Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
12. Quality time


__ADS_3

"Alicia... Memangnya harus begini ya?" wajah Ken memerah karena malu, tidak tahan melihat wujudnya di cermin. Alicia memaksanya untuk mengenakan rok super panjang hingga menutupi mata kaki, Hoodie oversize (meski tidak oversize di badan Ken) berwarna hijau muda, dan rambut palsu panjang.


"Ken, kau benar benar seperti model." Alicia terkekeh, memberikan dua jembol kemudian mengusap keningnya, ia merasa puas dengan sebuah karya yang ia buat.


Ken sama sekali tidak tersanjung, bukankah maksudnya model perempuan?!


Wajah Ken cukup cantik. Kulitnya putih bersih, hidung yang mancung, mata yang tajam dengan bulu mata lentik, alis yang tebal, bibir yang proposional dan berwarna sedikit pucat. Jika rahangnya yang tegas ditutupi oleh wig rambut yang panjang, ia benar benar sempurna seperti model wanita yang terlihat elegan.


"Eh tunggu, kurang satu sentuhan lagi."


Demi melihat benda merah yang Alicia keluarkan dari tas kecilnya, Ken ingin kabur dari ruangan sempit yang seperti ruang eksekusi ini.


"Aaa... Aliciaaa... Kau serius?" Ken terpojok. Ini benar benar pertama kalinya Ken merasa begitu tidak berdaya.


"Agak merunduk dong. Tidak sampai nih." Alicia bahkan tidak peduli dengan ekspresi 'minta ampun' dari Ken. Sudah menyodorkan lipstik tepat di depan mata Ken yang menatapnya nanar, ia sungguh tidak mau!


"Ayolah Ken... Ini demi rencana besar kita!" wajah Alicia memelas, matanya berbinar memohon.


Ken menutup matanya, ya sudahlah.


Harga dirinya sebagai lelaki jantan terkuat sudah dirobek robek oleh gadis yang paling ia jaga ini.


"Perfect! kau benar benar cantik Ken!" Alicia mengedipkan mata, senang.


"Ayo kita berangkat." lanjutnya, menarik tangan Ken agar keluar dengan percaya diri dari toko pakaian.


Di sepanjang jalan mereka jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? ada seorang wanita dengan wajah cantik tapi badan tinggi kekar 180 cm?!


Ken hanya menunduk, berusaha tidak menghiraukan tatapan yang ditujukan padanya. Jika sampai tidak tahan, bisa bisa Ken langsung menunjukkan cakarnya dan mencolok satu persatu mata mereka.


Sekarang yang Ken inginkan hanya segera sampai ke tempat tujuan dan melepas semua pakaian memalukan ini.


"Ken, apa kau mau beli es krim dulu?"


Astaga!


...----------------...


Misi penyelundupan Ken masuk ke dalam asrama wanita sukses besar!


"Yeyy... yeyy... Akhirnya kita bisa bersama sampai pagi. Aku senang sekali, Ken! Ayo kita mengobrol hingga besok. Aku sudah izin untuk tidak masuk kampus kok. Jadi kita begadang saja." Alicia melompat lompat, mengepalkan tangannya, bersorak gembira.


"Tidak boleh, kau baru saja sembuh. Tubuhmu itu lemah, nanti lekas tidur saja."


Ken menghela napas. Meski tadi benar benar memalukan, melihat wajah gembira Alicia menjadi bayaran yang setimpal. Ken melepaskan rambut palsu dari kepalanya.


"Ehh... Kok sudah dilepas si, padahal mau aku foto dulu."


Ken menyentil dahi gadis itu. Alicia nyengir, ia senang menjahili Ken.


Melihat sekeliling, kamar Alicia benar benar pink. Dari warna dinding, atap, kasur, almari, boneka,... astaga! Kamar ini membuat mata Ken sakit.


"Nih." Alicia memberikan sebuah totebag, isinya kaos berwarna pink? dan celana kain santai pendek selutut.


Sialan!


Sampai kapan Alicia mau mempermainkannya?


Mau tidak mau Ken tetap memakainya. Ia tidak punya baju ganti, jas dan celana panjangnya sudah berlubang gara gara diserang Areka dua hari yang lalu.


...----------------...


"Kapan kita mau membuat kontrak, Ken?" tanya Alicia tiba tiba.

__ADS_1


Mereka sedang tiduran di atas ranjang. Ken menatap langit langit, sedangkan Alicia tidak melepaskan pandangannya pada wajah Ken. Gadis itu masih tidak percaya jika Ken benar benar menemuinya.


"Sesegera mungkin."


"Kalau begitu sekarang saja. Apa yang harus dilakukan? Kau bilang kau bisa menghilang kalau tidak membuat kontrak, tertarik lagi ke taman bunga mawar itu."


Ken mengangguk, setiap saat taman itu seolah memanggilnya. Sebagian dari dirinya masih terperangkap di sana. Tapi selama Ken masih memiliki keinginan kuat untuk berada di sini, kalau hanya suara suara aneh tidak akan mempengaruhinya untuk kembali.


"Membuat kontrak tidak sesederhana itu, Alicia. Kau harus menyukaiku dulu dan bergantung padaku. Perasaanmu harus kuat sampai sampai kau tidak mau kehilanganku." Ken menjelaskan, menoleh pada Alicia yang terlihat berfikir. Benar, perasaan gadis itu belum cukup.


Ken merogok saku celananya. Memberikan sebuah cincin pada Alicia. Cincin pertunangan gadis itu dengan Bryan. Sakit hati dari Alicia lah yang membuat gadis itu datang padanya.


Alicia menatap nanar cincin tersebut, ternyata cincin itu disimpan oleh Ken. Itu adalah benda yang menjadi saksi bisu jika Alicia pernah mencintai sosok laki laki seperti iblis yang tidak peduli pada nyawanya. Alicia menarik napas panjang, mengalihkan pandangan. Tidak mau menghancurkan waktunya dengan Ken untuk marah ataupun menangis sedih.


"Cincin ini berisi perasaanmu. Jika cincin ini hancur, kita bisa membuat kontrak."


"Cincin ini dari emas, hiasannya dari berlian. Bagaimana bisa hanya sebuah perasaan dapat menghancurkannya? Masukkan saja ke kawah gunung berapi supaya hancur lebur." Alicia memberikan ide, seolah ia adalah orang paling pintar sedunia.


Ken terkekeh. Gadis ini belum memahami konsep 'kontrak' itu dengan baik.


"Tidak bisa begitu, Alicia. Ini bukan cincinmu lagi, cincin ini sudah jadi milikku sejak kau melemparnya di taman bunga mawar. Hanya aku yang boleh menghancurkannya."


"Ya sudah cepat hancurkan dan kita buat kontraknya!"


Ken membelai lembut rambut Alicia. Perasaan negatif dari gadis itu tersampaikan padanya.


"Kau sangat membenci Bryan ya?" tanya Ken, ia tersenyum aneh, mirip serigaian serigala di depan mangsanya.


"Jangan menyebut namanya Ken!"


Bagus, bagus sekali untuknya jika Alicia memiliki kebencian sebesar ini.


Alicia menunduk. Ia tiba tiba ingat dengan seluruh kata kata jahat dan perlakuan buruk Bryan padanya setelah mereka putus.


"Aku bisa membantumu membalasnya."


Ken menarik napas panjang, aroma gadis itu terasa begitu wangi.


"Tidak adil kalau hanya kau yang menderita bukan? Bryan juga harus merasakan hal yang sama. Aku akan menjadi pendukung terkuatmu, kau tidak akan kalah."


Bukan hanya karena kuat lantas disebut klan iblis. Jelas klan legenda itu memiliki hal tersembunyi yang menjadikan nama mereka sebagai lambang kejahatan, kekejaman, dan hal buruk lainnya


Alicia terdiam, menatap iris hitam Ken yang entah kenapa membuatnya seperti masuk ke dalam harapan besar. Selintas gadis itu merasa warna mata Ken berubah menjadi merah layaknya warna darah pada bunga mawar.



Begitu indah, mesterius, mistis, dan membuatnya tenggelam dalam kendali Ken.


Alicia mengangguk, iya, ia ingin balas dendam!


Ken tersenyum. Membelai lembut pipinya, lantas kembali berbisik berbisik.


"Gadis pintar."


...****************...


Tengah malam, Alicia sudah tidur. Sedangkan Ken pergi ke meja belajar gadis itu. Ia harus segera memahami bagaimana manusia hidup di zaman ini dan membaur dengan peradaban.


Bagaimana cara mendapatkan tempat tinggal, cara menghasilkan uang, serta cara untuk membuatnya bisa dekat dengan Alicia tanpa dicurigai siapapun.


'Kembali... kembalilah makhluk kotor... tempatmu ada di sini'


'Dunia luar terlalu bersih untuk kau tinggali, kau tidak layak berada di sana'

__ADS_1


'Tahu diri dan kembali... tuntaskan hukumanmu selamanya'


"Ukh..." Ken memukul kepalanya yang berdenging. Meskipun ia mencoba untuk tidak peduli tapi terlalu sering mendengarnya cukup memuakkan. Apalagi suara suara itu berada di kepalanya, tidak akan hilang dengan menutup telinga.


Ken mengepalkan tangan, ia harus segera membuat Alicia membenci Bryan dan mencintainya, ia harus segera membuat kontrak atau kurungan dewa itu akan menariknya ke sana lagi.


'Kau makhluk terkutuk. Kau adalah produk gagal.'


'Seharusnya kau tak pernah dilahirkan.'


Ken jatuh terduduk. Kepalanya seperti pecah karena suara itu begitu menggema, berteriak dan marah memintanya untuk kembali ke taman bunga mawar.


Tidak! Ia tidak mau!


Jangan lagi!


Ken sudah muak dengan perasaan hampa selama ribuan tahun. Ia juga ingin kebebasan, ia bukanlah hewan yang harus dikontrol. Ia memiliki otak untuk berfikir, bisa bisa Ken gila dan mulai merusak segalanya jika suara di kepalanya tidak berhenti juga.


Tanpa sadar sebuah bola hitam mulai terbentuk dengan sendirinya. Bola itu sudah seukuran kepalan tangan dengan percikan listrik di sekelilingnya.


Gawat! Itu berbahaya!


Bukan hanya kamar Alicia yang akan hancur, melainkan segalanya dengan radius ratusan meter dari sini. Dan jika ia tidak sengaja membunuh lagi, maka ia akan langsung tersedot masuk ke dalam segel.


Ingatlah peraturan mutlak ini:


Dunia berpusat pada manusia, tidak ada manusia yang boleh mati tanpa alasan. Karena di dunia setelah kematian, manusia lah satu satunya makhluk yang akan diadili.


Bola itu terus membesar, sekarang membentuk kumparan kumparan angin dan memecah diri menjadi banyak bagian. Ken tidak bisa mengontrolnya. Gawat!


Apa ini akan berakhir? Apa perjuangannya selama ini sia sia?


Alicia yang menyadari jika Ken tidak di sampingnya tiba tiba terbangun. Masih setengah sadar gadis itu menghampiri Ken yang duduk di lantai sembari memegang kepalanya.


Tanpa tahu apa yang terjadi Alicia mendekap kepala Ken. Sekarang gantian gadis itu yang membelainya dengan lembut.


Mata Ken melebar. Suara di kepalanya mengecil, dan bola hitam yang ia buat tanpa kendali tadi tiba tiba hilang.


"Hoaam... Kau mimpi buruk ya Ken? cup cup cup tidak usah takut. Ayo aku temani tidur lagi." suara Alicia serak, mata gadis itu setengah tertutup.


Ken tertegun. Lagi lagi ia merasa lebih tenang. Tangan Ken memeluk pinggang Alicia. Gadis itu melepaskan dekapannya, merendahkan tubuhnya lalu menyelip diantara dua tangan Ken, matanya sudah terpejam lagi. Jadi sejak tadi, Alicia melakukannya dengan setengah sadar.


Ken menutup wajahnya dengan satu tangan, menahan tawanya, ia tidak percaya jika seorang manusia yang bahkan bisa hancur dengan satu cekikan ini bisa mengalahkan hukuman dari dewa.


"Hei, kau ini sebenarnya siapa..." gumam Ken.


Melihat wajah Alicia yang tertidur membuat sisi lain Ken kembali muncul ke permukaan, bukan Ken dengan sifat jahat yang menyukai ambisi dari kebencian. Tapi Ken yang menyukai Alicia, yang sadar jika gadis ini adalah penolongnya.


Dengan hati hati Ken mengangkat tubuh Alicia, membaringkannya ke tempat tidur. Ken juga ikut merebahkan diri di sebelahnya. Menatap wajah Alicia dari samping, gadis ini memiliki kecantikan yang rata rata tapi ketika ia bangun dan mengatakan sesuatu, rasanya bukan hanya cantik namun juga menggemaskan dan rasanya ingin Ken makan.


"Untung aku bukan vampir. Alicia..." Ken terkekeh menyadari hal konyol yang ia pikirkan.


"Setelah kau membuat kontrak denganku, hewan hewan jelek itu pasti mengincarmu. Apa aku singkirkan saja sekarang ya?" monolog Ken, sambil memutar mutar dan melilitkan rambut panjang Alicia di jemarinya.


"Tapi sepertinya tidak mudah. Mereka sudah berbaur dengan manusia bahkan memiliki keturunan, aku takut tidak sengaja membunuh golonganmu" Ken mencium rambut Alicia, baunya harum dan begitu lembut.


"Manusia itu, menyedihkan. Masa hidup kalian tidak panjang, kalian juga gampang sakit, kalian tidak banyak protes dan pasrah dengan keadaan. Begitu lemah dan tidak berdaya."


Alicia membalik tubuhnya, menghadap Ken. Tiba tiba tangan Alicia bergerak memeluk pinggangnya. Wajah Alicia mendekat, bersembunyi di dada bidang Ken.


"Kau juga, sangat rapuh, Alicia..."


"Pasti sulit kalau terus terusan harus melindungimu, seperti menjaga lilin di tengah badai"

__ADS_1


__ADS_2