
Satria kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Tapi, beberapa menit kemudian dia merasa tubuhnya terasa panas. Satria melonggarkan dasinya, lalu membuka kancing baju nya karena tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas.
"Ada apa? Apa AC-nya kurang dingin?" tanya Khalisa berpura-pura tidak tahu.
"Tidak, aku hanya gerah saja!" jawab Satria sambil sesekali mengibaskan tangannya.
Tiba-tiba saja hasratnya semakin bergejolak. Ada perasaan yang tidak bisa dia tahan saat itu juga, Satria menyudahi pekerjaannya lalu membuka seluruh kancing bajunya.
"Apa yang kau masukkan ke dalam minumanku?" tanya Satria yang sudah bisa menebak Khalisa memasukkan obat per*ngsang pada minumannya.
"Hah? Apa maksudmu Satria? Kenapa tiba-tiba saja menuduhku memasukkan sesuatu ke dalam minumanmu? minuman itu bukan aku yang buat, aku menyuruh office girl untuk membuat minuman itu!" jawab Khalisa berpura-pura marah agar aksinya tak terlihat.
"Panas! Rasanya panas sekali!" Satria mengibaskan sebuah buku pada tubuhnya yang terlihat sispek membuat Khalisa semakin tergiur saja dengan pemandangan indah di depan matanya.
Mengetahui obatnya sudah bereaksi, Khalisa segera menghampiri suaminya. Tanpa malu lagi Khalisa segera duduk di kedua paha menghadapa ke arah Satria yang wajahnya merah menahan gejolak h*rat dalam dirinya.
Laki-laki manapun akan terpancing jika dalam keadaan seperti itu, si perempuan malah mengulurkan diri untuk bisa dinikmati. Perlahan Khalisa menyentuh dada bidang Satria yang bahkan dia sendiri baru pertama kali menyentuhnya.
Satria sendiri malah diam saja mendapat sentuhan yang membuatnya semakin berg*irah. Baru saja Khalisa akan mengecup bibir suaminya. Sebuah ketukkan dari pintu membuatnya urung.
__ADS_1
Tapi Khalisa enggan turun dari pangkuan Satria, dia malah membuka kancing kemejanya membuat belahan d@d@nya terekpos di hadapan Satria."Turunlah Khalisa, ada seseorang yang akan datang kesini!" suruh Satria.
"Tidak mau! Lagi pula kita juga sudah sah menjadi suami istri, kenapa harus malu? Apalagi jika itu hanya karyawan biasa, mereka itu bawahan kita, jadi tidak perlu malu untuk melakukan apapun sesuka kita!" jawab Khalisa yang membuat Satria terpaksa menyuruh seseorang itu untuk masuk.
"Masuk!" kata Satria.
Deg!
Seorang wanita berambut panjang berwajah cantik yang baru saja membuka pintu itu tak lain adalah Arla.
Satria terkejut, melihat Arla yang kini terpaku memandang ke arah mereka. Berbeda halnya dengan Khalisa yang malah sengaja memeluk suaminya agar Arla semakin cemburu di buatnya.
Satria merasa tak enak hati melihatnya, dia segera menyingkirkan Khalisa dari pangkuannya, lalu mengancingkan baju sambil berjalan menuju lift yang berjalan hendak tertutup. Terlihat Arla yang tengah berdiri di dalamnya sambil mengusap air mata yang baru saja menetes.
Terlambat, Satria mengejar Arla yang kini tengah menangis meratapi nasibnya menjadi istri kedua dengan ststusnya yang di sembunyikan. Padahal Arla saat ini tengah mengandung, perasaan orang hamil akan lebih sensitif jika terkena masalah.
Pintu lift terbuka membuat Arla segera berjalan cepat keluar dari kantor perusahaan yang pernah menjadi tempat dia bekerja. Dia sama sekali tak menydari seseorang yang kini tengah memandangnya dari kejauhan.
Bahkan laki-laki itu terus saja mengikuti langkah kemanapun Arla pergi. Saat tiba di sebuah taman barulah dia menarik tangan Arla.
__ADS_1
"Tunggu!" ujarnya sambil menarik tangan Arla.
Arla tersentak kaget dengan tubuhnya menghadap pada laki-laki itu.
"Aku akan memberitahumu sesuatu, tapi kau harus menurut padaku, aku harap kau bisa menjauhi keluarga Satria. Kau tidak akan bisa bahagia hidup bersamanya, percayalah Arla, saat ini nyawamu sedang terancam, apalagi saat ini kau sedang hamil kan?" Andi tiba-tiba saja memberitahu sebuah hal yang membuat Arla kembali gelisah.
"Apa maksudmu saat ini nyawaku sedang terancam?" tanya Arla.
"Aku hanya memberitahumu saja, terserah kau ingin percaya atau tidak, aku sarankan lebih baik kau pergi saja dari kehidupan Satria, bukan hanya nyawamu yang terancam, tapi nyawa bayimu juga Arla!" Andi pergi setelahnya membuat Arla termenung kembali dengan ucapannya barusan.
Tiba-tiba tubuhnya tidak seimbang karena syok. Arla berpegangan ke pada bangku taman agar dia tidak terjatuh. "Masalah apalagi ini?" ucapnya sambil kembali meneteskan air mata.
**********
Satria tak berhasil mengejar Arla, dia kehilangan jejak Arla karena lift lambat untuk terbuka kembali. Beberapa kali dia menelpon bahkan mengirim pesan pada Arla, tapi wanita cantik itu tak kunjung membalasnya.
Karena khawatir Satria segera melakukan mobilnya menuju rumah yang baru saja di tempati oleh Arla. Perasaannya benar-benar kacau karena kini dia merasa Arla sudah sakit hati karena sudah melihat kemesraannya bersama Khalisa.
"Arla!" Panggil Satria tapi tak ada jawaban apapun dari istri keduanya itu.
__ADS_1
Satria mencari Arla ke setiap sudut ruangan di rumah. Namun Arla tetap tak di temukan, kemana perginya gadis itu?