
"Aku baru ingat ingin membicarakan sesuatu dengan kamu, biarkan Bi Narti yang mengerjakan pekerjaan itu, kamu ikut aku, ada yang harus aku bicarakan hari ini," kata Satria.
"Baiklah, maaf ya bi, aku tidak melanjutkan pekerjaanku," ucap Arla pada Narti yang mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Non, tugas ini seharusnya memang di kerjakan oleh bibi," jawab Narti.
"Kalau begitu aku permisi dulu bi," Arla berjalan mengikuti Satria menuju ruang tamu.
Saat berjalan dia melihat ke arah cermin lemari kaca yang baru saja di lewati. Air mata Arla tiba-tiba berjatuhan saat dia melihat wajahnya sendiri.
"Pantas saja kamu tidak mengenaliku Satria, sebenarnya aku sangat rindu padamu," ucap Arla dalam hati.
Segera dia menghapus air mata agar Satria tak mengetahuinya kalau baru saja Arla sudah menangis.
"Duduk Arla!"
Deg!
Jantung Arla berdetak saat Satria memanggil namanya secara jelas.
"Hah? Apa Satria sudah mengenaliku?" batin Arla dengan wajahnya yang bengong.
"Maaf, maksudku, Andini, duduklah Andini," kata Satria yang memegang kepalanya karena dia salah menyebut nama Arla. Istri keduanya itu memang selalu saja bermain dalam ingatannya.
Setelah Arla duduk Satria memulai ucapannya. Dia meminta Arla menjadi asisten pribadinya untuk sementara waktu karena Andi baru saja mengadakan lowongan pekerjaan dan mulai akan menyeleksi hari ini.
Banyak sekali pekerjaan yang harus di kerjakan Satria seorang diri. Dia butuh seorang asisten pribadi selain Andi, karena Andi akan segera resign besok.
__ADS_1
Karena dia sangat percaya ke pada Arla yang baru beberapa minggu tinggal di rumahnya, tidak ada salahnya Satria mencoba menjadikan adik angkatnya itu sebagai asisten pribadinya.
Dengan senang hati Arla menerima tawaran Satria untuk menjadi asisten pribadi orang yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
******
Sebelum pergi bekerja Arla memandang wajahnya di cermin. Wajahnya sungguh jauh berbeda dari sebelum dia kecelakaan. Wajah Arla tetap cantik sekali, namun itu bukan wajah aslinya.
"Kau tidak akan pernah mengenaliku Satria, aku kini sudah berubah, wajahku sudah berubah tapi tidak dengan perasaanku padamu, aku masih sangat menyayangimu, aku harap suatu saar nanti kau bisa mengingatku," ucap Arla sambil memandang ke cermin dengan air mata yang kini berjatuhan di pipinya.
Diana sengaja menyuruh dokter bedah plastik untuk mengubah wajah Arla ketika dia di bawa ke rumah sakit bersamaan Arla yang baru saja mengalami kecelakaan. Saat Herman tengah pergi keluar ruangan untuk menelpon, Diana buru-buru pergi ke ruangan tempat Arla akan di tangani.
Dia menyuap beberapa dokter agar mau merubah wajah Arla melalui bedah oprasi plastik. Dokter itu setuju, dengan tawaran yang sangat menggiurkan membuatnya setuju untuk bersekongkol merencanakan kejahatan bersama Diana tanpa di ketahui oleh siapapun.
Mereka juga membuat perjanjian pribadi tentang rencana jahat mereka. Siapa sangka, ternyata dokter yang merencanakan kejahatan dengan Diana itu salah satunya adalah Frans.
"Ayok berangkat!" Satria membukakan pintu mobil untuk Arla membuat Arla salah tingkah karena merasa tidak pantas.
"Terimakasih Satria, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot segala membukakan pintu untukku," ucap Arla menoleh ke arah Satria yang tersenyum.
"Papah sudah berpesan padaku, agar aku memperlakukanmu seperti seorang ratu, bukankah kita sekarang sudah menjadi saudara? Wajar saja jika seorang Kakak memperlakukan adiknya seperti seorang ratu kan?" Satria tersnyum membuat Arla juga tersenyum senang melihatnya.
Baru kali ini lagi dia melihat Satria tersenyum kembali setelah sekian lama melihat laki-laki tampan itu hanya murung saja.
Keduanya memasuki mobil, tanpa mereka sadari sepasang mata kini tengah mengintai dari balik kaca jendela kamar. Ya, Khalisa memandang mereka dengan tatapan permusuhan, dia yang mengintip kedekatan Satria bersama Arla dari jendela kamar mulai terbakar api cemburu.
"Kurang ajar! Sialan tuh pembantu ganjen! Si Arla hilang, malah ada wanita ganjen baru yang menggoda Satria, awas saja kau Andin, aku tidak akan tinggal diam membiarkanmu dekat dengan suamiku!" ujar Khalisa.
__ADS_1
Khalisa mengambil Handphonenya yang terletak di atas nakas. Dia segera menghubungi seseorang untuk di minta bantuan.
"Hallo, kita bertemu di kaffe biasa sekarang!" kata Khalisa lalu menutup telpon sebelum orang yang di panggilnya melalui panggilan telpon itu menjawab.
******
Sekarang Khalisa sudah berada di sebuah kaffe tempat biasa dia bertemu dengan Andi. Mereka duduk bersebrangan sambil saling memandang.
"Bagaimana ini? Aku sudah menuruti semua keinginanmu memberikan semua berkas milik kedua orang tuaku mengatas namakan namamu, semuanya sudah atas nama kamu Andi, tapi kenapa kau masih saja tidak becus merencanakan sesuatu agar bayi kita ini segera di akui oleh Satria!" cecar Khalisa pada Andi yang memandangnya dengan tatapan biasa saja.
Andi tersenyum, dia bangga karena Khalisa sudah menurut padanya. Dia sudah berhasil menipu Khalisa agar memberikan semua berkas penting milik kedua orang tuanya dan mengatasnamakan semua aset itu menjadi atas nama dirinya.
"Apa sekarang kau lebih mementingkan Satria dari pada harta?" tanya Andi pada Khalisa yang seketika terkejut.
"Astaga! Andi benar-benar menyadarinya! Bagaimana ini?" Khalisa berbicara dalam hatinya dengan perasaan gugup.
"Eu-eu..., apa maksudmu Andi? Bukannya aku lebih mementingkan laki-laki itu, aku sudah pernah bilang padamu, kita akan dapat untung banyak jika aku sudah berhasil menaklukan Satria, bukannya kau sendiri yang memberiku ide gila ini?" jawab Khalisa tak mau jika dia di curigai oleh Andi.
"Sepertinya percuma saja kita terus saja bekerja sama tapi tidak pernah membuahkan hasil apapun! Semuanya selalu saja gagal, di mulai dari mencari keberadaan Arla sampai wanita itu sekarang benar-benar hilang, tidak ada rencana kita yang berhasil, besok aku akan resign dari kantor Satria, aku akan mengurus bisnis keluargaku!" jawab Andi yang membuat Khalisa tercengang.
"Apa kau bilang? Akan mengurus bisnis keluarga? Enak saja! Kau pikir kau bisa lari begitu saja dariku Andi, setelah mendapatkan segalanya, kau malah ingin pergi meninggalkanku, bagaimana dengan rencana kita selama ini? Dan bagaimana dengan bayi yang berada dalam kandunganku? Kau pikir dia tidak membutuhkan ayahnya?" Khalisa marah besar pada Andi, dia sempat menggebrak meja sebelum mengatakannya. Kini dia sadar jika Andi tengah menipunya.
"Hahaha...bukankah kau sendiri ingin sekali jika bayi itu hanya di akui oleh Satria meskipun bayi itu milikku? Sekarang pikirkan saja sendiri agar bayi itu bisa di akui oleh suami gelapmu itu! Mulai hari ini, tidak ada hubungan lagi di antara kita, dan jangan pernah menghubungku lagi, mengerti!" Andi bangkit setelah mengucapkan hal itu, dia hendak melangkah tapi Khalisa segera mencegahnya.
"Dasar bajingan kau Andi! Apa kau pikir dengan kau melakukan semua ini padaku kau akan hidup tenang hah?!" Khalisa menarik jas hitam yang di kenakan Andi membuat emosi laki-laki itu meningkat.
"Lepaskan bajuku! Tangan kotormu itu tidak pantas menyentuhku lagi! Aku sudah bilang barusan, tidak ada lagi hubungan di antara kita, apa kau ini bodoh? Apa sekarang kau tuli karena terlalu mencintai Satria?"
__ADS_1
Air mata Khalisa berjatuhan dengan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya. Bukannya Andi menolongnya yang kini sedang membutuhkan bantuan karena perutnya kini sudah terlihat membuncit. Laki-laki itu malah lari dari tanggung jawab setelah mendapatkan segalanya.