
*BRUK
"Sial"
Kakiku tidak bisa bergerak, seluruh tubuhku mati rasa. Lemas sekali, perutku juga lapar. Sekarang pukul 5 pagi dini hari. Asera pasti belum bangun, meskipun aku teriak pun tidak akan berguna.
"Butuh bantuan?"
Aku mendongak ke atas, ada suara seorang gadis yang begitu ku kenal. Dua buah mata biru sedang mengintip lewat portal yang ia buat di langit langit kamarku.
Syukurlah, aku selamat.
Elena bergegas turun. Membantuku untuk duduk, mengambilkan air dan makanan.
"Kau dapat dari mana roti ini?" tanyaku.
"Dari toko roti depan sana." Elena menjawab santai sambil nyengir tidak berdosa, aku tahu arti cengiran itu, dia baru saja mengambilnya tanpa membayar, mencuri. Tidak ada toko roti yang buka pukul 5 pagi.
"Kau bau." celetuk Elena, menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan. Melihatku seolah aku adalah kotoran yang paling menjijikkan.
Aku mengepalkan tangan, gadis di depanku ini benar benar mirip dengan Areka. Mulutnya tidak memiliki filter sama sekali.
"Apa kau bisa membawa Areka kemari?" tanyaku kemudian, mengabaikan keluhannya soal tubuhku yang belum mandi berhari hari.
Elena mengangguk, kemudian menggeleng.
"Aku bisa. Tapi Areka tidak mau. Di sini dia melakukan perjalanan seperti manusia. Dimana tanah dipijak di situ langit dijunjung."
"Dia bodoh ya." komentarku, kalau punya teman seperti Elena, lebih baik dimanfaatkan sebaik baiknya. Areka memang out of the box. Anak jenius itu memang 11 12 dengan aneh, sok sok an jadi orang yang taat peraturan.
"Kalau mau bertemu Areka, aku bisa membawamu sana." seru Elena memberikan usul.
Ide bagus.
...****************...
#Normal POV
"Alicia kau terlihat senang. Kau sudah tidak sedih? Aku dengar manusia itu makhluk yang paling mudah berubah. Karena masa hidup kalian singkat, kalian tidak boleh berlarut dalam sebuah perasaan. Apa kau sudah berencana melupakan Ken?." Tanya Elena, sekaligus menyampaikan apa yang pernah Areka katakan padanya.
Mungkin Elena benar soal manusia yang mudah berubah. Bryan juga mudah berubah, Alicia juga sudah banyak berubah. Hanya saja melupakan seseorang seperti Ken, bukankah itu tidak mungkin?
Daya tarik Ken luar biasa. Siapapun yang mengenalnya tidak akan mudah melupakannya. Baik yang menyukai ataupun yang membenci.
"Kau boleh membaca pikiranku." Alicia tersenyum, setelah selesai berdandan dan menyemprotkan parfum. Mengulurkan tangan pada Elena.
Dengan senang hati Elena melakukannya. Mata biru Elena melebar, berkaca kaca.
"Aaa... Aliciaaa... Ini sungguhan?" gadis itu bertanya sembari mengusap ujung matanya yang berair. Ia sangat senang, sebenarnya bukan karena fakta jika Ken belum mati. Tapi karena sekarang Areka tidak perlu merasa bersalah lagi.
"Tentu saja, karena itu ayo segera menemui Areka. Aku harus menyampaikan pesan Ken padanya."
Elena mengangguk, langsung membuka portal menuju salah satu toilet yang berada di universitas Alicia.
Aneh sekali, padahal sudah pukul 10 pagi tapi suasana begitu sepi.
Alicia menggandeng tangan Elena, mengajaknya keluar.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya kedua gadis itu melihat pemandangan yang ada di dalam kampus swasta ternama tersebut.
Tempat duduk dan tangga dipenuhi oleh orang orang yang melakukan hal tidak senonoh, pakaian yang mereka kenakan juga aneh, bukan pakaian yang pantas untuk dipakai di dalam kampus. Bahkan tak terkecuali para dosen dan petugas yang Alicia kenali, tengah berpelukan dan berciuman di depan umum.
Alicia menahan napas, menahan mulutnya agar tidak berteriak histeris. Menjijikkan sekali melihatnya.
Mereka sudah bukan manusia lagi, para siluman rubah menginvasi seluruh orang di universitasnya. Menculiknya kemudian berubah wujud sesuai dengan korban yang mereka sekap. Menggantikan mereka untuk hidup di sini.
"Areka..." lirih Elena tiba tiba. Gadis itu menatap marah kerumunan yang ada di tengah lapangan. Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi berderap lari kesana. Alicia mengikuti di belakang.
Di tengah lapangan, Areka diikat di tiang bendera. Tubuhnya babak belur dilempari oleh batu dan kayu. Areka tidak bisa melakukan apapun, ia tidak memiliki mana sihir sama sekali untuk melawan. Sejak dua jam yang lalu tubuhnya dipanggang di bawah sinar matahari.
Seluruh pasang mata menatap buas Elena dan Alicia. Mata mereka menyorot waspada pada Elena saat merasakan kekuatan gadis itu.
"Minggir." Elena berseru datar, namun suaranya tegas. Aura Elena penuh kemarahan.
Kerumunan itu tidak bergerak, salah satu diantaranya berusaha memegang wajah Elena. Siluman rubah adalah siluman yang penuh nafsu, mereka suka melakukan hubungan dengan wanita, tidak tahan jika melihat wanita cantik sekalipun itu dari klan lain.
Karena itu Areka pernah bilang klan siluman rubah memiliki IQ rendah. Berbahaya sekali jika dunia dikendalikan oleh makhluk bodoh yang pikirannya dikendalikan oleh nafsu saja.
"Tidak tahu diri." desis Elena.
Dari belakang tubuh Elena tiba tiba muncul sebuah tombak es besar, dengan cepat menusuk laki laki yang menatapnya penuh nafsu. Laki laki siluman rubah tersebut mati di tempat. Tanpa ampun Elena mengeluarkan dua tombak es lagi, yang dapat ia kendalikan dengan sempurna, menghabisi hampir 20 para siluman rubah level rendah. Yang lari ia biarkan, Elena tidak peduli. Malah semakin bagus jika yang lari itu memperingatkan temannya untuk tidak macam macam dengan klan duyung lagi.
Alicia memaku di tempat, tidak menyangka Elena yang ceria dan sedikit menyebalkan itu memiliki kekuatan yang luar biasa.
Setelah kerumunan bubar dan menyisakan mayat mayat yang mulai berubah bentuk kembali menjadi siluman, Elena melangkahkan kakinya, mendekat ke Areka yang tubuhnya penuh darah. Tanpa mengatakan apapun Elena melepas ikatan.
Wajah Elena dingin, gadis klan mermaid itu tengah menahan amarahnya. Ia tidak mau membuat kota ini dilanda banjir karena kehilangan kontrol.
"Sial, aku terlihat menyedihkan sekali ditolong seorang gadis..." Areka meludahkan darah dari mulutnya. Seluruh tubuh Areka terluka, bahkan 2 tulang rusuknya patah. Siluman itu menghajar Areka habis habisan karena tahu Areka lah yang membawa seorang klan iblis masuk mengacak acak markas mereka.
"Kau tidak apa apa?" tanya Alicia khawatir. Meski sempat takut, rasanya Alicia mulai terbiasa melihat hal hal mengejutkan seperti ini.
"Jangan tanya tanya dulu, nanti saja, Areka terluka parah." Elena yang menjawab ketus.
Alicia mengangguk, tidak tersinggung. Ia paham perasaan Elena.
"Tidak separah itu kok."
Elena mencengkeram bahunya. Areka mengaduh, tulang bahunya retak terkena pukulan kayu.
"Apanya yang tidak parah. Kau itu selalu sok, sejak dulu... sampai sekarang..." Suara Elena tercekat, gadis itu akhirnya menangis, menarik dengan kasar tangan Areka, memapahnya masuk ke dalam portal. Alicia mengekor di belakang.
...----------------...
"Kalau kau tahu sudah tidak ada manusia lagi di sana seharusnya kau kembali. Bukannya malah masuk dan menantang maut. Kau bodoh ya? Mana sihirmu saja terbatas, berani sekali masuk ke tempat berkumpulnya siluman rubah sendirian."
Elena marah besar, mereka sedang duduk di dalam air ajaib untuk memulihkan tubuh Areka.
"Aku masuk karena Bryan ada di dalam. Aku cuma mau menyelamatkannya saja kok." Areka menjawab pelan, ia tidak bisa menatap gadis yang berkacak pinggang di depannya. Gaya Elena memarahi Areka mirip seperti seorang ibu yang mengamuk karena anaknya menghilangkan Tupperware.
"Omong kosong! Apanya yang menyelamatkan. Kau pikir manusia bernama Bryan itu bisa lolos? Pasti begitu ia menginjakkan kakinya di kampus para siluman rubah langsung menangkapnya. Kau juga bukan tipe orang yang setia kawan, kau kan tidak benar benar menganggap Bryan itu temanmu."
Areka menyipitkan mata. Sejak kapan Elena jadi cermat begini. Biasanya kan Elena itu selalu mengiyakan kata katanya.
Areka menghela napas.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Elena benar. Areka masuk ke dalam tanpa pikir panjang, karena ia masih marah atas kejadian satu Minggu yang lalu. Ia berencana membunuh para siluman rubah ekor satu yang menginvasi orang orang di universitasnya, kalau cuma rubah ekor satu Areka yakin ia bisa menang.
Selama ini ia sudah menahan diri berpura pura karena masih ada manusia di sana. Rubah itu juga berpura pura memainkan perannya dengan baik. Tapi hari ini, saat klan rubah berhasil menculik semua mahasiswa tanpa sisa, akhirnya Areka berfikir ini adalah kesempatan ia untuk meluapkan stres. Bertarung habis habisan.
"Kau bodoh ya?" komentar Elena setelah membaca pikiran dan perasaan Areka.
"Bukannya keren kau malah terlihat menyedihkan. Haah mereka bahkan sempat menelanjangi mu?! Para rubah betina sialan itu bahk...embb"
Areka menutup mulut toa milik Elena. Matanya mencari sosok Alicia yang sejak tadi menyimak pembicaraan. Alicia santai saja mendengarkan sembari duduk membelai rambut mayat Ken.
"Rubah betina itu melakukan apa?" Alicia bertanya, penasaran. Sembari menahan tawanya. Wajah Areka memerah, tadi benar benar pengalaman pertamanya dipermalukan terang terangan, harga dirinya terluka parah.
"Tidak usah dibahas lagi, tidak penting!" Areka berteriak frustasi. Ia akan meminta Elena menghapus ingatannya soal itu.
"Tapi kau kelihatan menikmatinya, Areka." Elena mencibir.
Areka mendelik, itu pernyataan paling tidak masuk akal yang pernah Areka dengar selama hidupnya. Bagaimana mungkin ada orang yang menikmati ketika dic*buli?! Apalagi itu oleh klan rubah yang notabenya gila s*x.
Areka mendengus kasar, memijit kepalanya yang sakit.
"Jadi dalam rangka apa kau menemuiku?" Areka beralih pada Alicia. Sedikit heran karena gadis itu terlihat senang dan santai sekali memegang Ken seolah pria iblis itu hanya sedang tertidur.
"Apa dia sudah gila?" Areka berbisik pada Elena.
Elena angkat bahu tidak mau menjawab. Masih marah terhadap apa yang menimpa Areka. Karena keputusan bodoh itu tubuh Areka dipertontonkan pada gadis gadis siluman rubah, padahal Elena pikir hanya ia gadis yang boleh melihat seluruh tubuhnya.
"Lihat saja sendiri, nih." Alicia mengulurkan tangan. Areka meraihnya, mulai membaca memori gadis itu.
"Alicia, ini bukan imajinasimu kan? Klan iblis itu sungguh menemuimu di dalam mimpi?!" mata Areka melebar, melihat tubuh tanpa jiwa di depannya.
Alicia tidak berbohong, ingatan dan perasaan bahagianya nyata.
"Haha... gila... Iblis sialan ini keras kepala sekali. Ia bahkan tidak mati setelah siluman rubah ekor 9 itu mengorbankan dirinya. Haha... pengorbanan yang sia sia. Kasihan sekali."
Alicia mengerjap tidak paham. Gadis itu tidak tahu tentang pembicaraan Ken dengan siluman rubah pemilik mustika. Hanya Areka dan Elena yang tahu dengan pendengarannya yang luar biasa tajam.
"Jadi, siapa saudara tiri Bryan yang dimaksud Ken? Aku tidak tahu kalau Bryan punya saudara tiri."
Alicia menggeleng, ia juga tidak tahu. Bryan tidak pernah cerita.
Dan masalah yang harus mereka hadapi semakin bertambah. Fakta bahwa Bryan disekap oleh siluman rubah bersama manusia manusia lain membuat mereka tidak tahu harus melakukan apa.
Ken menyuruh Areka untuk mencari saudara tiri Bryan untuk membantu mereka menghabisi siluman rubah. Tapi Bryan sendiri sudah tertangkap, mereka tidak tahu harus mencari informasi kemana.
Ke sarang rubah menggunakan kekuatan portal Elena pun percuma, siluman rubah itu entah bagaimana caranya bisa memiliki kekuatan misterius yang dapat membuat objek berpindah tempat.
"Gunakan otak pintar mu itu untuk menyusun rencana. Kau yang berfikir. Aku dan Alicia akan berlatih." Elena menarik tangan Alicia, membawanya masuk ke dalam portal, meninggalkan Areka sendirian di danau air ajaib.
Areka duduk pasrah di atas batu. Menatap kesal pada tubuh Ken yang seakan menertawakannya.
"Apa?! Kau senang melihatku menderita?! Menyebalkan sekali... Haah seandainya klanmu menjalankan tugasnya dengan benar, dunia tidak akan menjadi serumit ini. Klan iblis tidak berguna." Areka menendang batu tempat Ken dibaringkan. Kemudian mengaduh sakit.
......................
Sementara itu di sisi dunia lain, akhirnya Rafaela menemukan tempat dimana Dalius disegel. Hanya saja ia tidak menemukan cara bagaimana menghancurkan segelnya.
Dalius, iblis level tinggi yang sejak awal memiliki ketakutan luar biasa pada Ken. Patuh dan hormat pada pemilik kekuatan mutlak.
__ADS_1