Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
15. Rencana


__ADS_3

Rafaela atau yang sekarang dipanggil Arean itu tidak berbohong saat bilang bahwa ia sudah menyiapkan banyak hal untuk Ken.


Di mulai dari uang, rumah, bahkan hingga identitas sudah ada untuk menunjang kehidupan Ken di masa ini.


Ia adalah seorang bawahan yang sangat setia, bahkan dulu saat masih menjadi gadis iblis, Rafaela rela menjadi tameng untuk Ken, membuat Ken tidak pernah tersentuh oleh musuh manapun.


Bukan hanya menyiapkan seluruh kebutuhan fisik untuk Ken. Arean juga membuat buku yang ia tulis sendiri tentang cara kerja dunia ini, buku yang ditulis dengan sangat rapi dan runtut agar Ken dapat mempelajarinya dalam satu malam.


"Kerja bagus." Ken tersenyum puas. Ini adalah hal yang ia butuhkan sekarang. Sangat menghemat waktu agar ia bisa fokus pada Alicia.


Wajah Arean begitu senang, ia duduk melipat kaki di lantai, mendekatkan kepalanya.


"My lord...." matanya berbinar menatap penuh harap.


Meski sangat aneh melakukannya dengan laki laki, Ken tetap memberikan pat pat (tepukan pelan) di kepala Arean. Pria yang sebenarnya jiwanya seorang gadis itu berputar putar saking senangnya. Ken hanya tersenyum simpul, (gadis) itu tidak berubah. Terlalu cinta dan tergila gila padanya.


Tapi tenang saja, Rafaela adalah seorang profesional. Ia bisa menempatkan diri kapan melihat Ken sebagai tuan yang ia cintai dan kapan melihat Ken sebagai tuan yang ia segani dan patuhi.


Bagi Rafaela, Ken adalah segalanya. Seseorang yang begitu berarti, saat dewa memisahkannya dari Ken, gadis itu berkali kali mengutuk dan rela melakukan apapun untuk segera keluar. Sekalipun harus bergantung pada janin yang lemah.


"My lord, anda belum membuat kontrak bukan? Apa sebenarnya keinginan manusia itu?" Rafaela bertanya, matanya tak bisa lepas dari wajah serius Ken.


"Kau tidak perlu tahu. Aku bisa mengurusnya sendiri." Ken menjawab singkat. Ia harus mencegah pertemuan antara Rafaela dan Alicia. Menimbang dari sifat hormat Rafaela padanya, gadis iblis itu pasti akan langsung membunuh Alicia jika tahu bagaimana Alicia memperlakukan Ken.


"Kenapa? Saya ingin bertemu dengan laki laki beruntung itu."


Bahkan Rafaela mengira Ken membuat kontrak dengan laki laki.


"Bukankah sakit jika keluar tanpa kontrak. Tuan, apa anda selalu menahannya seperti ini?" Arean alias Rafaela itu mendekat, menatap penuh khawatir pada Ken yang masih sibuk membaca buku yang ia tulis.


"Tidak juga. Ngomong ngomong kau sudah menemukan dua lainnya?" tanya Ken, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Ken sudah menentukan misi penting untuk Rafaela agar gadis iblis itu tidak bisa me mata-mata i nya dan mencegahnya bertemu dengan Alicia.


"Tuan, tolong jawab pertanyaan saya dengan benar. Saya pernah berusaha keluar dari segel, dan hanya satu langkah saja keluar, tubuh saya rasanya seperti tercabik cabik. Akhirnya saya tertarik kembali masuk ke dalam segel karena tidak kuat menahannya. Anda... Apa anda memang pengecualian atau anda menahannya?"


Ken menatap penuh respek. Meski wajah Rafaela sekarang berubah menjadi tampan, bagi Ken ia tetap terlihat seperti gadis yang penuh kasih. Layaknya seorang adik yang mengkhawatirkan saudaranya.


"Itu karena kau tidak memiliki jaminan." Ken mengeluarkan cincin pertunangan Alicia dengan Bryan.


"Ini mengurangi banyak sekali rasa sakitnya. Kau tenang saja, aku akan segera membuat kontrak."


Saat klan iblis disegel, mereka diberikan syarat jika ingin keluar. Yaitu, menjalin kontrak dengan manusia yang berarti harus membantu manusia dalam melakukan sesuatu, manusia yang dipilih juga bukan sembarangan. Mereka haruslah orang yang kehilangan harapan, yang ingin mengakhiri hidupnya.


Jadi kontrak dengan iblis dilakukan untuk 'menjaga nyawa' manusia tersebut. Iblis harus melakukan apapun demi kebaikan partner kontrak mereka. Kesimpulan kasarnya adalah: menjadi pelayan manusia. Sebagai penebusan pembantaian yang mereka lakukan ribuan tahun yang lalu.


"Begitu ya... Baiklah saya percaya."


"Dan saya minta maaf karena sampai sekarang tidak bisa menemukan Delius dan Helius. Dunia ini begitu luas, bahkan di negara mana saja mereka disegel saya tidak tahu. Yang pasti mereka belum keluar."


"Benar, jika sudah keluar mereka pasti langsung menemuiku." gumam Ken.


"Apa anda ingin saya mencari mereka, my lord?"


Rafaela adalah pelayan yang cepat tanggap. Karena itu Ken tidak akan marah meskipun ia terkadang memiliki sifat kekanakan yang cukup menyebalkan.


"Tuan, sebenarnya apa yang ingin anda lakukan setelah ini?" itu pertanyaan yang serius.


Ken terdiam. Dengan ketiga rekannya yang ternyata masih setia, mana mungkin ia boleh hanya ingin hidup tenang bersama Alicia? Ken harus mengambil keputusan yang tepat. Mengambil alih dunia, atau merebut dunia milik klan lain yang masih tersisa di 'alam seberang'.


Haruskah ia melakukan sebuah revolusi?


****************

__ADS_1


Bagaimana cara Alicia membalaskan dendamnya pada Bryan?


Gadis itu belum tahu apa yang sebenarnya ia inginkan pada mantan tunangannya itu. Ah tidak, Bryan bahkan belum bilang ke orang tuanya jika mereka sudah putus. Setelah kejadian itu Bryan tidak menemuinya sama sekali. Minta maaf saja tidak, padahal ia sudah membuat Alicia berada di situasi yang begitu menyeramkan.


Alicia hanya menatap kosong buku tugas di depannya, gadis itu sedang berada di kantin kampus. Karena tugasnya sulit ia jadi malas untuk mengerjakan dan memikirkan hal lain. Kira kira apa yang sedang dilakukan Ken ya. Seharian ini juga aneh, ia sama sekali tidak bertemu dengan Bryan dan Areka.


Kalau Asera jangan di tanya, gadis itu menghabiskan waktunya berada di labolatorium kimia. Karena meski Asera terlihat bodoamat dengan pekerjaannya dan hidup bersenang senang saja, sebenarnya Asera itu seorang asisten dosen yang menjaga labolatorium.


"Aku ingin bertemu dengan Ken." gumam Alicia tiba tiba.


Seharusnya Ken punya telepon supaya mereka bisa chatting ketika Alicia kesepian seperti ini.


Gadis itu menghela napas, ia bosan.


Lalu sedetik kemudian kebosanannya itu menghilang saat seorang gadis dengan sengaja menumpahkan kuah makanan di atas kepalanya.


"Ah maaf ya."


Ah maaf ya? Alicia langsung menutup matanya, mengambil sapu tangan di dalam tas kecil yang ia bawa. Matanya perih, kuah yang membasahi kepalanya ini pedas dan bau rempah rempah. Ia tidak tahu siapa gadis yang melakukan hal ini padanya.


Namun, kenapa tidak ada yang membantunya?


Gadis yang melakukannya sudah berlalu pergi, kembali berbincang dengan teman temannya seolah hanya menumpahkan kuah ke dalam tempat sampah.


Kantin ini ramai, kenapa tidak ada yang meneriaki gadis kurang ajar itu?!


Alicia tidak bereaksi apapun, gadis itu belum bisa mencerna apa yang terjadi, semua berjalan begitu cepat. Apa benar gadis tadi tidak sengaja? Tapi kenapa seolah tidak memiliki salah apapun, gadis tadi tidak memperdulikannya? menolong pun tidak.


Ini adalah perlakuan buruk pertama yang Alicia alami, karena itu Alicia hanya bisa diam. Tidak tahu harus melakukan apa.


Haruskah ia berteriak protes? mengutuk pelaku tak bertanggung jawab yang kabur itu? Tidak! Alicia tidak bisa melakukannya. Ia sudah dewasa untuk marah hanya karena hal sepele.


Apa hal ini benar benar sepele?


Sial! padahal masih ada 1 kelas lagi hari ini.


"Hiks... hiks... huaaa..." Alicia mengurung dirinya di dalam kamar mandi. Perasaannya campur aduk, siapa gadis yang melakukan hal buruk ini padanya. Apa gadis suruhan Bryan? atau salah satu fans Bryan? Pikiran Alicia kacau. Entah kenapa ia selalu berfikir buruk terhadap mantan tunangannya itu.


Alicia tahu dan sadar diri jika ia bukan gadis yang menyenangkan, ia juga tidak jenius untuk dapat berkuliah di sini. Selama ini seluruh kekurangannya ditopang oleh Bryan. Apa sekarang ini ia sedang di-bully?


"Ken... Ken... hiks..."


................


*Deg


Terjadi sesuatu pada Alicia.


"Aku harus pergi sekarang. Apa kartu identitas ini bisa digunakan untuk masuk ke sebuah universitas?" Ken bertanya, mengabaikan wajah kecewa Rafaela saat ia pamit pergi.


"Eh.. Anda mau jadi mahasiswa my lord?"


"Tidak, bukan. Hanya masuk saja, melewati penjagaan."


Rafaela paham yang dimaksud oleh tuannya ini adalah satpam yang berjaga di gerbang masuk.


"Bisa. Anda bilang saja jika punya teman di universitas tersebut. Jika perlu anda bisa menyebutkan nama dan jurusannya."


Ken segera pergi meninggalkan Rafaela. Tak tanggung tanggung ia keluar lewat jendela, langsung melompat di atas atap. Dengan kecepatan penuh ia tidak bisa diikuti oleh mata telanjang, tidak akan ketahuan oleh manusia, kalau di cctv mungkin akan terlihat blur saking cepatnya.


Sampai di gang dekat kampus yang cukup sepi, Ken turun ke jalan. Ia menggunakan dua kakinya untuk berjalan lambat seperti manusia pada umumnya.


Tapi dadanya terasa tidak nyaman. Perasaan Alicia buruk sekali, gadis itu memintanya datang. Ken berlari, dengan menunjukkan kartu identitas yang disiapkan oleh Rafaela, ia bisa melewati gerbang dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Perasaannya terikat dengan perasaan Alicia. Tanpa perlu sharelock Ken bisa menemukan dimana gadisnya berada.


Ken tidak peduli jika ia yang menggunakan Hoodie kuning milik Rafaela dan celana pendek santai dijadikan pusat perhatian. Yang Ken utamakan sekarang adalah Alicia, menemukannya, dan membantunya.


Setelah naik ke lantai dua sebuah gedung yang jauh dari gerbang akhirnya Ken melihat gadis yang ia cari cari, sedang berjalan sendirian di lorong dengan rambut yang meneteskan air dan baju setengah basah. Menenteng bukunya yang terkena tetesan air. Alicia menunduk malu, ia dijadikan tontonan oleh orang orang yang melewatinya.


Bahkan Alicia tidak menyadari keberadaan Ken, menabrak tubuh Ken yang berdiri di depannya.


"Maaf, aku tidak sengaja." lirih gadis itu, masih dengan wajah menunduk berjalan melewatinya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Ken melepas Hoodie yang ia pakai. Menyisakan kaos putih se siku. Berlari kecil mencegat Alicia, menggunakan Hoodie itu untuk menutupi kepala gadisnya.


"Jahat sekali, kau bahkan tidak mempedulikanku ya."


Suara itu.


Tanpa mendongak untuk melihatnya pun Alicia tahu siapa yang sedang menutupi wajahnya dengan jaket. Tubuh Alicia bergetar, gadis itu menangis sejadi jadinya. Ken dapat merasakan perasaan buruk Alicia. Tapi ini di tempat umum, meski sangat ingin memeluknya Ken hanya sebatas menggandeng tangan.


"Ayo pulang. Tidak apa apa... Jangan takut, aku bersamamu."


Tangan gadis itu sangat dingin.


...****************...


Sementara itu di tempat lain, di waktu yang hampir bersamaan.


"Saya minta maaf tuan muda. Meski sudah mencari dimanapun, kami tidak bisa menemukan identitas laki laki yang bersama dengan nona Alicia." anjing penjaga Bryan memberikan sebuah foto, itu foto Ken yang diambil diam diam.


"Dia juga sangat mencurigakan. Dia bisa tiba tiba menghilang di tempat yang sepi. Kami selalu gagal mengikutinya."


"Lalu nona Lyodia melakukan sesuatu dan membuat nona Alicia menangis." lanjutnya, membuat Bryan tersenyum simpul.


Lyodia adalah gadis yang ia butuhkan. Gadis yang kuat, cerdas, dan penuh ambisi untuk mendapatkan sesuatu.


Bryan sudah memutuskan, besok ketika ia keluar, pria itu akan membuat perhitungan pada Alicia. Gadis yang bagi Bryan sekarang adalah gadis yang merepotkan. Yang membuat Bryan harus menerima hukuman dan mempermalukan ibunya.


......................


"Alicia... Jika kau mau aku bisa membawa mayat gadis yang melakukan hal ini padamu, hingga teman dan keluarganya. Apapun yang kau inginkan, my lady..."


Ken adalah seorang iblis. Tentu saja sebaik apapun dia pada Alicia, baginya membunuh itu sama seperti bernapas.


Ia tidak akan dihukum apabila pembunuhan itu dilakukan demi kebaikan pasangan kontrak.


"Ken, aku tidak mau balas dendam dengan cara menyedihkan seperti itu. Aku ingin mereka juga merasakan penderitaan dan mati dengan penuh penyesalan."


Itu dia... Ini dia sosok Alicia yang Ken inginkan. Sosok putus asa yang diliputi perasaan gelap. Sama seperti ketika gadis itu pergi ke taman bunga mawar, Alicia yang sakit hati hingga ingin Bryan mati.


"Tentu Alicia, kau bisa memanfaatkanku sesukamu. Lalu kita akan buat kontraknya."


Sekilas lagi lagi Alicia melihat warna merah terpancar dari mata Ken.


Tapi Alicia memutuskan untuk tidak peduli lagi. Jika ia tetap diam, orang orang Bryan akan semakin semena mena. Tentu saja Alicia harus membalas.


Sakit hatinya karena Bryan memutuskan sepihak, alasan konyol Bryan serta berbagai cemoohannya, lalu Bryan yang melibatkannya dalam masalah dan tidak peduli pada nyawanya, sekarang pembulian ini.


Itu sudah melewati batas.


Alicia tidak bisa bersabar lagi.


Ken tersenyum misterius, ia bisa segera membuat kontrak. Rafaela juga pasti bisa menemukan Dalius dan Helius. Tiga rekannya di masa lalu yang setia mengikutinya akan segera berkumpul kembali.

__ADS_1


Setelah itu Ken akan membuat tempat yang bisa ia tinggali, tanpa harus terlibat dengan manusia lagi.


__ADS_2