Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Mengenang


__ADS_3

"Arla, tolong ambilkan map berwarna biru di lemari atas!" kata Satria saat dia sedang sibuk bekerja menatap komputer di depannya.


Deg!


Jantung Arla berdegup kala Satria kembali memanggil namanya."Namaku Andini," ucap Arla pada Satria yang kini memegang kepalanya sambil tersenyum.


"Oh, iya, maaf, aku selalu saja salah menyebut namamu," ucap Satria, Arla memandang wajah tampan lelaki yang masih berstatus suaminya itu sambil tersenyum.


Tidak ada tawa canda yang dia lihat pada diri Satria. Sikapnya yang tengil seolah menghilang di telan bumi. Satria menoleh ke arah Arla yang terpaku memandangnya.


"Kenapa?" tanya Satria lembut.


"Eu..., ti-tidak, map yang tadi di mana ya?" buru-buru Arla mencari map berwarna biru ke sembarang tempat.


Melihat tingkah Arla yang celingukan mencari map tak karuan, Satria tersenyum. Dia menyudahi pekerjaannya, lalu menghampiri Arla.


"Mapnya ada di lemari atas Andini," ucap Satria pada Arla yang masih membungkuk mencari map di laci.


"Oh, hehe, maaf tadi aku kurang fokus," Arla menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tidak apa-apa, mungkin kamu belum terbiasa bekerja denganku, aku hanya menjadikanmu asisten untuk sementara waktu saja. Setelah ada pengganti, aku...,"


"Tidak usah mencari asisten lain, aku mau bekerja setiap hari, lagi pula untuk apa hanya berdiam diri di rumah tidak ada kerjaan," kata Arla.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, gratis ya hehe...," goda Satria yang membuat Arla tersenyum lagi.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini," jawab Arla membaclas godaan Satria.


"O, ya, nanti malam akan ada acara pesta perayaan ulang tahun Khalisa di rumah, setelah pulang bekerja kita belanja dulu untuk membeli perlengkapanmu, nanti aku yang akan mengantarmu berbelanja." Kata Satria yang begitu menyayangi Arla sebagai adiknya karena wanita itu sudah rela berkorban mempertaruhkan nyawanya demi sang ibu.


"Iya," jawab Arla dengan wajahnya yang sendu.


Beberapa hari lalu adalah hari ulang tahunnya. Tapi, tidak ada satupun orang yang tahu. Tidak ada perayaan seperti sebelumnya. Apalagi kini keluarganya pun tidak ada yang menghubungi Arla lagi karena Handphonenya sudah hilang saat kecelakaan itu terjadi.


********


Sore hari Satria mengendarai mobil bersama Arla yang kini duduk di sampingnya. Sesekali Arla mencuri pandang pada Satria yang begitu fokus menyetir.


"Kenapa melihatku terus? Baru sadar ya, kalau Kakakmu ini tampan?" tanya Satria yang kini menoleh sambil tersenyum pada Arla yang salah tingkah di buatnya.


"Tapi apa? Jangan sungkan Andini, sekarang kita sudah menjadi keluarga, aku Kakakmu dan Kau adikku, anggap saja aku Kakak kandungmu, agar kamu tidak sungkan saat berbicara," jelas Satria.


"Siapa Arla?" tanya Arla pada Satria yang mendadak menghentikan mobilnya.


Ckieett!!!


Terlihat Satria yang begitu terkejut, dia menoleh ke arah Arla. Sebelumnya kepalanya menunduk seolah ada hal yang begitu berat yang harus dia katakan.

__ADS_1


"Dia temanku, sudah lama dia hilang tanpa kabar, entah dimana keberadaannya sekarang," mata Satria berembun, laki-laki itu tersenyum menyeka air mata yang sempat jatuh.


Melihat kesedihan Satria, Arla juga turut merasakannya. Dia yang selama ini Satria rindukan, dia yang selama ini Satria pikirkan. Mereka hidup berdampingan setiap hari namun tak bisa saling menggapai satu sama lain.


Tak terasa air mata berjatuhan di pipinya. Hingga tangisan kepedihan juga isak tangis tak terbendung lagi. Arla menangis tersedu-sedu membuat Satria mendekat.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Satria memmegang bahu Arla.


Karena rindu yang begitu mendalam juga rasa sakit di hatinya yang mungkin tak akan bisa di sembuhkan, tanpa sadar Arla jatuh ke dalam pelukkan Satria.


"Maafkan aku, maafkan aku yang harus berpura-pura menghilang, maafkan aku karena sudah membuatmu bersedih Satria," ucap Arla dalam hatinya.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Satria lagi.


"Maaf, aku reflek langsung meluk kamu, maaf," Arla melepas pelukkannya sambil menghapus air mata.


"Apa yang terjadi? Apa kamu merindukan keluargamu?" tanya Satria lagi.


Mendengar hal itu Arla menggeleng. "Tidak, aku hanya ingat dengan seseorang yang aku rindukan, sama hal nya seperti kamu, aku merindukan seseorang yang tidak bisa aku gapai, dia adalah seseorang yang hebat, dia adalah seseorang yang luar biasa. Tapi, aku tidak akan pernah bisa menggapainya meski kami selalu bertemu," jawab Arla sambil memandang Satria dengan lekat dan dalam.


Ingin sekali dia mengaku jika dia adalah Arla, orang yang selama ini Satria cari. Orang yang masih bestatus sebagai istrinya. Bahkan dia sudah kehilangan calon bayi mereka. Ingin sekali semua rasa sakit itu dia curahkan saat itu juga.


Tapi, lagi-lagi bibir Arla begitu berat mengungkapkannya. Semua demi kebaikan mereka bersama, dia ingat betul bagaimana ucapan Diana waktu itu yang sudah membuat perjanjian dengannya untuk tidak pernah mengungkap semuanya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, aku yakin suatu saat kamu pasti akan bisa hidup bersama orang yang kamu sayangi yang kamu maksud tak akan pernah bisa kamu gapai, tidak ada yang tidak mungkin Andini, semua hanya masalah waktu saja, jadi, jangan pernah menangis lagi," Satria menghapus air mata yang masih membasahi pipi Arla.


"Andai saja kamu tahu Satria, andai saja semua ini tidak rumit, mungkin kita akan selalu bersama," Arla membatin.


__ADS_2