan gadis bermata biru itu. Sebenarnya Ken tidak tenang, karena Alicia tidak mengirim sinyal apapun. Perasaannya tidak tersampaikan pada Ken. Mungkin ini salah satu kekuatan Elena, yang mampu mencegah suara hati keluar.


"Dimana markas kalian?" Areka mendekat, mencekik leher profesor gadungannya. Seketika wajah profesor itu berubah menjadi laki laki 30 tahunan dengan wajah tak kalah jelek. Juga satu ekornya yang menggeliat liat kesakitan.


"Saya... akan menyuruh mereka pergi... tolong lepaskan... urk... uhuk..."


Areka memutar mata.


"Aku tanya dimana markasmu, bodoh?! Kau mau aku patahkan lehermu sekarang?!"


"Saya tidak tahu... saya benar benar tidak tahu... siluman rendahan sepertiku tidak bisa masuk ke markas."


Areka bisa menerima sinyal jika rubah di depannya ini tidak berbohong.


Ken menghela napas, benar benar penangkapan yang sia sia. Ia melompat turun, mendekat. Siluman rubah itu langsung terduduk, menunduk dalam dalam sampai keningnya menyentuh tanah.


"Kalau begitu siapa yang tahu?" Ken bertanya datar, ia tidak punya alasan untuk marah.


"Ke-ketua BEM. Ketua BEM di kampus tadi... Dia siluman rubah ekor 3! S-saya yakin dia tahu dimana markasnya."


Areka menepuk jidat. Itu sulit, BEM di kampusnya selalu di kelilingi oleh manusia. Mereka tidak mungkin tiba tiba datang dan menyeretnya.


"Ayo gunakan Alicia." ujar Areka.


"Apa? Kenapa harus Alicia?!" Ken bertanya, tidak terima harus menggunakan gadisnya untuk memancing siluman rubah jelek itu.


"Karena siluman rubah yang menyamar jadi BEM itu suka dengan Alicia. Dia selalu mengikuti Alicia dan membelanya waktu diganggu Lyodia."


Mata Ken bersinar merah, ia tidak tahu fakta itu. Alicia tidak cerita apapun.


"Yeah sepertinya kau tidak sepenting itu, kawan. Aku baru membaca pikiran Alicia tadi, mereka bahkan makan bersama di kantin." Areka terkekeh, menepuk nepuk punggung Ken. Sengaja ingin membuatnya terpancing.


Tapi Ken tetap tenang, wajahnya hanya datar. Areka berdecih kecewa, ia pikir bisa melihat Ken kesal atau maksimalnya membuat iblis itu insecure. Ternyata Ken tidak peduli, apa iblis itu tidak punya perasaan khusus pada Alicia?


"K-kalau begitu apa saya boleh pergi?" Siluman rubah tua itu bangkit perlahan, memohon di sebelah Ken.


Tanpa menoleh, tangan Ken terarah ke lehernya, hanya satu tusukan kuku saja mampu membunuh siluman rubah tua itu, menembus lehernya dan memotongnya dengan sempurna.


Glek... Areka menelan susah saliva nya.


"Ayo ke tempat Alicia." mata itu kembali memiliki siluet merah. Bahkan bayangan Ken menjadi semakin gelap saja.

__ADS_1


Areka benar benar salah perhitungan! Apanya yang tidak marah?!


__ADS_2