
Dalius adalah iblis level tinggi yang memimpin puluhan klan lain di selatan. Ia tidak memiliki kerajaan, tidak tertarik menjadi penguasa. Hidupnya hanya soal perkelahian dan pertarungan. Dalius adalah orang yang gila rasa sakit. Sebagai seorang klan iblis level tinggi tubuhnya luar biasa kuat.
Puluhan klan lain yang Dalius pimpin memiliki tugas utama untuk memperkuat diri. Mereka bebas melakukan serangan apapun pada Dalius di waktu kapanpun. Dalius hidup untuk mencari lawan sepadan. Ia merasa seperti tuhan karena belum menemukan kekuatan yang mampu membuatnya bertekuk lutut.
"Lemah sekali." Dalius meludah, menatap rendah hampir seratus orang klan siluman hewan dari berbagai jenis yang sekarat dan mati setelah berusaha menyerangnya secara bersamaan.
Pria bertubuh kekar itu menghela napas melihat matahari terbenam di atas batu besar. Di belakangnya ada 7 bangkai naga hitam yang berhasil ia kalahkan di udara. Dalius sengaja menculik anak anak naga untuk memancing kemarahan hewan buas itu agar datang padanya.
"Bosan sekali. Kalau begini aku bisa gila, haah jangan salahkan aku kalau suatu hari nanti tidak sengaja menghancurkan dunia." monolognya, mengeluh pada dewa.
Dalius sudah berusia ratusan tahun. Ia mengembara ke berbagai tempat untuk mencari lawan sparing. Setiap klan dan desa yang ia lewati pasti akan ia habisi.
Meski begitu, Dalius tidak pernah membunuh wanita, orang tua, dan anak anak. Bagi Dalius siluman lemah begitu seperti lalat yang tidak perlu dipedulikan. Bukankah hanya bunga bangkai yang makan lalat? Dalius masih memiliki ideologi, dia bukanlah sampah yang tidak pandang bulu. Masih ada kehormatan dalam dirinya sebagai seorang iblis level tinggi.
Suatu ketika Dalius tiduran di sebuah pulau yang jauh dari daratan. Hanya butuh waktu satu jam untuknya berenang melalui samudra dan palung palung berbahaya serta hewan buas penunggunya. Dalius sampai dengan selamat tanpa luka apapun, padahal ia harap makhluk lautan punya kekuatan yang bisa membuatnya sedikit terhibur. Ternyata megalodon, kraken, dan ular raksasa pun sekedar mainan bayi baginya.
Saat ia berniat pergi melanjutkan perjalanan tiba tiba seseorang mencegat di depannya. Remaja laki laki yang jauh lebih muda, berambut pendek, wajah tampan, dan memakai baju layaknya seorang bangsawan. Dengan sebuah pedang tersarung di pinggang.
"Berhenti merusak ekosistem." remaja laki laki yang diketahui sebagai klan iblis itu berseru datar. Suaranya tenang, pembawaannya dingin.
Dalius memiringkan kepala. Sungguh tidak menyangka ada makhluk yang berani menghadang jalannya dan mengatakan hal yang tidak ia pahami. Meski Dalius tahu anak laki laki itu adalah klan iblis juga.
Tapi, menurutmu sudah berapa banyak klan iblis yang Dalius lawan? Mereka semua mati dengan teriakan memohon ampun.
"Hei anak muda, aku sedang berbaik hati sekarang, aku mau menghemat energi karena harus menyeberangi lautan. Sebaiknya kau pergi dalam hitungan ketiga deh daripada harus mati di pulau ini sendirian. Kasihan mama papamu kalau tidak bisa menemukan bangkaimu."
"Satu" Dalius mulai menghitung, menatap remeh remaja di depannya.
"Dua."
__ADS_1
"Dalius El Reaos, kau mau berjanji untuk berhenti dan jadi salah satu pengawalku atau aku harus membunuhmu di sini?" iblis remaja itu berseru dingin, mengacungkan pedang merahnya. Matanya berkilat penuh kepercayaan diri.
"Hahahaaa... Jadi kau tahu siapa aku ya... Sepertinya kau bukan orang idiot."
Dalius tertawa terbahak bahak hingga gigi gerahamnya terlihat. Kemudian menyeringai pada remaja iblis di depannya.
"Siapa namamu, anak muda? setidaknya biarkan aku mengingatnya untuk menghormati keberanian mu."
"Ken."
...****************...
"Kakiku sakit sekali, Ken. Elena memukulnya dengan kayu berkali kali hanya karena aku tidak bisa melakukan kuda kuda dengan benar." keluh Alicia, gadis itu sedang tiduran di atas batu besar beralaskan paha Ken nya. Masih melihat masa lalu, Ken remaja sedang memandikan naga di sungai yang luar biasa besar.
"Aku takjub dengan kegigihan Elena."
"Apa? Kok Elena?! Bagaimana denganku? Aku juga giat berlatih, aku bahkan tidak mengeluh sama sekali." seru Alicia tidak terima pada komentar Ken.
Alicia menyipitkan mata kesal.
"Mencubit!" langsung menyerang pinggang Ken.
Ken tertawa, menahan tangan Alicia, ia merasa geli. Alicia juga tertawa tidak mau berhenti.
Alicia sudah menceritakan keadaan di luar. Tentang siluman rubah yang menculik para manusia dan menggantikan sebagian besar dari mereka hidup di dunia ini. Para siluman itu menggantikan tokoh tokoh penting dan membuat kebijakan kebijakan aneh. Banyak sekali orang orang yang sedang protes di depan gedung pemerintah.
Mendengar kondisinya, Ken sendiri tidak punya ide apa yang bisa dilakukan oleh Areka. Ia juga tidak bisa membantu apapun karena kembali ke dalam segel.
"Ken, seandainya aku tidak bertemu denganmu apa aku akan jadi salah satu orang yang ikut protes ya? Atau malah aku tertangkap dan disandera? Sepertinya membingungkan sekali kalau tidak tahu apa apa. Aku tidak menyangka kalau dunia ini sangat berbeda dengan yang kutahu selama ini."
__ADS_1
"Alicia, jangan bicara begitu." Ken tiba tiba berseru marah, menangkup wajah Alicia.
Alicia mengerjap, tidak paham. Kenapa Ken terlihat khawatir sekali.
"Manusia yang tertangkap rubah tidak pernah kembali dengan normal." lanjut Ken. Ia mendekap Alicia, jika rubah itu berani menculik Alicia, Ken pasti akan melakukan apapun untuk keluar dari segel. Bahkan sekalipun itu menghancurkan tubuhnya.
"Apa maksudmu Ken? Bukankah mereka hanya dikurung saja?"
Ken menggeleng. Bukan tanpa alasan ia ditugaskan untuk memusnahkan klan siluman rubah ribuan tahun lalu.
"Alicia, sepertinya aku berubah pikiran. Katakan pada Areka untuk tidak melibatkanmu. Kau sembunyi saja di rumah, jangan kemanapun."
"Jelaskan dulu Ken!" Alicia berteriak, meneteskan air mata. Mengingat apa yang Areka alami gadis ini bisa menebak apa yang siluman itu lakukan pada para manusia.
"Kenn... Asera... sahabatku juga sudah ditangkap. Dia... hiks... dia akan baik baik saja kan?"
Ken memeluk erat Alicia. Tidak bisa memberikan jawaban. Ia sangat kesal karena tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Alicia. Satu satunya harapan yang tersisa adalah Rafaela, entah keputusan apa yang akan ia buat setelah tahu keadaan dunia.
Hanya saja masalahnya, sejak dulu Rafaela itu tidak pernah melakukan apapun di luar perintah Ken. Rafaela seperti boneka kayu, yang akan bergerak jika Ken memerintahkannya untuk bergerak.
Situasinya rumit, Ken yang berada di segel tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Termasuk dengan Rafaela sekalipun.
"Alicia, lebih baik kau tetap berada di dunia Elena. Rasanya tidak ada lagi tempat yang aman di bumi. Siluman rubah itu serakah. Aku benar benar tidak tenang."
"Ayah ibuku bagaimana? Kerabatku juga. Bukankah mereka juga bisa berada dalam bahaya?!" Mata Alicia berkaca kaca menuntut jawaban.
Ken mendengus kasar. Sial! Ia benar benar benci situasi dimana ia tidak bisa melakukan apapun. Apa benar tidak ada jalan keluar? Apa benar ia hanya bisa diam menyaksikan perbuatan tidak senonoh klan rendahan itu.
APA DEWA BENAR BENAR TIDAK PEDULI PADA KEGILAAN KLAN LAIN?!
__ADS_1
Rasanya hanya klan iblis yang langsung mendapat hukuman ketika melakukan penyelewengan.
Di depan sana Ken remaja sudah selesai memandikan naga hitamnya. Mereka berpindah tempat lagi, dimana Ken pertama kali bertemu dengan Rafaela, gadis iblis yang dulu sangat benci hingga ingin membunuhnya.