Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius

Satu Malam Panjang Bersama Laki Laki Misterius
8. Klan lain


__ADS_3

Ken benar benar dibuat takjub dengan dunia baru yang ia lihat. Manusia sudah berevolusi dengan hebat! Selama ini Ken membuat dunia palsu di taman bunga mawar sesuai apa yang ia tahu dan ditambah sedikit imajinasinya sendiri. Ia hanya tahu soal pantai, salju, pengunungan, hujan, dan hal hal yang ada di masa lalu ditambah sedikit hal di masa sekarang yang ia ketahui dari mengamati manusia yang datang ke taman bunga mawar belakang asrama.


Ken memang sudah mengintip sedikit ingatan Alicia saat mereka bertemu pertama kali waktu itu, tapi tetap saja melihat sendiri rasanya sangat berbeda. Jauh lebih mengejutkan!


Dunia begitu terang bahkan ketika malam, manusia beraktivitas meskipun matahari sudah tenggelam. Ken berhenti sebentar di sebuah hutan, duduk di salah satu batang pucuk tertinggi pohon yang ada di sana. Melihat ke bawah, di atas ada bintang, di bawah sana juga seperti bintang, sama sama gemerlapan.


"Jadi ini dunia yang Alicia tinggali." Ken tersenyum kecil. Menghirup udara panjang, segar sekali. Ini benar benar bau berbeda dari yang ia hirup dulu maupun saat di taman bunga mawar.


"Sudah tidak ada peperangan ya." gumam Ken.


"Tidak seru dong." lanjutnya sambil tersenyum sendu, membayangkan seluruh kejadian dari ia lahir hingga sekarang ini, sungguh hidup yang panjang.


Ken berfikir mungkin sekarang saatnya ia menikmati hidup panjang ini bersama dengan Alicia yang harus hidup sampai ratusan tahun. Ken terkekeh membayangkan Alicia menjadi nenek nenek nantinya, pasti lucu, apa gadis itu bakal tetap menggemaskan seperti sekarang?


Membayangkan hal itu membuat Ken ingin segera menemui Alicia. Ken melanjutkan perjalanan, ia memilih melewati jalur hutan karena khawatir ketahuan manusia saat berlari dan melompat dari genteng satu ke genteng lain. Ia harus cepat sampai ke tempat gunung berapi terdekat dan mengisi mana sihir. Setelah sihirnya penuh baru ia bisa menemui Alicia, membuat kontrak, dan menjaganya hingga tua.


*krak


"Sial."


*Bruk brak bruk brak bruk


Ken salah langkah, menginjak ranting kecil yang tidak kuat menahan berat tubuhnya hingga membuatnya mau tidak mau harus terjun bebas, menghantam dahan dahan lain di bawahnya hingga berakhir telentang di tanah.


"Sakit." gumam Ken. Tapi ia cukup senang merasakan sakit lagi, seperti benar benar hidup.


Tubuhnya kali ini benar benar payah, sebenarnya ia masih sangat lelah setelah menghancurkan segel tadi.


Dan kesialannya yang terjadi kali Ini adalah aib besar baginya. Seorang dari klan terkuat jatuh karena menginjak ranting pohon? memalukan sekali! Ken akan merahasiakannya seumur hidup. Begitu pikir Ken.


Ia pikir tidak akan ada siapapun di hutan ini. Tapi saat ia bangun di depannya malah sudah berdiri seorang laki laki yang sedang memegang tangan laki laki yang pingsan di bawah pohon besar.


Ken tahu siapa laki laki itu.


Begitupun sebaliknya. Meski tidak kenal, laki laki itu cukup cerdas untuk bisa menebak siapa Ken.


Ken beranjak berdiri, menepuk nepuk kemeja hitamnya yang kotor oleh tanah. Lantas tersenyum sinis pada laki laki di depannya. Sekarang sedang bulan purnama, begitu terang membuat dua laki laki itu mampu melihat satu sama lain meskipun sedang berada di tengah hutan.


"Heh, menghapus ingatan orang itu tidak sopan lo, Nak." Sapa Ken. Ia mendekat. Laki laki di depannya ini tampak sedikit takut namun masih bisa mengendalikannya.


"Nak? Aku tidak ingat punya bapak se tua anda."


Ken tertawa. Kemudian dalam sekejap mengubah ekspresi santainya menjadi seringai seram, menatap tajam lawan bicaranya ini. Tangan Ken terjulur mencekik langsung, mendorongnya hingga menghantam pohon besar di belakangnya. Saking kerasnya benturan ke pohon, Laki laki itu sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Tapi ia tidak gentar, masih berani menatap mata merah Ken.


"Sudah kubilangkan kalau menghapus ingatan orang itu tidak sopan, mermaid jelek!" Kuku kuku Ken perlahan masuk ke leher laki laki itu.


Kali ini laki laki itu tahu jika Ken benar benar marah, berusaha meminta ampun dan melepaskan diri.


"Ohok ohok..."


Ken melepaskan tangannya saat melihat wajah laki laki itu memutih, pucat.


"Aku tahu kalau klan rendahan sepertimu mendapatkan mana sihir dari mengambil ingatan orang. Sebenarnya aku tidak peduli soal kesopanan apalah itu, aku juga tidak peduli dengan makhluk rendahan lain yang kau mangsa, tapi kalau kau berani melakukannya pada Alicia lagi..." Ken menarik dagu laki laki itu, mata tajamnya buas memperingatkan.


"Membunuh ikan sepertimu seperti bernapas bagiku."


Laki laki itu mengangguk, ia tidak akan mengulanginya, tangannya merapat memohon ampun.


Ken melepaskan cengkeramannya. Berbalik, ia harus melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Kapan laki laki yang Ken panggil 'mermaid' itu menghapus ingatan Alicia? Saat hari sebelum Ken menemui Alicia di dalam mimpi. Iya, bukan tanpa alasan Alicia melupakan apa yang terjadi malam itu. Mermaid atau yang Alicia panggil Areka itu adalah siluman yang membuat Alicia melupakan alasan kuat gadis itu pergi ke taman bunga mawar.


Areka tidak bisa menghapus seluruh ingatan Alicia tentang Ken, karena sihir Ken membuat kepalanya sakit. Karena itu Areka hanya menghapus sebagian dan sedikit perasaan Alicia pada Ken. Sampai gadis itu lupa jika ia se rindu itu dengan Ken hingga datang lagi ke taman bunga mawar untuk menemuinya.


Areka menatap penuh benci makhluk dengan aura hitam mencekam di depannya ini. Areka memegang erat tangan laki laki yang pingsan, sebenarnya tujuannya hanya untuk menghapus ingatan pedih milik laki laki itu. Bukankah hal yang ia lakukan merupakan simbiosis mutualisme? Areka mendapatkan mana sihir agar ia bisa mempertahankan wujud manusianya, sedangkan laki laki itu tidak perlu pergi terapi ke psikolog lagi.


"Aku minta maaf, tapi ini benar benar mendesak."


Areka mengambil lebih dari hanya ingatan buruk laki laki itu, Areka mengambil ingatan tentang cinta dan kasih. Itu adalah ingatan paling berharga yang mampu menghasilkan mana sihir yang besar.


Tangan Areka terjulur ke depan. Entah bagaimana caranya tiba tiba muncul bola air yang sangat besar. Areka mengendalikan bola air itu, lalu ia gunakan untuk menangkap Ken yang berjalan biasa menggunakan dua kakinya.


Melihat gelagat Ken, Areka tahu jika makhluk klan iblis itu sedang kehabisan energi dan mana sihirnya. Benar, bahkan Ken tidak sadar jika ada bahaya mendekat dan berhasil ia tangkap. Sekarang tubuh Ken terperangkap di dalam bola air itu.


Nafas Areka tersengal. Sudah lama tak menggunakan kekuatan membuatnya kelelahan.


Bola air itu bukan bola air biasa, klan mermaid memiliki otoritas penuh atas air. Mereka bisa mengubah air sesuai bentuk dan jenis yang mereka inginkan. Areka memasukkan racun ke dalam air itu.


Ia mendekat, Ken terlihat kesulitan bernapas berusaha menendang dan memukul. Percuma, air itu elastis. Benda itu benar benar terbuat dari air 100% tanpa bungkus apapun jadi tidak mungkin bisa dipecahkan.


Ken melempar tatapan membunuh pada Areka, ia menyesal sudah berbaik hati pada ikan amis ini.


"Bagaimana? Apa kau sulit bernapas? Apa jantungmu rasanya berdebar dan menyakitkan?" Areka menyentuh bola airnya, ia senang melihat Ken tersiksa.


Lalu Areka membuat air lagi, kali ini berbentuk runcing, langsung ia bekukan menjadi es yang tajam, seukuran lengan laki laki dewasa.


Tanpa ampun Areka menusukkan tombak es itu ke dalam bola air miliknya, menembus perut Ken. Laki laki dari klan iblis itu berteriak tanpa suara, air seketika berubah menjadi merah baik dari luka di perutnya maupun muntahan darah dari mulutnya. Ken terbatuk dan itu membuatnya menelan lebih banyak racun.


Tidak puas hanya menggunakan satu, Areka membuat tombak es lagi.


2


...


8


Setelah Ken benar benar lemah, Areka memecahkan bola airnya. Tubuh Ken dipaksa berdiri oleh 8 tusukan tombak es. Es itu berlumuran darah. Setiap tetes lelehannya berwarna merah kental.


"Ohok ohok..."


Sekarang posisinya terbalik. Areka yang menguasai arena, ia tersenyum puas melihat tubuh Ken yang berlubang dimana mana.


Tapi Areka benar benar takjub dengan kegigihan klan terkuat ini, bahkan dengan perut, dada, leher, hingga paha dan lengan tertusuk tombak ia masih mampu mempertahankan kesadarannya.


"Hey, katakan padaku bagaimana cara membunuhmu? Akan kubantu supaya tidak sakit lagi." Areka menarik dagu Ken. Melakukan apa yang Ken lakukan tadi.


Nafas Ken tersengal.


"Cuih." Ia meludahi wajah Areka dengan ludah bercampur darah.


"Haa... Jangan... mimpi... haa..." dengan nafas tersengal Ken menjawab.


Ia pasti akan dibunuh lagi oleh leluhurnya di akhirat sana jika mati karena klan mermaid di depannya ini.


Areka tertawa, mengusap wajahnya, kesabarannya habis. Dengan sisa sisa mana sihir, Areka membuat satu tombak es dengan ukuran dua kali lebih besar. Lantas mengangkatnya tinggi tinggi tepat di atas kepala Ken.


"Mau segila apapun makhluk hidup, bahkan titisan dewa sekalipun akan mati kalau kepalanya hancur."


*PRAAK... CRAAK... CRAZZZ

__ADS_1


Selesai.


Areka jatuh terduduk di tanah. Melihat Kepala yang sudah hancur tepat di depan matanya ini sedikit membuatnya ragu.


Apa benar semudah ini membunuh klan iblis? Meski belum pernah bertemu langsung, Areka sering mendengar tentang betapa kuat dan mengerikannya klan ini dari kedua orang tuanya. Sampai sampai ada pepatah dari pendahulunya 'Jika bertemu dengan klan iblis lebih baik bunuh diri saja. Mau lari pun percuma.'


Apa itu terlalu di besar besarkan?


Areka melihat lagi genangan darah di depannya. Menggeleng, tidak mungkin klan legendaris ini lemah. Jika lemah ia tidak mungkin bisa keluar dari segel yang katanya diberkati oleh dewa.


Areka menempelkan kedua tangannya, melakukan penghormatan terakhir pada klan paling ditakuti. Suatu kehormatan baginya menjadi orang yang mampu membunuh makhluk penghancur ini.


Areka menoleh pada temannya yang masih pingsan, berjalan pelan meninggalkan mayat Ken.


"Aku minta maaf sudah mengambil ingatanmu, tapi itu tidak percuma, terima kasih banyak." Areka menggendong orang yang sudah membantunya. Mereka harus segera kembali ke rumah, Areka berhutang banyak pada orang ini.


*Krak krak


Saat Areka masih berjalan sepuluh langkah ia mendengar sebuah suara. Laki laki berusia 20 tahun itu menoleh. Ia menjatuhkan teman yang ada di gendongannya. Matanya melotot tidak percaya menyaksikan apa yang terjadi.


Tubuh Ken beregenerasi dengan sangat cepat hingga sekarang ia sudah bisa berdiri lagi. Areka pikir Ken akan segera menyerang dan membunuhnya, tapi pria itu malah berjalan terseok menjauh sembari memegang perut dan dadanya yang masih berlubang.


Areka mengepalkan tangan, membentuk tombak es sekali lagi. Ia akan bertaruh! Ia akan melakukannya lagi, dunia bisa hancur kalau klan iblis bangkit! Areka bersiap melempar tombaknya.


"ALICIA BISA MATI!" Ken berteriak. Setelah itu tubuhnya ambruk ke tanah, darah segar mengalir dari perut dan mulutnya yang terbatuk.


Tangan Areka terhenti.


"Haah... haa.... ALICIA DALAM BAHAYA! Izinkan aku menyelamatkannya... kumohon..." Suara Ken memelan, tercekat. Tapi Areka bisa mendengarnya dengan jelas. Pendengaran klan mermaid sangat luar biasa karena mereka hidup ratusan tahun di dalam laut.


Areka mendekat, jongkok di depan Ken yang terluka parah. Ini benar benar kesempatan emas untuk membunuhnya. Tapi apa yang Ken katakan benar benar mengganggunya.


"Bagaimana aku bisa tahu jika kau tidak berbohong?" tanya Areka.


Nafas Ken tersengal.


"Kau... haa... Boleh membaca pikiranku."


Ken tersenyum, ternyata klan iblis ini tahu semua tentang kekuatan klannya.


Areka meletakkan kedua tangannya di kepala Ken. Ken tidak berbohong, karena pernah melakukan hubungan dengan Alicia Ken jadi tahu jika bahaya terjadi pada Alicia, klan iblis ini benar benar sedang mengkhawatirkan gadis itu sekarang.


Areka menghela napas. Ken menatapnya dengan mata yang sayu, itu mata yang tulus karena ia ingin menyelamatkan seseorang yang berharga.


Dan kebetulan sekali, seseorang yang berharga bagi Ken adalah teman baik Areka.


"Baiklah, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran. Tapi kalau kita bertemu lagi aku akan berusaha membunuhmu, berapa pun itu aku akan terus mencobanya." Areka mengalihkan pandangan.


Ken tersenyum, mengangguk.


"Tentu saja."


Areka memang licik, tapi kali ini ia memutuskan untuk menggunakan sedikit hati nuraninya.


"Yeah, lagipula tidak keren membunuh lawan yang sudah sekarat sejak awal."


Sementara Ken, dengan sedikit tenaganya yang tersisa diperkuat oleh tekadnya yang ingin melindungi Alicia, laki laki itu memaksakan tubuhnya bergerak. Tidak lagi untuk mengisi mana sihir di gunung berapi, ia akan langsung pergi ke tempat gadisnya berada.


Seluruh luka di tubuh Ken beregenerasi dengan perlahan. Setidaknya ia tidak boleh terlihat mengerikan bukan saat bertemu dengan Alicia? Bisa bisa gadis itu tidak mau menemuinya karena ketakutan.

__ADS_1


Dada Ken berdegup kencang, Ia bisa merasakan Alicia yang sedang ketakutan, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?!


__ADS_2