Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
5. Beban


__ADS_3

"Aliciaaa selamat pagi."


"Iya, selamat pagi."


"Hai Cya."


"Hai... haha" Alicia tersenyum canggung.


Tidak tidak tidak! Alicia tidak tahan dengan perlakuan ramah teman teman sekelasnya. Ini aneh, ini benar benar aneh. Sejak kapan mereka peduli pada kehadirannya?!


Selesai mata kuliah pertama Alicia bergegas pergi ke perpustakaan, tempat paling tenang dan aman dari serbuan sapaan yang baru ia dapatkan hari ini.


Gadis itu mengeluarkan earphone, gadget, dan tablet untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya hari ini. Alicia adalah mahasiswi yang rajin, karena ia sadar jika ia bukan manusia jenius seperti Bryan maupun Areka.


Bicara soal Bryan, sejak pertemuannya di hari Minggu kemarin gadis itu sudah beberapa kali bersimpangan saat berada di kampus. Sial sekali, meskipun berbeda jurusan, kelas jurusannya dan Bryan berada di gedung yang sama. Bryan adalah mahasiswa yang mengambil tambahan banyak mata kuliah, membuat dia hampir 12 jam berada di kampus. Jadi, jika Alicia sedang di kampus sudah dipastikan kemungkinan bertemu dengan Bryan mencapai 100%.


"Oi"


"Oiii..."


"Memangnya earphone bikin tuli."


Tanpa merasa berdosa Areka yang sejak tadi ada di depan Alicia menarik earphone nya.


Mata Alicia mengerjap. Masih tidak percaya jika Areka muncul di depannya. Entah kenapa belakangan ini Alicia sering bertemu dengan Areka.


"Kau menguntit ku ya?" tanya Alicia serius. Menepis tangan Areka dari earphone nya.


"Kau gila ya? Perpustakaan ini memang markas ku, dan bangku pojok ini singgasana ku. Kau lah yang tiba tiba masuk dan mengganggu hari tenang ku di sini."


Alicia hampir tidak percaya jika matanya tidak sengaja menangkap tumpukan buku buku yang berserakan dengan judul besar tentang perangkat komputer dan teknologi jaringan telekomunikasi. Itu adalah bukti nyata jika Areka lebih dulu berada di sini.


"Ya sudah aku pindah." Alicia memasukkan tablet dan gadget nya ke dalam tas.


"No no no, Tidak semudah itu Alicia Arsya. Bayar dulu hutangmu."


Dahi Alicia terlipat, tidak mengerti arah pembicaraan Areka.


Areka menghela napas kesal, mengeluarkan nota dari saku kemejanya.


"Astaga! Oh iya yang kemarin belum aku bayar ya! Eh tapi, heyy aku masih marah denganmu soal kemarin."


"Iya deh aku minta maaf. Sekarang bayar hutang mu."


Benar kan, Areka itu sangat menyebalkan. Minta maaf nya tidak ada ketulusan sama sekali. Alicia mengeluarkan gadgetnya, segera mentransfer uang sejumlah yang tertera di nota.


"Terima kasih atas kerjasamanya, nona."


"Ya, semoga kedepannya tidak ada kerjasama lagi." ketus Alicia. Segera pergi pindah ke tempat lain, ia harus mengerjakan tugas.


"Yeah, aku setuju."


Areka dan Alicia sudah sibuk dengan tugas masing masing, tidak ada pembicaraan lagi. Areka harus menyelesaikan 3 proyeknya dalam satu bulan ini, ia tergabung di tim peneliti kampus yang sering mengembangkan teknologi teknologi baru mutakhir untuk diperlombakan. Sekarang ia diberi tugas untuk mempelajari dasarnya dulu. Membaca lebih dari 5 buku dan jurnal lalu merangkumnya serta membuat kesimpulan untuk bahan penelitian.


Areka sedikit iri dengan Bryan yang diberi tugas untuk diskusi dengan tim peneliti muda dari kampus lain. Yeah Bryan memang punya kemampuan berkomunikasi yang bagus.


2 jam berkutat dengan buku buku yang memusingkan akhirnya ia selesai. Areka meregangkan tubuhnya yang kaku, juga tangannya yang lelah karena tak berhenti mengetik. Bergegas untuk kembali ke labolatorium dan menyerahkan hasil analisisnya.


Tapi seorang gadis yang seperti kehilangan setengah nyawanya, meletakkan kepala di atas meja membuatnya tertarik.

__ADS_1


"Wah wah dua jam yang sia sia."


Alicia mengangkat kepalanya, menatap sinis Areka.


"Tanpa Bryan kau pasti sangat kesulitan ya. Mengerjakan soal gampang begini saja tidak bisa."


Untuk yang kali ini Alicia tidak bisa mengelak. Itu fakta yang benar benar nyata tidak bisa dibantah lagi.


"Sudahlah pergi sana. Jangan menggangguku. Aku tidak punya tenaga untuk meladenimu. Syuh syuh" Alicia mengusir.


Tapi bukannya pergi, Areka malah mengambil tablet Alicia, itu soal matematika.


10 menit Areka berkutat dengan 2 soal itu.


"Nah, sudah selesai."


"Ha?" Alicia mengecek hasil kerja Areka. Itu sempurna! Persis seperti apa yang dosennya inginkan.


"Sekarang sudah impas ya. Anggap saja itu harga permintaan maaf ku karena mengajak Bryan kemarin."


...****************...


Pukul 8 malam, Alicia sudah berada di kamarnya setelah mengikuti klub menulis kampus. Klub menulisnya benar benar sibuk mempersiapkan banner dan artikel untuk anak anak IT dan sains yang akan mengikuti lomba. Yang dimaksud adalah tim milik Bryan dan Areka. Kalau dulu Alicia menggunakan klub itu untuk menunggu Bryan lalu pulang bersama, kalau sekarang Alicia benar benar sudah menyukai dunia menulis.


Alicia menatap langit langit kamar. Sudah 2 tahun ia tinggal di asrama kampus ini. Tempat yang begitu nyaman, aman, dan tenang. Ia tidak perlu berinteraksi dengan banyak orang di sini, tidak ada yang berisik malam malam seperti jika di apartemen.


Ini juga sudah Minggu ke 5 hubungannya dan Bryan berakhir.


Tadi saat makan siang di kantin Alicia melihat Bryan sedang belajar bersama dua wanita. Bryan hanya melihat sekilas, kedua mata mereka bertatapan dan Bryan tidak peduli seolah tidak mengenalnya lagi.


"Haaah..." Alicia menghela napas berat.


*Drdrrttt dddrrttt... ddrrtt ddrrtt


"Cyaaaa ke klub yuk." suara cempreng di balik telepon ini adalah Asera.


"Males." Alicia menjawab pendek.


"No no no bestai, cewek single tidak boleh males."


Alicia punya firasat buruk dan benar saja tanpa permisi Asera mendobrak pintu kamarnya yang sebenarnya dikunci. Tetangga kamarnya ini sudah menghancurkan kunci kamarnya ke sekian kali.


"Hehe, besok aku perbaiki. Sekarang ayo kita pergi. Cepat ganti bajumu dengan baju seksi. Eh tapi tidak usah pakai cup ya, kita cari cowok yang menerima ukuran dadamu apa adanya."


Alicia melempar bantal ke wajah Asera yang nyengir tidak berdosa.


Klub ya, sudah lama Alicia tidak kesana. Terakhir kesana adalah dengan Bryan. Gadis itu tidak pernah ke klub sendirian, ia tidak tahan alkohol. Satu gelas saja bisa membuatnya tidur sampai pagi.


"Aku tunggu 30 menit ya. Ayo kita berpesta sampai pagi."


Alicia menghela napas, baiklah, tidak buruk untuk menghibur diri. Gadis itu mengambil syal dari Ken, menciumnya, bau mawar ini sangat menenangkan.


"Aku main sebentar ya Ken. Kalau kau sudah di sini aku janji hanya main denganmu." gumam Alicia.


...****************...


Pukul 9 malam Bryan dan Areka sudah menyelesaikan tugasnya untuk yang hari ini. Areka langsung berlari pergi ke asrama laki laki sedangkan Bryan masih menyempatkan menulis rancangan untuk besok.


"Sudah ditunggu cewekmu tuh Bry." kata teman satu tim Bryan.

__ADS_1


Bryan mengangguk, memeriksa gadget di saku celananya.


39 panggilan tidak terjawab.


Laki laki itu bergegas pergi keluar, sempat menyambar jaket yang ia pakai sambil berlari lari kecil di koridor. Sebuah mobil mewah keluaran terbaru sudah menunggunya di parkiran.


"Sorry, aku tidak buka gadget."


Wanita itu berusia 24 tahun, bergaya modis dan berwajah cantik layaknya seorang model. Tidak, dia memang model. Lulusan dokter termuda dan seorang model majalah style wanita.


"Sekarang kau mulai sering mengabaikanku. Kenapa? Gara gara mantan tunanganmu itu?" Lyodia bertanya intens. Sore tadi ia hampir punya keinginan menabrak Alicia yang pulang ke asrama dengan sepeda ontelnya.


Tidak kunjung mendapat jawaban dari Bryan, Lyodia mengambil rokok dari dashboard mobilnya.


"Fuuhh... Aku sedang stres sekarang. Dan kau malah semakin menyebalkan." lanjut Lyodia.


Bryan merebut rokok dari wanita itu, mematahkannya. Langsung menyambar bibir tipisnya, melakukan ciuman singkat.


"Jangan merokok. Itu tidak baik untuk kesehatanmu, nanti ditertawakan pasienmu jika mereka tahu dokter cantik ini menghisap sebatang nikotin." Bryan tersenyum tipis. Wajah Lyodia memerah.


"Ayo kita ke hotel Bry. Sudah lama kita tidak melakukannya." seru Lyodia bersemangat.


Bryan menghela napas.


"Aku minta maaf, sayang. Tapi aku benar benar lelah sekarang. Besok aku harus bangun pagi untuk menyelesaikan projek nya."


Lyodia cemberut, padahal Bryan yang memancingnya sekarang malah ia menolak. Menyebalkan! Tapi sudah cukup, ciuman tadi cukup untuknya berfikir bahwa Bryan mencintainya, hey Bryan juga memanggilnya 'sayang'!


"Kalau begitu biarkan aku menginap di apartemenmu!"


Bryan menggeleng. Lyodia menggigit bibirnya, wanita itu benar benar kesal sekarang. Bryan langsung menatap lembut wajahnya sembari memegang kedua pundak gadis itu.


"Hari Senin minggu depan. Aku janji akan meluangkan satu hari penuh untukmu. Aku akan menuruti semua keinginanmu di hari itu." bujuknya. Lyodia memalingkan wajah, tidak bisa lama lama menatap wajah tampan Bryan.


"Janji ya?"


"Iya, sekarang ayo pulang."


Sebenarnya Lyodia ingin menanyakan kapan Bryan akan bicara pada orang tuanya tentang putus dengan Alicia dan memperkenalkannya sebagai calon tunangan, tapi melihat wajah lelah Bryan membuat gadis itu urung. Lyodia melirik sekilas pada Bryan yang sudah memakai Hoodie di kepala, matanya tertutup rapat.


Bryan sendiri tengah memikirkan banyak hal. Tentang masalah keluarganya, perpecahan yang ada, hak waris, dan ibunya yang sudah mendesak untuk mulai ikut dalam persaingan.


'Papamu membawa anak haramnya yang sudah lulus kuliah di Australi ke rumah. Bahkan dengan tidak tahu malunya dia memberikan rumah baru atas nama wanita simpanan sialan itu.'


Chat dari mamanya yang Bryan baca tadi pagi membuatnya sakit kepala. Kali ini bukan hanya sepupunya yang ingin menguasai perusahaan, tapi ia juga harus berhati hati dengan anak haram papanya.


Bryan sudah tahu sejak dulu jika mama dan papanya tidak saling mencintai. Mereka berdua dijodohkan untuk memperkuat bisnis keluarga. Mamanya adalah wanita tangguh yang hidup hanya memenuhi ambisinya, sedangkan papanya adalah lelaki jenius yang harus meneruskan bisnis keluarga. Satu satunya kelemahan papanya adalah betina, bisa dibilang ia lelaki yang brengsek.


Tanpa peran mamanya yang sering ikut dalam rapat dan pertemuan dengan klien, perusahaan papanya tidak akan sebesar ini. Tapi laki laki brengsek itu memang tidak tahu diri, saat di pucuk kesuksesan ia tiba tiba bilang akan menikahi wanita yang ia cintai. Bahkan ternyata wanita itu sudah punya anak biologisnya!


'Lelaki gila itu mengancamku, jika pewaris perusahaan akan ditentukan dengan persaingan. Meski kau anak satu satunya yang diakui hukum, itu tidak berpengaruh apapun. Anakku, kau adalah harapan terakhir mama.'


Selesai mandi Bryan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang besar. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 10 tapi ia sudah sangat mengantuk.


*Ddrrttt.... ddrrttt... ddrrtt....


Dengan dongkol Bryan membuka gadget nya yang bergetar. Sebuah chat masuk dari nomor tak dikenal.


Nomor tak dikenal itu mengirimkan sebuah gambar yang membuat mata Bryan langsung terbuka lebar. Laki laki 20 tahun itu segera menyambar jaket dan kunci mobilnya. Bergegas keluar apartemen menuju parkiran, menyetir dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


"Alicia... akan kubunuh..." gumam Bryan menahan amarahnya, sembari menggigit bibirnya, itu adalah reaksi Bryan saat sedang panik dan khawatir.


__ADS_2