Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
6. Segera datang


__ADS_3

Ternyata Alicia tidak suka di klub malam!


Berbeda dengan Asera yang memang sering dan tahan dengan alkohol. Alicia sangat jarang dan bahkan hanya minum sekali saja saat ia baru putus dengan Bryan.


Alicia juga tidak suka musik disko yang berisik. Baju tanpa lengan serta celana pendek yang ia kenakan juga terasa sangat tidak nyaman.


Gadis 20 tahun itu hanya duduk di sofa sambil minum soda tanpa alkohol, bermain game tebak tebak an di ponselnya. Sembari sesekali memantau Asera yang sudah dikerubungi para pria, temannya itu sangat ahli dalam hal itu, entah kenapa serasa bunga yang dikerubungi para lebah. Yeah Asera memang cantik, kalau mau dia bisa menggaet cowok sekelas Bryan (Kecualikan Areka yang terlihat tertarik dengan gadis), tapi Asera tidak pernah berpacaran.


Kenapa Asera tidak pernah berpacaran? Karena pasti langsung memutuskan hubungan jika cowoknya mulai suka dan menembaknya.


"Ayolah, mereka terlalu serius. Aku kan memang suka bermain." Itu yang Asera katakan ketika Alicia menegurnya yang sudah keterlaluan mempermainkan kaum Adam.


"Hai, apa kau sendiri, nona?"


Alicia menoleh ke samping, seseorang lelaki tinggi sepertinya berusia 24 tahunan menyapanya. Alicia mengerjap, kemudian mengangguk sebagai jawaban.


"Apa aku boleh minum bersamamu?"


Alicia mengangguk lagi, mempersilahkan. Tentu saja, sofa ini untuk umum. Laki laki itu mengajak Alicia berbicara, sebenarnya gadis itu tidak terlalu nyaman untuk menjawab setiap pertanyaan yang terkesan privasi seperti menanyakan usia, alamat, bahkan hingga nomor telepon.


Apalagi Alicia adalah gadis yang tidak banyak punya teman, terutama teman lawan jenis. Pergaulannya hanya terbatas pada teman teman Bryan itu pun hanya sekedar tahu namanya.


"Tidak seru ah kalau cuma aku yang minum, kamu minum juga dong." laki laki itu memberikan segelas bir padanya. Alicia hendak menggeleng tapi melihat tatapan mata intens dari laki laki itu membuatnya tidak berani. Alicia pun dengan terpaksa menegak segelas kecil bir tersebut, laki laki itu menyeringai.


...****************...


Setiap pukul 6 P.M, sebelum matahari tenggelam taman bunga mawar belakang asrama selalu dikunci dengan sebuah gembok yang terbuat dari logam mulia yang sudah diberi mantra khusus. Tidak pernah diganti sejak taman itu dibuat.


Sebenarnya gembok itu tidak memiliki kunci. Gembok itu ditutup menggunakan kekuatan khusus yang hanya dimiliki oleh orang orang terpilih yang menjaga asrama.


"Belakangan ini anda sangat berisik." Laki laki tinggi besar dengan wajah buruk rupa berusaha keras mengeluarkan energi spiritualnya untuk menggembok gerbang taman mawar tersebut.


Sudah 3 kali dicoba namun gembok itu tetap terlepas. Terkunci lalu terlepas lagi, seakan ada yang usil membukanya dengan kunci.


"Menurut lah tuan, golongan anda sudah tidak diterima di dunia ini. Segeralah menghilang saja, jangan merepotkan saya dan kerabat kerabat saya. Haah aku ingin segera pensiun." Laki laki tua berwajah menyeramkan itu menyesal karena tidak lebih awal menutup gerbang. Ia terlalu menyepelekan karena tidak pernah ada pemberontakan dari dalam sana. Hanya suara suara dan energi negatif yang meminta kebebasan.

__ADS_1


Tangan laki laki itu bergetar hebat, peluh membasahi leher dan wajahnya saat perlahan dapat melihat bayangan hitam bergerak dari kejauhan.


"Ukh, kenapa sulit sekali!" laki laki itu memaksa gembok tertutup menahan dengan tangannya.


*Cklak


*PYAR


Kali ini bukan hanya rusak biasa, tapi gembok khusus yang terbuat dari logam mulia itu hancur lebur, butiran emas terurai. Mata sipit laki laki berwajah seram itu melotot tidak percaya sekaligus takut setengah mati menimbang situasi yang terjadi. Ini benar benar bencana!


*Krak krak krak


Bayangan itu semakin dekat dan membesar, hingga matahari sempurna tenggelam terbentuklah wujud itu. Dengan seluruh tubuh dibalut jas hitam menyatu dengan kegelapan malam menyisakan matanya yang berwarna merah menyala seakan haus akan energi manusia, juga kulitnya yang begitu putih pucat menggambarkan penderitaan.


Sang penjaga taman mawar merah itu jatuh terduduk. Kakinya gemetaran merasakan aura mencekam yang luar biasa. Bayangan hitam, tidak lebih tepatnya makhluk yang berwujud manusia itu sudah hampir sampai di dekat gerbang. Tangannya terjulur menyentuh kurungan yang membuatnya terjebak di sana selama ribuan tahun.


Sebuah kilat menyambar, langit seakan ikut mencegah makhluk hitam itu keluar. Awan sempurna menutupi bintang gemintang yang bertaburan, seolah tidak mengizinkan langit untuk menyaksikan makhluk itu terbebas dari sangkar.


Hujan turun, bersama dengan petir dan angin.


Setiap kali tangan makhluk itu menyentuh gerbang yang tertutup, gerbang itu menyala merah, melawan. Berusaha tetap kokoh mempertahankan tugasnya dari ribuan tahun lalu.


1 kali, cahaya terang berpendar, 2, 3, hingga ke 5 kali makhluk itu menyentuh pintu yang mengurungnya selama ini. Ia mulai terbiasa dengan rasa sakitnya, meski tangannya terkikis saat melakukan percobaan itu, berlumuran darah.


Di percobaan ke 10 kali gerbang itu mampu ia taklukan. Ia mampu memegang besi besi yang bercahaya mengalirkan rasa sakit yang luar biasa, lantas mendorongnya dengan kekuatan yang bahkan bisa membuat cor semen memiliki retakan retakan hingga ikut hancur bersamaan dengan gerbang tersebut.


Makhluk itu menampakkan wujudnya, laki laki tinggi dengan wajah sepucat mayat, di antara guyuran hujan dan kilat cahaya.


"Kau bisa pensiun sekarang." Ia menyeringai. Suaranya seperti menggema di langit langit.


Hujan semakin deras. Meski begitu entah kenapa makhluk di depannya ini terlihat begitu jelas. Laki laki tua menjaga gerbang mengangkat pistolnya ke depan, dengan keberaniannya yang tersisa. Tangannya bergetar hebat menahan takut yang teramat sangat.


Seperti sesosok makhluk itu adalah seorang malaikat pencabut nyawa.


"Ma-masuk l-lagi! A-atau ku tembak!"

__ADS_1


*Dor dor dor


3 peluru dimuntahkan dengan jarak kurang dari 10 langkah. Telak mengenai tubuh makhluk itu. Peluru itu masuk ke kening, dada, dan perutnya. Sungguh tembakan yang luar biasa mengenai 3 titik vital sekaligus. Jelas orang tua buruk rupa itu bukan seorang amatiran.


Orang yang ditembak masih memandang rendah dengan ekspresi menertawakan. mencabut peluru itu dengan kuku kuku panjangnya. Darah memang mengalir dari tubuhnya, tapi segera beregenerasi, hujan membantu membersihkannya hingga orang tua itu tahu ia sudah salah besar jika mengira pistolnya itu berguna.


Masih dengan seringai yang menakutkan, sosok tinggi itu mendekat sembari melempar lemparkan tiga peluru ke udara. Orang di depannya sudah tidak mampu berkutik lagi, tidak mampu mengangkat tangan bahkan pistol sudah terlepas dari jemarinya yang kehilangan tenaga.


Ia sudah pasrah, kehilangan harapan hidup. Menyisakan raga dengan nyawa yang bersembunyi di sudut tergelap, menatap datar sosok ber aura mengerikan itu. Tinggal tersisa 3 langkah lagi, aroma mawar tercium pekat membuat laki laki tua itu mau muntah.


"Sudah kubilang kau boleh pensiun kan." Tangan berlumuran darah itu menyentuh kepalanya. Pria tua berwajah buruk rupa itu mendongak, hujan membasahi wajahnya membuat darah sang makhluk mengerikan itu mengalir hingga ke leher.


Lagi lagi makhluk itu menyeringai.


"Selamat tidur."


...****************...


Kau tahu bagaimana persaingan gila keluarga Damian untuk menentukan penerusnya? Mereka menghalalkan segala cara untuk membuat lawan mainnya lengah. Mereka dituntut untuk tidak memiliki kelemahan sedikitpun, menjadi manusia sempurna yang mampu memimpin perusahaan yang menjadi tombak penting kemajuan teknologi.


Bryan sudah menyiapkan pistolnya di saku hoodie, jika keadaan mengharuskannya membunuh, ia siap, ia harus siap. Kedua tangan Bryan berkeringat dingin, mengetuk ngetuk stir mobil.


Seharusnya dari awal Bryan tidak ragu untuk membatalkan pertunangannya. Seharusnya dia tidak menunda waktu untuk bilang ke orang tuanya dan orang tua Alicia. Seharusnya Bryan tidak melibatkan Alicia dengan dirinya sejak ia tahu segila apa kerabat kerabatnya.


"Jika tuan muda mau, saya bisa langsung menabrak mobilnya agar berhenti." seseorang berbicara lewat earphone yang terus terpasang di telinganya.


"Jangan lakukan, Alicia ada di dalam. Aku tidak mau ada pertumpahan darah kali ini, ikuti saja."


"Baik, tuan muda. Sesuai yang anda perintahkan."


Bryan mematikan telepon. Ia terus mengebut di jalan tol. Mobilnya terpisah 20 kilometer dengan mobil orang orang yang membawa Alicia. Entah apa yang sedang mereka rencanakan.


Apapun itu, asal Alicia selamat.


Bryan berjanji akan melakukan apapun agar Alicia membencinya. Agar gadis itu tidak perlu terlibat lagi dengan urusan rumit miliknya.

__ADS_1


__ADS_2