Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
21. Sudut pandang Areka


__ADS_3

"Apa rencanamu setelah menemukan markas mereka?"


Setelah 10 menit diam, iblis itu akhirnya membuka mulutnya.


"Tentu saja menyelamatkan manusia yang mereka sekap. Dunia bisa benar benar gila jika para manusia digantikan siluman IQ rendah begitu."


"Bagaimana kalau manusia itu sudah dibunuh?"


Kali ini aku tidak tahu jawabannya.


"Manusia itu tidak mudah mati." aku menjawab ragu. Jika hal tersebut terjadi, itu akan menjadi masalah serius.


"Aku tanya bagaimana jika mereka sudah dibunuh." iblis itu mengulangi pertanyaannya.


"Aku tidak tahu! Memangnya salahku kalau mereka tidak sempat diselamatkan?!"


Iblis di dekatku ini hanya memutar mata malas. Jawabanku tidak relevan dengan pertanyaannya. Tapi memangnya bagaimana? Kalau mati ya mati, tidak bisa hidup lagi.


"Lagipula kalau berkaca dengan masa lalu mereka tidak akan membunuh manusia. Klanmu adalah contoh nyata kalau hukuman itu masih berlaku." Aku memberikan opini, klan iblis di dekatku ini tidak peduli, menatap datar ke depan, sama sekali tidak tersinggung.


Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku benar benar ingin menyaksikan iblis ini kesal. Maksudku kesal yang memalukan bukan kesal yang keren seperti dia langsung membunuh rubah jelek tadi.


Iblis ini terlihat terlalu sempurna, wajahnya, tubuhnya, kekuatannya, bahkan sikap yang dia ambil seperti mencerminkan seorang 'penguasa' sejati. Aku amat penasaran dengan masa lalunya, Elena sudah tahu iblis seperti apa dia saat berhasil bersalaman tempo hari. Tapi Elena memang jahat, dia tidak mau memberitahuku.


"Hei iblis, apa kau juga berak?" tanyaku tiba tiba.


Ken menoleh, menatapku dengan pandangan yang seperti sedang jijik?!


"Oke tidak perlu dijawab." lanjut ku kemudian, meski sebenarnya aku sangat penasaran dengan jawabannya. Tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat iblis ini sembelit. Dia kan juga makhluk hidup, masa tidak pernah sakit perut karena kurang makan sayur.


...****************...


Setelah perjalanan panjang melewati beberapa mil, aku dan si iblis sampai di tempat Elena dan si bodoh Alicia. Elena sedang mengajari Alicia cara menggunakan belati. Ada banyak anak panah berserakan, pedang yang patah, dan pistol.


"Anak ini benar benar tidak berguna... Dia tidak punya bakat bela diri, badannya lemah, dan tidak punya ketepatan dalam membidik!" Elena menghampiriku, menggerutu kesal.


Aku menepuk nepuk kepala Elena, memintanya sabar. Sementara Alicia hanya menggaruk pipi dan mengalihkan pandangan seolah yang kami bicarakan bukan dirinya.


"Alicia, bagaimana latihanmu?" iblis itu mendekat pada pasangan kontraknya.


Aneh, padahal seharusnya Alicia yang berlari ke arah iblis itu sambil menangis manja. Tapi si bodoh itu sejak tadi mengabaikan pangerannya.


"Sulit, Ken. Tapi aku akan berusaha!"


Interaksi itu aneh! Alicia seperti menjaga jarak, terlihat tidak nyaman dengan iblisnya.

__ADS_1


"Hei kau melakukan apa?" aku berbisik pada Elena.


Mata cantik Elena mengerjap, sembari tersenyum nakal.


"Aku ingin hubungan mereka berakhir." jawab Elena santai, sambil berbisik.


Hah?! Itu jawaban paling tidak masuk akal yang pernah kudengar.


"Elena, kalau iblis level tinggi itu marah padamu, aku tidak mau tahu jika jantungmu itu berlubang lagi." Aku menatap malas Elena, gadis yang selalu bertindak ceroboh.


"Areka, kau tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalaupun itu terjadi, kau akan melakukan apapun untuk menyelamatkanku lagi bukan?" Elena menjawab manja. Menggandeng tanganku, menempelkannya ke dadanya yang tak kalah datar dari milik Alicia.


"Aku rasa kau sudah mencuci otakku." seruku, menghela napas. Kenapa aku sesuka ini ya dengan Elena.


Gadis itu hanya tersenyum tipis, dengan mata birunya yang menyipit, itu jadi terlihat seperti bulan sabit biru yang benar benar cantik.


"Akan lebih cepat kalau kau langsung menusuk jantungnya seperti ini." Ken memegang tangan Alicia, menusukkan belati di dada boneka manekin kayu. Iblis itu berusaha membantu gadisnya berlatih.


Alicia melepaskan belati dari tangannya, tiba tiba terduduk di tanah, mundur menjaga jarak. Terlihat takut pada iblis itu. Ken langsung sadar apa yang terjadi, melirik Elena. Gadis bermata biru itu bersembunyi di balik badanku, sialan... Aku tidak ikut ikutan hei!


"Ada apa, Alicia?" Ken mendekat, jongkok di depan Alicia.


Wuahh... iblis itu benar benar melakukannya! Memperlakukan pasangan kontraknya seperti gadis yang ia suka.


"Ma-maaf... Aku hanya belum terbiasa memegang senjata." Alicia mengalihkan matanya ke samping, tidak mau melihat iblis yang menatapnya khawatir.


Tapi Alicia mengabaikan tangan Ken yang terulur.


GADIS BODOH! Hei di depanmu itu seorang iblis! Meski kau marah, kecewa atau semacamnya, jangan seenaknya dong!


Iblis itu menarik tangannya, raut mukanya terlihat sedih. Eh... sungguhan sedih! Seharusnya dia kesal kan?


"Katakan apa rencana mu." Iblis itu bicara padaku. Ia berdiri bersandar pohon, melipat tangannya di depan dada, seperti memikirkan sesuatu. Dia tidak berfikir untuk membunuh Elena kan?


"Seharusnya kau tidak ikut campur masalah mereka!" aku berbisik lagi pada Elena, mengamati wajah iblis itu benar benar membuatku was was.


"Jadi apa rencana mu, sayang?" Elena tersenyum, ia mengalihkan kekesalanku.


Aku menghela napas, ya sudahlah, sudah terjadi... Tapi kalau harus bertarung melawannya lagi, aku lebih baik menggendong Elena berlari sampai kakiku patah ke ujung dunia lain.


"Alicia kau bisa memancing ketua BEM itu keluar kampus kan?"


"Hah? aku?" Alicia mengerjap, menunjuk dirinya sendiri.


"Hanya kau 'Alicia' di sini. Ketua BEM itu kan suka denganmu. Ajak dia ke kafe atau apapun, kami akan menghadangnya di tengah jalan."

__ADS_1


"Iya aku bisa, tapi kenapa ketua BEM?" tanya Alicia. Wah wah gadis itu tidak menyangkal kalau ketua BEM suka padanya, hei iblis mu itu sedang menatap tajam tahu. Alicia benar benar mengabaikannya!


"Ketua BEM itu siluman rubah. Mereka memiliki kemampuan untuk berubah seperti manusia, jadi banyak diantara dosen dan teman temanmu yang sebenarnya bukan manusia." Ken yang menjelaskan. Ia sengaja berbicara untuk menarik perhatian Alicia. Tapi gadis itu hanya mengangguk, bahkan tidak melihat wajah iblis itu saat ia berbicara.


"Oke."


Hei, dia bukan Alicia. Apa dia juga rubah?! Atau sedang dirasuki orang lain?!


Aku melirik ke arah Elena, meminta penjelasan. Kenapa Alicia yang notabenenya gadis cerewet, manja, bodoh dan aneh ini bisa berubah jadi gadis yang pendiam dan tidak banyak protes.


Elena mengangkat bahu, tidak mau tau.


Aku berbisik lagi.


"Dari dulu kau selalu merepotkan ku dengan masalah masalahmu."


Elena nyengir. Ahh... jadi ingin kugigit bibir menyebalkan itu. Sejak dulu Elena punya masalah dengan mulutnya, ia suka mengatakan sesuatu yang tidak berguna yang tidak jarang bisa menciptakan masalah runyam.


Padahal rencana awal kami hanya membantu Alicia berlatih bertarung untuk melindungi dirinya sendiri, setidaknya ia tidak akan menjadi beban kalau nanti harus terlibat perkelahian.


Ini adalah bentuk terima kasihku pada iblis itu. Karena dia sudah menyelamatkan Elena, aku juga akan berusaha membantu melindungi seseorang yang berharga baginya.


Dan bukan hanya itu, menurut perhitunganku suatu saat nanti iblis ini akan pergi. Tidak ada tempat untuknya di sini, setelah melepas segel dengan kontraknya, iblis ini akan menjauh. Dunia tidak menerima kekuatan besar sepertinya.


Ia adalah bentuk ketidakseimbangan. Kekuatan mutlak itu tidak adil. Bayangkan saja, dengan setengah dirinya masih terperangkap di dalam segel, ia masih ditakuti dan memiliki kekuatan paling besar, tidak tertandingi. Jika ia sudah terlepas sepenuhnya bukankah ia akan menciptakan bencana?


Karena itu iblis ini harus pergi. Dan Alicia akan sendiri. Gadis yang malang.


"Ayo ke kampus sekarang." Alicia memecah keheningan saat aku dan iblis itu terbenam di pikiran kita masing masing.


"Alicia, kau yakin? Ini mungkin akan berbahaya. Kau bisa menolak kalau tidak mau. Rencananya bisa diubah." Iblis itu menahan tangan Alicia, menatap cemas, sejak awal Ken memang tidak setuju dengan sesuatu yang melibatkan pasangan kontraknya.


Dan bodohnya sekaligus lebih mengkhawatirkannya lagi Alicia melepas genggaman tangan Ken.


"Tidak perlu khawatir, Ken. Aku percaya pada kalian. Kalian tidak akan membiarkanku terluka kan?" Alicia bodoh itu menatapku dan Elena. Hei sialan! Pelindungmu itu ada di belakangmu, kenapa kau menatap kami. Tapi aku dan Elena reflek mengangguk patah patah, sementara Ken menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri. Siluet merah terpancar dari mata tajamnya.


Aku mendelik, HEII BUKAN AKU!


Elena, sekarang aku jadi berfikir jika menghidupkan mu itu sia sia. Kau selalu mengundang masalah datang.


KENAPA KAU HARUS MEMBANGUNKAN SINGA TIDUR HA?! Dia itu raja hutan! kita tidak bisa apa apa kalau dia sudah menargetkan mangsanya.


Elena nyengir lagi, merasa tidak berdosa sama sekali.


Mulai membuka portal ke dunia manusia.

__ADS_1


Haah... Tenaga ku rasanya terkuras habis padahal iblis itu cuma mengintimidasi dengan mata.


Mata bukan sembarang mata, aku pernah dengar ada jenis iblis yang bisa membunuh tanpa menyentuh, hanya dengan tatapannya saja mampu membuat jantung makhluk lain berhenti. Itu menyeramkan sekali, semoga Ken bukan salah satunya.


__ADS_2