
"Kau memasang sihir apa?!" Elena langsung bertanya. Karena begitu mobil memasuki gerbang yang terbuka lebar tanpa pagar ini, ia tidak merasakan kehadiran siluman rubah di rumah besar milik orang tua angkat Areka. Sangat aneh, padahal tanpa penjagaan apapun seharusnya siluman rubah bisa masuk dengan mudah.
Bukannya menjawab pertanyaan, Areka malah langsung berlari masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Elena dan Alicia yang masih di dalam mobil.
"Ada apa?" Alicia bertanya, karena Elena melangkah mendekat ke arah gerbang, meraba udara kosong di depannya.
"Ini pelindung." jawab Elena.
"Pelindung?"
"Iya, manusia rubah tidak bisa melihat rumah ini, mereka tidak bisa masuk ke sini."
Alicia tertegun, ia cukup kagum dengan sihir yang memiliki banyak sekali variasi. Seakan tidak ada batasan, ada berbagai macam hal yang bisa dilakukan. Bahkan Ken yang tiba tiba menemuinya di mimpi juga membuat logika Alicia bingung. Apa dunia memang serumit dan seseru ini? Jadi manusia itu hanya seperti batu diantara para hewan kuat. Manusia tidak memiliki kemampuan apapun karena itu selama ini hanya dijadikan seperti objek.
"Apa ini kekuatan klan mermaid?"
Elena mengangguk, tapi ini bukan kekuatan Areka. Klan mermaid memang bisa membuat ilusi, sama seperti Areka pernah membuat jebakan untuk Ken saat pertama kali mereka bertemu. Tapi ilusi yang mengelilingi rumah ini tidak mungkin bisa dibuat oleh klan mermaid biasa. Sihir ilusi biasanya tidak bisa bertahan lebih dari satu jam, sedangkan ini sihir yang sangat kuat, banyaknya mana sihir yang dikeluarkan untuk membuatnya hampir setara dengan jumlah mana sihir bola hitam Ken.
Luar biasa! Elena tidak tahu jika Areka masih berhubungan dengan klan mermaid lain.
"Elena, setelah semua ini selesai apa kalian akan meninggalkanku?" Alicia tiba tiba bertanya random. Gadis itu mulai tahu jika Elena, Areka, dan Ken memiliki dunia yang sangat berbeda darinya. l
"Tidak tahu. Bisa iya bisa tidak. Areka masih suka di sini jadi aku ngikut saja. Ayo ke tempat Areka." Elena tersenyum tipis, menarik tangan Alicia. Dengan sentuhan fisik, Elena jadi tahu kekhawatiran gadis itu. Pikiran Alicia sangat rancu seperti gulungan acak benang dengan berbagai warna, saling berpilin, membuat bingung.
"Kau tau Alicia, sejak dulu Areka itu suka bereksperimen. Mana sihirnya lemah tapi otaknya luar biasa sekali. Areka itu suka bertaruh, mencoba hal yang baru. Sihir dan kekuatan membuatnya bosan dan dia juga tidak berbakat di sana. Karena itu dunia manusia ini sangat cocok untuk Areka. Dia bisa menggunakan otaknya dengan maksimal."
Kalimat Elena itu mengartikan jika Areka sudah menganggap dunia manusia sebagai rumah. Areka akan terus di sini bahkan setelah masalah selesai.
"Kalau kau?"
"Aku itu tidak terpisahkan dengan Areka. Mungkin suatu saat nanti aku perlu membuat identitas manusia juga agar bisa hidup di sini? Jadi mahasiswa sepertimu."
Alicia tertawa. Ide bagus. Ia juga ingin Ken melakukan hal serupa. Ken sudah punya identitas yang entah bagaimana ia mendapatkannya, Alicia harap Ken bisa hidup dengannya di dunia manusia. Alicia harap Ken tidak mencari dunia lain seperti manusia rubah yang memiliki markas rahasia.
Elena yang membaca pikiran Alicia hanya tersenyum sendu. Ken pernah bertanya padanya perihal dunia iblis yang dimusnahkan ribuan tahun lalu karena seluruh iblis klan tinggi disegel. Apa benar dunia itu musnah? Jawabannya adalah belum. Tapi tidak mungkin klan mermaid biasa sepertinya membuka portal kesana. Klan iblis yang telah terputus dari dunia itu juga tidak bisa datang lagi.
"Kakak tidak pernah pulang, sekalinya pulang bawa dua pacar."
Kedua mata Alicia dan Elena mengerjap melihat pemandangan di depannya. Bukan karena melihat ayah dan ibu angkat Areka yang terlihat muda padahal sudah berusia setengah baya. Tapi melihat seorang gadis berusia 7 tahun, dengan pipi chubby yang menggemaskan dan rambut kuncir dua sedang digendong oleh Areka dengan kedua tangan.
Seorang Areka menggendong anak kecil dengan begitu lembut, penuh kasih sayang memeluknya, itu benar benar hal yang tidak pernah terbayangkan.
"Halo selamat datang, apa kalian teman putraku?" ayah dan ibu Areka mendekat, menyalami.
__ADS_1
Alicia menerima uluran tangannya, merunduk sopan. Sangat berbanding terbalik dengan Elena yang memelototi gadis kecil di pelukan Areka.
"Aaaa... Siapa gadis lancang ini?! Kau berselingkuh dariku?!" Elena berkacak pinggang, melangkah cepat tergesa gesa mendekati Areka sembari menunjuk gadis kecil tak berdosa. Gadis kecil itu mengerutkan dahi, lantas memeluk leher Areka, menjulurkan lidah pada Elena, mengejek.
Areka menampik telunjuk Elena.
"Jaga mulutmu... Dia ini adikku." lima jemari Areka mencomot bibir Elena. Inilah alasan Areka tidak mau mengenalkan Elena pada keluarganya. Gadis ini selalu ingin memonopoli Areka untuk dirinya sendiri.
"Maaf Pa, Ma... Dia sejak kecil hidup di laut. Jadi mulutnya tidak pernah dididik."
Mata Elena mendelik marah, tersinggung dengan kalimat Areka yang seakan merendahkannya. Sedangkan kedua orang tua Areka hanya terkekeh, mengangguk maklum.
"Apa gadis ini yang membuatmu berkeliling dunia demi mencari air penyembuh itu?" Mama nya bertanya, mendekat ke Elena, menangkup wajah kecil gadis itu. Elena menatap kesal, kedua alisnya tertaut tidak suka dengan manusia yang ia anggap akan merebut Areka.
"Dia sangat cantik, benar benar seperti seorang putri."
Eh...
Kata kata yang diucapkan ibu Areka sangat tulus, suara hati dan mulutnya sinkron, ia tidak berdusta saat mengatakannya. Wajahnya yang teduh itu tersenyum lembut.
"Papa, haruskah kita menambah anak lagi?" Ibu Areka menoleh pada suaminya, matanya berbinar. Sepertinya ia suka dengan Elena.
"Areka tidak akan setuju, sayang. Dia ini calon mantu kita."
......................
Hubungan Areka dengan keluarganya adalah hubungan yang bisa membuat iri siapapun. Keluarga yang hangat, ayah dan ibu angkat Areka begitu baik, sedangkan adik perempuannya sangat cantik dan menggemaskan. Areka terlihat sangat menyayangi mereka.
Dalam hati, Elena merasa aneh. Ia pikir Areka adalah laki laki yang tidak mengenal kasih sayang. Ia adalah orang yang realistis, ia pikir Areka hanya memanfaatkan keluarganya dan para manusia di sekitarnya untuk bertahan hidup dan mengisi mana sihir saja.
Ternyata ia salah, Areka punya 'rumah' di sini. Rumahnya adalah 3 manusia di depannya yang tersenyum teduh menyambut mereka.
"Areka sudah menjelaskan keadaan di luar, awalnya aku tidak percaya. Tapi satu persatu orang mulai berubah sangat aneh. Bahkan berita televisi dipenuhi berita tidak senonoh. Apa siluman rubah itu sangat berbahaya?" Papanya mengawali percakapan setelah segelas teh terhidang. Keluarga itu menghemat bahan makanan karena tidak tahu sampai kapan harus terus terjebak di rumah.
"Papa dan Mama jangan pernah keluar, di sini pasti aman, aku bisa jamin itu."
"Nak, sebaiknya kalian juga berlindung di sini. Tinggal saja di sini sampai keadaan di luar membaik." Ibu Areka berseru khawatir. Memegang tangan Alicia dan Elena.
"Aku tidak suka kakak ini." adik perempuan Areka tiba tiba menceletuk, menunjuk Elena. Elena mengepalkan tangan menunjukkan bogem nya. Gadis cilik itu sembunyi di dada bidang Areka.
"Kami tidak apa apa Bu, kami bisa melindungi diri kami sendiri, aku kemari karena khawatir. Tapi ternyata kalian tidak mengacuhkan kata kataku dan mempercayainya. Syukurlah..." Areka yang menjawab, suaranya rendah menunjukkan sikap sopan. Itu adalah sosok Areka yang baru pertama kali dilihat oleh Alicia dan Elena. Mereka sampai tertegun dan menatap tidak percaya 'Hei itu sungguhan Areka?' 'Apa setan baik sedang merasukinya?'.
"Jadi apa kepentinganmu kemari nak? Sepertinya bukan hanya untuk menengok kami."
__ADS_1
Areka mengangguk. Alicia dan Elena menyimak, mereka sendiri juga sebenarnya tidak tahu untuk apa Areka membawa mereka ke rumahnya.
"Apa Om Damian punya anak tiri?"
Oh saudara tiri Bryan! Ternyata Areka tidak lupa dengan perintah Ken waktu itu. Seseorang yang Ken bilang bisa menjadi bala bantuan yang luar biasa.
"Iya, seorang laki laki, katanya lulusan universitas di Australi, lebih tua 2 tahun dari Bryan, dia dipercaya memegang beberapa anak perusahaan Damian Group."
Itu informasi yang penting. Tapi Areka belum tahu apakah itu berguna. Menurut cerita papanya, saudara tiri Bryan ini adalah orang yang luar biasa. Tapi tetap saja ia tidak tahu apa hubungannya dengan Ken dan masalah mereka sekarang. Sehebat apapun dia kalau cuma manusia tidak akan bisa membantu menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh siluman.
"Papa punya nomornya. Dia adalah orang yang terampil, menjalin hubungan langsung dengan perusahaan kita untuk mendapatkan dukungan sebagai pewaris. Kalau kau butuh, papa bisa berikan."
Satu sifat yang paling disukai Areka dari orang tuanya adalah mereka tidak pernah bertanya macam macam. Kedua orang tua itu tidak memandang siapa Areka dan apa saja yang ia lakukan selama ini. Mereka orang tua yang sangat pengertian, selalu sabar dan selalu percaya.
Areka tersenyum, memeluk kedua orang tuanya, ia sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini.
"Aku akan menjelaskan semuanya setelah masalahnya selesai."
"Tentu saja nak, kami mempercayaimu. Hati hati, akan kami tunggu kepulanganmu di rumah ini lagi."
"Nanti seringlah bawa Alicia dan Elena kemari. Mama sangat senang jika kau mau mengenalkan teman temanmu."
Areka tersenyum lega, mengangguk. Tidak ada yang perlu ia takutkan lagi jika keluarganya menerima baik Elena.
"Kakak ini jangan dibawa lagi." si kecil menunjuk Elena, lidahnya terjulur. Areka tertawa, mencubit pipinya yang gembul.
"Jangan begitu dong, nanti teman kakak sedih lo."
"Kalau teman kakak sedih kakak juga sedih?"
Areka menggeleng. Ia tidak peduli pada Elena yang merajuk.
"Ya sudah biar saja dia sedih. Asal kakak tidak." Si kecil memeluk Areka, mengecup pipinya. Ia terlihat begitu sayang dengan kakaknya meskipun mereka bukan saudara kandung.
Kali ini Elena tidak terpancing. Pelukan dan kecupan hangat dari ibu Areka meluluhkan hatinya. Sepertinya memiliki keluarga manusia tidak terlalu buruk.
Alicia, Elena, dan Areka kembali melanjutkan perjalanan. Menemui bala bantuan lain kenalan Areka. Seorang dari vampir yang memiliki markas rahasia di bawah tanah. Para vampir membutuhkan darah manusia untuk bertahan hidup dan mengisi mana sihir sehingga bisa keluar saat siang hari. Invasi manusia rubah menyebabkan makanan mereka menghilang.
Ingat kalimat luar biasa ini 'musuh dari musuhmu, adalah temanmu'
Tanpa penawaran apapun, Areka yakin klan vampir akan bersedia menjadi sekutu untuk memusnahkan siluman rubah dari dunia ini.
Dunia ini sempit, makhluk serakah seperti siluman rubah tidak boleh dibiarkan semena mena.
__ADS_1