Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
22. Pelindung


__ADS_3

Manusia itu sangat mudah dimanipulasi. Mereka bisa senang kemudian sedih hanya karena sebuah perkataan dari orang lain. Lemah dan rapuh. Tidak peduli itu kebenaran atau kebohongan, manusia itu mudah dikendalikan.


Pukul 7 malam.


"Kenapa harus menggunakan Alicia? Kita kan bisa menunggu ketua BEM itu keluar sendiri dan menyeretnya pergi." tanya Elena. Dua duyung dan satu orang klan iblis itu sedang mengintai di sebuah gang yang tidak banyak dilewati orang, mereka tengah menunggu Alicia datang membawa rubah ekor 3 kesana.


"Ketua BEM itu tidak pernah sendiri. Dia dikelilingi wanita dan teman temannya." jawab Areka.


"Bahkan meskipun di luar?"


Areka mengangguk. Ketua BEM itu tinggal di asrama laki laki lantai 1, ia bergabung dengan kamar umum yang ditempati 4 hingga 5 orang. Karena itu ia tidak pernah pulang sendiri, selalu bersama dengan teman temannya.


"Sebenarnya aku sudah curiga sejak dulu, ketua BEM itu tidak pernah mau dekat denganku."


"Eh memangnya tidak kelihatan ya? Aku bisa tuh melihat siluman lain dari jauh."


Areka melirik sebal pada Elena, tentu saja, mana sihir gadis itu jauh lebih besar darinya. Areka saja harus 'memakan' ingatan orang agar bisa mempertahankan wujud manusianya di sini.


"Ngomong ngomong Ken belum mengatakan apapun sejak Alicia pergi." Elena berbisik. Areka reflek menoleh pada Ken yang berdiri bersandar dinding dengan tangan terlipat di depan dada, tidak melepaskan pandangan ke jalan dimana Alicia akan datang.


Sebenarnya Ken mendengar semua bisik bisik mereka, tapi sengaja mengabaikannya, tidak penting.


"Aku sedikit takut. Ken tidak berkomentar apapun atas perubahan sikap Alicia." lanjut gadis bermata biru itu.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Alicia ha?!" Areka sedikit meninggikan suaranya, memukul pelan kepala gadisnya yang suka iseng.


Elena tersenyum misterius, tetap tidak mau memberitahu Areka tentang apa saja yang sudah ia perlihatkan. Lagipula, bagi Elena itu bukan hal yang harus Ken sembunyikan. Cepat atau lambat Alicia akan tahu sosok seperti apa dia sebenarnya.


"Alicia datang." seru Ken tiba tiba.


Elena langsung berlari ke depan, menggandeng tangan laki laki rubah berekor 3 itu. Sedangkan Ken dan Areka bersembunyi di balik kegelapan gang, mereka memakai baju dan celana hitam sehingga menyatu dengan warna malam.


"Ehh... Kamu siapa? Kenapa menggandengku seperti ini..." Rubah berekor 3 itu bertanya, meski tidak berusaha melepaskan tangan Elena darinya, wajahnya memerah salah tingkah melihat kecantikan gadis bermata biru itu. Memang dasarnya saja ia adalah laki laki mesum yang suka dikelilingi wanita.


"Alicia sumpah aku tidak kenal dia! Tapi terkadang memang seperti ini, ah punya wajah tampan itu sedikit merepotkan." Rubah itu menoleh pada Alicia, tersenyum kikuk. Ia khawatir Alicia akan ngambek padanya.


Tapi ekspresi Alicia tidak sesuai perkiraannya, gadis itu malah tersenyum manis. Bukankah seharusnya ia kesal?


"Alicia, kamu tidak cemburu?" rubah itu terlihat kecewa, lalu dengan tidak tahu dirinya ia memeluk Elena.


Alicia menggeser matanya ke arah kegelapan gang, laki laki rubah itu berhasil membangkitkan kemarahan Areka yang sejak tadi berusaha untuk tenang.


"SINGKIRKAN TANGANMU KOTOR MU ITU B*NGS*D!" Areka berlari menerjang laki laki yang menempel pada Elena, langsung menendang wajahnya hingga laki laki rubah itu terkapar menabrak dinding gang di belakang.


Elena tertawa renyah. Ia memang sengaja memancing kemarahan Areka, gadis itu ingin tahu apakah perasaan Areka masih sama atau sudah berubah setelah 10 tahun lebih ia 'mati'.


"Kau memang yang terbaik, Areka!" Elena tersenyum centil, melempar dua jempol.


Areka memutar mata, ia sadar jika Elena mempermainkannya lagi. Menjitak jidat gadisnya.


"Kau tidak apa apa Alicia?" Ken mendekat.

__ADS_1


Alicia hanya tersenyum tipis, mengangguk.


Perlakukan dingin Alicia kepada Ken membuat Areka ketar ketir. Entah kenapa aura membunuh Ken langsung terlihat begitu menguar. Areka seolah dapat melihat bayangan hitam yang siap menerkamnya jika Alicia tetap seperti itu.


...****************...


"Eh dia lumayan tampan. Lebih tampan dari ketua BEM." gumam Elena setelah rubah berekor 3 itu menunjukkan sosok aslinya. Diikat oleh tali hitam dari kekuatan Ken. Berjalan di depan, menunjukkan arah dimana markasnya berada. Butuh 30 menit diancam dan disiksa untuk membuatnya mau menjadi penunjuk arah, untunglah Areka jago melakukannya.


"Ada yang salah dengan matamu." Sinis Areka. Sembari menendang bokong rubah berekor tiga itu agar berjalan lebih cepat.


"Tidak kok, beneran tampan kan Alicia?" tanya Elena meminta pembelaan. Alicia mengangguk kecil, Ken meliriknya, kemudian ikut menatap sinis siluman rubah di depannya.


Sejak tadi Alicia tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya, dan sangat pendiam.


Sebenarnya hanya dengan melihat perubahan sikap Alicia, Ken sudah bisa menebak apa saja yang Elena perlihatkan pada gadis itu. Waktu Elena berhasil menyentuh tangan Ken, gadis duyung itu melihat beberapa kejadian di masa lalu. Saat Ken masih sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan iblisnya.


Dan itulah yang Elena tunjukkan pada Alicia.


Sosok Ken yang Alicia lihat sekarang begitu berbeda dengan sosoknya ribuan tahun lalu.


Alicia menghela napas, ia pusing karena terlalu banyak berfikir.


Pukul 10 malam.


"Hei, kau tidak menyuruh Alicia pulang? Sebenarnya dia tidak dibutuhkan sekarang." Areka bertanya. Entah kenapa Ken terlihat tidak peduli padahal bisa saja yang menanti mereka di depan adalah hal yang bisa membahayakan gadis itu.


"Dia mau ikut, biarkan saja."


Benar kan, jawabannya juga cuek begitu. Apa sekarang gantian Ken yang marah? Apa dia diam diam sedang berfikir bagaimana cara membunuh Elena? Areka menelan susah salivanya, pokoknya ia tidak mau bertarung lagi dengan Ken apapun yang terjadi!


"Ugh..." Ken menutup hidungnya.


"Ada apa?" tanya Elena.


Ken menggeleng, hanya ia yang mencium bau busuk dari berbagai sisi. Mungkin karena mana sihirnya penuh ia jadi bisa merasakannya, terakhir kali kemari tidak ada bau separah ini.


Di depan sebuah goa tersebut ada seekor beruang hitam sedang tidur di atas batu besar, itu adalah beruang penjaga yang telah dijinakkan oleh siluman rubah.


Alicia langsung mendekat ke Elena, menggandeng tangannya. Gadis itu takut, baru pertama kali melihat beruang hitam sebesar ini. Lagi lagi Ken hanya melirik tanpa berkomentar apapun.


"Cup cup, tidak apa apa kok..." Elena menepuk nepuk kepala Alicia.


Ken menghela napas, terlihat tidak suka dengan interaksi mereka berdua. Areka diam diam menahan tawanya, ia rasa Elena sekarang sedang mengerjai Ken. Membuat gadis milik Ken menjadi miliknya.


"Apa para manusia juga disekap di sana?" tanya Areka sembari menendang kaki rubah ekor 3 itu, membuatnya jatuh berlutut di tanah.


Rubah itu mengangguk. Areka melepas ikatannya. Mengusirnya, karena rubah itu sudah berbaik hati menunjukkan jalan, tidak ada alasan untuk melibatkannya dalam pertarungan.


"Kita akan minta baik baik. Kalau mereka tidak mau baru kita paksa."


Ken mengangguk setuju. Ia dan Areka berjalan di depan. Masuk ke dalam goa lebih dalam lagi, tiba tiba sebuah kabut muncul di sekeliling mereka. Meski sejak tadi Alicia menjauhinya, Ken sengaja berjalan pelan agar tetap dekat dengan gadis itu. Ken punya firasat buruk.

__ADS_1


Benar saja, mereka tidak disambut baik oleh kawanan rubah. Begitu terlihat, mereka langsung dihujani oleh tembakan pistol.


*DOR DOR DOR


Suaranya memekakkan telinga.


Ken reflek memeluk Alicia yang berteriak takut. Di depannya, Elena dan Areka sigap membuat tameng air, peluru peluru itu masuk ke dalam bola air raksasa. Tidak bisa menembusnya.


"Jangan jauh jauh dari Elena, Alicia. Aku akan segera menyelesaikannya." Ken melepaskan pelukannya, ia akan menyerang ke depan, tapi Alicia menahan tangannya.


"Jangan! mereka membawa senjata!" pekik gadis itu berusaha mengalahkan suara tembakan.


Ken tersenyum, ia senang Alicia terlihat khawatir. Kemudian membelai rambutnya. Mendekatkan wajahnya di samping wajah Alicia. Mengatakan sesuatu yang membuat Alicia melepaskan pegangannya.


Ken kembali tersenyum simpul, lantas dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata ia melompat langsung masuk ke dalam kabut tebal, kuku kukunya memanjang tajam bagai belati yang baru diasah. Menghancurkan jantung 5 rubah penembak yang sedia di balik batu besar, tidak menyangka akan ada serangan dadakan. Mereka mati seketika.


"Menjijikkan." gumam Ken, ia tidak suka bau darah siluman rubah.


Di bawahnya terhampar sebuah desa dengan rumah rumahan terbuat dari batu, itu rumah penduduk, Ken mengabaikannya. Ia fokus pada istana batu yang tinggi menjulang beberapa kilo di depan. Kabut semakin tebal. Desa desa bebatuan di bawah menghilang tertutupi, Ken turun ke bawah, diikuti Areka. Ternyata bukan hanya tertutupi, desa itu benar benar menghilang, berpindah tempat. Itu kekuatan sihir yang luar biasa.


"Ayo kesana." Ken menunjuk istana batu di depan yang dijaga oleh dua serigala raksasa, itu serigala sungguhan, bukan siluman.


"Ken!" Alicia memanggil. Memberikan sapu tangan berwarna merah muda. Ken mengangguk, membersihkan tangannya dari darah siluman rubah.


"Terima kasih."


Mata Alicia melebar, ini pertama kalinya ia melihat Ken membunuh seseorang.


"Kau takut?" tanya Elena. Alicia mengangguk, sekali lagi melihat wajah Ken yang dingin, seolah yang ia lakukan tadi adalah hal yang biasa. Sama sekali tidak mempengaruhinya, santai sekali mengelap darah di tangannya.


Kemudian tanpa mengatakan apapun Ken langsung menggendong Alicia di depan, jarak mereka dengan istana rubah itu cukup jauh. Akan lama jika berjalan biasa.


Dalam beberapa kali lompatan saja mereka sampai di depan serigala raksasa tadi. Begitupun Areka dan Elena yang tidak perlu bantuan untuk mengimbangi kecepatan Ken.


Tidak perlu membunuh dua serigala penjaga, mereka tidak melawan. Malah bertingkah seperti anjing di depan Ken, berguling guling, menganggapnya seperti seorang tuan.


"Aneh, kau cukup disukai oleh hewan ya tuan iblis." celetuk Areka. Alicia dan Elena tertawa kecil, lucu sekali melihat langkah Ken dicegat oleh dua binatang itu. Ken juga terpaksa harus mengelus elusnya sebentar agar mereka membiarkannya masuk.


Setelah beberapa saat meladeni serigala tersebut, Ken akhirnya bisa membuka pintu kastil. Ia langsung di sambut dengan sebuah panah, menusuk langsung tepat ke jantungnya.


*Crass


Darah mengalir. Ken mencabut panah itu dengan ekspresi dingin. Lukanya langsung beregenerasi, jantungnya kembali utuh dan dagingnya tertutup sempurna seperti sedia kala.


Alicia, Areka, dan Elena tidak sempat bereaksi saat kembali dihujani oleh senjata. Bahkan meskipun sudah membuat tameng bola air besar, itu tidak berguna. Anak panah yang rubah rubah itu gunakan memiliki sihir yang dapat meletuskan bola air klan duyung.


Tanpa basa basi lagi Ken maju sendirian menyerang, kali ini yang ia hadapi bukan rubah biasa. Mereka dapat melihatnya dan mampu bergerak menghindar dengan sangat lincah. Pertarungan jarak dekat tidak terhindarkan lagi.


"BAWA ALICIA PERGI!" Teriak Ken pada Elena. Gadis itu mengangguk, langsung menyambar tangan Alicia, mengajaknya berlari keluar. Sedangkan Areka, demi menyelamatkan manusia yang di sekap bawah istana ini, meskipun lawannya sangat banyak dan tidak seimbang ia tetap maju membantu.


Tak masalah.

__ADS_1


Klan iblis ada di pihaknya.


Begitu pikir Areka sesaat sebelum rubah ekor 9 bergabung dalam pertarungan.


__ADS_2