Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
38. Vampir


__ADS_3

Gadis yang menolongku itu berasal dari ras manusia, namanya Alia. Gadis yatim piatu yang tinggal di desa bersama manusia lain. Kedua orang tuanya meninggal karena perburuan besar besaran klan vampir.


Di masa lalu aku tinggal bersamanya cukup lama setelah ia menolongku yang hampir hancur tertimpa pohon purba raksasa. Aku hidup bersama para penduduk di desa Alia, makan bersama, dan bertarung melindungi mereka dari serangan siluman. Melupakan soal statusku, melupakan soal kewajibanku, hari hariku habis bersenang senang dengan gadis itu.


"Ini obatmu. Tabib bilang minum sebelum dingin."


"Iya."


"Hei, kau ini dari ras apa? Wujudmu tidak seperti vampir ataupun siluman hewan. Apa kau duyung?"


Dia gadis yang menggemaskan. Matanya bundar seperti purnama, rambutnya hitam panjang sering dikepang dua, dan pipinya seperti roti yang empuk.


"Tidak tahu, aku lupa."


"Apa?! Jangan bilang kau juga lupa nama dan usiamu?!"


Lihatlah, pertanyaan yang ia sampaikan juga lucu.


"Kau ingin tau usiaku?"


Gadis itu mengangguk angguk dengan cepat.


"Apa pentingnya?"


"Kalau kau berusia ribuan tahun harus ku panggil kakek."


Ingin ku gigit. Bahkan kata katanya masih tetap sama, aneh dan tidak tertebak.


"Aku dari ras iblis."


Gadis itu melotot. Lantas mundur dua langkah. Wajahnya mulai menunjukkan ekspresi ketakutan.


"Namaku Ken."


Sekarang gadis itu sudah memutar badan, hendak kabur. Tingkahnya itu benar benar...


Aku mendekatinya, meraih tangannya sebelum ia keluar dari pintu. Memeluknya erat, rasanya rindu sekali.


"A-apa kau akan memakan ku? Dagingku tidak enak!" Alia bertanya gagap. Kurasakan detak jantungnya yang mengeras.


"Bolehkah? Aku memang ingin memakanmu."


Alia menggeleng kuat kuat. Tapi aku tetap melakukannya. Menyibak kepang gadis itu. Selamat makan.


Aku sepertinya sudah gila. Ini bukan saatnya untuk bersenang senang. Tapi gadis ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Baunya sangat wangi, kulitnya lembut dan indah seperti awan putih. Bagaimana mungkin aku bisa menahan diri?!


Sekarang aku tahu siapa Alicia... Kenapa manusia itu terpilih sebagai pasangan kontrakku, menjadi satu satunya manusia yang bisa melihatku di taman bunga mawar.


Bahkan setelah ribuan tahun berlalu, Alia menemuiku lagi. Gadis ini menyelamatkanku dari keputusasaan, lagi dan lagi. Gadis manusia lemah ini... Sangat tidak tahu diri! Aku klan iblis, klan terkuat, beraninya dia membuatku merasa bergantung seperti itu.


"Ukh...Hen... Hentikan... Sakit... Ugh... KUBILANG BERHENTI!"


*PLAK!

__ADS_1


Aku ditampar. Sepertinya sekarang aku dianggap sebagai pria cabul sekaligus brengsek.


Alia menatapku dengan tatapan jijik dan kesal, kedua pipinya basah oleh air mata. Gadis berkepang dua itu menarik kembali bajunya yang merosot karena ulahku, lantas berlari keluar, pergi dari rumah gubuknya.


Ya sudahlah, lagipula aku juga harus pergi. Aku sudah puas... Kalau aku bebas nanti, gantian akan ku garap reinkarnasi nya.


Aku akan menemui ayahku dulu, menjinakkan pedang Azura. Membuatnya berhenti menjadi pedang yang haus akan jiwa.


...****************...


Alicia, Elena, dan Areka akhirnya sampai di sebuah rumah pondok besar sederhana dengan halaman rumput luas yang berada di pinggir pedesaan.


Pukul 7 malam.


Begitu matahari terbenam, anak anak dari dalam pondok kayu itu berhamburan keluar. Beberapa diantaranya berteriak memanggil Areka, langsung berlari lebih cepat lagi menubruk tubuh jangkungnya hingga terjengkang ke belakang.


Mereka tertawa melihat wajah jengkel Areka yang punggung dan rambutnya basah dan kotor oleh rumput. Tiga anak laki laki usia tujuh tahun itu duduk di atas tubuhnya. Setelah diperhatikan, tiga anak laki laki itu ternyata kembar identik. Dua taring kecil terlihat keluar saat mereka nyengir dan tertawa.


"Cepat berdiri heh! Kalian berat tahu." seru Areka masih telentang di atas tanah. Dua lengannya ditindih.


"Tidak mau ah." jawab si kembar sebelah kiri.


"Iya nanti kak Areka kabur lagi." si kembar sebelah kanan menimpali.


"Kak Areka kenapa lama sekali tidak mengunjungi kami?" si kembar yang berada di tengah bertanya lebih baik, ia si bungsu. Berdiri lebih dulu setelah Areka terlihat kesakitan.


Areka yang hendak menjitak dua kembar itu satu persatu terhenti saat seorang gadis sudah mendahuluinya, menarik telinga dua anak nakal itu.


"Al El Il, bukankah aku sudah mengajari kalian cara menyambut tamu yang benar?" seorang gadis berambut pirang menyeringai, sepertinya si kembar sudah menjadi biang kerok di rumah pondok kayu ini.


"Iya deh iyaa... gak gitu lagi... sumpah deh..."


Areka tertawa penuh kemenangan, dua kembar bernama Al dan El meminta maaf dengan sopan sementara si bungsu Il sembunyi di balik tubuh Elena dan Alicia yang ada di belakang.


Gadis pirang itu bernama Gracia, salah satu klan vampir yang tinggal di permukaan tanah. Menjaga dan mengasuh anak anak di rumah pondok ini. Ia tersenyum manis, langsung memeluk Areka.


"Aku senang akhirnya kau datang lagi." suara Gracia terdengar lembut, begitu tulus.


Jika keadaannya berbeda Areka pasti sudah membalas pelukannya, tapi sekarang seorang gadis di belakangnya dari tadi sudah menatap penuh ancaman. Seolah siap menusuknya dengan tombak es.


"Ah eh... itu... aku juga senang bertemu denganmu, tapi aku kemari karena butuh bantuan."


Alicia terkekeh mendengar suara gagap Areka. Juga melihat wajah cemburu Elena yang ia tunjukkan terang terangan, dua alis gadis itu sudah tertaut sejak datang kemari. Satu satunya yang membuat Elena sabar adalah ancaman Areka yang bilang tidak akan mengajaknya kemana mana lagi kalau ia tidak bisa menahan emosi.


"Alicia, bukannya wajar ya kalau aku membunuh gadis yang berani menyentuh lelaki ku? Kalau yang dipeluk di sana itu Ken, kau bagaimana?"


Alicia mengangkat bahu, tidak tahu.


"Tapi Ken itu tidak sama seperti Areka. Melihat kepribadiannya, Ken tidak akan membiarkan gadis lain memeluknya sembarangan."


Mata biru Elena menyipit. Bibirnya manyun ke depan, sangat kesal.


"Sepertinya yang harus mati itu Areka."

__ADS_1


Di depan sana Areka yang pendengarannya sangat tajam bergegas melepas pelukan gadis pirang itu, mendorong bahunya pelan. Gracia tersenyum tipis, melirik dua gadis di belakang. Ia sudah tahu soal Elena, putri klan mermaid yang sangat disayangi oleh Areka.


"Kau dan gadis bermata biru itu bisa ke bawah. Tapi gadis satunya tidak, dia manusia. Para vampir tidak akan tahan dengan baunya." ujar Gracia setelah Areka mengatakan maksud kedatangannya. Gadis pirang itu sama sekali tidak berniat untuk berkenalan. Sejak tadi ia menatap dingin pada Elena yang memeluk erat lengan Areka.


"Kalau begitu kalian berdua saja yang masuk ke dalam. Aku menunggu di sini saja."


"Kau tidak apa apa Alicia?" Elena bertanya, memastikan. Ia harus ikut Areka ke dalam, gadis itu dibutuhkan untuk membuat portal masuk ke dunia bawah tanah, menemui ksatria ksatria klan vampir. Areka juga ingin mengenalkan Elena pada teman teman yang membantunya mengumpulkan air ajaib.


"Iya tenang saja, aku akan bermain dengan anak anak." jawab Alicia. Sebisa mungkin gadis itu tidak mau menjadi beban. Ia sudah bertekad untuk menjadi gadis mandiri sejak Ken kembali ke taman bunga mawar.


"Di sini aman. Anak anak itu tidak akan menyerangnya, sejak bayi mereka sudah diberi darah babi. Tidak pernah mengonsumsi darah manusia."


Dengan tidak sopannya Elena menempelkan telunjuknya ke kening Gracia. Membaca pikiran gadis berambut pirang itu, ia tidak berbohong soal keamanan Alicia, dan ia juga jujur soal perasaannya pada Areka. Gracia menampik tangan Elena. Dua gadis itu saling tatap, seakan ada percikan listrik diantara keduanya. Sama sama menunjukkan ketidaksukaannya.


Areka menghela napas lelah. Ini bukan hal yang perlu ia pedulikan sekarang.


"Kami akan segera kembali. Kalau ada apa apa hubungi aku." Areka berbicara pada Alicia. Ia selalu membawa gadget dengan baterai penuh.


Alicia mengangguk.


Setelah Elena dan Areka pergi, gadis itu duduk di bangku yang ada di tengah tengah halaman rumput. Anak anak sedang bermain, ada yang membuat rumah rumahan pasir, memanjat pohon, lompat tali, bahkan petak umpet. Penglihatan klan vampir sangat tajam waktu malam, sebaliknya mereka tidak bisa terkena matahari, jadi anak anak ini hanya keluar saat sang surya sudah tenggelam.


Alicia menghela napas, sudah hampir satu bulan ia berpisah dengan orang orang yang ia sayangi. Entah bagaimana kabar ayah, ibu, kerabat, dan seluruh teman temannya yang sedang disekap oleh siluman rubah. Alicia juga penasaran apa yang Ken lakukan sampai sampai iblisnya itu tidak menemuinya lagi di dalam mimpi.


Kenapa hidupnya jadi sesulit ini? Gadis itu masih merasa jika ia sedang bermimpi sekarang. Semua terasa menyesakkan dan tidak nyata.


"Kakak sedih? Apa kakak sakit?"


Alicia menoleh ke samping saat mendengar suara seorang gadis kecil. Ia segera menghapus air matanya, tersenyum pedih, menggeleng pada gadis kecil itu.


"Tidak, aku tidak sakit."


"Kenapa kakak menangis? Apa kakak sedih karena ditinggal?" Gadis kecil itu bertanya polos, mata bundarnya ikut menatap penuh simpati. Rambut ikalnya yang di kuncir dua terlihat manis, gadis kecil yang cantik seperti boneka.


Tapi pertanyaan yang gadis kecil itu lontarkan membuat Alicia kehilangan pertahanannya. Iya, ia sedang ditinggalkan. Ia merasa sendiri sekarang. Tidak ada Ayah dan ibunya lagi, tidak ada Asera dan teman temannya yang lain, tidak ada Ken yang selalu menghibur dan melindunginya lagi.


Gadis kecil itu memeluk Alicia, menepuk nepuk lengannya.


"Kakak tidak sendiri. Kakak sama aku, kakak aku temani ya biar tidak sedih."


Alicia semakin terisak, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ternyata ia sangat lelah dengan seluruh masalah ini. Alicia berharap semuanya hanya mimpi, ia harap semuanya segera berakhir dan kembali ke keadaan semula. Ia ingin bertemu orang tuanya, ingin bertemu dengan Ken nya.


"Manusiaaa... Aku menemukan makananku..."


Seseorang dari balik bayangan hitam tiba tiba datang, mendesis melihat Alicia dari kejauhan. Ia adalah salah satu ksatria yang belum kembali ke dunia bawah tanah. Ksatria vampir yang diharuskan meminum darah manusia untuk mempertahankan kemampuan bertarungnya.


"Makananku!" ksatria vampir itu memekik keras, suaranya memekakkan telinga, membuat gadis yang tidak tahu apa apa itu reflek menggigit bibir. Ia seperti sudah ditargetkan oleh predator buas.


Benar saja itu terjadi, saat tiba tiba tubuhnya yang ringan disambar oleh dua lengan kekar, dua buah taring langsung tertancap di leher, itu predator penghisap darah.


Bahkan Alicia tidak mampu berteriak, suaranya hilang menahan serangan rasa sakit di sekujur tubuh sekaligus. Air mata sedihnya berubah menjadi air mata takut dan sakit, ia tidak berdaya. Gadgetnya jatuh dari genggaman tangan.


Tidak ada yang bisa menolongnya sekarang. Ia tidak bisa menghubungi Areka ataupun Elena, dan sekarang... Ken tidak ada... Seseorang yang siap menjadi tamengnya sedang tidak berada di sisinya.

__ADS_1


Dua taring tajam itu semakin menusuk masuk. Menghisap lebih banyak lagi darah dan juga lebih dari itu, energi kehidupan sang gadis pun ikut terserap.


...----------------...


__ADS_2