
Sedekat apa Alicia dengan Bryan?
Mereka hampir seperti telinga kanan dengan telinga kiri, sepasang dan tidak terpisahkan.
Bryan mengenal Alicia saat sekolah menengah pertama, Alicia adalah gadis yang seperti matahari. Bercahaya dan kadang kadang menyilaukan. Alicia begitu berbeda dengannya yang tidak banyak bicara ataupun berekspresi. Alicia adalah gadis yang sering tersenyum, tertawa, dan lucu menggemaskan.
Hei itu biasa saja, ada banyak kok gadis yang seperti itu?!
Benar, tapi di mata Bryan Alicia tetap berbeda, gadis itu tidak pernah modus, dia gadis yang tersenyum bahkan pada anak yang dikucilkan, bahkan pada pembuli dan pengacau kelas.
Alicia itu tulus dan lurus. Dia adalah satu satunya gadis yang tidak berusaha cari perhatian padanya. Sampai sampai Bryan pernah berfikir jika Alicia tidak menyukainya hanya karena gadis itu memperlakukannya sama seperti yang lain.
Jelas saja, dengan wajah dan penampilan Bryan, ia selalu diperlakukan berbeda. Bahkan gurunya saja mengistimewakan Bryan dalam banyak hal. Bryan boleh bolos kelas jika ia mau, Bryan bebas memilih makanan yang dia suka di kantin sekolah, bahkan Bryan boleh pindah pindah tempat duduk.
Tidak ada yang berani menentang Bryan. Tapi bukannya takut padanya, anak itu bukan preman kok, malahan itu adalah perasaan segan, perasaan tunduk dan hormat. Bryan tampan, cerdas, baik, dan menawan. Benar benar gambaran seorang anak jenius.
Usianya baru 14 tahun saat ia sadar memiliki kemampuan manipulatif yang mengerikan.
Bryan begitu tertarik dengan Alicia, Bryan lah yang mendekati gadis itu duluan. Menyapa, mengajak berbincang, selalu meminta satu kelompok dengan Alicia hingga membuat Alicia dikucilkan oleh teman temannya.
Sesuai rencana!
"Tidak apa apa Alicia. Mereka memang jahat, padahal kan aku yang menyukaimu kenapa mereka malah marah padamu. Sepertinya mereka iri saja. Kau tidak perlu khawatir, kehilangan teman seperti mereka bukan masalah besar. Aku akan tetap di pihakmu."
Bryan membuat Alicia menggantungkan diri padanya. Alicia yang dulunya ramah pada semua orang berubah menjadi Alicia yang berpusat untuknya saja. Memonopoli.
Bryan adalah orang yang paling berperan penting terhadap perubahan sikap dan sifat gadis itu. Dari cerita menjadi pendiam, dari percaya diri menjadi rasa minder dan takut mencoba sesuatu. Tenang saja, kan ada Bryan yang menjaganya.
Lalu ketika Alicia benar benar kehilangan jati dirinya, Alicia menjadi gadis lemah yang tidak punya pendirian dan membutuhkan perlindungan, Bryan membuangnya.
Dengan tidak tahu dirinya berfikir bahwa Alicia tidak cocok bersanding dengannya yang hidup di pucuk rantai kekuasaan. Alicia tidak sekuat itu untuk pantas menjadi seorang nyonya besar Damian group.
...****************...
"Hiks..."
"Kau mimpi buruk, Alicia?" Ken menekan nekan kening Alicia yang terlipat dengan telunjuknya.
Sekarang pukul 2 malam. Di sebuah pantai yang tak terjamah manusia karena berada di sebuah pulau yang masih memiliki hutan dan harus melewati lautan lepas. Ken menyalakan api unggun dengan ranting ranting kecil dan pelepah kelapa kering yang ia temukan di pinggiran pantai. Membaringkan tubuh Alicia di atas daun pisang besar, mendekatkannya pada panasnya api agar gadis itu tidak kedinginan.
"Kapan kau akan bangun?" Ken tiduran di belakang Alicia, memeluk tubuh gadis itu.
"Alicia, bau mu enak. Apa aku ikut tidur saja ya." Ken membelai rambut panjang Alicia. Rambut itu begitu lembut dan membuat Ken ingin memakannya.
"Ungh..." Alicia menggerung pelan, merasa sesak dipeluk erat oleh pria kekar di belangkangnya.
Wajah Ken memerah. Ia langsung melepaskan tubuh Alicia, kemudian bangun dan duduk sedikit lebih jauh. Ken menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Alicia, kau benar benar tidak boleh ketiduran di tempat umum." gumam Ken merasakan kedua telinganya memanas.
Ken menarik napas panjang, menghembuskan perlahan. Melihat wajah Alicia yang tertidur membuat perasaannya tenang. Hey ini pertama kalinya ia menghabiskan malam di luar taman bunga mawar, tidak sendirian, dan merasakan dinginnya angin serta hangatnya api sungguhan.
Ken menyentuh dadanya, di sini juga terasa sangat hangat, sangat menenangkan.
Setelah memastikan tidak ada bahaya apapun Ken pergi duduk di bibir pantai, merasakan air laut yang dingin dan asin. Ken tertawa, kalau Alicia tidak sedang tidur ia pasti sudah berteriak melepaskan segala bebannya selama ini. Apa hari hari membosankan itu sudah berakhir sekarang? apa ia benar benar boleh memulai hidup baru?
Perlahan Alicia membuka matanya, menyipit, tubuhnya tidak terlalu sakit, ia merasa hangat dan nyaman. Sebuah jas hitam menyelimuti tubuhnya yang sudah kering, meski sedikit lengket dan bau garam.
Alicia bernapas lega, ia hidup, ia masih hidup! Gadis itu mengusap ujung matanya yang berair. Ia berhutang nyawa pada seseorang yang menolongnya.
Gadis itu bangun dari tidurnya, merapatkan jas hitam milik sang penolong. Jasnya begitu besar hingga menutupi lutut Alicia. Gadis itu harus minta izin untuk meminjamnya karena sekarang ia sedang mengenakan baju seksi yang begitu terbuka.
Alicia menoleh ke sana kemari, matanya tertuju pada seorang laki laki yang sedang telanjang dada duduk menatap cahaya indah lautan, terpantul dari sinar purnama.
__ADS_1
Hei, laki laki kekar itu telanjang dada! Demi memberikan jas nya untuk menyelimuti Alicia! Oh tidak, gadis itu benar benar merasa begitu merepotkan.
Alicia merasa tidak enak, bergegas melepas jas hitam yang ia kenakan. Alicia berdiri perlahan, mendekat, meski sedikit takut karena penolongnya itu seorang laki laki.
Bagaimana kalau laki laki itu menyuruhnya melakukan sesuatu?! Alicia memukul kepalanya, tidak sopan sekali berfikir begitu pada malaikat yang sudah menyelamatkannya dari kematian.
"Emb... permisi, saya sangat berterima kasih karena tuan sudah menolong saya. Dan... tolong kenakan baju tuan lagi!" Alicia menunduk, sembari menyodorkan jas hitam itu dengan kedua tangannya.
Jantung Ken berdegup kencang. Ia segera menoleh, mendapati gadisnya sudah berdiri dua langkah di belakangnya.
Tanpa pikir panjang pria itu langsung menabrak Alicia hingga gadis itu terjerembab ke pasir, Alicia berteriak kaget, bukan sakit karena Ken menahan kepala dan pinggangnya agar tidak terantuk tanah.
"A-apa y-yang anda lakukan?! Sa-saya memang berterimakasih tapi tolong jangan apa apakan saya, saya... saya bisa memberi anda uang berapapun itu!" Alicia berteriak, menutup matanya, gadis itu merasa takut sekarang.
"Sayang sekali nona. Tapi saya tidak suka uang, yang saya inginkan adalah anda."
Deg!
Demi apapun Alicia masih mengenali suara itu!
Suara berat namun juga sangat lembut. Suara yang begitu menyenangkan masuk ke telinganya.
Mata Alicia perlahan terbuka langsung berkaca kaca, menangis tersedu sedu.
"Apa anda siap menjadi milik saya, Nona?" Ken menggoda, Alicia memukul dadanya yang bidang, masih menutup wajahnya yang memerah.
"Huuu... huaaaaa.... bodoh! Jahat! Menyebalkan! Sialan!"
Ken menarik tangan gadis itu agar tidak menutup wajahnya, pria itu tertawa, benar kan... wajah Alicia memang yang paling menggemaskan.
Wajah Ken mendekat, jahil menggigit pucuk hidung gadis itu.
"Heii!" Alicia mendorong.
"Ken..." suara Alicia pelan memanggil.
Ken tersenyum, iya ini dirinya.
"Keenn..."
"Kenn..."
"Ken!"
Ken menahan tawa, apa gadis ini sedang berfikir lagi kalau ia sedang bermimpi?
"Apa aku sudah di surga?"
Apa?
"Hah?" reflek Ken meminta penjelasan.
"Huuu... aku pikir aku selamat, aku pikir aku masih hidup. Hiks... huhuuuu..."
Jika bisa, Ken ingin menyumbangkan separuh IQ nya untuk Alicia.
"Kasihan... Kasihan sekali mamaku.... Ditinggal anak semata wayangnya.... huwaaa..."
"Tapi Ken... aku senang sekali tidak sendiri meskipun sudah menjadi roh. Aku senang karena bertemu dengan hantu sepertimu. Kau harus menemaniku terus ya..."
Ken menatap cengo Alicia yang ternyata bukan menangis terharu tapi menangis sedih karena berfikir dirinya sendiri sudah mati. Ken jadi merasa ia salah pilih gadis untuk menjadi pasangan kontraknya.
"Alicia..."
__ADS_1
"Hiks... Apa?" mata memerah Alicia menatapnya sendu, mata itu langsung bengkak karena pemiliknya benar benar sedih, sekarang malah mengerjap ngerjap dengan polosnya.
"Kenapa kau malah tersenyum Ken?! Kau senang aku sudah mati?!" Alicia berteriak kesal melihat ekspresi Ken yang seperti menahan tawa.
Benar saja, sedetik kemudian tawa Ken meledak.
Lantas menjitak kening gadis yang berada di bawahnya ini.
"Auh! Sakit tauk!"
"Hahahaaa.... Baiklah tidak apa apa. Alicia kau tau, dulu ada manusia yang bilang padaku kalau orang bodoh itu umurnya panjang!"
Alicia semakin bingung dengan kalimat Ken. Gadis itu malah berfikir jika Ken memujinya.
"Berarti aku pintar dong karena mati muda?"
Ken memeluk erat tubuh Alicia. Menyambar bibir mungilnya. Terserahlah, sesuka dia saja.
......................
Paginya Areka datang dengan perahu layar yang ia pinjam di kampung nelayan yang ada di pantai itu. Ken tidak menyangka jika Areka benar benar membantunya sampai akhir.
"Kau harus menepati janjimu." tegas Areka, sembari mendayung perahu.
"Iya." Ken menjawab singkat, ia memeluk tubuh Alicia yang masih tertidur di pangkuannya. Gadis itu sakit, masuk angin. Tapi hari ini Ken harus meninggalkannya terlebih dahulu, membayar hutangnya pada Areka.
...****************...
*Bugh Duakh Bugk Bugk Bugk
"Tuan muda, cukup tuan. Cukup, dia bisa mati tuan muda."
Bryan menatap dingin laki laki 22 tahun di depan yang sudah babak belur meringkuk di ujung dinding.
Dua 'orangnya' menahan kepalan tangan Bryan yang sudah berlumuran darah agar tidak melayang lagi menerjang orang yang sudah sekarat itu.
"Huk... Ohok ohok.... Ma... af... A-aku minta maaf..." laki laki itu memeluk kaki Bryan yang hendak, bersujud memohon ampun.
Bryan tidak bergeming, matanya kosong seolah kehilangan akal sehat.
"Ambilkan tongkat."
"Tuan muda, tapi itu,"
"Haa... Sekarang anjing sepertimu juga sudah berani melawanku ya... Hahaa... hhahahaaa.... Apa belakang ini aku terlalu lembut?"
Tangan Bryan melayangkan tinjunya yang cepat dan kuat, tapi orang di belakangnya berhasil menangkis, Bryan tersenyum sinis, kaki kanannya terangkat, lututnya telak mengenai ulu hati bawahan yang melawannya.
"Ohok... ohok..." bawahan Bryan bukanlah orang biasa, mereka terlatih baik teknik bela diri maupun praktek membunuh dan kecerdasan intelektual. Tapi Bryan adalah puncak dari teknik, praktek, dan kecerdasan itu sendiri.
Ia dilahirkan sebagai seorang pemimpin. Memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mutlak, tidak ada yang mampu menentangnya.
Bryan tersenyum.
"Siapa lagi yang mau melawanku?" ia bertanya dingin.
4 orang bawahannya terdiam, salah satu diantara mereka langsung tanggap mengambilkan tongkat kayu.
Sesuai yang tuan mereka inginkan.
Tugas mereka hanya satu: Patuh seperti anjing.
...****************...
__ADS_1