Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Masalah Baru


__ADS_3

"Aku sudah melakukan sesuatu pada Juminten!" jawab Frans.


Yulia dan Khalisa saling berlirikkan lalu tersenyum tipis. Kemudian, mereka berpura terkejut dengan kejadian itu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Juminten Frans?!" tanya Khalisa pada Frans.


"Maaf, aku tadi sedikit mabuk dan..., ini tidak pantas untuk di bicarakan," jawab Frans melirik ke arah Satria.


Amarah Satria semakin menggebu-gebu saat mendengar jawaban itu. Ingin rasanya dia kembali menghajar sahabatnya untuk memberi pelajaran padanya.


"Kau harus bertanggung jawab Frans!" kata Yulia pada Frans.


"Baik, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahinya besok!" jawab Frans.


Mata Satria membulat sempurna mendengarnya. Hatinya semakin panas mendengar kembali jawaban menyakitkan itu. Tangannya mengepal, seharusnya dia yang lebih dulu bertanggung jawab menikahi Arla, tapi malah keduluan oleh Frans sahabatnya.


********


Di ruang tamu Khalisa dan jugaYulia tengah tertawa renyah, karena belum saja mereka merencanakan hal buruk untuk Arla. Sesuatu yang tak di sangka sudah terjadi padanya.


Itu adalah sebuah keberuntungan bagi mereka. Mereka tidak usah bersusah-susah lagi menyiapkan rencana jahat untuk menyingkirkan Arla dari rumah itu.


"Kita gak perlu susah-susah mengatur rencana buat menyingkirkan pembantu sialan itu Khalisa, belum saja aksi di mulai, kita sudah mendapatkan keberuntungan. Hahahaha..." kata Yulia sambil tertawa.


"Ini masih permulaan Mah, tetap saja aku tidak akan membiarkan wanita itu lolos begitu saja dari rencanaku, aku akan membuat rencana baru agar Satria tidak bisa kembali bertemu dengannya!" jawab Khalisa santai sambil tersenyum miring.


"Ya, kamu betul Khalisa, wanita sialan itu memang harus di singkirkan sejauh mungkin! Jika dia masih saja berada di dekat kita, dia akan menghancurkan misi kita selama ini!" tambah Yulia.


"Nanti kita atur saja rencananya Mah," kata Khalisa.


"Baik sayang, tapi kamu harus berhati-hati, jangan sampai Satria tahu rencana kita, bisa-bisa dia malah benci dan akhirnya menceraikanmu!"

__ADS_1


"It's oke Mamah, aku tahu hal itu, aku akan tetap berhati-hati, tenang saja."


*******


Arla masih terus menangis di kamarnya. Saat ini dia merasa kebingungan, pergi jauh dari kehidupan Satria adalah keinginannya selama ini yang akan dia rencanakan. Tapi bukan seperti ini caranya.


Pergi karena di tuduh kehormatannya telah ternoda adalah hal yang paling memalukan dalam hidup Arla. Dia bingung harus bagaimana, karena janin yang dia kandung kini adalah milik Satria, sedangkan Satria belum mengetahui hal itu. Jika Arla memberitahunya, pasti hanya akan menambah masalah menjadi besar saja.


"Ayok kita pergi dari tempat ini!" kata Frans yang tiba-tiba datang dari pintu yang terbuka pada Arla yang masih terdiam.


"Aku tidak akan pergi!" jawab Arla.


"Aku akan tetap membawamu pergi dari tempat ini, aku akan menikahimu, dan kau tak perlu bersusah payah bekerja di tempat ini lagi jika kita sudah menikah. Aku akan membiayaimu dan semua kebutuhanmu akan aku tanggung!" bujuk Frans.


"Kenapa kau tega Dokter Frans?! Kenapa kau malah membuat masalah baru dalam hidupku?!"


"Maafkan aku Arla, aku tidak bermaksud untuk membuat masalah, aku hanya ingin meringankan bebanmu saja, jika kau sudah menikah denganku, aku yakin aku akan bisa membuatmu bahagia!" kata Frans, dia sungguh sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu dan tak ingin melepasnya begitu saja.


Tak ingin menjawab ucapan Frans. Arla hanya terdiam saja, percuma juga jika dia harus tetap bertahan berada di rumah itu. Keluarga Khalisa tidak akan menerimanya kembali untuk bekerja. Mereka bahkan merasa senang jika dengan mudah Arla bisa pergi begitu saja dari rumah itu.


Satria memandang sendu pujaan hatinya yang baru saja memasuki mobil bersama Frans dari kaca jendela kamarnya. Dia sangat menyesal harus melepas Arla begitu saja padahal dia masih sangat mencintai Arla.


"Jangan lupa undang kami jika kamu akan mengadakan acara pesta perniakhan besok Frans!" kata Yulia yang berada di teras depan bersama Khalisa.


"Jangan sampai ada orang yang mengetahui tentang apa yang terjadi tadi Tante, Frans pamit dulu," Frans mencium punggung tangan Yulia.


"Aku harap kamu tidak pernah menyesal menikah dengan seorang pembantu Frans!" kata Khalisa.


Frans hanya melirik ke arah Khalisa, tanpa membalas ucapan perempuan jahat itu. Dia segera memasuki mobil lalu melajukannya dengan cepat menuju sebuah apartement mewah miliknya.


Sebelummya Frans sudah membeli beberapa baju untuk Arla. Dia merasa bersalah karena sudah merobek satusatunya baju yang menempel pada tubuh gadis itu.

__ADS_1


Frans membuka jasnya, lalu memakaikannya pada Arla saat turun dari mobil. Dia merangkul Arla berjalan menuju apartemennya.


Beberapa tetangga dekat memandang ke arah mereka dengan tatapan menelisik. Mereka juga berbisik-bisik membicarakan Frans dan juga Arla.


"Itu Dokter Frans kan? Kok dia bawa cewek ke appartemen sih? Bukannya dia masih lajang kan?" bisik seorang ibu dari arah belakang ke pada temannya.


"Iya, itu Dokter Frans, dia sudah lama tidak tinggal di appartemennya, dia membawa perempuan karena mungkin ya, namanya juga laki-laki kan, mereka ada masanya berprilaku nakal saat lajang," jawab temannya.


"Aku harus segera menelpon Jeng Erlita, dia harus segera di beritahu kalau putranya sudah berani membawa perempuan ke appartemen," kata ibu itu sambil merogoh Handphonenya dari dalam saku.


"Iya, terserah kamu saja bu, aku masuk dulu!" kata temannya lalu memasuki pintu appartemen.


"Ini kamar kamu, kamar saya ada di sana, dan ini pakaian kamu," Frans mengulurkan beberapa tas belanjaan membuat Arla kembali menangis karena mengingat Satria juga melakukan hal yang sama padanya beberapa jam lalu.


Reflek Frans memeluk Arla karena merasa iba pada wanita itu. Dia sudah meraskan jatuh cinta pada Arla, bahkan Frans tak peduli jika kini Arla tengah mengandung benih orang lain.


Arla menangis dalam pelukkan Frans. Dia tak menampik jika saat ini hanya sebuah pelukkan yang dia butuhkan. Teman bicara, serta support dari seseorang yang menyayanginya.


Tapi, tiba-tiba saja seorang ibu berpakaian mewah dengan mengenakan sebuah dress berwarna merah maroon berjalan mengahampiri mereka, setelah dia berhasil membuka pintu dengan kartu akses duplikat yang selama ini dia miliki.


"Dasar perempuan murahan! Beraninya kau menggoda putraku!" kata ibu itu sambil menjambak rambut Arla yang meringis kesakitan.


"Aww..sakit!" jerit Arla.


"Apa yang Mamih lakukan?! Lepaskan Mamih!" Frans mencoba melepaskan tangan ibunya yang begiku kuat menjambak rambut Arla.


"Siapa wanita ****** ini hah?! Kenapa kamu membawa wanita kotor seperti ini ke appartemen?!" bentak ibu bernama Erlita.


"Lepaskan tangan Mamih, dia kesakitan!" kata Frans merasa khawatir dengan keadaan Arla yang begitu kesakitan.


"Mamih sudah mengetahui semuanya Frans, kenapa kau malah ingin mengotori keluarga kita dengan membawa wanita murahan seperti ini kemari! Wanita sialan!" Erlita mendorong tubuh Arla sampai menabrak tembok.

__ADS_1


"Juminten!" teriak Frans pada Arla yang terjatuh lemah sambil memegang perutnya.


"Aww...sakit..."


__ADS_2