Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
39. Seseorang yang Berharga


__ADS_3

Ken sedang berada di dunia rendah tempat dimana manusia dan siluman siluman lemah hidup berdampingan. Mereka saling memburu dan membunuh, bagi Ken yang pernah hidup satu tahun di sini, dunia rendah adalah pertarungan yang membosankan.


Di waktu ini dimensi dunia iblis belum menghilang, Ken bisa melakukan teleportasi ke sana karena ia masih terhubung dengan klannya. Tapi ada sesuatu yang harus ia pastikan terlebih dahulu, ia sudah merubah sedikit alur yang pernah terjadi dahulu. Seharusnya setelah Alia memberi obat, Ken masih tetap tiduran berpura pura sakit.


Ken melompati batang pepohonan, mengikuti Alia yang berlari ke sungai sambil sesenggukan. Sebenarnya Ken cukup merasa bersalah soal itu. Melihat sifat polosnya, Alia pasti merasa malu dan terhina.


"Anak iblis sialan! tidak tahu diri! Tidak tahu terima kasih!"


Di atas batang pohon yang tinggi Ken duduk bersila, tertawa mendengar setiap umpatan yang Alia katakan. Gadis itu membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih. Kemudian melepas bajunya, membersihkan bekas gigitan Ken di sana.


Ha! Benar saja dugaan Ken. Alurnya memang berubah, siluman ular yang bersembunyi di kedalaman sungai itu tiba tiba muncul ke permukaan, melilit tangan gadisnya.


Alia dan Alicia sama sama ceroboh. Seorang gadis tidak boleh sendirian pergi ke sungai meski pada siang hari sekalipun, aroma manisnya akan mengundang siluman ular menariknya ke dalam air.


Alia berteriak saat telapak tangannya dililit badan ular. Sebelum ular itu menarik sang gadis, Ken sudah lebih dulu memutus badannya dengan cakar yang memiliki energi sihir, mematikan sel sel dari sang siluman ular. Ia seketika tak bernyawa. Kepala dan setengah badannya masih terlilit lemas di pergelangan tangan Alia.


Gadis itu terus berteriak sembari menutup matanya.


"Aaa... Tolong... Itu..." Suara gadis itu tercekat, menahan takut, geli, dan jijik yang teramat sangat.


"Kau tidak apa apa nona?" Ken bertanya iseng, tidak mau cepat cepat menolongnya.


"Tidak apa apa, apanya! Ularnya... Masih di tanganku.. Huuu... Tolong bantu lepaskan."


"Eh, tapi kau tadi menamparku Nona. Sebelum aku tolong bukankah seharusnya aku dapat permintaan maaf terlebih dahulu?"


Alia mendelik, tidak percaya bahwa orang di dekatnya ini masih sempat sempatnya menagih permintaan maaf di saat genting seperti ini. Ken tidak peduli pada mata melotot Alia, ia tetap tenang tersenyum jahil. Gadisnya harus diajari untuk tidak mendahulukan gengsi.


"Ayo... Minta maaf dulu."


Tangan Alia terkepal, gadis itu menarik napas panjang panjang kemudian berteriak di depan Ken dengan sangat kencang.


"IYA IYA AKU MINTA MAAF!"


Permintaan maafnya menggema hingga dari pohon ke pohon, mengagetkan para penghuni ranting, hewan hewan berterbangan. Ras iblis memiliki indera yang kuat, karena itu teriakan Alia membuat Ken tersentak ke belakang. Itu cukup menyakiti pendengarannya.


Ken tertawa, ia sudah puas menggoda gadis itu. Kemudian Ken menarik tangan Alia mendekat ke sungai, membasuh darah siluman ular dengan air untuk membersihkannya.


"Terima kasih." seru Alia pelan, wajahnya memerah.


Ken mengangguk, tersenyum tipis, menarik bahu Alia ke dalam pelukannya.


"Setelah ini jangan kemana mana, jaga dirimu. Kita akan berpisah sekarang."


Tapi ada yang aneh, gadis itu diam, sama sekali tidak melawan. Dan tubuhnya juga terasa lebih panas daripada suhu normal.


Ken benar benar merutuki kebodohannya! Ia baru sadar jika wajah Alia memerah karena demam. Bibirnya memutih pucat. Siluman ular itu tidak menggigit Alia, tapi darahnya ternyata memiliki racun yang cukup berbahaya, terserap masuk ke dalam pori pori kulit gadis itu.


"... Tubuhku rasanya aneh... Kau kenapa ada dua..." lirih Alia, memegang kepalanya yang berkunang kunang.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Ken menggendong gadis itu. Membawanya pergi ke desa dengan kecepatan penuh. Semoga ada tabib yang bisa mengobatinya.


Ini memang bukan dunia asli, dunia ini adalah ujian dari Azura untuk membuktikan apakah Ken pantas memiliki pedang itu dan mengeluarkannya dari neraka.


Dan pedang itu tahu betul kelemahan Ken. Mempertemukan Ken pada seseorang yang ribuan tahun lalu membuatnya jadi iblis sepenuhnya.


"Maaf... Maaf... Bertahanlah sebentar..." Ken menggenggam tangan Alia, yang semakin panas. Keringat dingin membasahi leher dan kening gadis itu.


...****************...


Di tempat yang lain berbeda namun serupa terjadi bersamaan.


Areka tidak peduli pada tangan tangan yang berusaha menghentikannya. Kepalan tangan dan matanya tertuju pada wajah seorang ksatria klan vampir yang baginya sekarang terlihat seperti makhluk paling menjijikkan.


"Hei biarkan saja... Lagipula vampir tidak akan mati kalau cuma dihajar dengan tangan kosong." Elena menarik punggung dua vampir yang menahan tangan Areka. Melirik sepintas pada ksatria yang sudah melakukan hal buruk pada Alicia. Akibat dari kerakusan, ia telah melakukan kesalahan fatal. Kalau Alicia tidak bangun, entah apa yang akan Ken lakukan pada klan rendahan ini.

__ADS_1


"Kalau sudah puas, tenangkan dirimu. Aku akan membawa Alicia ke air ajaib." Elena berseru pada Areka.


Ia mengabaikan amarah teman masa kecilnya, biar saja menghajar habis habisan ksatria vampir bodoh yang sudah pasrah terlentang di atas tanah.


Elena menarik tangan Alicia yang dingin, menggendong gadis tak sadarkan diri itu di punggungnya. Lantas membuat portal untuk masuk ke dunianya. Tidak ada yang bisa ia lakukan pada Alicia. Bersedih pun percuma, biarlah Areka marah hingga gelap mata memukuli orang yang telah melukai Alicia.


"Haa... Alicia Alicia... Tanpa Ken kau ini tetaplah manusia rapuh yang mudah terluka. Seharusnya dari awal kau duduk diam saja di sini." Elena membaringkan Alicia di atas batu di dalam air ajaib. Di samping tubuh kosong Ken.


"... Ini tergantung tekadmu untuk bertahan hidup. Segera bangun, kalau kau tidak bangun kau akan menjadi penyebab dunia ini hancur lagi."


"... Kau tahu, kurasa Ken itu cuma iblis budak cinta yang naif. Dia memang jenius tapi juga bodoh. Ia tidak akan berfikir dua kali untuk menghancurkan dunia yang tidak ada dirimu lagi. Jadi Alicia, aku minta maaf karena tidak bisa membantu apapun... Sekarang aku yang butuh bantuanmu... Tolong, bertahan hiduplah." Elena mengusap air matanya. Ia harus kembali pada Areka. Mereka berdua harus tetap menuntaskan tugas dari Ken, mencari saudara Bryan sebagai bala bantuan.


Saat Elena datang, Areka sudah duduk menatap kosong pergelangan tangannya yang berlumuran darah. Para ksatria vampir duduk timpuh di tanah, meminta maaf padanya. Mereka berjanji akan mengurung vampir yang telah menggigit Alicia, bahkan jika Areka dan Elena tidak puas, mereka siap membunuhnya.


"Tidak perlu." Elena menjawab singkat.


"Aku tidak peduli padanya. Tapi Ken pasti peduli, berdoalah pada Tuhan untuk keselamatan Alicia. Jika gadis itu tidak bangun saat Ken datang, klan kalian dan dunia ini mungkin akan hancur dalam beberapa jam saja." Elena menarik tangan Areka. Pria itu tak kunjung bangun, Elena pun menjambak rambutnya agar kesadarannya kembali ke dunia nyata.


Sudah terlambat untuk menyesal, sesuatu yang telah terjadi tidak bisa diulang dan dicegah.


"Ken akan membunuhku..." gumam Areka.


"Ya tentu saja. Kita akan mati bersama jika iblis itu bebas."


'Iblis' bernama 'Ken'.


Dua kata itu membuat para ksatria klan vampir kehilangan tenaganya dalam sekejap. Itu adalah seseorang yang mereka tunggu selama ini, putra dari lord iblis yang telah menyelamatkan klan mereka ribuan tahun lalu. Mereka sadar telah membuat kesalahan yang sangat fatal.


Jika benar gadis manusia tadi sangat berharga bagi iblis bernama Ken itu, kali ini klan mereka tidak akan selamat dari kepunahan. Kengerian ribuan tahun lalu kembali terbayang.


Tapi gadis duyung itu benar, tidak ada yang bisa dilakukan. Alicia tak sadarkan diri bukan karena terluka ataupun racun, karena itu tidak bisa diobati. Energi kehidupan tidak bisa dikembalikan, satu satunya cara untuk kembali hidup adalah tekadnya untuk mempertahankan diri di dunia ini.


Semoga gadis itu tidak mati.


Hanya itu saja yang bisa mereka teriakkan dalam hati. Memohon belas kasih Tuhan.


...****************...


Ken mengusap wajahnya yang kebas. Tabib tua dengan rambut putih itu telah memberikan obat penawar racun siluman ular. Ia tidak berbohong soal keadaan Alia yang membaik, wajahnya mulai kembali cerah lagi. Sekarang gadis itu seperti hanya sedang tertidur nyenyak.


"Kau anak dari klan iblis bukan? Sedang apa di dunia ini... Kau terlihat seperti sudah melewati perjalanan yang panjang." Tabib tua dengan wajah penuh kerutan itu mendekat pada Ken, duduk di kursi bambu sebelahnya.


"Melihat makhluk mengerikan sepertimu yang memintaku mengobati manusia terasa begitu ganjil. Kau ini siapa? Iblis macam mana yang bersimpati pada makhluk klan rendah seperti kami."


Itu pertanyaan yang tidak bisa Ken jawab. Siapa dirinya? Bahkan hingga sekarang ia tak tahu. Jati dirinya tidak ada, tujuan hidupnya tidak ada, selama ini ia hanya melakukan apapun yang sepertinya harus dilakukan.


"Ken... Itu namaku. Kau bisa memanggilku Ken."


"Sungguh nama yang pendek dan sederhana. Apa ibumu yang memberikannya?"


Ibu ya, ia tidak tahu apakah ibunya yang memberi nama itu, sejak dulu ia dipanggil begitu. Tapi Ken mengangguk saja.


"Apa kau anak raja iblis?"


"Bagaimana kau tahu?"


Ken menoleh cepat, menatap wajah yang tersenyum takzim. Seolah manusia di sampingnya ini juga melakukan perjalanan panjang di hidupnya, seolah ia tahu banyak hal. Padahal ia hanya manusia, mungkin ia baru 70 tahunan. Tidak bisa dibandingkan dengan Ken yang berusia ribuan tahun.


"Ini hanya saran, Nak... Jika kau tidak tahu apa yang harus dilakukan, lakukan saja satu hal penting. Satu persatu, selesaikan dengan berurutan."


Ken tertawa hambar. Ia sudah tahu itu. Sekarang ia harus pergi ke dunia iblis, mencegah ayahnya membantai banyak klan menggunakan pedang Azura. Lantas membawa pedang kehancuran itu keluar dari neraka, lalu mengembalikannya pada dewa, kemudian ia bisa bebas.


Setelah itu Ken harus bertarung lagi. Menertibkan para siluman yang kurang ajar. Memusnahkan klan siluman rubah, membebaskan para manusia. Mengatur dunia dengan memberi peringatan pada klan klan lain agar tidak bertindak di luar batas. Mengembalikan dunia Alicia ke pengaturan semula.


Lalu setelah itu apa lagi? Ia harus melakukan apa lagi?

__ADS_1


Dunia tenang... Bukankah ia sudah tidak dibutuhkan.


Dunia setelah ribuan tahun berlalu bukanlah dunia yang bisa Ken tinggali. Bumi sudah modern, makhluk dengan kemampuan sihir tinggi sepertinya bisa merusak keseimbangan jika terus berada di sana.


"Kau menghela napas berkali kali Nak... Apa kau sedang ragu dengan tujuanmu?"


Ken melirik pada Alia yang tengah tertidur. Tangannya mengusap kepala gadis itu yang diberi kain basah untuk kompres demamnya. Wajah yang menggemaskan, melihatnya saja bisa mendamaikan gundah dalam hati Ken.


"Hei pak tua, setelah menyelesaikan semua tugas. Apa yang harus kulakukan?"


Tabib tua itu terkekeh.


"Kalau aku, aku akan menikmati hasil kerja kerasku. Bersenang senang."


Iya Ken tahu itu, ia sudah merencanakan kencan romantis dengan Alicia. Mengelilingi dunia bersama.


"Lalu apa lagi?" Ken kembali bertanya. Tatapannya penuh kebimbangan.


Pak tua lagi lagi menatapnya takzim, dari matanya terpancar banyak sekali cerita kehidupan, membuat Ken terpaku sejenak.


"Usia manusia itu tidak panjang. Setelah bersenang senang dan puas dengan kehidupan yang singkat ini kami akan mati. Sejujurnya, manusia itu hidup untuk mati. Tapi kau berbeda Nak... Kau bukan manusia."


Ken tahu itu, bahwa ia bukan makhluk yang mudah mati. Ia berumur panjang sekali, hingga melewati banyak generasi. Di kehidupan sebelumnya, entah berapa kali Alia bereinkarnasi, lagi dan lagi... Berapa kali Alia menikah dan memiliki keturunan. Berapa kali ia mati. Sementara Ken masih tetap sama, ia hidup dengan perasaan yang sama.


Apa ia mencintai Alia? Ken berani bilang iya untuk itu. Ribuan tahun lalu Ken gelap mata membunuh banyak sekali makhluk di bumi ini, menyalahkan dunia atas kematian gadis yang ia cintai. Rasanya seluruh perasaannya sudah habis di gadis manusia ini.


"Haa... Pedang Azura sialan." gumam Ken.


Tega sekali pedang itu mempertemukannya lagi pada gadisnya. Membuat Ken serasa tidak ingin kembali. Membuat Ken ingin berada di sini, hidup bersama manusia ini.


Tapi bagaimana dengan Alicia?


Ken mengacak rambutnya gusar.


Tabib tua terkekeh lagi.


"Aku dengar klan iblis itu setia."


"Tidak. Ayahku saja punya belasan istri."


Tabib itu menggeleng.


"Karena raja iblis harus melakukannya. Memperbanyak keturunan, agar iblis iblis kuat sepertimu menjaga kekuasaan dan martabat klannya. Ayahmu itu, kau tidak dekat ya? Ia pasti juga memiliki satu orang yang berharga seperti yang kau miliki sekarang."


Seseorang yang berharga untuk ayahnya ya... Ken tidak tahu itu. Sejujurnya sejak dulu Ken tidak peduli akan hal itu, ia tidak pernah mau tahu soal apapun tentang ayahnya.


"Ayahmu tidak akan mengabaikan kata kata dari orang yang ia cintai. Seperti kau yang selalu berusaha menjaga perasaan gadis ini."


Mata Ken melebar, mungkin kakek tabib tua ini tidak sadar. Tapi ia sudah memberikan solusi atas masalah yang akan Ken hadapi setelah ini.


Seseorang yang berharga ...


Ken tidak perlu bertarung dengan ayahnya jika hal itu benar.


Tak berapa lama Alia sadarkan diri. Gadis itu mengerjap, menatap wajah Ken yang berada di atasnya. Ia tersenyum.


"Katanya kau mau pergi..." pelan Alia.


"Tidak, sebenarnya aku tidak mau pergi. Tapi aku harus pergi." Ken mencubit hidung gadis itu hingga memerah.


"Hati hati... Apa kau mau berbaikan dengan ayahmu? Apa kau akan menemuiku lagi?"


"Iya, aku akan melakukan dua hal itu."


"Aku akan menunggu. Kau harus menjelaskannya padaku."

__ADS_1


Ken tertawa, baiklah... Kalau Alia bersedia menunggu, Ken akan menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Kemudian menemui gadis ini lagi untuk memutuskan perasaannya, menentukan tujuannya.


__ADS_2