
"ALICIAA BANGUUNN...."
*BRAK BRAK BRAK
Asera berusaha mendobrak pintu Alicia yang seminggu terkunci. Tadi malam ia mendengar pintu kamar gadis ini dibuka. Pasti sekarang Alicia sudah ada di dalam.
"MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR HA?! KAU MAU DI DO DARI KAMPUS?!"
"Alicia aku tidak akan peduli kalau kau mati! Cepat bangun bodoh! Kau itu bukan putri tidur, tidak akan ada pangeran tampan yang menciummu! Ah benar benar menyebalkan!"
Asera menendang pintu kesal. Gadis itu tidak bisa lagi mendobrak pintu Alicia karena seluruh bagiannya sudah diganti dengan yang lebih kuat. Sejak Alicia berkencan dengan seorang pria baru, gadis itu tidak membiarkan Asera masuk sembarangan lagi ke kamarnya.
"Alicia... Kau ini jelek. Jadi wajar saja kalau dicampakkan lagi. Lagian kau kaya, sebenarnya kau ini tidak butuh laki laki. Kenapa kau sebodoh ini..." Asera menggigit bibirnya. Ia tidak suka Alicia yang ceria dan polos selalu dipermainkan oleh laki laki tidak berguna.
Gadis itu menarik napas panjang. Menggebrak pintunya lagi.
"BANGUN SIALAN!"
Percuma, tidak ada jawaban. Alicia tidak bisa bangun, tidak! bukan tidak bisa. Tapi gadis itu tidak mau bangun.
...****************...
#Alicia POV
Awalnya aku pikir mimpi yang ku alami adalah dampak dari imajinasiku terhadap masa lalu Ken yang diperlihatkan oleh Elena. Tapi selama satu minggu mimpi itu tidak berhenti, terus berlanjut dan membentuk sebuah cerita, kisah hidup Ken.
Seru sekali, aku melihat langsung kejadian masa lalunya. Ken kecil, Ken remaja, Ken besar. Aku diperlihatkan sepenggal sepenggal cerita hidupnya.
Karena itu, siapapun tolong jangan ganggu tidurku. Aku tidak mau bangun, meskipun hanya sebagai penonton, mimpi ini seperti obat rinduku padanya. Aku minum alkohol hanya untuk membuat mataku terpejam lagi.
Untuk melihatnya...
Ken benar soal satu hal, sejak lahir dia memang tampan.
Pemandangan yang kulihat sekarang adalah seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahunan sedang duduk di depan sungai, berkali kali ia menghela napas. Kemudian melihat ke langit, warna nya jingga, matahari sudah hampir terbenam. Aku duduk di sebelahnya, ia tidak bisa melihatku. Aku jadi seperti hantu yang tidak terlihat dan tidak tersentuh. Menguntitnya kemanapun ia pergi.
Mengamati dari dekat, wajah itu tidak ada bedanya. Hanya jauh lebih imut saja dari Ken besar yang sekarang.
"Sampai kapan kau mau di sana?" ada suara dari belakang.
__ADS_1
Aku menoleh, begitupun Ken kecil juga menoleh. Laki laki yang sepertinya lebih tua mendekat, dia juga tampan. Rambutnya berwarna coklat, dan tinggi.
"Kau ini mentang mentang tidak ada orang jadi tidak sopan ya." Ken kecil menyipitkan matanya, mengerucutkan bibirnya kesal.
Aaaaa menggemaskan sekali. Ingin kucium!
"Maafkan kelancangan saya tuan muda. Tapi anda diperintahkan untuk kembali ke istana." laki laki itu menekuk satu lututnya, menempelkan tangan di jantung. Itu pose hormat paling sempurna yang pernah kulihat.
Ken kecil tertawa, memperlihatkan gigi taringnya yang manis.
"Bodoh! Jangan begitu, bikin mual saja." ujarnya, lantas kembali melihat ke arah sungai.
"Tidak, aku serius, kau harus pulang. Nanti malam gurumu akan datang."
"Karena itu aku tidak mau pulang. Orang tua menyebalkan itu selalu mengoceh soal hal yang sudah aku ketahui. Aku tidak suka pura pura bodoh! Lebih baik aku bolos saja." Ken kecil duduk di bibir sungai, membiarkan kakinya basah selutut.
Laki laki itu mendekat, ikut duduk di sebelahnya. Ikut juga bermain air dengan kaki telanjang tanpa alas.
"Saya tahu anda anak jenius. Anda juga memiliki mana sihir yang luar biasa. Tapi mendiang ibu anda meminta anda untuk tidak mencolok, bersabarlah sebentar lagi... Saat usia anda sudah matang anda pasti bisa keluar." Laki laki itu berbicara lembut, sembari membelai rambut Ken kecil.
Sepertinya dia dekat sekali dengan Ken.
Sekarang aku bisa menjawabnya dengan percaya diri. Ken adalah iblis level tinggi, ia tinggal di istana, ayah Ken seorang penguasa kalau di dunia kita bisa disebut raja. Ibu Ken sudah meninggal karena sakit. Ken anak bungsu, ia punya banyak kakak yang beda beda ibu. Ayahnya sangat rajin membuat anak, berganti ganti pasangan.
Ken tidak tertarik dengan kekuasaan. Ia hanya ingin bebas, karena itu ibunya menyuruhnya untuk tidak mencolok supaya ia tidak menjadi kandidat pengganti ayahnya kelak.
Segitu saja yang bisa ku simpulkan sekarang. Ngomong ngomong, saat Ken bayi ada penyusup yang masuk untuk membunuhnya. Lalu laki laki di sebelah Ken ini yang membantu. Dia sangat baik dan menyayangi Ken seperti adiknya sendiri. Sangat berbeda dengan kakak tiri Ken, mereka benar benar iblis!
"Kau tau, saat aku pergi ke desa anak anak lain melempari ku dengan batu."
"Apa? Siapa yang berani melakukan itu pada anda?! Katakan pada saya, akan saya seret ke depan Baginda dan membuatnya jadi makanan anjing." laki laki itu menatapnya khawatir, juga marah atas apa yang baru ia dengar.
Ken malah tertawa. Aku sangat suka tawa Ken kecil, menggemaskan sekali.
"Kau tau Liener, anak anak itu sangat jujur. Aku jadi tahu kalau klan kita sangat menyedihkan."
"Apa maksud anda? Jangan bicara begitu di depan orang lain atau anda bisa dihukum lagi."
Ngomong ngomong, Ken kecil sangat memberontak. Ia berkali kali dikurung di ruang bawah tanah karena mengatakan hal hal terlarang pada gurunya. Ken sering melontarkan pendapat pendapat yang dianggap sebagai ajaran sesat.
__ADS_1
"Klan iblis memang klan yang ditakuti, tapi sebenarnya kita juga dibenci. Kita memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan bumi. Baik dengan mengatur klan bawah ataupun dengan mengambil energi bumi yang berlebihan untuk mencegah bencana alam" (Klan iblis mengisi mana sihir dengan mengambil panas gunung berapi/ energi gelombang laut/ cairan belerang yang berbahaya)
"Tapi rasanya klan kita sudah melakukan sebaliknya. Kita menindas mereka, Liener. Kekuatan yang luar biasa ini tidak digunakan dengan semestinya. Karena itu, tidak ada lagi rasa hormat."
Aku baru menyadarinya, jika Ken memiliki otak yang luar biasa. Kemampuan berpikirnya hebat, ia sudah memahami soal filosofi dan memiliki ideologinya sendiri.
Bukankah itu hebat? Kesadaran tadi dikemukakan oleh anak berusia 8 tahun.
"Tolong..." laki laki di sebelah Ken berseru lirih.
"Tolong tarik kata kata anda..."
Mata Ken kecil melebar melihat Liener menatapnya dengan marah, mata Liener yang biasanya berwarna coklat muda yang hangat kini berubah menjadi merah darah yang menyeramkan.
"Anda tidak boleh berfikir omong kosong seperti itu! Itu tidak benar... Klan kita adalah penguasa sejati. Memang sudah sewajarnya klan lain tunduk dan takut pada kita." Liener mencengkeram kedua bahu Ken, tidak peduli meski Ken terlihat kesakitan saat kukunya menancap di sana.
"Tapi bagaimana kalau mereka memberontak?"
"Itu tidak akan terjadi, tuan muda! Kita bisa menghabisi mereka sebelum hal itu terjadi. Makanya, anda tidak boleh lemah seperti ini, buang semua kelembutan anda! Jadilah pemimpin yang memiliki kekuatan mutlak, yang kejam dan haus darah seperti ayah anda."
Hei itu tidak benar! Orang sialan ini kenapa meracuni pikiran anak kecil dengan opini bodoh begitu sih!
Rasanya ingin ku pukul wajahnya.
Ken menatap takut mata merah itu, lantas mengangguk. Sembari menggigit bibirnya, sepertinya Ken kecil menahan rasa kesalnya. Ia tidak bebas mengatakan apa yang ia pikirkan karena semua orang menolak. Menganggapnya keluar dari jalur yang semestinya.
"Ayo kita kembali." Liener menarik paksa tangan Ken. Mengajaknya pulang ke istana.
Saat aku beranjak berdiri untuk mengikutinya tiba tiba kepalaku berdenging sakit. Pandanganku mengabur, dunia mimpi ini perlahan menjadi gelap.
Argh... menyebalkan!
Ini artinya ada yang membangunkan ku di dunia nyata.
Siapapun itu akan segera ku tendang keluar.
Oh ayolah... aku ingin melihat Ken kecil menggemaskan itu lagi. Rasanya aku bisa gila jika kembali ke dunia nyata tanpa dia.
Tunggu aku sebentar Ken...
__ADS_1
Aku akan segera tidur lagi.