
Pedang Azura berada di dalam neraka bersama dengan kobaran api yang tak pernah padam membakar tubuh ayahnya.
"Bahkan iblis sepertimu bisa mati begitu menginjakkan kaki di sana." titik putih memperingatkan.
"Azura akan menyerap jiwamu. Membuatmu hancur dan bergabung bersamanya, terbakar selamanya, hidup tapi mati, mati tapi hidup. kau akan benar benar menderita, anak iblis." titik hitam menimpali.
Ken sudah tahu itu. Memangnya sudah berapa kali ia mencoba mengambil pedang itu dahulu kala? Ia sudah berkali kali masuk neraka hanya untuk diusir kembali ke dunia nyata. Jiwanya tidak kuat menahan pedih dari teriakan roh roh jahat yang mati terbakar.
"Beritahu aku dimana harus membuka portal."
"Gunung berapi." Ken menjawab singkat. Ia sudah tahu caranya memisahkan jiwa dengan raga agar dapat pergi ke tempat bersemayamnya roh jahat dari berbagai macam makhluk.
Yaitu dengan mengisi mana sihir hingga melebihi batas sel sel tubuh nya mampu menampung. Lantas meledakkan dirinya sendiri. Itu adalah jalan untuk ke neraka, mati paksa.
Dan dua dewa yang sedang menulis ulang aturan segel itu tahu apa yang akan dilakukan oleh anak iblis ini. Hal nekad yang bahkan tidak berani mereka lakukan.
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan seorang iblis sepertimu mau melakukan hal berbahaya seperti itu. Tapi ketahuilah, kami tidak bisa membantu apa apa. Kalau kau tidak bisa kembali, kalau tubuhmu tak kuat menahan tarikan jiwamu, kau akan mati menjadi bahan bakar di sana." - titik putih.
"Sebenarnya kami juga tidak peduli. Malah bagus jika makhluk yang diberi kekuatan tak terbatas sepertimu hilang dari dunia ini." -titik hitam, diakhiri dengan tawa menggelegar.
Ken tidak menjawab, ini adalah keputusan final. Tidak ada cara lain lagi selain ini. Ia harus mendapatkan pedang Azura dan menukarnya dengan kebebasan mutlak. Lantas kembali mengatur makhluk rendahan tak tahu tempat itu, yang telah mengacau balau dunia manusia, dunia Alicia nya.
Begitu portal dari dua dewa itu terbuka, tanpa pikir panjang lagi Ken melangkah masuk, ia langsung terjun bebas ke sebuah lubang raksasa dengan panas ribuan derajat. Melihat ke atas, langit mendung, sepertinya akan hujan. Miris sekali ketika ia keluar dari taman bunga mawar yang menyambutnya pertama kali adalah kobaran api gunung berapi.
Di sisi lain Dunia, Rafaela merasakan kekuatan Ken, mengabaikan Dalius, sang iblis lengan satu itu, dengan kecepatan penuh menerobos hutan belantara ia pergi ke arah lord nya berada.
Ia pikir entah keajaiban apa Ken bisa keluar lagi dari segel dan mengisi mana sihirnya di gunung berapi. Tapi ada keanehan yang baru disadari Rafaela. Untuk apa Ken jauh jauh dari taman bunga mawar ke gurung berapi yang berjarak ribuan mil berada di tengah lautan? Bukankah ada gunung berapi lain yang dekat dengan tempat ia disegel.
Aneh, itu tidak seperti lord nya yang tidak suka membuang buang waktu.
Rafaela mengepalkan tangan, dari kedua kakinya muncul samar samar aura hitam, ia menambah kecepatan. Melewati lautan, berlari menerjang ombak, menginjak i kepala paus yang muncul di permukaan laut. Tidak peduli meski gara gara injakan nya, para paus itu mati dengan serentak.
"Semoga kalian berada di surga." Rafaela menangkupkan kedua tangan, berdoa. Ibu manusia nya yang mengajarinya seperti itu.
Gunung purba di tengah lautan, besarnya nyaris 10 kali gunung berapi terbesar yang pernah ditemukan di darat.
"Jika gunung ini meletus, bisa bisa tsunami akan menenggelamkan seluruh daratan di dunia." Gumam Rafaela, ia naik ke puncaknya. Ken sedang ada di dalam, mengisi mana sihir.
"Lord, saya sudah menemukan Dalius. Tapi saya tidak bisa mengeluarkannya. Saya akan menunggu anda di sini untuk bersama sama pergi ke tempat iblis buntung itu disegel."
__ADS_1
Rafaela berteriak, kemudian terkekeh karena baru sadar menyebut Dalius sebagai 'iblis buntung', bagi Rafaela Dalius adalah penghambatnya dekat dengan Ken. Ia sering mengajak Ken untuk sparing hingga menghabiskan seharian penuh. Karena itu Rafaela kesal dan mengejek Dalius yang hanya punya satu tangan.
"Saya juga sangat penasaran kenapa anda bisa kembali disegel dan sekarang bisa keluar lagi. Tolong cepatlah mengisi kekuatannya, bisa bisa saya mengantuk kalau terlalu lama." Rafaela berteriak lagi, ia teramat senang bisa bertemu dengan Ken setelah sekian lama bersabar.
Ada yang aneh untuk yang kedua kalinya, yang disadari Rafaela satu jam kemudian. Mana sihir Ken sudah melebihi kapasitas, seluruh lahar gunung berapi itu hampir habis diserap oleh energi hitam.
Bukankah itu berbahaya?
Dulu ia pernah mendengar desas desus dari iblis tua, ketika seorang iblis level tinggi tidak bisa mati dan bosan dengan kehidupan yang serba mudah, ia akan mengisi dirinya penuh dengan mana sihir. Kemudian meledak menjadi satu kesatuan dengan bumi. Ledakannya tidak akan menyebabkan bahaya, karena bola hitam akan menetralkan energinya dengan perlahan. Hanya tubuh yang sempurna hancur dan jiwanya keluar untuk mencari kebebasan sejati.
"Lord..." Rafaela berseru lirih.
Tidak! Tidak mungkin Ken melakukan hal bodoh seperti itu. Apalagi dengan fakta bahwa para pengikutnya masih setia, Ken tidak akan tega mati dan meninggalkannya sendirian. Rafaela tahu Ken pasti punya alasan melakukannya, ia pasti akan segera kembali dengan utuh setelah tujuannya tercapai.
"Saya akan menunggu di sini." Rafaela duduk tenang di bibir gunung berapi, melihat bola hitam yang terus membesar. Gadis iblis itu tidak berani masuk ke dalam, tubuh manusianya tidak kuat untuk menahan panas ribuan derajat.
...****************...
"Kau sudah mati."
"Kau terbakar bersama kami."
Ken menahan napas sejak ia berhasil sampai di tempat merah darah yang penuh dengan bau busuk dan anyir. Roh roh hitam keluar dari tulang belulang yang menjadi bahan bakar api abadi.
Jalan tidak terbuka, Ken harus menahan panas dan teriakan teriakan meminta keadilan dari penduduk neraka. Sesekali Ken terpaksa menginjak tengkorak yang menghadang di depannya, membuat telapak kakinya meleleh karena panasnya tak masuk akal.
"Sial..." Ken menggigit bibir, berusaha mempertahankan tekadnya. Di tempat yang semakin dalam lagi, lebih mengerikan. Para makhluk tak berbentuk dengan daging membusuk memegang tubuh Ken. Memintanya untuk tinggal.
"Di sini saja... Layani aku." Mereka adalah jiwa jiwa yang haus akan kehidupan.
"Lepaskan tangan kotor mu itu, menjijikkan." Ken berseru marah, mematahkan tulang tulang rapuh itu dalam sekali hentakan tangan.
Ia benci tempat ini, bau busuk dan suaranya bisa merusak kesehatan jiwanya.
Ken dulu berhenti setelah bertemu dengan kumpulan daging itu. Kali ini kakinya melangkah pasti, terus maju ke depan.
Bayangan Alicia yang menangis membuatnya meneguhkan tekad, Alicia saja mampu mengikis sifat manusianya, bertarung membunuh siluman rubah. Ia yang seorang iblis seharusnya bisa melakukan lebih hebat lagi.
"Sejak kecil aku sudah bermandikan darah. Yang seperti ini bukan apa apa." Di depan Ken ada gundukan bara api dari tulang belulang yang membusuk. Ken mengepalkan tangannya, memukul keras keras tembok yang menghalangi.
__ADS_1
Di sini, tidak ada sihir yang bisa digunakan. Karena itu ia tidak bisa langsung menyingkirkan seluruh tulang menjijikan ini sekaligus.
Kemudian, setelah melewati suhu yang lebih panas lagi, langkah kaki Ken terhenti. Kepalanya berdenyut sakit, jantungnya berdebar hebat. Seluruh aura negatif yang disalurkan dengan aroma, suhu, dan suara menyedihkan dari neraka bisa mengikis sedikit demi sedikit akal sehat dari jiwa yang hidup.
"Kemari lah... di sini kau tak perlu berjuang lagi."
"Istirahatlah... Untuk apa cepat cepat pergi... Kami akan menyenangkan mu."
"Tolong! Tolong kami! Jangan pergi... jangan meninggalkanku sendiri."
"Api ini panas... panaass... Tolong selamatkan!"
"Keluarkan kami dari sini!"
Tangisan, teriakan, seluruh energi negatif itu masuk menyerang jiwa Ken.
Nafas Ken tersengal, ia menahan lututnya agar tidak roboh. Suara dengan frekuensi tinggi menyerang gendang telinganya, membuatnya pecah. Dari lubang telinga Ken mengalir darah hitam.
"Kau mengunjungi ku, nak?" itu suara yang berbeda dari suara lain. Suara serak besar milik seseorang yang Ken kenal.
"...Kau masih lemah. Kembalilah."
"....Atau kau mau di sini saja bersama ayahmu?"
"Aku merindukanmu Ken sayang."
Ken bergidik ngeri, itu hanya ilusi suara. Mengusap peluh di leher, Ken kembali maju. Sembari memegang perutnya yang mual dan jantungnya yang rasanya mau keluar dari kerongkongan.
"Belum... Masih jauh... Bertahanlah sialan!" Ken memukul kakinya yang gentar di hadapan api hitam. Ia harus menyeberang untuk sampai di depan jiwa ayahnya yang terus meraung meminta ampun.
"Bergeraklah!"
Ken memejamkan mata, tangan tangan roh jahat menahan langkahnya lagi. Kali ini tidak bisa ditepis karena mereka tak terlihat. Ken hanya merasakan cengkeramannya yang terus menguat.
"Haa... Kalau melihatku begini Areka pasti tertawa puas dan Alicia akan menangis lagi." Ken membayangkan jika ia tidak sendiri di sini.
"Lalu Rafaela akan memarahi para roh jelek ini. Dalius akan kegirangan bisa membunuhku dengan mudah agar bebas. Sedangkan Helius akan mematahkan kepala Dalius yang berusaha menyerangku."
"Iya... Aku harus melanjutkannya."
__ADS_1
Sekali lagi Ken menahan napasnya. Ia bisa kencan dengan Alicia setelah semua masalah ini selesai.