
Alicia menatap tidak percaya seseorang yang sedang berdiri di depannya. Seseorang yang begitu ia kenal, seseorang yang begitu ia sukai sampai depresi. Dan seseorang itu melihat lurus ke arahnya.
"Tidak... Bagaimana mungkin." kaki Alicia kehilangan daya. Duduk di lantai pualam yang dingin. Air matanya mengalir, ia melihat ada dua Ken di tempat ini. Satu sedang duduk tanpa ekspresi dan satu lagi sedang berdiri sembari tersenyum manis.
Ken nya!
Karena Alicia diam saja, akhirnya Ken yang menghampirinya. Memeluknya erat. Mereka bisa bersentuhan! Alicia tidak bisa menahan tangisannya.
"Gadis cengeng."
"Hiks... Keennn... Huaaa... bodoh bodoh bodoh! Aku pikir kau benar benar mati... Sialan. Menyebalkan!" Alicia memukuli dadanya. Gadis itu merasakan detak jantung di sana. Ken masih hidup!
"Hei kalau kau memukuliku begini aku bisa mati lagi lo."
Tangan Alicia langsung berhenti, gadis itu menelan ludah takut jika hal itu terjadi, tidak bisa membayangkan melihat wajah pucat dan dingin Ken saat dadanya berhenti berdetak. Hal itu membuat tawa Ken meledak, mudah sekali mengerjai Alicia.
Lalu bagaimana mungkin hal itu terjadi?
Sejak awal Ken memang belum mati. Ia belum membuat kontrak, karena itu separuh dari dirinya masih berada di taman bunga mawar. Ken yang menemui Alicia di dunia nyata adalah Ken yang nekat hanya dengan menggunakan jaminan cincin pertunangan Alicia dan Bryan.
Ia yang mati terkena serangan mustika rubah tidak berarti apa apa. Wadahnya (tubuh) yang dibuat apa adanya itu hancur, jiwanya tertarik kembali masuk ke dalam segel, bergabung dengan kekuatannya yang masih terperangkap di sana. Cincin milik Alicia juga hancur, Ken tidak bisa lagi keluar dari dalam segel tanpa jaminan itu. Tubuhnya akan langsung tercerai berai begitu melewati gerbang taman bunga mawar.
Karena itu Ken tidak bisa menemui Alicia secara langsung lagi. Ia hanya bisa melakukannya lewat mimpi. Salah satu kemampuan sihir unik milik klan iblis level tertinggi.
Alicia hanya melongo mendengar penjelasan Ken. Otaknya tidak sampai, ia tidak paham sama sekali.
"Gak tau ah, terserah, yang penting aku masih bisa bertemu denganmu saja sudah cukup" Alicia menyerah untuk berfikir.
Ken menarik hidungnya, lantas menggigitnya gemas. Mereka membicarakan banyak hal. Ken bilang jika dalam kekuatan penuh, ia tidak akan mati hanya karena mustika rubah, sehebat apapun sebuah sihir atau senjata modern tidak ada yang bisa membunuhnya.
Alicia tersenyum lega. Ia tidak perlu khawatir lagi hal buruk seperti satu Minggu yang lalu terulang.
Tapi masalahnya sekarang Ken terperangkap lagi di taman bunga mawar. Ia tidak akan bisa menemui Alicia lagi di dunia nyata. Membuat kontrak juga tidak bisa, dendam Alicia pada Bryan tidak sebesar dulu. Gara gara Ken, dendam itu memudar. Datang ke taman itupun percuma, Alicia tidak bisa melihatnya.
"Tak apa, aku akan memikirkan caranya lagi. Kita pasti bisa bertemu, karena aku sudah mengikatmu." Ken membelai rambut Alicia, lantas menciumnya.
Mengikat? Tidak dijelaskan secara gamblang maksudnya. Alicia juga tidak begitu peduli, yang membuatnya tertarik sekarang adalah Ken remaja di depannya.
"Ken, apa itu sakit?" Alicia menunjuk ke depan, seseorang yang begitu mirip dengan Ken nya sedang tiduran, meringkuk di lantai.
Ken nya tertawa.
"Entahlah, aku sudah lupa. Tapi waktu itu aku belum terbiasa dengan borgol segel."
"Segel?"
"Iya, makanya regenerasinya lambat."
"Jadi itu sakit?"
Ken tidak menjawab, menatap dirinya sendiri yang terlihat menyedihkan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Alicia langsung mengecup singkat bibir Ken, gadis itu tidak tega melihat Ken sedih teringat dengan masa remajanya.
Wajah Ken memerah, ia memicingkan mata pada Alicia yang menatapnya khawatir.
"Hanya segitu?" tanya Ken.
Mata Alicia mengerjap.
"Apanya?" gadis itu balas bertanya, bingung.
Ken menyeringai.
__ADS_1
"Alicia, jangan salahkan aku. Kau yang memancing duluan."
"Selamat makan." Lanjutnya. Laki laki itu melingkarkan tangannya pada pinggang Alicia, menariknya sedekat mungkin dengan tubuhnya. Lantas tangan satu lagi memegang kepala gadis itu.
Alicia menutup mata saat wajah Ken semakin dekat. Kedua bibir mereka bertautan. Ken melakukan ciuman yang panas, memainkan lidahnya dengan lihai hingga membuat gadis itu sulit bernapas.
"Ken... Umh..." Alicia memukul mukul dada Ken. Berusaha melepaskan diri.
"Sstt... diam Alicia. Ini hukumanmu." mata hitam Ken menatap buas, seperti seekor singa yang tidak mau melepaskan buruannya.
"Ken... cukup..."
Setelah dirasa puas, makhluk buas itu melepaskan cengkeramannya. Tersenyum manis seolah tidak terjadi apa apa.
"Ken bodoh!" Alicia menginjak kakinya.
Ken pura pura kesakitan, memegangi kakinya. Membuat kekesalan Alicia semakin bertambah.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Alicia tidak bisa benar benar marah dengan binatang buas yang berhasil ia jinakkan ini.
Alicia duduk di pangkuan Ken. Ken memeluknya erat.
"Seharusnya kalau penasaran dengan masa laluku kau tinggal tanya saja. Aku bisa menunjukkan padamu semuanya, tidak perlu menggunakan kekuatan gadis ikan amis itu." Ken berseru lembut, akhirnya ia mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.
Alicia mengangguk pelan. Ia merasa bersalah soal itu. Ia benar benar bodoh karena sempat takut dengan Ken.
"Aku pikir kau merahasiakan masa lalu mu, dan yang ditunjukkan Elena sangat menyeramkan."
"Aku punya alasan." Ken menjawab singkat, matanya menerawang, seperti mengingat perjalanan pahit apa saja yang sudah ia lewati selama ini.
Alicia mengangguk, tentu saja.
"Lalu Ken, sekarang apa yang harus kulakukan? Berarti kau ada di taman bunga mawar itu lagi?"
"Sungguh?" Alicia berseru lemah, suaranya pelan, ia sangat sedih. Jadi tidak akan ada lagi orang yang masuk lewat jendela kamarnya, tidak akan lagi yang mengajaknya kencan di perpustakaan pada akhir pekan, tidak ada lagi yang memeluknya saat tidur.
"Bersabarlah sebentar, aku pasti menemukan cara untuk keluar lagi."
Alicia mengangguk.
"Ken, Asera bilang orang orang kampus jadi aneh. Banyak dosen yang berpacaran terang terangan dengan mahasiswinya, lalu peraturan peraturan kampus juga diperbarui. Masa tidak ada yang boleh pulang sebelum malam, aneh sekali. Apa itu ulah siluman rubah?"
"Haha... Makhluk rendahan itu sepertinya lupa pada tempatnya. Apa Areka tidak melakukan apapun?"
Alicia menggeleng, ia tidak tahu.
"Alicia, sebenarnya aku tidak mau melibatkan mu dalam bahaya. Aku juga tidak mau kau ikut dalam pertikaian antar klan. Tapi, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu."
"Tentu saja aku akan membantu! Ken, aku ini tidak selemah dulu. Aku bahkan berani ikut ke sarang rubah."
Ken melirik, tidak percaya.
"Hei, aku masih ingat kakimu yang gemetaran mau mengompol saat melihatku membunuh rubah rubah bau itu."
Wajah Alicia memerah.
"AKU TIDAK MENGOMPOL KOK! Jangan mengarang cerita dong Ken! Ih... Aku memang sedikit takut tapi tidak segitunya!" Alicia berteriak, mengalihkan wajah kesal.
Ken tertawa, mengangguk angguk.
"Iya deh iya, Alicia sudah jadi gadis pemberani sekarang." Ken jahil, meniup telinga gadisnya. Meski kesal, Alicia tidak pergi dari pangkuannya.
"Jadi aku bisa membantu apa?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"Hmm pertama tama kau harus bangun. Lalu mandi, pasti tubuhmu bau sekali. Makan yang banyak, dandan yang cantik, pergi ke kampus."
"Yahh... Ken... aku tidak mau ke kampus. Pasti lama, aku ingin melihat masa lalu mu lagi sampai selesai. Aku penasaran kenapa kau bisa disegel." Alicia merengek, menolak rencana Ken.
Ken menghela napas. Menarik hidung Alicia sekuat mungkin hingga memerah.
"Benar kan, kau ini sebenarnya tidak peduli denganku. Kau cuma suka karena seperti menonton film."
Alicia terkekeh, mengangguk. Bahkan ia tidak cemburu dengan Ken yang dekat dengan gadis lain di sini. Sepertinya Alicia memang menganggap dirinya sedang menonton film 3d. Dimana ia bisa dekat dengan tokoh tokohnya serta merasakan suasananya. Apalagi tokoh utama film ini adalah Ken! Wajahnya yang tampan itu menyegarkan sekali saat dilihat terus terusan.
"Alicia, ini serius. Keadaan dunia sangat kacau sekarang. Aku janji setiap malam akan menemuimu, mengajakmu melihat kisah hidupku sampai selesai. Aku bahkan tidak akan protes kalau kau mau mengintip ku mandi."
Mata Alicia berbinar.
Ken memukul kepalanya pelan.
"Mesum! Tentu saja tidak boleh, aku hanya bercanda."
Gadis itu mendengus kecewa. Padahal melihat Ken remaja mandi adalah tawaran yang menggiurkan.
"Temui Areka, jelaskan kondisiku padanya. Bilang kalau dia tidak perlu merasa bersalah karena aku belum mati. Lalu jika bisa, minta Areka menemui saudara tiri Bryan."
"Memangnya Bryan punya saudara tiri? Dan kenapa harus menemuinya?"
Ken tidak menjelaskan. Akan terlalu panjang.
Saudara tiri Bryan bisa menjadi bantuan yang luar biasa. Bahkan mungkin Rafaela punya solusi bagaimana cara mengeluarkan Ken dari dalam segel, dan membuat Alicia memiliki alasan lagi, sehingga bisa membuat kontrak.
"Aku percayakan padamu, Alicia." Ken mengecup singkat bibirnya.
Alicia mengangguk.
"Eh bagaimana caranya keluar dari sini? Selama ini aku bisa bangun karena ada yang membangunkan. Tapi kalau bangun sendiri tidak bisa."
"Alicia, jangan bilang kau minum obat tidur atau semacamnya untuk memaksa jiwamu terus berada di sini."
Alicia terkekeh, menggaruk belakang kepalanya.
Ken menepuk jidat. Ini masalah, akan gawat jika Alicia sakit.
"Segera setelah bangun pergilah ke dokter. Sekarang aku akan membantumu keluar, tapi mungkin agak sakit."
Ken mengangkat tangannya, kuku kukunya hitam memanjang. Alicia menelan ludah, seperti ia tahu apa yang akan dilakukan Ken.
"Aku minta maaf Alicia. Tapi keadaannya mendesak, ini juga salahmu karena minum obat tidur segala..."
Ken mendekatkan kuku kukunya ke dada gadis itu. Alicia menahan tangannya.
"Ehh... Ken... Kau tidak berencana membunuhku kan? A-apa tidak ada cara lain?" Alicia menatap ngeri tangan Ken yang berurat.
"Katanya kau sudah tidak takut lagi. Tenang saja, tidak akan mati kok. Sakitnya juga hanya sedikit, besok besok tidur biasa saja jangan pakai obat agar kita tidak perlu menggunakan cara ini lagi." Ken menyeringai, gigi taringnya terlihat.
Dengan amat terpaksa akhirnya Ken menusukkan kuku kukunya di dada Alicia. Alicia berteriak histeris, menatap marah Ken yang malah tersenyum manis. Benar benar kejam, memang ya klan iblis itu tidak punya hati nurani, ia bahkan tidak perlu berfikir panjang untuk melakukannya.
"Sampai bertemu nanti malam, sayang." suara Ken lembut.
Tidak ada darah yang keluar karena yang ada di depan Ken hanyalah jiwanya. Perlahan tubuh Alicia memudar, kemudian menghilang. Ia dipaksa bangun, kembali ke dunia nyata.
"KEN SIALAN!" Alicia berteriak, merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Dadanya berdegup kencang karena takut, nafasnya tersengal.
Tapi tidak ada waktu untuk terus mengutuk Ken.
Alicia harus segera melakukan tugasnya.
__ADS_1