
Hanya Areka dan Elena lah duyung yang berada di dunia manusia. Lalu darimana Areka membuat identitas, keluarga, dan status sebagai seorang manusia?
"Jadi orang tuamu itu manusia? Lalu selama ini mereka tahu kalau kau duyung?!" Alicia bertanya, mereka berangkat menggunakan mobilnya.
"Benar sekali, Areka itu anak pungut."
"Aku anak angkat hei! Pemilihan katamu jelek sekali."
Elena tertawa, sebenarnya kisah pertemuan antara Areka dan orang tua angkatnya cukup mengharukan. Saat terjadi peperangan wilayah, Elena yang merupakan putri kerajaan ingin melarikan diri dengan kekuatannya, ia masih kecil karena itu tidak bisa mengendalikan kemampuannya dengan baik. Areka yang berusaha mencegahnya malah terlempar jatuh ke portal itu.
"Kau yang mendorongku." Areka memotong.
"Tapi setelah itu aku menangis semingguan tahu."
"Hanya seminggu?! Aku hampir mati kelaparan dan kau hanya menangis seminggu?!"
"Aku kan tidak sengaja, kau juga salah karena malah menghalangiku di depan portal."
"Salahku?! Kalau bukan aku yang masuk, bisa bisa kau mati di dunia manusia. Seharusnya kau berterima kasih, tuan putri manja!"
Elena memanyunkan bibirnya kesal. Alicia tertawa mendengar pertengkaran antara Elena dan Areka, mereka berdua sangat dekat. Sampai sampai bisa bercanda terhadap hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Meski Elena hampir mencelakakannya, Areka tidak memiliki kebencian sedikitpun pada gadis itu.
"Waktu Areka hanyut di sungai, ayah ibu angkatnya baru saja kehilangan putra mereka yang kebetulan sekali berusia sama dengannya. Lalu Areka diangkat jadi anak menggantikan anaknya yang mati." lanjut Elena.
Alicia mengerjap, memangnya sesimpel itu? Areka mengangguk, ternyata memang sesimpel itu.
"Mereka orang kaya, anaknya belum disorot media massa, kematiannya juga dirahasiakan. Jadi kehadiranku benar benar menggantikan anak mereka."
"Lalu namamu?" Alicia kembali bertanya.
"Yeah.. itu bisa diatur. Aku tidak mau mengganti nama karena khawatir Elena tidak bisa menemukanku."
"Dan pada akhirnya aku berhasil membuka portal lagi lalu menyelamatkan anak ikan itu. Eh dia malah marah marah dan tidak mau kembali pulang." Sinis Elena.
"Lalu kau malah mati tertusuk pedang gara gara salah bicara di depan siluman singa. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang mulut lancang mu itu katakan sampai raja hutan pun marah."
"Lalu lagi lagi aku merepotkan mu, membuatmu harus berkeliling dunia demi mencari air ajaib. Untung orang tuamu kaya." imbuh Elena sama sekali tidak merasa bersalah.
"Ya tuan putri, saya senang kalau anda sadar seberapa merepotkannya diri anda." kali ini Areka yang gantian berseru sinis.
Alicia hanya tersenyum, antara senang dan iri. Ia juga ingin memiliki hubungan sedekat ini dengan orang lain.
"Apa masih jauh?" tanya Alicia.
__ADS_1
Areka mengangguk, sebenarnya Elena sudah menyarankan untuk menggunakan portal tapi Areka bilang lebih baik menghemat tenaga. Mereka harus bertarung lagi setelah ini.
"Kau mau tidur Alicia? Lebih baik katakan apa yang baru saja kita lakukan pada Ken. Lalu tanyakan apa dia sudah menemukan cara untuk keluar portal. Sebentar lagi akan ada perang besar."
Benar, jika Ken bisa bergabung, ia akan menjadi bala bantuan yang luar biasa.
Alicia perlahan menutup matanya, ia lelah, mudah sekali untuk berangkat ke alam mimpi sekarang. Untuk menemui seseorang yang tengah menunggunya.
...****************...
"Ken..." Alicia memanggil, ia tidak menemukan iblisnya. Padahal biasanya Ken akan langsung berada di hadapannya. Kali ini pria itu tidak ada di sini.
Pemandangan yang ada di mimpi Alicia adalah hutan pohon pinus dengan ukuran hampir 10 kali ukuran normal di dunia nyata. Tidak ada siapapun di sini.
Alicia terus berjalan mengikuti kakinya yang tidak tahu kemana. Sampai ia mendengar sesuatu, gadis itu segera bersembunyi di balik pohon.
Lantas merutuki kebodohannya, ia kan tidak terlihat kenapa harus sembunyi.
Di depan Alicia ada seorang gadis dengan rambut kepang dua sedang berusaha mengangkat pohon Pinus raksasa yang roboh. Pohon itu menindih tubuh seseorang hingga hanya terlihat kakinya.
Siapapun yang ada di bawah pohon itu pasti mati. Apa yang mau gadis itu lakukan?
"Bertahanlah!"
"Tolong jangan mati... Kumohon..."
Saat Alicia hendak mendekat tiba tiba seseorang menahan bahunya. Itu Ken! Ia terlihat berantakan dengan nafas yang terengah, seperti baru berlari dari tempat yang jauh.
"Ken!" Alicia langsung memeluknya. Ken membalas pelukannya.
"Eh... Kau bau darah. Ken, kau baru membunuh siapa?" Alicia bertanya, tidak ada raut takut lagi pada gadis itu.
"Tidak membunuh siapapun, ini darahku. Kau juga bau darah Alicia, kau terluka?" Ken balas bertanya khawatir, langsung meneliti gadisnya, meraba hampir seluruh tubuh Alicia.
"Aku yang membunuh kok." Alicia menjawab santai. Membuat Ken terpaku, menatap syok gadis itu.
Alicia membunuh? Gadis itu baru saja mengaku membunuh seseorang?!
Ken mundur dua langkah, menjaga jarak. Bagaimana bisa seorang gadis manusia dengan hati serapuh kaca yang terkena getaran sedikit bisa pecah itu berani menghilangkan nyawa orang lain?!
"Tunggu, biarkan aku berfikir." Ken duduk jongkok di atas tanah. Memegang kepalanya, kalimat yang baru diucapkan Alicia tanpa beban itu adalah kalimat yang tidak pernah ia duga.
Alicia tertawa, merangkul punggung Ken.
__ADS_1
"Aku melakukannya, aku membunuh siluman rubah itu, bertarung beriringan dengan Elena dan Areka." lirih Alicia di dekat telinga iblisnya.
Ken terdiam, suara Alicia terdengar parau.
"Jadi Ken... Kau tidak perlu berusaha sekeras itu lagi untukku. Aku tidak akan menjadi bebanmu. Aku akan segera bisa bertarung di sampingmu..." kalimat Alicia tercekat.
Meski tidak mau menunjukkannya, gadis itu tidak bisa menahan getaran rasa takut akan dirinya sendiri yang mulai berubah. Kenapa membunuh bisa menyenangkan itu? Sama sekali tidak terasa beban di hatinya ketika melihat darah mengucur dari jantung siluman rubah.
"Areka yang memaksamu ikut?" Ken bertanya pelan, memutar badan, menangkup wajah Alicia yang memerah menahan air matanya.
Gadis itu menggeleng. Semua keinginannya sendiri.
"Ken, aku takut..."
Mata Ken melebar, melihat sorot penuh penyesalan gadisnya. Tangan Ken merengkuh tubuh Alicia.
"Alicia, kalau kau tidak suka kau tidak perlu melakukannya."
"Ini bukan persoalan suka tidak suka Ken. Aku tidak mau hanya diam seperti patung. Aku ingin membantu walaupun bantuanku tidak seberapa."
"Alicia..." Suara Ken lembut, membuat tangis gadis itu pecah. Benar, sebenarnya ia tidak mau melakukannya. Ia tidak mau membunuh atau semacamnya. Kenapa dunia sekacau ini?! Kenapa ia harus terlibat dengan siluman siluman aneh itu, dan sejak awal kenapa mereka ada?!
"Maaf... Maaf... Aku minta maaf..." Ken mendekapnya. Perasaan buruk yang dirasakan Alicia tersampaikan, tentang betapa frustasinya gadis itu memikirkan tentang keanehan ini. Ia baru saja membunuh siluman rubah yang berwujud ayahnya, membunuh para pelayan yang wajahnya ia kenal dengan baik.
"Apa... Apa semua ini bisa segera berakhir Ken? Aku ingin dunia ku kembali seperti semula."
"Tentu saja Alicia, tentu saja... segera. Aku berjanji."
Alicia mengangguk. Ia percaya pada Ken melebihi apapun.
Dan Ken adalah iblis yang memegang janjinya. Setiap kalimat yang ia ucapkan adalah harga diri seorang iblis sejati. Ia tidak akan pernah ingkar sekecil apapun itu.
"Aku akan segera keluar lagi. Tapi kali ini lebih rumit. Sepertinya kita tidak bisa bertemu untuk beberapa hari." Ken menjelaskan.
"Rumit? Kau tidak berencana memaksakan diri dan membahayakan dirimu lagi kan Ken?!"
Ken hanya tersenyum. Ia tidak akan pernah berbohong pada Alicia. Membahayakan diri? Tentu saja, ia harus masuk ke tempat paling berbahaya yang bahkan para dewa saja tidak berani masuki.
Hanya ada dua kemungkinan. Berhasil namun sekarat atau mati dan tidak bisa bertemu dengan Alicia lagi.
"Bagaimanapun caranya kan aku harus keluar. Jadi percayakan saja padaku, Alicia." iblisnya tersenyum lembut.
Senyuman yang entah sampai kapan bertahan di wajahnya setelah ia berencana untuk masuk ke dalam neraka paling mengerikan.
__ADS_1
Demi sebuah pedang paling ditakuti, yang dahulu pernah ia gunakan sebagai senjata paling mematikan.