
"Berhenti minum!"
"Kembalikan."
"Kau bisa mati overdosis alkohol."
"Aku hanya punya itu, kembalikan!"
Alicia itu sangat bodoh. Apanya yang hanya punya botol hijau jelek ini?! Padahal dia punya keluarga, teman, dan saudara yang mengkhawatirkannya.
*Plak
Ku tampar pipinya, tapi tidak sengaja kelepasan hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Maafkan aku arwahnya Ken, habisnya gadismu ini menyebalkan sekali.
"Ayo, pulang." Aku menarik tangan Alicia memaksanya agar bangun.
Gadis ini minum sendiri di sebuah kamar di bar menggunakan Hoodie dan rok panjang, benar benar seperti orang aneh yang sedang depresi.
"Permisi Nona, pelanggan itu belum bayar."
Sialan. Aku tidak punya uang pula. Bartender ini tega sekali menagih uang pada gadis miskin sepertiku.
Meskipun Areka pasti akan mengomel panjang lebar aku tetap menggunakan cara lama. Memegang tangan laki laki itu, mulai memodifikasi ingatannya. Mengganti beberapa ingatan agar seolah aku sudah membayar minuman keras Alicia.
"Simpan saja kembaliannya Paman..." aku tersenyum. Laki laki 40 tahunan itu berterimakasih. Aku bergegas menyeret tubuh Alicia keluar bar.
Maaf karena aku tidak menepati janji, tapi ini situasi mendesak, Areka.
Aku membuka pintu mobil, membaringkan Alicia di kursi belakang dengan secepat mungkin hingga kepalanya tidak sengaja terantuk pintu mobil. Maafkan aku lagi ya, arwahnya Ken. Salah Alicia sendiri karena mabuk berat begini.
"Kau sudah membayar?" Areka bertanya.
Mampus.
"Sudah kok. Alicia sudah membayar sebelum minum hehe..."
Gila gila gila... aku sudah melakukan 3 dosa dalam kurun waktu kurang dari 30 menit! Aku parah sekali... Semoga dosaku dilimpahkan pada Alicia karena gadis itu penyebabnya.
"Apa aku boleh menginap di kamarmu?" tanyaku, sembari memainkan mata, merayu Areka.
Laki laki itu menggeleng.
"Kenapa tidak?! Aku bisa pakai wig dan memakai celana training milikmu agar bisa masuk ke asrama mu, pura pura jadi teman biar bisa menginap."
"Tidak bisa Elena, wajahmu terlalu cantik." Areka menjawab tegas, sembari masih fokus menyetir.
"Heeh... aku cantik ya... secantik apa?" aku tersenyum lebar, meniup telinga Areka hingga laki laki ini bergidik geli. Hehe... aku suka sekali melihat telinga dan pipinya yang memerah.
Areka menoleh ke belakang saat lampu merah. Mencomot bibirku dengan lima jemarinya.
__ADS_1
"Secantik bunga Camelia jika bibir seksimu ini tidak digunakan dengan berlebihan."
Itu artinya aku disuruh diam. Aku mengangguk saja, karena wajah Areka terlihat lelah. Sebenarnya aku bisa menyusup ke kamarnya menggunakan portal, tapi Areka adalah orang yang tertib. Katanya kalau di dunia manusia bertindaklah mengikut aturan mereka.
'Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung' Itu yang Areka pernah katakan padaku, Areka itu orang yang suka sekali dengan pepatah orang zaman dulu, huft dasar kuno.
Seminggu sudah berlalu sejak tragedi itu terjadi.
Areka melarang diadakan pemakaman, ia masih yakin jika Ken belum benar benar mati. Sedangkan Alicia aku kembalikan ke dunia manusia dengan harapan luka di hatinya bisa segera terobati dengan jauh dari mayat Ken, tapi ia malah tidak pernah masuk kampus selama ini dan hanya menangis tidur menangis tidur.
Dia bahkan mengusirku yang berbaik hati menjenguknya ke asrama. Lalu Areka tiba tiba diperintahkan ibu pengurus asrama untuk mencari Alicia karena gadis itu dilaporkan hilang 2 hari.
Kau tahu kemana dia?
Dia mabuk mabukan di sebuah bar tempat orang kaya. Memesan satu kamar sendirian dan mengganti rutinitas tidur menangis nya menjadi tidur minum tidur minum.
Benar benar gadis yang merepotkan.
Wajahnya jadi tirus sekali. Ia kehilangan pipi chubby nya hanya dalam waktu satu Minggu.
"Kau tidak berencana memodifikasi ingatan Alicia?" tanya Areka padaku, matanya mengintip lewat cermin depan.
"Katamu tidak sopan menghapus ingatan orang tanpa izin." aku meliriknya kesal, padahal Areka sendiri yang membuat ku berjanji supaya aku tidak sembarangan mempermainkan perasaan orang.
"Iya, gadis pintar. Kau menurut sekali ya denganku."
"Tentu saja! Aku kan hanya punya Areka."
Sebenarnya bukan hanya Alicia yang bersedih atas kepergian Ken. Areka juga sama meski berada di level yang berbeda.
Areka itu tidak pernah tidur dengan nyenyak, setiap malam ia bisa tiba tiba terbangun lalu mendengus marah. Kemudian membaca buku hingga pagi.
Aku diam diam mengintipnya lewat portal kecil yang ku buat di atap asramanya. Menyembunyikan keberadaan ku sehingga Areka tidak tahu kalau aku selalu menemaninya.
"Kita sudah lama tidak tidur bersama." kataku.
"Maaf Elena. Aku sibuk sekali di kampus, aku sangat lelah."
Aku mengangguk, iya Areka memang sangat sibuk. Ia harus berpura pura tidak tahu jika sekelilingnya adalah manusia rubah, ia pura pura bodoh dan berinteraksi dengan mereka selayaknya teman biasa, Areka tidak bebas di kampusnya karena selalu diawasi.
"Baiklah, kalau begitu aku tidur dengan Alicia saja daripada tidur sendiri."
"Iya. Maaf ya... Beri aku waktu dan ruang sendiri, sebentar saja."
Hiks... rasanya mau nangis. Kenapa Areka malah seperti melampiaskan kekesalannya padaku.
"Iya, jangan lama lama."
Areka hanya mengangguk.
__ADS_1
...****************...
Pada akhirnya aku tidak jadi tidur dengan Alicia. Gadis itu sangat bau dan dia mengusirku keluar begitu tersadar jika aku berada di kamarnya.
Rasanya semua orang sedang menjauhiku. Ini semua gara gara satu orang klan iblis ini!
Apa Ken sudah mati?
Tentu saja sudah! Yang tersisa hanya mayatnya yang dingin dan pucat.
Aku tidak tahu apa yang bagus dari iblis ini. Kenapa Alicia dan Areka segitunya sedih atas kematiannya.
Dia memang cukup baik. Tapi tidak sebaik aku tuh. Aku ribuan, eh tidak... jutaan jauh lebih baik dari dia.
"Aku bisa saja menghapus ingatan Alicia dan Areka tentangmu. Itu sangat mudah, tapi aku takut kau tiba tiba bangkit dari kematian dan mencekik leherku sampai mati."
Iblis itu diam saja. Sepertinya aku bodoh karena bicara dengan mayat. Habisnya, bosan sekali. Kenapa tidak ada yang menghiburku! Bisa bisa aku ikut mati karena hampa selalu sendiri.
Aku mendorong mayat iblis ini hingga jatuh ke bawah, gantian aku yang duduk di batu besar, maaf ya Ken tapi ini tuh tempatku. Areka membangun tempat ini untukku!
Aku melihat mayat Ken dari atas. Ia seperti orang tidur, kenapa klan iblis yang digadang gadang kan sebagai klan hebat dengan berbagai macam sihir aneh bisa mati ya? Padahal Ken adalah orang yang berhasil membuatku hidup lagi.
"Aku tidak menyangka iblis yang katanya abadi bisa mati hanya dengan mustika rubah. Di masa lalu bukankah kau yang memimpin pembantaian klan itu ya?"
Masa lalu iblis ini sangat menarik. Padahal aku hanya mengintip sedikit karena dia langsung menepis tanganku, tapi rasanya seperti dibawa ke dunia genre action yang penuh dengan pertumpahan darah. Sangat seru dan membuat jantung berdebar hebat.
"Eh iblis, aku minta maaf soal apa yang terjadi dengan Alicia. Aku pikir dia akan bersemangat sepertiku saat ku perlihatkan masa lalu mu. Tidak tahunya malah takut, gadismu itu lemah sekali."
Tapi sejujurnya ada yang aneh. Ada sebuah adegan di masa lalu saat iblis ini menggendong mayat perempuan bersayap, yang satu sayapnya patah. Perempuan itu cantik. Kenapa aku tahu kalau dia sudah jadi mayat? Karena setelah itu Ken menguburnya seorang diri, kemudian menanami makamnya dengan bunga mawar.
Iblis ini terlihat begitu sedih. Seakan kehilangan dunianya. Aku saja kalau Areka mati tidak akan sesedih itu.
Lalu, lucu sekali, seorang iblis berdarah dingin yang bahkan ditusuk pun tidak mengalirkan darah bisa terlihat begitu putus asa saat menguburkan seseorang.
Setelah kejadian pertama itu, yang ada di hidupnya hanya perkelahian, perang, dan pembantaian.
"Kau seperti sedang mencari orang yang mampu membunuhmu. Kau menantang semua orang, bahkan ayahmu sendiri. Pada akhirnya tidak ada yang setara denganmu, mereka semua binasa karena salahmu."
Meskipun begitu, sebenarnya iblis ini tidak abadi.
Jika ia sebuah logam, mungkin jenisnya adalah berlian. Logam terkuat yang tercipta dari suhu panas paling tidak masuk akal di dalam inti bumi.
Tidak mudah menghancurkan tubuhnya. Regenerasinya tidak masuk akal, bahkan seharusnya dia tidak mati karena seekor rubah. Sekalipun rubahnya adalah rubah ekor sembilan yang terkuat.
Aku tertawa. Sekali lagi melihat wajahnya yang seperti mengejek kesendirianku.
"Kapan kau bangkit. Semua orang menunggumu. Para klan klan lemah itu meremehkanmu, mereka semakin gila ingin menguasai dunia yang sempit ini." aku menginjak wajahnya.
Hehe... Kesempatan tidak datang 2 kali.
__ADS_1
Selagi dia mati aku ingin menindasnya habis habisan sampai dia kesal dan terpaksa bangun.