Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
18. Kejutan


__ADS_3

#Alicia POV


Ketegangan di ruang makan terus berlanjut 15 menit kemudian. Bryan benar benar memperkenalkan Lyodia sebagai tunangan barunya di sini, di waktu ini, di saat kedua orang tuaku duduk di depannya.


Papa dan mama ku tetap berusaha tenang, sedangkan om dan Tante seolah tidak peduli, tidak punya niatan untuk melakukan sesuatu agar suasana membaik.


Berjalan mengalir. Aku sendiri tidak tahu harus bicara apa, rasanya ingin melempar piring desert ini ke wajah tidak tahu malunya Bryan dan wajah Lyodia yang tersenyum penuh kemenangan. Mereka berdua benar benar serasi, sama sama aneh dan gila. Syukurlah aku tidak bersama Bryan, aku terlalu normal untuk dia yang penuh drama.


Yang jelas tujuan Bryan hanya satu sekarang. Mempermalukan keluargaku hingga kami tidak berani bersuara ketika didatangi wartawan. Mereka seolah menegaskan satu hal, bahwa pihak yang memutuskan hubungan ini adalah mereka.


"Saya harap Alicia bisa mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari saya. Alicia gadis yang baik, saya sedikit khawatir dengan sikap polosnya yang berlebihan."


Sekarang bahkan Bryan terang terangan meng kritik ku. Kalimatnya itu memiliki maksud tersembunyi, sebenarnya Bryan bilang bahwa aku memiliki kualitas diri yang jauh daripada tunangan barunya. Sebelum papa benar benar hilang kesabaran dan murka membalikkan meja, seseorang datang diantar oleh sekretaris om Damian.


Orang yang benar benar penting.


"Ah maaf, sepertinya saya sangat terlambat. Apa saya mengganggu acara baru anda?"


Aku menggigit bibir, berusaha tidak memanggilnya saat mendengar suara orang yang begitu ku kenal, aku hanya meliriknya sekilas, Ken berpenampilan sangat berbeda.


Iya, kejutan yang luar biasa. Bahkan meskipun dia sudah datang tepat di depanku aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan.


Anehnya Om Damian bereaksi lain, dia begitu terkejut dan langsung menghampiri Ken, menyalaminya, memperlakukannya seolah Ken adalah tamu terhormat.


"Tidak, tidak tuan... Selalu ada tempat dan waktu untuk anda yang datang dari jauh. Wah saya tidak menyangka di waktu sibuk pun anda meluangkan waktu untuk menghadiri undangan saya. Saya sangat tersanjung."


Apa ini halusinasi? Otakku tidak bisa mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi. Bryan pun terlihat sama kagetnya denganku, ah tidak, Bryan berkali kali lipat lebih kaget sampai matanya tidak berkedip memelototi Ken. Lyodia sendiri bingung dengan perubahan suasana ini. Mungkin ia pikir seharusnya sekarang aku segera pulang dan dia bisa merayakan malam kemenangannya dengan Bryan.


Nyonya besar Damian juga menyambut ramah Ken. Langsung memerintahkan pembantu untuk menyiapkan makanan dan tempat istimewa lagi di ruangan lain.


"Tapi saya sangat terlambat, tuan Damian. Kalau boleh tahu ada acara apa ini?"


Ken gila! Dia pura pura tidak tahu padahal aku sudah menceritakannya kemarin? Dan bagaimana bisa tingkahnya itu seakan sudah kenal dengan orang tua Bryan. Om Damian sekarang seperti sudah melupakan acara kami, sibuk melayani Ken yang terlihat... wah Ken sangat sangat sangat... tam... eh cocok dengan kemeja coklat dan rambut tertata rapi begitu.


"Acara makan makan saja. Sebelumnya perkenalkan putra saya..."


"Cepat kemari nak..."


Akhirnya kesadaran Bryan kembali ke dunia. Ia beranjak berdiri, tangan dan kakinya kenapa bergetar begitu? Ia mengulurkan tangan pada Ken, sepertinya Bryan sendiri belum tahu apa hubungan Ken dengan papanya sendiri.


"Tunggu sebentar, sepertinya kita pernah bertemu." seru Ken matanya tajam menyelidik, mengabaikan tangan Bryan yang terulur hendak menyalaminya itu tergantung cukup lama. Dengan wajah menahan malu Bryan menarik tangannya.


"Mana mungkin tuan, sepertinya anda salah orang. Putra saya ini menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian di universitas. Tidak mungkin punya kesempatan bertemu dengan orang besar seperti anda."


"Benar kok, kita pernah bertemu, kau yang di pantai itu bukan?"


Ken gila! Sejak tadi aku mencoba mengabaikannya tapi kalimatnya yang ini sudah menyangkut tentangku. Penculikan waktu itu kan tidak aku ceritakan ke papa dan mama. Bisa gawat jika mereka tahu.


Wajah Bryan sekarang sama pucatnya dengan wajahku. Tidak bisa menjawab pertanyaan Ken. Tiba tiba Ken menyeringai.


"Mungkin memang salah orang." celetuknya tanpa merasa bersalah sedikitpun sudah membuat suasana menjadi tegang.


Papa Bryan tertawa canggung, kemudian menyilakan Ken untuk masuk ke ruangan lain. Tapi Ken berhenti ketika matanya bertemu denganku. Tiba tiba saja pria penuh kejutan itu bertingkah seolah kaget melihatku.

__ADS_1


"Alicia... kenapa kau di sini, sayang?"


Apa? sayang?


Ken... ini sungguh tidak ada dalam rencana.


"Saat kau bilang mau putus dengan tunanganmu itu, ternyata anak dari tuan Damian ya..."


"Siapa dia, Alicia?" mama dan papaku menatap penuh tanya, berbisik. Sial! siapapun tolong aku culik aku, aku ingin kabur dari sini.


Ken... Aku tidak tahu harus mengatakan apa... tolong... apa ini kejutannya? aku memang terkejut tapi aku tidak tahu tujuan dan apa yang harus aku lakukan!


"Apa maksudnya ini Tuan? Anda mengenal Alicia? ah maksud saya apa hubungan anda dengan mantan tunangan putra saya?"


"Hmm... mungkin saya pacar barunya..." jawab Ken sembari tersenyum manis padaku.


"Ba-bagaimana mungkin?! Bukankah anda selalu di luar negeri. Kapan anda bertemu dengan Alicia?!"


Ken tersenyum simpul. Menggandeng tanganku.


"Saya tidak suka membicarakan tentang hubungan pribadi. Tolong tunggu sebentar tuan Damian."


Sekarang Ken berdiri menghadap ku. Matanya menatapku dengan lembut.


"Aku akan membicarakan perihal bisnisku sebentar. 10 menit saja, apa kau mau menunggu? Aku juga ingin berkenalan secara resmi dengan orang tuamu."


Tanpa sadar aku mengangguk. Tatapan Ken seolah memintaku untuk mengikuti alurnya.


Ken pun pergi bersama om Damian dan Bryan. Menyisakan aku, Lyodia, Tante, dan kedua orang tuaku.


"Bagaimana kau bisa kenal dengan tuan Ken, Alicia?"


Tuan Ken apanya... Aku tidak mengerti.


"Memangnya dia siapa Alicia?" sekarang gantian mamaku yang bertanya.


"Dia orang paling penting di perusahaan kami. Alicia jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengannya?!" Tante memegang kedua bahuku, menuntut jawaban. Tangannya bergetar.


Ah sudahlah...


"Dia kekasih saya."


Wajah Tante berubah 180°, yang tadinya bangga mengenalkan Lyodia sekarang terlihat begitu putus asa. Jawabanku seolah membuatnya seperti terkena serangan jantung. Tante langsung memegang kepalanya, Lyodia mendekat membawa Tante kembali ke kamarnya.


Sementara aku duduk cengo dihujani pertanyaan dari kedua orang tuaku, sembari menunggu 10 menit berlalu.


Ken memperkenalkan diri sebagai seorang investor besar yang memiliki jumlah saham kedua terbesar di seluruh perusahaan milik om Damian.


Mama dan papaku terlihat amat terkejut namun di sisi lain terlihat begitu senang luar biasa.


"Alicia kau sangat pintar memilih Pria. Ternyata kau memang putri mama."


Haha... hahaha...

__ADS_1


Mama dan papa akhirnya pulang sendiri ke rumah karena Ken meminta izin untuk mengajakku berkencan.


"Kapan kapan ketika senggang, berkunjunglah ke rumah kami, tuan Ken. Rumah kami selalu terbuka untuk anda." seru papa, mengikuti apa yang om Damian tadi katakan.


Ken tersenyum, mengangguk, lantas berpamitan. Membukakan pintu untukku agar masuk ke dalam mobil mewahnya.


Pintu mobil di tutup.


Mobil ini adalah mobil paling mahal keluaran terbaru, dapat dikemudikan tanpa sopir. Hanya dengan memasukkan tempat tujuan, mobil ini akan melaju ke jalan raya, dilengkapi sensor dan terhubung dengan satelit sehingga mampu menyesuaikan kecepatan serta jarak dengan kendaraan lain di sekitarnya.


"Ken... coba pukul kepalaku." aku menatap datar wajah Ken yang nyengir tak berdosa.


Ken mencubit keras hidungku, membuatnya merah.


"Bagaimana aktingku?" tanya Ken, sembari menyalakan gadget barunya.


"Ken apa semua ini sihir? sama seperti ketika kau mengajakku berkeliling ke dunia yang kau buat itu. Apa sekarang kau sedang menyihir semua orang?"


"Tidak kok. Ini asli. Mobil ini asli, gadget ini asli, identitasku yang seorang investor keluarganya Bryan juga asli."


"Hei bagaimana bisa? Bukannya kau bukan manusia?! Ahh apa karena kau bukan manusia makanya kau bisa melakukan apapun. Ken, kau membuat kepalaku pusing karena bingung. Jangan jangan tiba tiba besok kau jadi presiden atau malah seorang raja." cerca ku panjang lebar, meminta penjelasan.


Bukannya menjawabnya, Ken malah tertawa renyah.


"Ide bagus!"


Aku mencubit pinggangnya, kesal. Padahal aku sedang serius.


"Apa kau puas Alicia? Bryan dan kedua orang tuanya tidak akan berani meremehkanmu lagi."


Meski aku belum paham seluruh rencana Ken, tapi ia benar. Ekspresi Bryan dan kedua orang tuanya menatap kami dengan takut dan hormat.


"Jika mereka mengganggu keluargamu, aku bisa membuat perusahaan Damian group itu bangkrut." jelas Ken.


Jika status Ken sebagai seorang investor itu asli, memang benar dia punya kuasa untuk melakukannya.


"Kau bicara apa saja tadi dengan Bryan dan Om Damian?" tanyaku.


Ken menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Membicarakan bisnis mungkin... Selebihnya aku berterimakasih pada Bryan karena sudah melepaskan mu."


"Haha... iblis sepertimu membicarakan bisnis apa..." Aku tertawa. Menepuk nepuk kepala Ken. Berterima kasih, berkatnya kedua orang tuaku tidak perlu khawatir soal gosip buruk yang akan beredar. Dengan Ken, yang seorang investor besar, memperkenalkan diri sebagai kekasihku, Damian group tidak akan berani membuat berita macam macam tentang berakhirnya pertunangan ku dan Bryan.


"Dunia ini merepotkan ya. Bagaimana kalau suatu hari nanti kau ikut denganku saja?"


"Hmm, kemana?" tanyaku.


Ken menggeleng, bilang jika ia hanya bercanda. kata kata Ken cukup aneh.


"Ken, kau tidak akan meninggalkanku kan?"


"Tentu saja... Sampai kau tidak membutuhkanku lagi."

__ADS_1


Aku akan selalu membutuhkanmu. Jadi kau harus bersamaku selamanya, Ken.


__ADS_2