
Berita jika Alicia masih hidup akhirnya sampai ke telinga Bryan.
Bagaimana mungkin itu terjadi?! Bukankah Alicia jatuh dari ketinggian hampir 15 kaki di tengah laut lepas?! Itu sungguh tidak masuk akal!
Bryan tertawa gila, ia yang selalu mengedepankan logika tidak percaya jika keajaiban itu ada. Meskipun Alicia tidak langsung mati, menyelamatkannya ketika ombak ganas di tengah malam benar benar mustahil.
Siapa laki laki yang melompat ke laut itu? Bryan memikirkannya dengan serius pun tidak dapat menemukan jawabannya. Selama ini tidak ada teman Alicia yang tidak Bryan kenal. Dari teman kampus, sepupu sepupu, bahkan hingga kolega bisnis dari keluarga Alicia, Bryan tahu semuanya.
"Cari tahu tentang pria yang dekat dengan Alicia sekarang." Bryan memberi perintah. Ia sedang berada di ruang bawah tanah, tidak diperbolehkan keluar selama 3 hari karena sudah memukuli sepupunya hingga organnya rusak dan masuk UGD.
"Baik, tuan muda." Pria ber jas hitam itu bergerak sesuai perintah Bryan, seorang anjing penurut. Pintu kembali di tutup dan menguncinya dari luar.
Ruang bawah tanah ini adalah ruang 'penyiksaan'. Terdapat banyak alat alat untuk menghukum. Seperti tali untuk mengikat, rantai, cambuk, dan berbagai alat alat lain yang bisa membuat orang yang masuk bergidik ngeri.
Tentu saja ini bagian dari sisi gelap Damian Group, setiap perusahaan membutuhkan tempat seperti ini untuk mengeksekusi penghianat. Tempat yang dingin, cahaya remang, dan bau anyir darah. Membuat kesehatan mental perlahan terkikis.
Haa... Apa Bryan pantas berada di sini? Bahkan tuan besar Damian group yang adalah orang tuanya sendiri tidak peduli pada alasannya. Padahal anaknya hampir mati, mereka malah bilang jika Bryan lemah karena tidak mampu mengendalikan emosinya.
Bryan tertawa kosong, ia ingin orang tua itu lekas mati saja.
*tok tok tok (Suara pintu diketuk)
"Bryan, mama bawakan makanan." pintu dibuka lagi, seorang wanita paruh baya diikuti oleh pembantu di belakangnya yang membawa nampan berisi roti dan susu.
Bryan menyilakan nyonya besar Damian Group itu untuk masuk, beranjak duduk di kursi besi.
Tidak ada raut khawatir, tidak ada raut sedih karena anaknya diperlakukan tidak adil.
Haa... Bryan menghela napas. Ia akan jadi sasaran amuk lagi.
*Plak
"Kenapa kau tidak menurut padaku? Sudah kubilang jangan buat masalah kan?!"
Satu tamparan itu tidak berarti apa apa untuk Bryan.
Ya, itu salahnya. Ia hilang kendali karena berfikir jika Alicia mati. Wajar saja mama nya marah karena sepupunya menuntut akan membawa Bryan ke jalur hukum.
"Saya minta maaf..." Bryan menjawab datar. Tidak ada raut menyesal di wajahnya.
"Anak gila?! Tidak tahu diuntung! Apa kau pikir kau bisa bertindak semaumu ha?!"
Nafas mamanya tersengal, berkali kali memukul wajah Bryan dengan kepalan tangan. Tidak peduli meskipun wajah itu lebam.
"Apa kau tahu kalau anak haram itu sudah diberi posisi penting di perusahaan?! Dia sudah mencuri banyak perhatian dari papamu!"
Bryan hanya diam, menerima seluruh kata kata penuh murka dari mamanya.
"Bagaimana kalau kau kehilangan posisimu?! Kau tidak malu dengan teman temanmu?! Apa kau ingin aku mati karena gila?! Sia sia melahirkan anak sampah sepertimu!"
*Buk buk buk
"Nyonya... sudah cukup nyonya, tuan muda sudah menyadari kesalahannya." Pelayan di belakang mamanya berusaha menghentikan nyonya besarnya yang kalap.
"Haah... haa... Kalau sampai kau ulangi lagi, aku sendiri yang akan menghukum mu!"
Nyonya besar Damian Group itu pergi dari ruang bawah tanah. Menyisakan Bryan yang menatap kosong lantai pualam. Bryan meludahkan darah, bibir bagian dalamnya terluka.
__ADS_1
"Akan saya bawakan air dingin supaya tidak bengkak, tuan muda."
Miris sekali hidupnya. Hanya dipedulikan oleh seorang pelayan. Sekarang orang yang mengandungnya dan melahirkannya saja malah menjadi orang yang sering menancapkan duri di hatinya. Membunuh rasa kemanusiaan Bryan sedikit demi sedikit.
Bryan tertawa kosong. Haruskah ia menjadi pewaris? Apa sepenting itu bagi mamanya?
"Baiklah kalau itu yang anda inginkan." Bryan bergumam, menatap sendu pada pintu yang tadi dilewati oleh sang ibu.
...****************...
"Kau tidak perlu mengantarku ke kampus, Ken." Alicia berseru. Ken sudah berada di depan gedung asramanya. Entah dimana Ken tidur tadi malam, pria itu belum memberitahunya.
"Aku ingin mengobrol denganmu." Ken mengambil alih sepeda ontel dari tangan Alicia.
"Silahkan duduk dengan nyaman di belakang, Nona." lanjut Ken, dengan senyum yang begitu menawan.
Alicia tertawa kecil, langsung duduk di kursi boncengan. Ken mengayuh sepedanya di trotoar, ini kali pertama Ken naik sepeda ontel. Untunglah sepeda Alicia cukup besar untuk mereka naikin berdua.
Sebenarnya sepeda ini adalah hadiah tahun dari mamanya. Alicia sengaja minta yang paling besar karena ia ingin bersepeda dengan Bryan. Tapi mantan tunangannya itu tidak pernah mau, katanya membuang buang waktu.
Alicia memeluk pinggang Ken, syukurlah sekarang sepeda ini bisa digunakan untuk berboncengan. Mencium bau Ken begitu khas seperti bau bunga mawar, membuat hatinya tenang.
"Ah bajumu baru Ken?" Alicia baru sadar jika Ken tidak memakai kaos merah muda yang ia belikan kemarin.
"Tidak, ini milik Areka."
"Kau tidur dengan Areka?"
Ken mengangguk saja. Ia menginap di asrama laki laki tadi malam, di kamar Areka seorang diri. Karena sang pemilik kamar sedang pergi dengan gadis yang bernama Elena itu.
"Sore. Ada kelas seharian ini. Maaf ya... Apa kau mau aku bolos saja?"
Ken mencubit lengan Alicia. Tidak setuju dengan ide buruk gadis itu.
"Kau pasti bakal bosan ya Ken kalau tidak ada aku." goda Alicia.
"Tidak tuh. Aku ini juga sibuk, Alicia." Ken tersenyum jahil. Sengaja ingin membuat Alicia kesal. Jika Ken baik baik saja tanpa gadis itu.
Alicia cemberut, tidak puas dengan jawaban Ken, balas menusuk nusuk pinggang Ken. Ken tertawa, menahan tangan Alicia agar tidak melakukannya. Geli, bisa bisa mereka jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Di sepanjang perjalanan mereka asik sendiri sampai tidak sadar jika sejak tadi dijadikan tontonan. Tepatnya Ken, dengan wajah dan tubuhnya ia sangat mencolok. Semakin dekat dengan kampus semakin banyak pasang mata yang kagum dengan ketampanannya. Para mahasiswi histeris seperti melihat model atau idol terkenal.
"Kalau begitu sampai jumpa nanti sore, Alicia." Ken melambaikan tangan.
Alicia mengangguk, balas melambai.
Setelah Alicia hilang dari pandangannya, Ken menatap sinis gerombolan gadis yang sejak tadi memperhatikan mereka. Ia tidak suka ditatap penuh nafsu oleh 'keledai keledai' tak penting begitu.
Bukannya takut para gadis itu malah semakin histeris. Bagi mereka dengan tatapan setajam itu Ken makin terlihat keren. Tapi tentu saja mereka tidak berani mendekat, aura dingin Ken seakan menyuruh mereka untuk menjauh. Gadis gadis itu sadar jika Ken bukan level mereka.
Tapi siapa gadis yang diberi senyuman manis oleh laki laki dingin itu? Ah mungkin adiknya!
Masalah masalah baru untuk Alicia akan segera berdatangan. Orang dengan kharisma seperti Ken bisa menjadi magnet iri dengki untuk beberapa gadis bodoh yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
...****************...
Setelah sekian lama bersabar akhirnya Ken sampai di atas gunung dengan panas ribuan derajat, magma meletup letup menunjukkan betapa banyaknya energi yang tersimpan di dalamnya.
__ADS_1
"Energimu sudah terkumpul sebanyak ini. Sepertinya sebentar lagi kau akan meletus. Seharusnya para 'keledai' itu berterimakasih padaku karena menunda letusan gunung ini untuk ratusan tahun ke depan."
Tanpa pikir panjang lagi Ken melompat ke tempat terpanas yang ada di bumi, sebelum benar benar menyentuh apinya, Sekeliling tubuh Ken dilindungi oleh bola hitam. Bola hitam itulah yang menyerap energi panas dari magma gunung berapi dan mengubahnya menjadi mana sihir, tersimpan merata di seluruh inti sel tubuh.
Setelah mana sihirnya terisi penuh Ken keluar dari magma berapi itu dengan tubuh yang bugar. Ken menatap sekeliling, matanya sudah setajam biasanya. Ia bisa melihat jauh ke depan, sela sela pepohonan pun dapat ia lihat dengan mudah. Ken turun dari gunung berapi ini hanya dalam dua lompatan.
Sekarang waktunya ia menemukan seseorang yang bisa dia manfaatkan. Ribuan tahun yang lalu tidak ada makhluk bumi satupun yang tidak mengenalnya. Untuk klan klan selain manusia, mereka memiliki usia yang panjang. Ken akan mencari salah satu orang yang bertahan hidup dari masanya dahulu, lalu mengancamnya untuk menjadi sekutu.
"Saya sudah merasakan kekuatan luar biasa dari kejauhan, sesuai harapan saya, anda pasti bisa keluar dari segel itu sendiri. Saya minta maaf karena terlambat datang, tapi saya menyiapkan segalanya untuk hidup baru anda di sini."
Ken menoleh ke samping, matanya menatap tajam pada seorang pria dengan baju santai yang bicara panjang lebar, ia tidak tahu siapa orang itu dan tidak paham apa yang ia katakan.
Orang ini makhluk jadi jadian, bukan manusia tapi bukan juga klan yang ia kenali. Apa karena sudah banyak terjadi kawin silang sehingga ada klan baru yang tercipta?
"Kau siapa?" Ken bertanya datar.
Orang dengan wajah tampan tapi asing itu mendelik. Mendekat dan memeluk kakinya dengan tiba tiba. Ken tidak menepis, entah kenapa ia merasa punya hubungan dengan pria aneh ini.
"Anda jahat sekali... Bagaimana mungkin anda melupakan bawahan anda yang paling setia. Apa anda hilang ingatan karena terlalu lama disegel? saya benar benar minta maaf karena seolah tidak peduli dengan anda tapi saya juga baru lepas 24 tahun yang lalu."
Bawahan, siapa? Kening Ken mengernyit. Ia tidak ingat punya bawahan menjijikan begini. Tubuhnya manusia, tapi darah iblis mengalir di sel sel nya.
"Lord..." pria itu memanggil, matanya berkaca kaca seolah meminta pengampunan.
"Rafaela..." gumam Ken. Ia tiba tiba teringat dengan orang yang sering menatapnya kagum di masa lalu. Gadis gila yang pernah memohon untuk mandi bersama.
Mata berkaca kaca itu berubah menjadi binar senang.
"Rafael, tuan... Saya seorang pria sekarang." Laki laki 24 tahun itu merunduk, menghormati tuannya.
Benar kan, menjijikan sekali. Dia bahkan sudah berubah gender, karena itu Ken sulit mengingatnya.
Tapi orang ini datang di saat yang tepat, sepertinya dia sudah menjadi 'manusia' yang berhasil. Ken bisa memanfaatkannya untuk menjadi penjaga Alicia serta mendapat pekerjaan yang tepat.
"Siapa namamu sekarang?" tanya Ken.
Laki laki itu berlutut penuh hormat.
"Saya Arean Trenta Damian, anak haram dari pemilik perusahaan Damian Group. Meskipun saya seorang anak di luar nikah, tapi ibunda saya sangat disayangi oleh tuan besar di sana."
Demi mendengar apa yang dikatakan Rafael, Ken tertawa.
"Kau jadi anak manusia sekarang?"
Rafael atau nama manusianya adalah Arean itu menahan malu. Memang sangat menjijikan, selain gendernya yang berubah ia juga jadi bagian dari klan paling lemah.
"Mau bagaimana lagi. Saya lepas dari segel dengan bantuan janin yang putus asa karena terus diberi obat penggugur oleh ibunya. Saya membuat kontrak dengannya tapi jiwanya malah mati. Jadi saya yang mengambil alih tubuhnya sekarang."
Ken tertawa lagi, kali ini lebih keras. Dari dulu Rafaela memang tidak berubah, dia adalah gadis keras kepala dengan banyak sekali keanehan. Sifatnya aneh, pengambilan keputusannya aneh, hobinya yang suka mengoleksi mata manusia juga aneh.
Sekarang, setelah ribuan berlalu keanehannya menjadi jadi. Dia menyatu dan menggunakan tubuh manusia sebagai wadah.
"Segera setelah saya mendapatkan seluruh harta warisan keluarga saya. Itu akan menjadi milik anda, my lord."
Tapi Ken tidak peduli dengan keanehan itu, yang ia butuhkan hanya loyalitas seperti ini.
Kesetiaan mutlak dari seorang bawahan.
__ADS_1