
#Flashback
Begitu anak remaja yang menantangnya menyebutkan nama, Dalius maju menyerang. Satu tangannya menyiapkan cakar sedangkan satu lagi menyiapkan bola hitam yang dapat ia kendalikan dengan sempurna.
"Selamat tinggal, Ken." begitu jarak mereka hanya tinggal setengah jengkal, remaja itu menghilang tiba tiba berada di belakang Dalius, pedangnya memotong satu lengan Dalius hingga ke pangkalnya. Bola hitam Dalius jatuh ke tanah, meledak membuat getaran hingga keluar pulau. Ombak mengamuk merespon kekuatan yang luar biasa tersebut.
Dalius masih memaku di tempat, darah mengalir deras dari lengannya yang putus. Masih tidak menerima kenyataan ada senjata yang mampu menembus kulit, daging, hingga membuat tulangnya terpisah.
"Apapun yang terpotong oleh pedang ini tidak akan bisa menyatu lagi. Bahkan iblis tingkat tinggi sekalipun." Ken berseru dingin, berdiri dengan angkuh di atas batang pohon. Mata merahnya menatap awas, seraya mengembalikan pedang ke sarungnya.
Pedang itu menguarkan aura hitam pekat, menyerap kekuatan dari makhluk hidup yang ia penggal. Tangan Dalius yang terpotong langsung hancur lebur bagai terbakar oleh api ribuan derajat Celcius.
"Kau sudah kalah."
Dalius mengakuinya. Bukan pedang, melainkan ketangguhan anak muda itu.
Ia pikir keberadaan pedang itu hanyalah legenda semata. Tapi melihatnya langsung ia jadi yakin bahwa iblis remaja di depannya ini berada di level berbeda darinya. Pedang itu teramat mengerikan, maka orang yang bisa memegang dan menggunakannya juga memiliki jiwa yang kuat.
Pedang Azura, pedang kehancuran yang haus akan jiwa. Pedang itu telah membuat Dalius kehilangan tangan kanan, juga membuatnya menjadi pengikut setia Ken.
Pertempuran yang sangat singkat. Tentu saja! Mana mungkin Dalius melawan pada seseorang yang mampu mencincang dagingnya. Di depan maut, bahkan iblis sekuat Dalius pun dipaksa bertekuk lutut. Peduli setan dengan harga diri, selagi ia masih hidup tentu ia masih punya kesempatan untuk mengalahkan Ken.
"Kau boleh melakukannya dimanapun, kapanpun, bahkan saat aku tidur." Ken berseru.
Dalius tertawa. Tawaran yang menarik. Meski ia jadi pengawal Ken, remaja itu bilang jika ia boleh berusaha menyerang dan membunuh Ken untuk membebaskan diri. Jika Ken mati, Dalius tidak perlu lagi menjadi bawahannya.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
"Kesetiaan. Seluruh kata kataku adalah perintah mutlak untukmu."
Tangan kanannya yang buntung menjadi bukti kekalahan dan kepatuhannya dengan lord kecil ini. Dalius melihat punggung Ken, ia seperti ikut diajak menanggung beban kehidupannya yang berat.
"Sialan." gusarnya.
Ken tertawa. Membantu menutup luka di lengan Dalius menggunakan darah iblisnya. Sayang sekali, lengan itu tidak bisa tumbuh lagi.
...****************...
#Alicia POV
Ini tidak bagus. Rasanya aku benar benar salah perhitungan. Elena dan Areka bodoh, jahat, dan kejam.
Apanya yang menyusup ke dalam rumah? Semua orang di sini bukan manusia lagi. Aku pikir hanya ayahku yang diculik, ternyata semua pelayanku juga sudah berubah jadi siluman rubah.
Lihatlah, mereka bertingkah menjijikkan sekali. Apa siluman rubah tidak punya tata krama?! Berani sekali menyajikan makanan sambil melihat p*ha ku dengan penuh nafsu begitu.
"Apa nona suka makanannya?" salah satu pelayan wanita bertanya, ia duduk di bawahku.
Aku mengangguk saja. Tanganku berusaha menahan rok pendek agar tidak terlihat dalamnya. Karena dengan tidak tahu malu pelayan itu berusaha mengintip ke dalam. Aku yakin dia rubah jantan.
Sudah 1 jam aku duduk di meja makan, dikerubungi oleh 7 pelayan yang duduk melingkar di lantai merubungiku.
__ADS_1
"A-ayahku belum selesai ganti baju? Aku ingin segera bertemu dengannya."
Sumpah! Aku tidak bisa mengendalikan suaraku yang bergetar. Sialan! takut sekali. Areka dan Elena akan datang jika siluman rubah yang menjadi ayahku itu sudah muncul. Jika begini aku yang keburu mau muntah karena geli di tatap makhluk tidak sopan ini.
Aku menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Mulai menyendok makanan, lumayan enak. Tapi perutku mual karena gugup. Siluman rubah menatap tajam, aku memaksakan senyum. Tidak boleh sampai ketahuan jika aku sebenarnya sudah tau bahwa mereka bukanlah manusia.
"Nona, ayah anda menyuruh untuk datang ke kamarnya."
"Eh, untuk apa?" tanyaku, sudah berhasil mengendalikan suara.
"Katanya ada yang ingin beliau sampaikan secara privat dengan anda."
Demi apapun kali ini aku ingin kabur. Apanya yang jadi umpan. Ini namanya masuk ke dalam neraka sendirian.
Tidak Alicia, tidak... Kau tidak boleh takut. Mana tekad mu untuk menjadi orang berguna kemarin ha?!
Meskipun kakiku bergetar seperti menahan pipis, aku tetap mengikuti pelayan itu membawaku naik tangga ke lantai dua. Sekilas, saat tidak sengaja melirik para pembantu di bawah sana, mereka seperti mengusap liur yang menetes dari mulutnya.
Aku seperti kelinci yang terjebak di kandang rubah, tinggal menunggu eksekusi dan mereka akan memakan ku bersama sama.
"Silahkan masuk nona."
Pelayan wanita itu membuka pintu.
Gila, rasanya aku kehilangan tenaga melihat apa yang ada di balik pintu itu. Kamar ayahku disulap menjadi kamar pengantin. Banyak mahkota bunga mawar yang bertebaran, baik di atas kasur atau pun di lantai. Dan siluman rubah dengan bentuk fisik seperti ayahku, duduk bersila di atas tempat tidur, telanjang dada. Dan hanya memakai ****** *****.
Haah... mataku ternodai.
"Kemari lah anakku sayang, ayo melakukan hubungan terlarang dengan ayah selagi ibumu tidak ada di rumah."
Apa bagi siluman rubah manusia sehina itu?
Aku menggenggam erat belati di dalam saku hoodie. Haruskah ku tusuk sekarang? Meski di belakangku ada dua pelayan yang mengawasi, melihatku penuh nafsu, aku tidak peduli.
Aku melangkahkan kakiku mendekat. Naik ke atas kasur.
"Gadis pintar... Biarkan ayah menunjukkan tentang surga dunia yang belum kau tau."
Siluman jelek ini, berani beraninya dengan fisik menyerupai ayahku mengatakan kata kata kotor begitu.
"Bedebah menjijikkan!" Aku berteriak. Tanganku bergerak cepat menusuk dadanya dengan belati yang kupegang, menusuk nusuknya berkali kali. Darah muncrat kemana mana, bahkan ke tangan, baju, dan wajahku. Siluman rubah itu membelalakkan matanya, dengan perlahan mulai berubah bentuk.
Sebelum pelayan di belakang sadar dan menyerang ku, Areka dan Elena datang meringkus mereka, menggunakan jaring untuk membuat siluman rubah itu tak bisa berkutik ataupun memanggil bantuan. Selain beracun, ternyata jaring itu membuat suara jadi tidak terdengar keluar.
Tanganku bergetar, mencabut belati itu dari dada rubah yang mati dalam sekejap. Racunnya bekerja dengan sempurna.
"Good job Alicia." Areka memberikan jempol.
Ini adalah pembunuhan pertamaku. Kenapa aku seberani ini?
Kulihat, siluman rubah di depanku memiliki dua ekor berwarna jingga, kumis panjang seperti kucing, dan telinga runcing di atas kepalanya. Dia benar benar siluman, dan benar benar mati. Aku yang membunuhnya. Darah dari dadanya yang berlubang itu masih mengalir.
__ADS_1
"Bisa berdiri?" Elena mengulurkan tangan, aku meraihnya. Dadaku berdegup kencang antara perasaan lega dan takut.
"Jangan tumbang Alicia, ini masih permulaan." seru Areka menguatkan ku. Sentuhan Elena seperti mengantarkan perasaan hangat, membuatku semakin yakin atas tekad yang sudah kuambil.
Benar, mereka binatang biadab. Aku bukannya membunuh makhluk hidup yang tidak berdosa, aku menghukum mereka. Mereka pantas mati.
Rencana yang aku buat berjalan lancar. Aku memanggil satu persatu pelayan untuk naik ke atas dan masuk ke kamar. Areka benar, siluman rubah ini bodoh. Karena itu mereka mati tanpa menyadari dosanya. Bahkan diambang kematian, mereka masih memikirkan tentang nafsu seksual duniawi yang menjijikkan.
"Istirahatlah Alicia, biar kami yang mengurus sisanya." seru Elena. Sudah lebih dari 30 siluman rubah yang mati di dalam kamar ayah. Darah berceceran dimana mana, tidak ada perlawanan karena kami melakukannya secara diam diam. Tidak menimbulkan suara sedikitpun untuk mencegah kehadiran rubah ekor 5 ke atas.
"Mau ke bawah? di bawah masih banyak." jawabku, aku tidak butuh istirahat.
Elena menggeleng, ia tidak memperbolehkan ku ikut.
"Oke, ayo ke bawah." Areka tersenyum padaku. Berjalan di depan.
"Hei Alicia tidak perlu ikut lagi." Elena menahan tanganku.
"Dia masih bisa. Jangan menghalanginya naik level."
Aku tersenyum, terima kasih karena peduli padaku Elena.
Dan untuk Areka, meski tidak mengatakannya aku tahu Areka sudah mengakui ku sebagai bagian dari tim. Kami melanjutkan pembunuhannya. Dengan jaring beracun yang Elena dan Areka buat, menangkap siluman rubah secara senyap itu bisa dilakukan dengan cepat. Aku juga mulai bisa menggunakan belati ku untuk menusuk siluman itu, di dada, di perut, di leher, bahkan di kepala.
Jantungku berdegup sangat kencang, tubuhku serasa dikendalikan adrenalin. Lagi lagi dan lagi. Aku suka mengoyak tubuh siluman ini menggunakan belati. Rasanya panas, rasanya sangat seru dan bersemangat.
Kenapa aku jadi seperti ini?
Apa ini berarti bagus? Apa aku jadi kuat? Di usiaku yang ke 20 tahun rasanya aku berubah menjadi orang lain.
Menjadi seseorang yang mirip dengan Ken. Seseorang yang pantas bersanding dengannya. Padahal aku adalah manusia, tapi aku senang sekali melihat mayat siluman rubah itu bergelimpangan di lantai.
Tanganku berlumuran darah. Nafasku tersengal, tapi belum cukup. Aku masih mau lebih, mengingat apa yang Areka alami juga yang Ken katakan tentang siluman rubah ini membuatku sangat marah.
Para manusia yang disandera harus segera diselamatkan.
Pembantaian ini tidak dilakukan tanpa tujuan.
Setelah siluman rubah melihat rekan rekannya mati, mereka akan mulai menyelidiki siapa pembunuhnya. Bisa saja siluman rubah akan memfitnah klan klan lain sehingga akan terjadi perseteruan antar klan. Kami akan membantu pihak lain yang melawan siluman rubah.
"Klan mermaid tidak akan dicurigai, karena hanya aku dan Areka yang berada di dunia luar. Jadi sepertinya siluman lain yang akan menjadi kambing hitamnya." (Kambing hitam\= pihak yang disalahkan/dituduh)
Aku mengangguk. Ini rencana yang ekstrim.
Selagi menunggu Ken bebas, ini adalah cara tercepat mengumpulkan rekan untuk menjadi bala bantuan.
"Ayo pergi ke tempat selanjutnya."
"Kemana?" tanyaku.
"Rumah Areka."
__ADS_1