Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
23. Sesuatu yang berharga


__ADS_3

Baru 10 menit bertarung, hampir 30 mayat siluman rubah sudah bergelimpangan di tanah dan bebatuan. Padahal siluman rubah itu bukanlah siluman yang lemah, mereka adalah anggota terlatih yang bertugas menjaga kastil utama, rubah ekor 5 ke atas. Mereka cepat, cerdas, dan memiliki daya sihir yang banyak. Hanya saja, lawan yang mereka hadapi bukanlah klan biasa.


"Kau tidak berguna." komentar Ken melihat Areka hanya mampu membunuh 3 siluman rubah. Itu pun seluruh mana sihirnya hampir terkuras habis.


Nafas Areka tersengal.


"Haa... maaf ya tuan iblis, aku ini tidak punya kekuatan monster sepertimu."


Ken berdecih, belum sempat bernapas dengan baik, mereka kembali dihujani dengan tombak dari dalam kastil. Ken segera menyambar tubuh Areka yang kelelahan, membawanya berlindung di bawah batu.


"Seharusnya kau bergabung dengan para gadis saja, dasar beban."


Kali ini Areka mengangguk setuju, ia sadar diri jika sekarang ia memang seorang beban. Ia jadi berfikir bahwa lari bersama Elena dan Alicia adalah pilihan yang bagus.


Tapi Areka juga sedang memikirkan hal lain, Ken memang kuat saat ia menghabisi 30 siluman rubah pemanah hanya menggunakan kuku kuku panjangnya, bergerak dengan sangat cepat dan akurat. Tapi, apa hanya segitu kekuatan dari klan iblis?


"Hei, kau sedang menahan diri ya?" tanya Areka. Ia dapat merasakan bahwa Ken tidak menggunakan mana sihirnya sama sekali.


"Cepat selesaikan saja, tuan iblis! aku tidak mau menjadi korban karena kau sengaja berlama lama."


Sengaja berlama lama? Tentu saja tidak. Ken hanya mengulur waktu sebentar, memastikan jika Alicia dan Elena sudah cukup jauh berada di jarak aman. Diam diam dari tangannya yang terkepal Ken sudah membuat sebuah bola seukuran kelereng, yang terus membesar.


"Kalau kau tidak mau mati, dalam hitungan ke tiga lompat lah sejauh mungkin ke belakang." intrupsi Ken.


Areka mendelik, tidak mengerti maksud Ken.


"Ke belakang kemana? Kau mau apa?!"


"Satu." Ken mulai menghitung. Tidak peduli pada kebingungan Areka.


Bola hitam di tangannya terus membesar. Sebelum Ken menyebutkan angka 3, Areka sudah melompat jauh ke belakang, melewati gerbang kastil. Ken melempar bola hitamnya yang sudah seukuran kepalan tangan.


Kastil itu meledak, membunuh secara massal para rubah penjaga di sana.


"KAU IBLIS GILA!" Areka berteriak, untung saja ia sempat membuat pelindung menggunakan bola air. Jika tidak tubuhnya pasti sudah sekarat tertusuk pecahan batu dan kayu yang terlempar ke segala penjuru.


Well, semua iblis memang gila.


"Pergilah ke tempat Alicia. Para manusia itu sudah tidak ada di sini." Ken memberikan perintah serta penjelasan singkat, ia tidak lagi merasakan keberadaan manusia di bawah tanah kastel. Karena itu Ken berani melempar bola hitamnya.


"Jangan seenaknya, Ken bodoh! Aku tahu kau kuat tapi Alicia bisa membunuhku kalau membiarkanmu masuk sarang mereka sendirian!"


"Kau hanya akan menjadi beban!"


Tanpa mendengar protes Areka lagi, Ken masuk ke dalam reruntuhan, debu ada dimana mana membuat sesak pernapasan. Tapi jangan khawatirkan Ken, ia bahkan sanggup tidak bernapas selama berjam jam.


Dari sebuah tempat yang cukup dalam di kastil ini, Ken dapat merasakan kekuatan yang kuat. Level rubah tertinggi, rubah ekor 9. Mereka adalah pemimpin koloni, tugasnya seperti raja terakhir yang melindungi para betina.


ribuan tahun lalu Ken pernah berhadapan dengan mereka, saat ia ditugaskan untuk menghabisi klan rubah. Dan Ken bersama 3 rekannya (Rafaela, Darius, Helius) berhasil dipukul mundur.


"Ahh... Ken... Ken.... Aku pikir kau sudah mati." suara serak itu masih tetap sama. Ken mengingatnya dengan jelas. Hanya satu orang. Laki laki bertubuh tinggi besar dan bekas luka mengerikan di wajah yang membuat satu matanya tertutup.


Kali ini mata Ken benar benar berwarna merah, bukan sekedar siluet seperti biasanya. Mata itu menatap tajam siluman rubah yang tengah berkacak pinggang di depannya dengan 3 ekornya yang nampak. Ekor itu sebenarnya ada 9, ribuan tahun lalu Ken yang membuatnya kehilangan 6 ekor.


"B*kong mu tetap menjijikkan seperti dulu."


Siluman rubah itu tertawa, mendekat.


"Setidaknya kau membuatnya lebih ringan, lord. terima kasih untuk itu." ia mengibaskan ekornya.

__ADS_1


"Aku sedang tidak mau bertarung. Aku tidak akan mengganggu koloni mu. Lepaskan saja para manusia yang kalian sekap, dan suruh para bawahanmu kembali kesini, jangan mencuri identitas manusia lagi."


Siluman rubah itu tertawa keras, hingga menunjukkan gigi gigi runcingnya yang telah tanggal beberapa kali. Gigi itu terlihat sangat tajam.


"Kau lucu sekali... Kenapa pria berdarah dingin sepertimu jadi banyak omong kosong begini ha?! Kenapa kau peduli sekali dengan makhluk rendahan itu?! Bukankah kau dulu hanya menatap dingin pada klan ku yang memohon ampun... Kau langsung menebas ribuan kepala di hadapanku?! Sekarang berani sekali kau mengajukan negosiasi! Apa kau menganggapku remeh Ha?!" Rubah itu berteriak marah hingga menampakkan otot otot lehernya, ia merasa pedih mengingat pembantaian yang Ken lakukan ribuan tahun lalu terhadap Klannya.


"Iya." Ken menjawab singkat. Dingin dan tidak peduli.


"Jika kau tidak mau, kejadian ribuan tahun lalu akan terulang." lanjutnya.


Rubah itu menyeringai. Ia sudah lelah, terlalu lama hidup membuatnya bosan. Sudah begitu banyak kematian yang ia saksikan dengan kedua matanya.


Lalu untuk apa ia bertahan selama ini? Untuk Ken! Rubah ini ingin sekali lagi bertarung mati matian dengan Ken, demi seluruh keluarganya yang mati, demi seluruh klannya yang kehilangan kepala dan ekornya dicabut satu persatu.


"Baiklah, ayo lakukan."


Tangan rubah itu terkepal. Kemudian terbuka dengan menggenggam bola api berwarna biru. Bola itu melesat dengan cepat ke arah Ken.


Ken menghindar, tapi percuma karena bola itu dapat dikendalikan. Tetap melaju ke arahnya, tangan Ken menahan serangan bola biru itu. Terbakar, tapi tak apa karena regenerasinya bekerja dengan cepat.


Bola kedua, ketiga, dan ke empat menyusul. Ken ikut membuat satu bola hitam seukuran kelereng, dengan bola hitam sekecil ini bisa ia kendalikan dengan sempurna. Jauh lebih cepat dan lebih lincah langsung menabrak inti bola biru milik siluman rubah. Meledakkannya sekaligus.


"Ini hanya perasaanku saja atau kekuatanmu itu hanya tinggal setengah? Kenapa kau jadi lemah begini."


Ken tidak menjawab, ia melompat mendekat, menyerang dengan kuku kuku tajamnya. Siluman rubah itu tangkas menghindar.


Di pertarungan jarak dekat Ken lebih unggul. Ia jauh lebih cepat, kuat, dan tangkas. Ken memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa.


Saat rubah itu terdesak ia melakukan hal curang. Dua rekannya tiba tiba datang dari belakang menyerang Ken menggunakan api rubah. Membakar punggung Ken.


"Haha... Hahahahaaa... seorang iblis sepertimu menekuk lutut di depanku. Kau jadi ampas sekali, Ken..."


"Khawatirkan dirimu sendiri." Ken mengarahkan bola hitamnya pada siluman rubah berekor 9 ini.


Lagi lagi meledak saat diadu dengan bola api biru miliknya.


Terjadi jual beli pukulan dan cakaran, berbeda dengan Ken yang hanya diam disegel selama ribuan tahun. Siluman rubah berekor 9 ini adalah rubah terkuat di zamannya dan ia masih tetap hidup selama ribuan tahun, mengasah kemampuannya, meningkatkan daya sihirnya. Karena itu ia mampu mengimbangi Ken.


Tidak, bukan mengimbangi Ken. Tapi mengimbangi setengah Ken.


Ken belum membuat kontrak. Lebih dari setengah dirinya berada di dalam segel. Setiap kali jauh dengan Alicia, Ken juga mendapat serangan dari panggilan segel terhadapnya, membuat kepalanya berdenging sakit.


Seperti saat ini. Benar benar mengganggunya dalam berkelahi.


*CRAZZ


Sebuah tombak yang sudah diisi mana sihir berhasil menancap di jantung Ken. Siluman rubah itu menginjak dadanya.


"Haa... haa... Ken... Hahahaaa... Kau kenapa ada di bawah begitu?"


Ken memuntahkan darah segar, begitupun dari dadanya merembes cairan merah itu. Ia tidak bisa melakukan regenerasi jika tombak masih tertancap. Sihir yang dialirkan menahan kerja darah iblisnya.


"Sepertinya terlalu lama disegel membuat kekuatanmu jadi tumpul ya." siluman rubah itu meludah.


"Aku benar benar bahagia sekarang. Akhirnya aku bisa membalasmu. Membalas pembantaian yang kau lakukan terhadap klanku..." nafas siluman rubah tersengal. Ia begitu puas melihat seorang iblis yang begitu ia benci berada di bawah kakinya.


Ken sendiri sudah tidak bisa berfikir jernih. Kepalanya diteriaki agar kembali ke dalam segel. Sangat sakit sampai membuatnya lengah. Ia butuh Alicia sekarang.


"Kau melihat kemana sialan?!" Siluman rubah itu menginjak wajahnya.

__ADS_1


"Ken.. ayo akhiri ini."


Siluman rubah menancapkan 4 tombak baru, pada kedua bahu dan paha Ken. Benar benar menahannya di tanah, membuatnya tidak bisa bergerak.


"Hei, kau tau... Yang kau lakukan ribuan tahun lalu itu benar benar kejam. Melihat keluarga dihabisi di depan mata tanpa bisa melakukan apapun. Teriakan anak anakku meminta pertolongan, meregang nyawa... Ken... Kau sungguh sudah menghancurkan ku, mencabut hingga ke akarnya seluruh kehidupan yang ku punya." rubah itu berlinang air mata mengingat tragedi masa lalu.


"Ken..." rubah itu menyentuh wajah Ken yang berlumuran darah dan tanah. Membersihkannya. Mata merah Ken menyala dingin, seolah tidak punya rasa belas kasih sama sekali.


"Aku akan melakukannya."


*CRAAK


Demi melihat apa yang dilakukan siluman rubah itu, mata Ken melebar. Siluman rubah menancapkan kukunya ke dalam jantungnya sendiri. Tangannya masuk merogoh organ dalamnya, darah keluar dari mulutnya yang terbuka.


Lantas tangan itu keluar, membawa sebuah bola kecil bercahaya. Itu mustika, mutiara rubah.


"Tanpa ini aku akan segera mati. Tapi aku tidak mau mati sendiri..." Siluman rubah itu tersenyum. Itu bukan senyum simpul biasa ataupun senyum tipis untuk basa basi belaka. Itu senyum tulus, senyum paling indah yang bisa ia tunjukkan setelah ribuan tahun bersabar menunggu keluarnya Ken dari dalam segel. Senyum lega saat ia mampu memeluk semua penderitaan.


Mustika rubah itu dapat diubah menjadi panah putih, yang apabila ditancapkan pada seseorang, akan menyerap habis energi kehidupannya. Masuk ke dalam tubuh mengoyak oyak organ bagian dalam bahkan hingga ke sel sel terkecil. Sungguh senjata yang luar biasa, karena itu bayarannya adalah nyawa pengguna.


Hanya jenis rubah ekor 9 lah yang memiliki mustika itu. Bentuk dari pengorbanan terakhir untuk melindungi klannya. Tapi ribuan tahun lalu rubah di depan Ken ini tidak berani melakukannya. Karena dulu ia tahu hal itu akan sia sia, ada 3 orang yang siap mati untuk melindungi Ken.


Tapi kali ini berbeda. Iblis ini berani datang padanya sendirian.


Ken menutup mata, memusatkan kekuatannya pada tanah. Mencari keberadaan Alicia. Gadis itu jauh, ia akan baik baik saja. Areka dan Elena akan melindunginya dan membawanya kembali ke dunia manusia. Rafaela akan mengurus Bryan dan memastikan kehancurannya. Mungkin keberadaan Ken memang sudah tidak diperlukan.


"Lakukan sesukamu." kata Ken dengan wajar datar tanpa ekspresi.


Kenapa ini terjadi? Mungkin ini bentuk penebusan dosanya.


Ken tersenyum pasrah. Ia siap memberikan nyawanya pada siluman rubah yang telah bertahan hidup demi dirinya.


"Bahkan sampai detik detik terakhir kau tidak memiliki penyesalan ya... Benar benar iblis."


Mustika itu bercahaya putih, menyilaukan mata, berubah menjadi panah putih yang sangat indah dan mematikan.


"Ken... Kau telah membunuh sesuatu yang paling berharga milikku."


"Karena itu aku pun akan melakukan hal yang sama."


Panah itu meluncur.


Ken mengepalkan tangannya.


Sial! Ia salah perhitungan. Sejak awal mustika itu bukan untuknya. Panah itu tidak melesat ke arahnya.


"Haha... hahahaaa...." siluman rubah tertawa. Mulutnya terus memuncratkan darah segar. Ia akan mati sebentar lagi.


Ken berteriak marah, memaksa kaki dan tangannya untuk bergerak memberontak, ia tidak peduli meski seluruh tubuhnya berlubang tertancap tombak, mengalirkan darah segar. Ken berlari, melompat dengan sangat cepat mengikuti arah dari mustika rubah.


"Alicia..." teriak Ken. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, tubuhnya benar benar sudah berada di ambang batas.


Setelah memaksa untuk berlari puluhan kilometer akhirnya gadis itu terlihat. Bersama dengan Elena dan Areka yang mengawalnya di depan.


Merenggut sesuatu yang berharga...


Siluman rubah itu dari awal memang menargetkan gadisnya.


Sesaat sebelum mustika rubah itu sampai padanya, Ken berhasil memeluk Alicia.

__ADS_1


"Ken..."


__ADS_2