
Ken yang sedang bermain dengan naga dan burung dinosaurus besar, tiba tiba ditugaskan untuk pergi ke ras bawah, tempat para vampir menyembunyikan dirinya.
Kali ini aku berpindah tempat ke daerah tersebut. Dimana seluruhnya gelap gulita. Ken masuk ke dalam goa besar yang lembab dan bau tanah, ia bersama dengan dua orang yang sepertinya seorang bawahan, tubuhnya kurus tinggi. Mereka mengenakan baju berlapis baja, hanya Ken yang memakai pakaian biasa tanpa pelindung apapun.
Ken sudah remaja, ia jauh lebih tinggi dariku, tubuhnya lumayan berisi. Kotak kotak di perutnya mulai terbentuk, itu favoritku. Di zaman ini tidak ada orang gendut, mereka rajin menggunakan kaki dan seluruh tubuhnya untuk bergerak.
Wajah dan ekspresi menggemaskan Ken sudah menghilang, digantikan dengan wajah dingin yang menatap datar apapun. Dia tidak memberontak dengan kata kata lagi, tapi langsung dengan tindakan.
Aku suka Ken versi ini. Dia terlihat keren dan memiliki tekad atas keyakinannya, Ken tidak lagi mendengarkan orang lain.
"Lakukan tuan muda. Gunakan pedang anda."
"Tidak perlu dibunuh. Mereka tidak akan berani melawan lagi."
"Lord bilang mereka harus dimusnahkan."
Ken melirik sepintas dua orang di sebelahnya. Kemudian naik ke atas batu besar, berada di tempat tertinggi. Menatap merendahkan kerumunan di bawah, yang sudah bersujud meminta ampun.
Para penjaga ras vampir sudah mati matian bertarung, mereka terluka parah. Jika Ken mau, sangat mudah baginya untuk memusnahkan ras ini. Hanya tersisa penduduk tanpa kekuatan dan anak anak tidak berdaya.
"Klan kalian terlalu banyak memburu manusia, aku tahu kalian perlu darah mereka untuk hidup, tapi sesuaikan, jangan berlebihan. Kali ini aku ampuni, pergilah sejauh mungkin ke Utara saat malam hari, temui seorang gadis bernama Camelia. Dia akan membukakan portal menuju dunia yang aman dan menemukan solusi atas klan kalian yang semakin rakus." Ken berteriak, suaranya keras dan tegas, tubuhnya yang gagah terlihat menawan. Ia seperti seorang pemimpin yang luar biasa, benar benar berbeda dengan Ken yang kukenal. Ken yang lembut, ramah, dan murah senyum.
"Tuan, itu keputusan yang buruk. Bagaimana jika ayah anda tahu?"
Kuku hitam Ken memanjang, itu bukan berwarna hitam karena kotor, memang hitam saja warnanya. Seperti kuku binatang buas, yang sering ia gunakan untuk mencabik dan mengancam lawan.
"Ayah tidak akan tahu kalau kalian tetap tutup mulut."
"Tapi kami tidak bisa mengkhianati..."
"Kau tahu, ikan adalah satu satunya hewan yang tidak memiliki lidah, lidah mereka dicabut karena sangat lancang, aku setuju jika itu hukuman yang pantas untuk makhluk yang tidak bisa menjaga mulut." Ken menatap tajam, memperingatkan, memainkan ujung pedangnya dengan telunjuk. Dua bawahannya terdiam. Kali ini lagi lagi Ken lolos dari hukuman.
Hidup remaja Ken cukup berat. Aku tidak suka melihatnya dipaksa pergi ke ras bawah dan bertarung sendirian. Tidak, bukan karena Ken kesulitan melakukannya, dia bahkan selalu berhasil menundukkan lawan tanpa luka sedikitpun. Tapi Ken terlihat membencinya. Ia tidak menyukai tugasnya sebagai klan terkuat yang menertibkan klan lain. Ken terlihat tidak menikmati pertarungan meskipun ia terlahir sebagai klan iblis.
Ken ku yang malang.
Setelah keluar dari goa aku berpindah tempat lagi ke sebuah padang rumput hijau, ada banyak bunga bunga dandelion yang sedang bermekaran indah.
Ken sedang tiduran di bawah pohon yang daunnya gugur kekuningan, di sebelahnya ada seorang gadis yang membuat mahkota sederhana menggunakan bunga dandelion.
Gadis itu benar benar cantik. Sungguh! Bahkan aku yang juga seorang wanita saja terpukau dengan wajahnya. Matanya hijau bersinar, Pipinya berisi, bibirnya tipis kecil menggemaskan, dan yang paling menarik dari gadis itu adalah rambutnya yang kemerahan. Seperti bunga mawar yang merahnya indah memukau.
Setelah mahkota selesai dibuat, gadis berambut merah itu meletakkannya di atas kepala Ken. Aku ikut mendekat, berdiri di sisi Ken yang lain, berseberangan dengan sang gadis.
Mata Ken yang tajam itu tertutup rapat, jika sedang tidur begini dia seperti Ken yang kukenal. Aku sangat merindukannya. Jika bisa aku ingin memeluknya sekarang.
"Ini apa?" tanya Ken pada gadis cantik itu. Mengambil mahkota bunga di atasnya.
"Ini untukku?" tanya nya lagi.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, memeluk lututnya, pipinya merona melihat wajah Ken yang hanya menatap datar tanpa ekspresi apapun. Gadis itu tersenyum manis, ah nona... jika kau tersenyum begitu aku bisa diabetes!
Entah kenapa aku tidak cemburu sama sekali. Meski aku tahu jika hubungan Ken dengan gadis ini bukan hubungan pertemanan biasa.
"Kau terlihat lelah, kapan terakhir tidur?"
Setelah diam cukup lama akhirnya gadis itu berbicara. Sumpah! Demi apapun suaranya sangat lembut dan menenangkan. Aku tidak bisa membayangkan jika gadis itu bernyanyi, akan se memukau apa nyanyiannya.
"Klan iblis tidak butuh tidur. Aku hanya menutup mata karena anginnya segar." jawab Ken. Beranjak duduk. Memainkan mahkota bunga di tangannya. Mencium bunga dandelion yang tidak memiliki bau.
"Kau suka dunia ini?" gadis itu bertanya lagi.
Ken mengangguk. Matanya menelanjangi Padang rumput segar ini, lantas berhenti pada sang gadis yang menunggu jawabannya.
"Maaf ya, sepertinya aku tidak bisa menemuimu lagi setelah ini. Dunia seindah ini bukan tempatku." Ken berbicara lembut, menatap sendu, tangannya menepuk nepuk pelan kepala gadis itu.
Ken aku iri... aku juga ingin menyentuh rambutnya yang terlihat sangat halus. Maaf Ken, aku memang menyukaimu tapi rasanya jika gadis ini ada di duniaku, sepertinya aku akan jadi belok saja.
Aku penasaran sekali dengan namanya. Kenapa Ken belum juga memanggilnya.
Gadis itu menunduk, terlihat sedih.
Ken bodoh! Berani sekali kau membuat gadis secantik itu bersedih. Aku memukul mukul lengan Ken, meski tanganku tembus. Nona, pria ini memang tidak peka. Lebih baik kau cari yang lain saja.
Kejadian selanjutnya adalah hal yang tidak pernah aku duga.
Ternyata gadis cantik berambut pirang ini agresif!
"Umb... Ca... ukh..."
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, meski masih mengintip di sela sela jariku. Itu benar benar ciuman yang brutal. Ken sampai kehabisan napas.
Hampir dua menit akhirnya gadis itu melepaskan Ken. Gadis itu dengan wajah memerah dan mata berkaca kaca langsung berlari, membuat portal seperti yang dilakukan Elena dan pergi meninggalkan Ken sendirian.
Wajah Ken sendiri tak kalah merah, seperti kepiting rebus, bahkan telinganya juga merona. Ia salah tingkah menutup setengah wajahnya dengan satu tangan.
"Menyebalkan."
Apanya yang menyebalkan Ken?! Kau beruntung sekali sialan! Itu hoki parahh, kapan lagi bisa dicium oleh gadis secantik itu! Apalagi gadis itu sendiri yang melakukannya padamu.
Sesaat kulihat Ken menatap sendu di tempat gadis itu melarikan diri. Ah, ternyata Ken bukan kesal, dia itu tsundere. Sebenarnya Ken suka, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Lalu sekarang Ken sedih karena ditinggal lari gadisnya. Kau manis sekali Ken... Tapi juga sangat bodoh. Kalau suka harusnya bilang saja suka. Malah bilang tidak bisa menemuinya lagi.
Perpindahan berikutnya adalah hal yang paling tidak suka kulihat.
Aku akhirnya dapat melihat ayah Ken. Seseorang bertubuh tinggi besar berwajah seram dengan banyak sekali bekas luka, satu matanya menutup ada sayatan besar di sana. Ia duduk di sebuah singgasana dikelilingi oleh anjing besar, di belakangnya ada naga berwarna hitam pekat sedang tertidur. Mengerikan, siapapun pasti gemetaran jika berhadapan dengannya.
Ken berdiri di depan ayahnya, dua pengawal mendorongnya agar berlutut. Kedua tangan Ken diborgol dengan besi yang terlihat memiliki energi sihir, ada kilat listrik di sekelilingnya.
"Kau terlihat tidak menyesal." suara ayah Ken besar dan menggema di istana yang suram ini.
Ayah Ken mendekat sembari mengacungkan pedang. Tanpa ragu sedikitpun menggunakan pedangnya untuk menusuk dada Ken. Aku menutup mata, tidak berani melihat darah yang mengalir keluar.
__ADS_1
Ken terbatuk. Sesaat setelah pedangnya dicabut luka di dadanya beregenerasi, lukanya menutup dengan sempurna.
"Padahal kau diberkahi kekuatan sehebat ini. Tapi kau malah menyia nyiakannya, dasar sampah." Ayah Ken meludah lantas mencengkeram wajah Ken, memaksa Ken menatap matanya yang melotot merah.
Ken sejak tadi tidak berekspresi apapun, ia tetap tenang. Tidak ada rasa takut meski ayahnya terlihat sangat murka.
Akhirnya tindakan Ken yang tidak pernah membantai klan lain, membiarkan mereka melarikan diri itu ketahuan oleh sang ayah.
"Sampai kapan kau mau seenaknya sendiri?! Selama ini sudah kubiarkan bebas tapi kau tidak tahu diri." Ayah Ken memukul wajah putranya sendiri menggunakan tulang besar hingga tubuh Ken jatuh ke tanah. Tanpa ampun terus memukulinya berkali kali.
Terdengar suara yang cukup memilukan, tulang belulang Ken patah mencuat.
"Kau mau klan kita dianggap remeh! Pantas saja semakin banyak ras bawah yang melawan. Itu karena kau terlalu lemah! Dasar tidak berguna!"
*BUGH BUGH BUGH
Meski begitu, Ken sangat tangguh. Ia hanya menggigit bibir, tidak membiarkan erangan sakit itu lolos. Ia tetap diam, dan tenang.
Setengah jam kemudian, setelah darah menggenang, ayah Ken berhenti memukulinya. Membuang senjata itu ke lantai, berkelontangan.
Nafas Ken tersengal, melihat kekuatan Ken yang luar biasa seharusnya tulang seperti itu tidak bisa melukainya. Tapi mungkin borgol yang ada di tangan Ken yang membuat tubuh Ken menjadi lemah, sejak Ken mendapat pukulan borgol itu bercahaya merah.
"Kurung dia di bawah. Jangan beri makanan dan air sedikitpun sampai dia sadar kesalahannya."
Ayah Ken menyayanginya. Untuk seorang klan iblis yang membangkang, hukuman yang ia berikan pada Ken adalah hukuman yang ringan.
"Saya minta maaf tuan muda. Tapi ini perintah lord. Saya akan diam diam melemparkan makanan saat tengah malam. Saya harap tuan muda tidak sampai kelaparan." salah satu penjaga yang membawa kunci berseru sedih, membersihkan darah dari seluruh tubuh Ken menggunakan kain basah. Luka luka Ken beregenerasi dengan lambat.
Ken mengangguk singkat. Tidak mengatakan apapun.
Pintu ruang bawah tanah ditutup. Laki laki itu masih dengan tangan terborgol duduk bersandar dinding beton. Menghela napas, melihat ke langit langit ruangan.
Aku sungguh tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ken yang masih remaja tidak memiliki banyak ekspresi, ia melihat dunia dengan cara yang berbeda, seperti membenci takdirnya sendiri.
Sebenarnya apa yang Ken inginkan saat ini.
Borgol di tangan Ken bercahaya merah lagi. Wajah Ken meringis, seperti menahan sakit.
"Sial."
Itu sakit sekali ya. Aku mau menangis melihat Ken yang seperti ini. Meski Ken tidak tahu, Ken tidak menyadarinya dan sebenarnya tidak berguna, aku berada dekat sekali di depannya. Lantas memeluk tubuhnya yang tidak bisa ku sentuh. Haha... gila, aku seperti menghantuinya saja, mengikutinya kemana mana.
Eh... tunggu, bukankah itu sebaliknya?! Kau yang menghantuiku Ken! Kenapa kau muncul di mimpiku seperti ini.
Mimpi ini aneh. Ini jelas bukan mimpi biasa, ini bukan imajinasiku lagi. Bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa begitu runtut menceritakan tentang Ken? Ini diluar bayanganku. Seperti ada yang mengaturnya.
"Haah... akhirnya kau menyadarinya."
Eh...
"Alicia, sepertinya kau menikmati sekali melihat masa laluku, seru ya seperti menonton film. Sampai sampai kau tidak sadar jika ada aku yang asli di sini." laki laki itu nyengir. Menatapku dengan matanya yang lembut.
__ADS_1
"Hai Alicia, apa kau merindukanku?" ia merentangkan tangan.