
"Perintah pembunuhan anda sudah diumumkan. Anda sudah masuk daftar buronan rank A. Para klan tingkat tinggi yang ingin mendapat posisi dan pengakuan dari raja iblis sedang mencari keberadaan anda."
"Tolong jangan bertindak gegabah untuk sekarang. Kami akan melindungi anda bagaimanapun caranya."
Helius dan Rafaela menyampaikan kabar terbaru setelah Ken dan raja iblis bertarung. Ayahnya sudah memutuskan hubungan dengannya sejak mengetahui jika klan klan yang seharusnya dimusnahkan ternyata ia selamatkan dan dipindahkan ke dalam hutan klan rendah.
"Sayangnya aku berbeda dengan Rafaela dan Helius. Hei bocah, bukankah perjanjian kita yang dahulu masih berlaku? Sekarang posisimu lemah. Raja iblis yang adalah ayahmu sendiri memberi titah dan hadiah mahal untuk kepalamu. Daripada ikut menjadi buronan hanya untuk melindungimu yang menjadi musuh seluruh klan, aku lebih suka bergabung dengan iblis tingkat tinggi lain dan..."
Belum sempat Dalius menyelesaikan kalimatnya, rambut merah Rafaela yang mampu ia kendalikan menusuk nusuk seluruh tubuh Dalius bagaikan jarum yang teramat runcing, darah mengalir menggenani tanah bebatuan.
"Huk... Uhuk...."
Dalius memotong rambut gadis itu dengan kukunya. Berteriak marah, mengomel jika serangan dadakan itu curang.
"Dalius bodoh! Apa kau berencana mengkhianati orang yang sudah menyelamatkanmu?!"
"Menyelamatkan apanya? Dia rantai pengekangku!"
"Tapi kau sudah berkali kali hampir mati dalam misi. Kalau tuan muda tidak memberikan darahnya padamu kau sudah menjadi bangkai sejak dulu."
"Omong kosong! Kalau bukan karena dia aku tidak perlu bertarung habis habisan sampai sekarat."
"Iblis lemah tidak tahu diri ini." Rafaela mengepalkan tangannya. Bola hitam yang kemudian berubah menjadi runcing itu sudah menunjuk ke arah Dalius yang berdiri sigap di atas pohon. Siap kembali merobek tubuh lelaki itu.
Helius hanya menghela napas. Ia rasa, hanya ia iblis waras yang bisa diandalkan di sini. Tidak peduli pada pertengkaran 'kecil' Rafaela dan Dalius, Helius tengah memperhatikan ekspresi aneh Ken.
Seseorang yang terkenal dingin itu kini sedang tersenyum tipis.
"Anda baik baik saja tuan?"
Ken mengangguk. Ia masih tidak menyangka bahwa setelah di segel ribuan tahun lamanya, masih ada kesempatan untuknya melihat dunia klan iblis dan bertemu dengan tiga bawahan yang paling loyal miliknya.
"Anda tidak perlu khawatir. Dalius tidak serius, ia tidak akan mengkhianati anda."
"Benar, jika ia berencana mengkhianatiku, Dalius tidak akan mengatakannya di depanku. Itu hanya sebuah peringatan."
"Peringatan? Apa maksud anda?"
Ken menyentuh bahu Rafaela yang sedang mengendalikan bola hitamnya, menyerang Dalius bertubi tubi. Sementara Dalius bergerak gesit melompat dari dahan pohon ke dahan lain, mengejek Rafaela yang selalu meleset.
"Biar saya saja yang membunuhnya, Tuan jangan ikut campur." Rafaela mendengus kesal saat Ken menggeleng. Lantas melepaskan bola hitamnya. Bola itu jatuh ke tanah menjadi cairan.
"Turun, Dalius!" Suara lantang Ken menginstruksi.
"Heh bocah! Jangan memerintahku. Memangnya kau siapa?!"
Ken menghela napas pendek. Ia mengerti apa yang terjadi saat ini. Dalius sudah tidak mempercayai kekuasaannya. Dalius adalah iblis yang memiliki keistimewaan melihat 'sebagian' ingatan seseorang hanya dengan tatapan mata. Dan ia menggunakannya pada Ken sesaat setelah Ken baru saja sampai di dunia klan iblis, Ken tidak sempat memasang perlindungan membuat Dalius bisa mengintip memorinya, iblis itu sudah tahu mengenai gadis manusia berharga milik Ken.
__ADS_1
"Turun atau aku akan benar benar melepaskanmu!" Ken mengancam.
Dalius menggeram. Tapi ia menuruti perintah Ken. Melompat turun, membuat sedikit retakan pada tanah yang ia pijak.
Jika Ken remaja dulu, mungkin yang ia lakukan adalah menghukum bawahan nakal ini hingga membuatnya tidak bisa bergerak selama satu bulan. Tapi yang sekarang berbeda, ia tidak akan menggunakan kekuatan lagi untuk menaklukkan seseorang. Apalagi seseorang itu cukup dekat dengannya.
"Kau dan Helius pergilah ke sarang para iblis pembunuh. Habisi mereka, sisakan anak anak berusia kurang dari 10 tahun."
"Kenapa aku harus melakukannya?" Dalius menatap netra merah Ken. Menarik kerah bajunya, menatap lekat lekat mata tuannya. Ia ingin mengutuk Ken yang lemah, yang memiliki hati untuk mengampuni, yang bahkan sekarang malah jatuh hati pada makhluk rendahan. Dalius tidak menerimanya!
Bagaimana mungkin seorang iblis yang dianugerahi kekuatan luar biasa malah tunduk di depan manusia?!
"Karena ini perintah dari tuanmu." Ken berseru, tegas dan penuh penekanan. Matanya bersinar. Lutut Dalius seketika kehilangan daya, jatuh luruh di atas tanah.
"Ka... kau... sial! Hentikan sialan! Ukh..." Tubuh Dalius bergetar, ia masih berusaha berdiri. Baru setengah badan, tubuhnya tertarik lagi ke bawah membuat kepalanya berada tepat di depan kaki Ken.
Ken menginjaknya.
"Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi untuk ribuan tahun lamanya. Aku harap kau melakukan perintah terakhir dariku dengan baik."
Di belakang, Rafaela dan Helius hanya diam mendengarkan. Saat Ken menunjukkan aura kegelapannya, ia sedang serius. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengganggu.
Kekuatan yang digunakan Ken pada Dalius adalah 'pengekangan mutlak', Ken bisa menggunakannya kapan saja saat Dalius menolak perintahnya. Dalius akan tertarik ke tanah, sujud di depan tuannya, hal itu dapat terjadi setelah kesepakatan dibuat. Antara tuan dan 'anjing penjaga'.
Meskipun tubuhnya sangat sakit, Dalius memaksakan diri untuk mengumpulkan mana sihir di bawah kaki, terbentuklah bola putih yang terus membesar, hingga ia dan Ken berada di lingkaran bola tersebut. Memisahkan diri dari Rafaela dan Helius.
"Sial! Sial! Sial! Aku tahu itu sialan! Aku melihat lebih banyak dari yang kau tahu! Sialan! Kau... Apa yang kau rencanakan setelah datang dari masa depan?!"
"Apa saja yang sudah kau lihat?" Ken bertanya. Ia tidak mau Dalius mengacaukan seluruh rencananya.
Dalius mengalihkan pandangan. Ia tidak bisa menatap mata Ken.
"Dua gadis manusiamu itu."
Ken tahu, Dalius melihat pikirannya yang berkecamuk. Tentang Alia dan Alicia.
"Kau berencana membuang kami! Lalu hidup damai di dunia manusia bukan?! Iblis kejam! Sebenarnya yang dari awal tidak berperasaan adalah kau! Kau hanya memikirkan tentang dirimu sendiri!"
Dalius benar.
"Kau bahkan tidak peduli pada kami yang disegel. Sibuk menyenangkan j*l*ngmu! Kau lemah, melarikan diri dari tanggung jawabmu! Padahal... Padahal kami selalu mengikutimu! Rafaela dan Helius bodoh itu juga tidak pernah berhenti mengagumimu!"
Lagi lagi itu benar. Bahkan Ken tidak bisa menjawabnya, ia kemari hanya untuk mengambil pedang Azura, mencegah ayahnya yang akan menggunakan pedang dewa itu untuk menghabisi nyawa para klan rendah tak bersalah. Kemudian kembali pada Alicia.
Benar, ia tidak pernah memikirkan tentang Dalius, Helius, maupun Rafaela. Selama ini Ken hidup sebagai pusat. Yang terpenting hanyalah dirinya sendiri.
Omong kosong soal seluruh kebaikan itu, Ken hanya tidak mau dirundung rasa bersalah karena pembantaian, makanya ia menyelamatkan klan klan yang seharusnya dimusnahkan.
__ADS_1
"Lakukan sesukamu." Dalius meletuskan bola putihnya.
"Ayo pergi Heli. Kita selesaikan perintah terakhir tuan muda."
"Ah... Iya. Saya akan berangkat sekarang. Rafaela, kau jaga tuan muda."
Rafaela mengangguk.
"Apa yang kau bicarakan dengan Lord?" Helius bertanya, ia dapat melihat perubahan sikap Dalius dan Ken yang terasa janggal.
"Tidak ada. Setelah misi ini selesai aku akan berendam air panas di selatan. Kau mau ikut?"
"Tidak."
Yang bisa Ken lakukan hanya menatap penuh rasa bersalah pada punggung dua bawahannya yang hilang berpindah tempat menggunakan teleportasi.
"Tuan, sebenarnya apa yang anda bicarakan dengan Dalius?"
Ken menatap iris merah Rafaela, juga rambutnya yang merah. Gadis iblis ini, meskipun ia begitu kuat hingga bisa membunuh puluhan ksatria sendirian, yang sekarang Ken lihat hanyalah gadis manis dengan mata polos. Seseorang yang rela mengorbankan tubuh dan jiwa untuk melindunginya.
"Pergilah ke goa Ilos, kau ingat naga hitamku dahulu. Tuntun dia kepadaku. Aku membutuhkannya."
"Naga cacat itu sudah tidak bisa terbang lagi. Saya bisa mencarikan tunggangan lain untuk anda. Atau anda mau menunggangi saya saja?" Mata merah Rafaela berkedip genit.
Ken tertawa lepas. Gadis ini tidak berubah sama sekali.
Tanpa ia sadari, Rafaela juga menangkap sinyal aneh itu. Ken yang tidak pernah tertawa, yang selalu menunjukkan sifat dingin seorang pemimpin mutlak, tidak tergoyahkan. Sekarang menunjukkan sisi yang bersahabat, benar benar berbeda.
"Naga hitam itu, anda ingin saja membawanya dengan berjalan? Saya tidak bisa membuat portal yang cukup besar untuk memindahkannya."
"Iya."
Ken tersenyum takjim. Gadis ini cukup peka.
Karena naga hitam itu hanya alasan.
Ken harus sendirian sekarang.
"Sampai jumpa Tuan, jaga diri anda. Saya akan membawa naga hitam itu secepat mungkin."
"Iya, aku akan menunggu."
Sekarang tujuan Ken hanya satu.
Kastil raja iblis! Ia akan memukul kepala ayahnya sekeras mungkin. Menyadarkannya dari kekeliruan. Meskipun ini bukan dunia nyata, Ken ingin sekali saja berbicara dengan ayahnya. Pemikirannya, kebengisannya, dan cintanya. Apa mungkin ada suatu makhluk yang tidak memiliki setitik cinta pun dalam dirinya?
Ken hanya ingin tahu. Karena pada akhirnya, ayahnya mati dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Portal dibuka. Ken masuk ke dalamnya, langsung tiba di kamar yang pernah ia tempati. Sekarang kamar ini digunakan oleh seorang gadis kecil dengan dua tanduk di kepalanya.
"Aaaa.... AAAAAA...."