Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
19. Akhir Pekan


__ADS_3

"Ken, aku ingin kencan."


"Alicia, jangan menggangguku belajar."


"Tapi aku bosan Ken! Bosan setengah mati, bagaimana mungkin kau mengajakku ke perpustakaan di akhir pekan?!"


Ken menjitak pelan kening Alicia.


"Sebaiknya kau juga ikut belajar. IQ mu rendah begitu, kau itu punya kewajiban besar di masa depan, mengurus perusahaan milik orang tuamu."


Alicia memutar mata. Mencubit lengan Ken gemas dan kesal.


"Kau jadi mirip Areka, suka mengejekku. Jangan bilang IQ ku rendah! IP ku cumlaude kok."


"Iya iya cumlaude, gadis pintar, gadis pintar." Ken menepuk nepuk kepala Alicia, tapi matanya tidak lepas dari buku tebal yang sedang ia baca.


Kesal karena terus diabaikan, kepala Alicia masuk ke bawah lengan Ken, kemudian disusul dengan setengah badannya. Sekarang wajah Alicia hanya berjarak kurang dari satu jengkal dengan wajah Ken, menutupi buku yang sedang Ken pelajari.


*cup


"Bermainlah denganku... ya?" mata Alicia mengerjap manja.


Ken tersenyum simpul. Alicia baru saja mencium bibirnya. Berani sekali gadis itu melakukannya di tempat umum, di sebuah perpustakaan kota. Meski mereka memilih tempat paling pojok yang tidak terlihat oleh orang. Tetap saja ada cctv yang mengawasi.


"Apa kau sudah menyukaiku?" tanya Ken tiba tiba. Membelai rambut sang gadis.


Alicia mengangguk berkali kali. Tentu saja ia suka Ken. Gadis buta mana yang tidak suka dengannya? Alicia yakin bahkan Lyodia pun pasti menyesal karena terlanjur memilih Bryan.


"Aku suka, sangat suka. Mau buat kontraknya sekarang?"


Ken menggeleng. Belum cukup, Bryan belum mendapat balasan yang setimpal. Ken tertawa melihat wajah kecewa gadisnya.


Tapi tiba tiba ekspresi wajah Ken berubah. Menoleh ke belakang, ia merasakan seseorang datang mendekat.


"Wah wah kalau aku laporkan petugas kalian bisa diusir lo. Berbuat mesum di tempat umum."


Alicia tahu suara menyebalkan itu, orang yang sudah 1 Minggu tidak ia temui di kampus. Itu Areka, juga bersama dengan gadis bermata birunya. Areka mendekat, duduk di sebelah Ken. Mengambil buku yang Ken baca, juga mendorong kepala Alicia agar menjauh.


Areka mengabaikan protes Alicia karena mengganggu nya di akhir pekan. Laki laki itu fokus kepada pria klan iblis di sampingnya.


"Hei kau pikir karena ini bukan duniamu kau bisa melakukan hal sesukamu ya, tuan iblis? Berhati hatilah, Bryan mulai curiga denganmu."


Ken tersenyum simpul, matanya masih fokus membaca.

__ADS_1


"Terima kasih sudah repot repot peduli. Tapi aku bisa mengurusi masalahku sendiri." sinis Ken. menatap waspada pada dua makhluk di dekatnya ini.


Sepertinya berita tentang Ken yang tiba tiba jadi investor di perusahaan Damian Group sudah sampai di telinga Areka. Kalau Areka menemuinya pasti itu bukanlah tanpa tujuan.


"Eh... Areka tahu tentangmu, Ken? kok bisa?" tanya Alicia sedikit khawatir.


Ken mengangguk, masih was was terhadap klan duyung satu itu yang sulit ditebak. Areka adalah pria licik yang memiliki jalan pikirannya sendiri, bahkan Ken sekalipun mengakui kejeniusannya.


"Hai Alicia..." gadis bermata biru itu menyapa, mengulurkan tangan pada Alicia.


Alicia melirik sinis, ia masih kesal karena di pertemuan terakhir gadis ini hampir memeluk Ken nya.


Sebelum tangan Alicia menyentuh tangan gadis bermata biru itu, Ken lebih dulu menepisnya. Gadis itu adalah seorang putri dari klan mermaid, ia punya kemampuan manipulasi ingatan yang harus diwaspadai.


"Sudah kubilang jangan berusaha mendekati Alicia." Ken menggunakan badannya untuk memagari Alicia dari dua 'ikan' ini. Mereka berbahaya untuk manusia, berbeda dengan Ken yang memiliki kekuatan untuk membatasi ingatan, klan mermaid tidak akan bisa membaca atau memanipulasi ingatan yang tidak Ken perbolehkan.


Tapi manusia sangat terbuka, mereka begitu lengah dan sensitif. Karena itu mudah sekali dihipnotis dan ditipu.


"Ken, ada apa?" lirih Alicia. Gadis itu belum tahu fakta mengenai Areka.


Ken sendiri tidak bisa mempercayai dua duyung itu, yang satunya licik yang satunya punya kekuatan yang sangat merepotkan. Mereka berdua sama sama berbahaya untuk Alicia.


Ken sempat berfikir untuk melenyapkannya saja. Mungkin nanti saat ia sudah berkumpul dengan 3 rekannya. Memusnahkan klan mermaid bukan hal sulit jika tahu dimana mereka bersembunyi.


Ia menjentikkan jari. Tiba tiba mereka berpindah tempat. Ken sempat menarik tangan Alicia agar gadis itu tidak jatuh karena kursi yang ia duduki menghilang.


"A-apa yang terjadi?! Ken... siapa mereka?" Alicia memeluk lengan Ken. Mulai sadar jika Areka dan gadis bermata biru itu lah yang membuat mereka berpindah.


Dari sebuah perpustakaan menjadi hutan belantara dengan awan dan pepohonan berwarna merah muda. Seperti di dunia fantasi. Alicia sangat terkejut, tapi dari awal gadis itu sudah sadar ketika ia terlibat dengan makhluk lain seperti Ken, ia juga akan melihat hal hal lain yang tidak masuk akal seperti ini. Hanya saja gadis itu tidak menyangka, jika makhluk lain itu adalah Areka.


Ken sendiri sudah tidak terkejut, ia hanya bingung dan masih menebak nebak kenapa Areka membawa mereka ke 'dunianya', ini bukan ilusi lagi, mereka benar benar berpindah tempat. Ini bukan kekuatan Areka, ini milik gadis bermata biru itu. Tujuannya masih abu abu, karena Ken merasa tidak punya urusan lagi dengan dua orang merepotkan ini.


Ken mundur, menjaga jarak. Sangat melindungi Alicia sampai gadis itu tidak tersentuh oleh dua makhluk amis itu.


"Ken, apa Areka bukan manusia? sekarang kita dimana?" tanya Alicia, gadis itu mulai bisa mengendalikan perasaan takutnya.


"Tenang saja, kita akan segera kembali, percayakan saja padaku." Ken menggenggam jemari Alicia, menenangkan. Mata elang Ken tidak lepas dari Areka dan Elena. Selagi mereka belum mengatakan tujuannya, bagi Ken, mereka berdua adalah musuh.


"Kau ini, kenapa lemah sekali sih." entah bagaimana caranya, Elena, gadis bermata biru itu tiba tiba sudah berada di belakang Ken, dekat sekali dengan Alicia.


Ken langsung memeluk Alicia, tidak membiarkan ada celah sedikitpun gadisnya terpisah.


"Namamu Alicia kan? Gadis sepertimu tidak cocok membuat kontrak dengan iblis dengan level setinggi Ken. Kau juga Ken, aneh sekali memilih gadis bermental lemah begini." wajah ramah Elena berubah 180°, gadis itu tidak berbasa basi lagi. Menatap rendah Alicia.

__ADS_1


"Hei menurutmu sampai kapan Ken bisa melindungi mu? Kau itu gadis menye menye yang bergantung dengan pria hebat. Awalnya dengan Bryan saat Bryan membuang mu kau putus harapan. Sekarang dengan Ken, bagaimana kalau Ken meninggalkanmu, kau pasti akan mati. Apa kau parasit Alicia? Tidak bisa hidup tanpa inang." tangan Elena mendekat, Ken menepisnya tapi tidak berhasil. Entah kenapa tangan itu tembus pandang.


"Ken akan terus bersamaku!" Alicia menjawab tegas. Tangan Elena berhasil menyentuhnya. Tapi Ken bergerak mundur dengan cepat, lompat ke salah satu dahan pohon, menjauh dari Areka dan Elena.


"Katakan saja apa maumu. Jangan melibatkan Alicia!" mata tajam Ken menyala merah. Ia punya firasat buruk, yang diinginkan mereka bukanlah dirinya namun Alicia.


"Ken, aku yakin kau tahu kalau para siluman lain sudah menjajah manusia. Kau tidak peduli karena yang kau pikirkan hanya kontrakmu dengan Alicia. Tapi mau sampai kapan klan puncak sepertimu diam saja?" akhirnya Areka buka suara.


Klan puncak berarti klan terkuat, klan yang dapat mengubah dan mengatur klan lain di bawahnya.


Ken tetap tenang, mencerna setiap kalimat yang disampaikan Areka.


"Siluman rubah sudah menjarah hampir 20% orang di universitas Alicia, menjadi teman, dosen, bahkan petinggi kampus. Mereka bisa menyamar, berubah dengan sangat sempurna menirukan manusia. Tapi mereka tidak membunuh orang orang itu, mereka menghilang entah kemana."


Ken mulai paham apa yang Areka inginkan. Sederhananya ikan itu sedang meminta bantuan.


"Biar aku yang mengurusnya. Jangan libatkan Alicia."


"Kau salah tuan iblis, kita membutuhkan Alicia." Areka menjawab lugas. Memberi kode ke Elena, gadis bermata biru itu tiba tiba berada di sebelah Ken. Dengan cepat menarik tangan Alicia keluar dari dekapan Ken lantas masuk ke dalam lingkaran biru, itu sebuah portal. Kejadian yang benar benar cepat seperti kedipan mata, Ken tidak sempat bereaksi apapun.


"Sial!" geram Ken. Alicia berhasil direbut.


"Ayo kita susun rencana, urusanmu denganku. Akan kuberi tahu se gawat apa keseimbangan dunia akibat persilangan klan."


Tidak ada yang bisa Ken lakukan selain menurut. Areka benar, dunia memang sudah terlalu gila. Genetik yang tercampur akibat perkawinan beda klan akan menciptakan varietas baru.


"Kemana Elena membawa Alicia? Apa yang akan dia lakukan dengan pasangan kontrakku."


"Ken, Alicia apa kau tahu kalau Alicia bukan manusia biasa?"


Ken mengangguk. Ia tahu, manusia biasa tidak akan bisa melihatnya di segel buatan dewa. Apalagi sampai menjadi alasannya untuk keluar segel. Bukan sekedar dendam, ada banyak orang yang menjadikan taman bunga mawar itu tempat untuk menangis, ada banyak orang putus asa yang kesana. Tapi hanya Alicia yang mampu menembus dimensi lain milik dewa.


"Tapi Alicia tetaplah manusia. Kontrak tidak bisa dibuat dengan klan lain." Ken memberikan alasan, sekaligus agar klan duyung itu tidak melakukan hal berbahaya pada Alicia yang berasal dari klan lemah.


"Iya, tapi dia tidak murni. Biarkan Elena yang membantunya."


"Jika Alicia memanggilku aku bisa langsung menemuinya dimanapun ia berada. Dan jika sampai hal itu terjadi, gadis bermata biru itu..."


"Iya, kau mau membunuhnya?... Jangan mengatakan hal seram begitu dong. Kita ini rekan." Areka tersenyum manis pada Ken yang memberikan tatapan membunuh sejak tadi.


Jika bukan karena Alicia, sekarang Ken sudah menghancurkan tempat ini menggunakan bola hitam miliknya. Tapi Ken tahu jika Areka tidak berbohong soal keseimbangan dunia.


Ia memang harus peduli dan membantu. Karena ini menyangkut dunia yang Alicia tinggali.

__ADS_1


__ADS_2