
Apakah Bryan mencintai Alicia?
Bagi Bryan cinta itu bukan kata yang dapat diartikan dengan akal sehat. Dan orang seperti Bryan yang sejak kecil diajarkan untuk berfikir logis, cinta itu tidak ada. Cinta itu hanya omong kosong yang digunakan manusia untuk mengikat orang lain.
Bahkan Bryan ragu dengan cinta dari orang yang melahirkannya sendiri. Bagi Bryan tidak ada yang benar benar tulus di dunia ini, tentang filosofi kayu yang rela dibakar oleh api itu bukan ketulusan tapi keterpaksaan. Ibunya juga terpaksa melahirkannya karena harus memiliki keturunan untuk mendapatkan harta warisan.
Benar, satu satunya ketulusan yang ada di dunia ini adalah cinta manusia dengan uang.
Bryan memukul kepalanya, kenapa si saat genting seperti ini malah terpikirkan ideologi aneh itu.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, nomor tak dikenal yang menculik Alicia meneleponnya.
"Hei tuan muda Damian apa kau benar benar ingin kami langsung menghabisi nyawa gadis ini? Orang anda membuat kami risih tahu. Akan ku kirimkan alamatnya, datang saja sendiri. Apa kau cupu?"
Terdengar gelak tawa.
5 orang, Bryan bisa tahu dari jenis suara yang ia tangkap.
Tanpa mengatakan sepatah katapun Bryan mematikan teleponnya. Kali ini menghubungi orang yang ia perintahkan untuk mengikuti mereka.
"Kau sudah ketahuan. Mundur. Nanti kau ikuti mobilku dari jarak 1 kilometer."
Orang yang paling Bryan andalkan itu mengangguk, langsung menepikan mobil, menunggu mobil tuannya lewat.
Bryan bukan cupu. Dia juga bukan orang bodoh yang mudah terpengaruh dengan kata kata orang lain. Bagaimana mungkin 5 orang memintanya datang sendiri ke tempat yang sudah mereka rencanakan? Itu namanya bunuh diri!
"Baik tuan muda. Apa yang harus saya persiapkan?"
"Pistol, dengan banyak cadangan peluru."
"Bukankah anda bilang tidak mau ada pertumpahan darah?"
"Aku... berubah pikiran. Utamakan saja keselamatan Alicia."
Apanya yang tidak mau ada pertumpahan darah? Bryan hanya tidak mau membuat masalah, jika sampai terdengar oleh papanya bisa bisa ia dikurung satu bulan di dalam kamar. Dan mama nya akan mulai mengatakan banyak sekali omong kosong yang menyebalkan. Bryan hanya malas dengan itu semua, dia tidak mau disuruh pulang.
*Ting ting
Alamat sudah dikirim.
Bryan mengeceknya.
"Hah mereka pintar memilih tempat."
Tempat yang dituju adalah sebuah pantai yang tidak beroperasi di malam hari.
Bukan di pantainya, tapi harus naik ke sebuah tebing. Penculik itu benar benar ingin memastikan Bryan datang sendiri. Pasti di sepanjang jalan menuju tebing itu akan ada banyak orang mereka yang mengawasi.
'Jika saya melihat ada orang yang mengikuti anda di belakang, gadis ini akan langsung jadi makanan hiu'
Bryan menarik napas panjang. Mengirim titik koordinat pertemuan ke 'orangnya'.
"Apa yang akan anda lakukan tuan? Ini jebakan! Anda tidak perlu datang, biar saya saja yang..."
"Kau tunggu di mobil." Bryan memotong, suaranya tegas memerintah.
"Tapi..."
"Jangan bodoh. Sudah kubilang bukan, jika keselamatan Alicia yang utama."
__ADS_1
"Bagaimana dengan anda sendiri?! Anda jauh lebih penting."
"Mereka tidak akan membunuhku."
"Saya tidak tahu kenapa, tapi sekarang anda tidak bisa berfikir jernih, tolong tuan muda menenangkan diri sebentar dan berikan perintah lain pada saya, saya tidak mungkin hanya menunggu saja dan membiarkan anda dalam bahaya sendirian."
Tangan Bryan terkepal erat, memukul stir mobil. Buntu, ia tidak terpikirkan cara apapun. Tapi siapa yang menculik Alicia sudah jelas, itu pasti suruhan salah satu pesaingnya entah dari sepupu atau saudara tirinya sendiri. Dan tujuannya adalah, membunuh Bryan lalu membuatnya seolah olah mengalami kecelakaan.
Bryan tahu betul itu.
Lagian jika bukan karena ia adalah anak sah yang tertulis di hukum, tuan besar Damian group alias papanya sendiri tidak akan peduli padanya.
...****************...
Sementara itu, 3 jam yang lalu di depan taman mawar yang gerbangnya sudah rusak, Ken duduk di bangku tempat dimana ia pernah melihat Alicia.
Tenaga dan mana sihirnya terkuras habis untuk membuka segel gerbang, padahal ia harus segera kembali ke gadis yang menjadi tujuannya keluar. Ia harus membuat kontrak dengannya agar bisa tetap mempertahankan wujudnya di sini.
Hujan masih turun dengan deras, tapi tidak ada petir lagi, sepertinya sebentar lagi akan reda. Ken menengadahkan tangan ke langit, kemudian mengusap bulir bulir air di wajahnya. Dingin, ia tertawa. Ini dunia yang sebenarnya, bukan dunia yang ia buat yang tidak bisa ia rasakan.
Terlalu lama berada di taman mawar membuatnya hampa. Ia tidak pernah merasakan panas, dingin, ataupun sakit. Yang ia lakukan hanya mengamati manusia yang datang saat siang hari. Dan berdiam diri saat malam hari.
Ia seperti angin yang keberadaanya tidak dipedulikan orang lain. Begitu sepi dan membosankan, sampai sampai jika bisa Ken mau mati saja. Tapi kedatangan Alicia malam itu mengubah seluruh rasa jenuhnya menjadi ambisi untuk bebas.
Ken memikirkan banyak hal sekarang, setelah membuat kontrak ia akan hidup di sini bersama Alicia hingga gadis itu meninggal. Jadi hal pertama yang harus Ken lakukan adalah membuat Alicia berumur panjang.
Setelah itu apa? Dia tidak bisa menguasai dunia. Terlalu melelahkan untuk bertarung melawan jutaan, tunggu! Ken menempelkan tangannya ke tanah, menutup mata untuk menangkap sinyal kehidupan.
"Wah hahaa... hahahaa... Gila!"
Ia benar benar terkejut jika makhluk hidup selemah manusia dapat berkembang biak dengan begitu cepat dan tumbuh dengan mengerikan. Dunia ini hampir penuh dengan manusia! Meskipun beberapa diantaranya bukan manusia dan berhasil memiliki keturunan dengan manusia. Keren! Ken jadi berfikir bagaimana jika ia membuat anak dengan Alicia lalu menjadikan anaknya seorang raja.
Ken menggeleng kuat kuat, dia tidak mau menguasai dunia. Dia tidak mau menjadi raja diantara pada 'keledai', bagi Ken sekarang, seluruh manusia di dunia ini kecuali Alicia adalah keledai.
"Aku harus memulihkan mana sihirku terlebih dahulu."
Ken meregangkan tubuhnya. Hujan sudah reda, ia sudah berfikir terlalu lama hingga orang tua buruk rupa tadi sadarkan diri.
Kali ini Ken tersenyum padanya. Senyum yang biasa, bukan seringai seram.
"Hey bocah" Ken mendekat.
Pria tua usia 50 tahunan itu mendelik. Tidak percaya jika ia masih hidup. Seakan bangkit dari kematian membuatnya tidak terlalu takut dengan Ken, apalagi sekarang wajah Ken tidak se pucat tadi dan wajahnya sangat tampan seperti seorang idol. Darah di tubuhnya juga sudah dibersihkan oleh air hujan.
"A-apa maumu?!" Pria tua itu bertanya gagap. Meski suaranya masih bergetar.
"Aku sengaja tidak membunuhmu karena malas dikejar kejar. Aku tidak akan melakukan apa yang ribuan tahun lalu kulakukan, aku tidak akan merusak lagi deh, janji." Ken mengangkat kelingkingnya.
"Aku akan hidup normal seperti makhluk lain. Kau tahu kan kalau vampir, drakula, undead, mermaid, bahkan macam macam siluman juga ada di dunia ini. Mereka hidup berbaur dengan manusia, menjadi tokoh tokoh penting. Kalian yang tahu tidak peduli itu, tapi kenapa hanya klan ku yang disegel?"
Orang tua itu mengalihkan pandangan. Ia manusia biasa, sebenarnya tidak tahu menahu betul tentang rahasia rahasia dunia ini. Ia hanya diwarisi kekuatan segel oleh orang tuanya dari pendahulunya. Ia juga hanya mendengarnya lewat cerita, tentang klan klan lain yang dahulu kala hidup berdampingan dengan manusia, yang menjadikan manusia hewan buruan hingga dewata marah dan membuat peraturan mistis untuk semua klan lain. Yaitu 'mereka tidak boleh membunuh manusia tanpa alasan' atau akibatnya fatal.
"Karena klan iblis paling berbahaya. Kalian tidak menghiraukan larangan dan malah melakukan pembantaian besar besaran. Maka dari itu kalian pantas disegel selamanya."
Ken mengangguk angguk.
"Meskipun kau bocah kemarin sore, kau tahu soal kejadian ribuan tahun lalu ya. Manusia memang sangat hebat menjaga cerita." Ken lagi lagi tersenyum, orang di depannya ini bukan 'keledai'.
"Maka dari itu, kalau kau tidak mau kembali kesana bunuh saja aku sekarang. Aku sudah gagal meneruskan wasiat pendahuluku. Lebih baik aku mati saja dan meminta maaf di alam kubur." Laki laki itu menarik kakinya, duduk dengan melipat dua kaki. Melakukan penghormatan terakhir kepada tuhan.
__ADS_1
Ken berdiri, menghormati apa yang laki laki tua itu lakukan.
"Baik, silahkan." laki laki tua dengan wajah buruk rupa itu menundukkan kepalanya. Siap untuk dipenggal.
Ken menyeringai.
Kuku kukunya memanjang.
"Kau yakin?" tanya nya memastikan.
Laki laki tua itu mengangguk pasrah.
Ken menghela napas, orang tua yang bodoh!
Perlahan tangannya yang berurat mendekat, kukunya yang seperti kuku binatang buas mulai menyentuh tengkuk pria tua itu. Ini akan menjadi pembunuhannya yang pertama setelah ribuan tahun lalu, yang ini tidak akan membuat dewata marah karena orang tua ini sendiri yang menginginkannya.
Perlahan Ken menurunkan tangannya. Sampai ia terhenti karena mencium sesuatu yang mengganggu hidung dan mood membunuhnya.
"Hey bocah, kau mengompol ya?"
Laki laki tua buruk rupa itu mengangkat wajah, air mata sudah membahasahi pipinya, tubuhnya yang bergetar hebat.
Ken tertawa.
Manusia itu adalah hewan yang paling takut mati.
Lantas ia menyentuh kepala pria tua itu. Jongkok di depannya mensejajarkan tinggi.
"Kau ini terlalu banyak makan gengsi. Kalau tidak mau mati ya sudah pergi saja. Aku tidak akan menusukmu dari belakang, tidak perlu sok keren begitu."
*puk puk
Meskipun Ken terlihat lebih muda, tapi ia berusia ribuan tahun. Bagi Ken pria tua di depannya ini seperti anak cucu dari cucu cucu cucu cucu manusia yang ia bantai dahulu.
"Hiks... Huuuu..."
"Jangan hiks dong, memalukan sekali! Haah, lagipula tanpa kubunuh pun kau bakal mati sebelum berusia 100 tahun. Hargai hidupmu yang singkat itu." Ken menepuk nepuk kepalanya seperti seorang bocah.
Laki laki tua itu mengangguk.
"J-jadi k-kau melepaskanku?"
"Iya, tapi beri tahu aku dimana aku bisa mengisi mana sihir?"
Laki laki itu menatap tidak mengerti dengan apa yang Ken katakan.
"Oh leluhurmu tidak cerita soal itu ya. Hmm semacam tempat yang berbahaya, api yang besar atau cairan kematian."
"Maksudnya gunung berapi?"
Ken menjentikkan jari, itu yang dia maksud!
"Beritahu arahnya saja."
Laki laki tua itu menunjuk ke kanan. Ken melihat arah yang ia tunjuk, matanya menyipit, ia dapat melihat energi yang luar biasa ada di jarak belasan mil.
Tanpa mengatakan apapun lagi Ken berangkat. Berlari dengan sangat cepat hingga sedetik saja sudah tidak terlihat oleh mata pria tua buruk rupa itu.
Taman mawar belakang asrama sebuah kampus ternama itu lenggang, menyisakan pak tua yang pingsan lagi dengan celana basah oleh air kencingnya sendiri.
__ADS_1
Besok besok akan beredar cerita seram yang akan menjadi cerita baru di kalangan manusia yang melihat kejadian itu.