Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
37. Perbincangan ayah dan anak


__ADS_3

Ribuan tahun lalu vampir adalah klan yang berhasil meloloskan diri dari kepunahan. Klan iblis diperintahkan menghabisi mereka karena klan itu sudah terlalu serakah berburu darah manusia. Salah satu putra dari raja iblis lah yang menyelamatkannya, meminta klan itu untuk bertemu dengan Camelia, seorang gadis dari ras duyung.


Gadis ras duyung itu membukakan portal menuju 'dunia lain' yang ia buat di bawah tanah. Ia juga memberikan solusi bahwa klan mereka bisa meminum darah babi sebagai pengganti darah manusia, hanya saja darah babi tidak memiliki energi spiritual sehingga kemampuan bertarung klan vampir akan menurun drastis. Yeah, itu masih jauh lebih baik daripada kematian.


Mereka pun menjauh dari kekacauan dunia, tinggal nyaman di dunia bawah tanah. Hanya satu tim kecil yang bertugas berburu, mencari babi dan mengonsumsi darah manusia sebagai tim penjaga. Dipilih dari yang paling kuat, gagah, dan genetik paling bagus diantara mereka.


Salah satu ketuanya adalah pemuda bernama Leon, ia pernah membantu Areka mencari air keajaiban demi menjaga kehidupan putri klan mermaid. Tentu saja klan vampir bukan klan yang jahat, mereka tahu balas budi. Hingga sekarang mereka ada untuk mengabdikan diri pada klan iblis yang pernah menjadi penyelamat. Jika iblis itu berhasil keluar dari segel, seluruh klan vampir sudah bersumpah akan menjadi bawahan yang setia.


......................


"Elena, klan mermaid itu tinggal di laut kan ya? Kalian makan apa?"


"Ikan."


"Apa? Sungguh? Aku pikir kalian berteman dengan ikan."


"Iya memang berteman, tapi mereka juga makanan. Kalau orang itu vegetarian, cuma makan rumput laut. Bodohnya dia pernah keracunan gara gara salah pilih tanaman beracun."


"Tutup mulutmu, Elena. Ceritakan tentang dirimu sendiri, jangan bawa bawa aku."


Elena mencibir, mobil sudah sampai setengah jalan, berkali kali mobil ini sengaja menabrak siluman rubah yang tidak mengerti lalu lintas. Elena sudah melapisinya dengan sihir, jadi siluman rubah tidak bisa menghentikan mobil ini. Semacam lapisan baja tambahan.


"Kau tidak tidur lagi? Bukannya Ken sudah menunggu?"


Alicia menggeleng.


"Ken tidak menemuiku dari kemarin."


Mereka terdiam, semuanya berfikir hal yang sama, Ken sudah mulai melakukan sesuatu untuk membebaskan dirinya sendiri.


...****************...


7 kali terlempar keluar, 8 kali Ken tetap menerobos masuk lagi. Meledakkan mana sihirnya berkali kali, membuat tubuhnya benar benar hampir hancur. Ia bahkan tidak mendengarkan teriakan Rafaela yang memintanya untuk berhenti.


Kenapa ia jadi senekat ini? Bukan sekedar untuk Alicia. Bagi Ken, Alicia hanya sebagai penyemangatnya. Gadis itu berani melakukan sesuatu yang berbahaya padahal ia hanya manusia yang lemah, maka Ken tidak mau kalah, harga dirinya dipertaruhkan. Bodoh sekali kalau hanya diam saja disaat pasangan kontraknya berani menusukkan belati ke leher siluman rubah.


Ken tertawa hambar, lagipula siluman rubah jadi kurang ajar begitu disebabkan oleh dirinya di masa lalu. Maka ia bertanggung jawab penuh atas keadaan dunia saat ini.


"Kau akan benar benar hancur kalau terus melakukannya, mau berapa kali lagi kau mencoba?!"


Ken berhasil menembus gerbang kematian terdalam, menemui makhluk dengan dosa paling besar, sampai sampai yang bisa ia lakukan hanya telentang dengan perut tertusuk pedang Azura.


Nafas Ken tersengal, ia tidak lagi melangkah dengan ceroboh mendekati aura hitam pedang itu. Ken berada di perbatasan kegelapan dari kekuatan Azura, duduk bersila.

__ADS_1


"Kau ini anakku paling bodoh, aku bahkan masih mengingatmu walau ribuan tahun telah berlalu. Hanya kau yang kuingat. Bahkan ibumu saja, aku sudah lupa rupanya."


Ken menghela napas, sepertinya pak tua ini ingin bicara banyak. Sejak kemarin ia sampai di sini, ia tidak mau mendengar, menerobos masuk ke aura pedang Azura dan berusaha mencabut pedang itu. Tapi jiwanya langsung hancur berkeping keping. Untung saja badannya di luar masih bisa menarik jiwanya kembali.


7 kali yang menyakitkan. Ken mengabaikan peringatan ayahnya hingga ia mencapai batas. Jika percobaan ke 8 ini gagal juga, Ken tidak bisa kemari lagi. Atau jika memaksa, jiwanya akan terserap masuk menjadi bagian dari neraka paling kelam. Lalu tubuhnya akan hancur meledak, membuat gunung berapi purba di tengah laut itu akan meletus. Lalu tidak akan ada daratan lagi yang tersisa karena tsunami besar besaran pasti terjadi.


"Seseorang seperti anda tidak perlu mengingat ibu saya."


"Apa ibumu adalah gadis yang aku curi dari keluarganya, satu satunya gadis ras atas yang masih bertahan hidup."


"Benar."


"Ibumu sangat cantik, tapi dia penyakitan. Dia satu satunya wanita yang tetap kuberi tanah makam padahal hanya bisa melahirkan satu anak."


Tangan Ken mengepal. Ayahnya adalah orang paling menjijikan yang pernah ada, baginya wanita hanya sebagai wadah untuk melahirkan anak.


"Apa kau membenciku, nak?"


Pertanyaan konyol, tanpa dijawab pun sudah jelas. Ia tidak memiliki ingatan indah sama sekali dengan ayahnya. Ibunya terus mengucapkan kata kebencian, setiap hari Ken harus mendengar makian dan pukulan karena terlahir sebagai anak iblis. Ibunya yang cantik, ibunya yang hangat, tapi juga sangat menderita. Meski sering memukulnya, sang ibu juga memeluknya ketika tidur, meminta maaf karena melahirkannya.


"Aku tidak akan meminta maaf. Aku akan menebus dosaku sendiri."


Harga diri seorang penguasa klan iblis, ayahnya memiliki keteguhan itu.


Suara serak besar itu terkekeh. Suaranya tertahan menahan sakit yang tak pernah berakhir.


"Akhirnya kau melihatku sebagai ayahmu. Benar, berbicaralah begitu padaku. Sejak dulu kau tidak pernah mau dekat denganku. Berbeda dengan anakku yang lain, mereka mencari perhatianku dan meminta banyak hal. Ternyata aku harus pergi ke neraka dahulu agar kau berbicara selayaknya anak ya."


Ken terdiam. Sejak dulu ia memang tidak tertarik dengan harta dan benda pusaka. Dirinya yang sudah terlahir kuat dan berbakat tidak membutuhkan senjata untuk bertarung.


"Jadi permintaan pertamamu pedang ini ya. Hendak kau gunakan untuk apa?"


"Kuberikan pada pemiliknya."


"Dewa dewa sialan itu?"


Ken mengangguk.


"Aku akan bebas dari segel jika mengembalikan pedang itu. Dan ayah juga tidak akan tersiksa setiap saat setelah pedang itu dicabut."


"Pedang ini adalah bukti kesombongan dan keserakahanku. Seluruh kekejaman yang kulakukan telah disaksikan olehnya. Pedang suci ini, aku menggubahnya menjadi pedang iblis yang haus darah."


Sejujurnya sejak tadi Ken menahan diri untuk menyela cerita sang ayah. Di luar tubuhnya terus melepas energi sihir, jika terlalu lama tubuh itu bisa hancur kehabisan mana.

__ADS_1


"Ada satu cara untuk meredakan kemarahan Azura, Ken. Agar kau bisa mengeluarkannya dari neraka."


Akhirnya! Ken mendengarkannya dengan penuh perhatian.


"Aku akan membukakan portal ke masa lalu. Cegahlah diriku menjadikan Azura sebagai pedang hitam yang mengambil ribuan nyawa tak bersalah."


Mata Ken melebar. Apa itu mungkin? Membuka portal ke masa lalu itu menyalahi aturan dunia. Tidak mungkin orang bisa kembali ke waktu yang sudah berjalan.


"Itu bukan dunia asli, anakku. Memang itulah cara pedang ini memberikan ujian untuk siapapun yang ingin menyentuhnya. Masa depan tidak akan berubah, itu hanya seperti ilusi. Tapi jangan meremehkannya, jika kau mati di sana, jiwamu tidak akan bisa kembali ke tubuhmu."


"...Jika kau gagal, kau juga akan mati. Apa kau masih ingin pergi, Ken?"


Laki laki klan iblis itu menarik napas panjang, ini pilihan yang sulit. Menghentikan pedang Azura? Dulu Ken pernah bertarung menggunakan pedang itu, dan ia adalah pedang yang bisa mempengaruhi dirinya untuk membunuh. Bukan penggunanya yang menginginkan pembunuhan, pedang itu saja yang memang haus darah, penuh kebencian.


Jadi ujian ini adalah ujian untuk membuktikan apakah ia pantas dan cukup kuat untuk mencegah Azura menjadi pedang yang jahat. Sulit, itu bahkan hampir tidak mungkin.


Tapi Alicia menunggu. Makhluk rendahan tak tahu diri itu juga harus segera diberi hukuman.


"Akan kulakukan. Tolong bukakan portalnya."


Sebuah benda hitam melayang dari tubuh ayahnya, terbang di depan Ken. Saat ia sentuh, benda itu melebar membentuk pusaran hitam. Insting Ken memintanya untuk mundur... Tapi tekadnya lebih kuat dari ketakutan itu sendiri.


Satu langkah kakinya masuk, seluruh tubuhnya langsung terseret.


Sementara itu di luar, lahar gunung berapi sudah terserap habis. Menyisakan tubuh tanpa jiwa yang jatuh ke bawah. Rafaela bergegas masuk, terjun bebas. Ia berhasil menangkap tubuh lord nya sebelum menabrak bebatuan tajam di bawah sana.


Rafaela melompat naik lagi, membawa tubuh Ken ke bibir gunung berapi yang tak lagi panas. Tubuh itu utuh, jantungnya masih berdetak. Lord nya masih hidup, tapi jiwanya tak ada di sana.


"Haah... Kali ini anda pergi kemana lagi, tuan." Rafaela memeluk erat tubuh Ken. Melindunginya dari hujan.


...****************...


"Syukurlah kau masih hidup. Aku tidak tahu kalau tubuh makhluk lain itu bisa beregenerasi secepat ini. Aku meminta bantuan banyak orang untuk mengangkat pohon besar yang menindih mu. Ah ngomong ngomong apa kau mengerti yang aku katakan?"


Ia benar benar kembali ke masa lalu. Ken mengerjap, seluruh tubuhnya sakit, ini bukan ilusi. Seorang gadis berkepang dua berada di depan wajahnya, tersenyum ramah.


'Ahh... sial... Diantara seluruh kejadian kenapa harus yang ini.'


Tanpa sadar tangan Ken menarik kepala gadis itu hingga ia terjerembab ke dadanya. Memeluk erat.


Gadis manusia itu berteriak berusaha meloloskan diri dari dekapan Ken. Berkali kali memukulinya bilang jika ia laki laki cabul. Ken tertawa, tapi air matanya mengalir.


__ADS_1


(Cuplikan bab 34 yang berhubungan dengan cerita masa lalu Ken)


__ADS_2