
"Keluarga Ibu Khalisa?" seorang suster keluar dari ruangan.
"Iya, suster, saya suaminya," Satria bangkit menghampiri perempuan yang berseragam putih tersebut.
"Silahkan, anda sudah bisa menjenguk pasien," katanya lalu pergi.
"Terimakasih sus," segera Satria masuk beserta ibu dan Ayahnya juga Mamah mertua yang baru beberapa menit lalu datang ke rumah sakit.
"Sayang, apa yang terjadi, Nak?" tanya Yulia pada Khalisa yang kini berbaring.
Khalisa melirik Satria juga kedua orang tua Satria yang memandang ke arahnya.
"Khalisa gak apa-apa," jawab Khalisa.
"Syukurlah kalau gak apa-apa, tapi tadi...ada darah?" tanya Satria.
"Iya, tadi Mamah lihat di betis kamu ada darah, Khalisa, apa kamu sedang hamil? " tanya Diana pada Khalisa yang kebingungan.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa hamil? Sedangkan aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali? Satria membatin.
"Eu...Khalisa..., itu...,"
"Khalisa, kenapa kamu tidak bicara jujur pada kami kalau kamu memang sedang hamil? Apa yang baru saja terjadi itu bisa membahayakan kandunganmu, bagaimana dengan keadaan kandunganmu saat ini? Apa kandunganmu baik-baik saja?" Diana kembali bertanya.
"Iya, Mah, tadi hanya terjadi pendarahan ringan saja. Aku dan janinku baik-baik saja. Dokter menyarankan aku untuk bedrest." Jawab Khalisa gugup dengan wajahnya yang pucat.
"Kenapa kamu tidak bilang pada kami tentang kehamilan ini?" tanya Diana lagi yang seakan tak puas ingin mendengar jawaban dari menantunya.
"Iya, tadinya Khalisa ingin memberi kejutan untuk kalian," jawab Khalisa.
"Kalau saja kamu bicara dari awal, pasti kita akan sangat senang sekali, benar kan Pah, selama ini kita sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu, kalau begitu, mulai sekarang kamu harua istirahat di rumah ya, jangan pergi bekerj lagi, kamu harus bisa menjaga kesehatan diri kamu sendiri dan juga bayi yang ada dalam kandunganmu," kata Diana.
"Iya, Mah, terimakasih."
*********
__ADS_1
Arla sendirian di rumah, dia tak kalah cemas dengan keadaan Khalisa. Berkali-kali mondar-mandir untuk mengurangi rasa cemasnya.
"Apa Khalisa baik-baik saja? Ataukah..., ah aku tidak bisa membayangkan jika sesutu terjadi padanya." Kata Arla yang masih berjalan mondar-mandir di ruanga tamu.
Karena merasa bosan, dia pergi ke kamarnya. Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan bisa menghadiri acara pesta. Tapi, kejadian barusan membuat pesta urung di laksanakan.
"Andai saja kamu masih hidup, Nak, dan andai saja wajah ini masih sama seperti dulu, pasti Satria juga tidak akan merasa tersiksa dengan kehilanganku," kata Arla bermonolog sendiri tanpa dia ketahui Satria kini mengintip di balik pintu, dia baru saja pulang dari rumah sakit hendak memberitahu Arla jika pesta di tunda.
"Aku adalah orang yang selama ini Satria cari, sayang sekali wajahku sudah berubah, karena oprasi yang sudah di rencanakan oleh Mamah Diana membuatku tak bisa di kenali, apa kamu tahu sweety, selama ini hidupku sangat tersiksa, masih mencintai seseorang yang begitu berarti. Dia malah menikah dengan orang lain, setelah kami bertemu lagi, keadaan malah menjadi rumit." Jelas Arla pada sebuah boneka bebek kecil berwarna kuning.
"Apa kau tahu tidak sweety? Aku sangat kesepian tinggal di rumah orang lain, tapi aku merasa senang karena kini aku bisa tinggal satu atap lagi bersama orang yang aku cinta," Arla tersnyum sendiri berbicara dengan boneka itu.
Sedangkan Satria masih berdiri, terpaku dengan tatapan sendunya memandang punggung Arla yang tengah berbicara sendiri. Perlahan kakinya melangkah, membuat Arla menoleh.
Satria langsung memeluk Arla yang begitu terkejut. "Jadi, kamu Arla? Orang yang selama ini aku cari?" tanya Satria sambil menangis memeluk Arla yang masih kebingungan.
Dari mana dia tahu yang sebenarnya? Apa jangan-jangan karena ucapanku tadi? Batin Arla.
__ADS_1