Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Aku Yang Akan Menikahimu


__ADS_3

Satria mengobrol lama dengan Frans. Sedangkan Arla sudah berkali-kali mondar-mandir ke toilet mengeluarkan banyak sekali cairan karena dia belum makan pagi ini.


Sampai pada akhirnya Arla pingsan di kamar mandi yang terbuka. Saat Frans berniat akan mengambil makanan, dia melihat Arla yang tengah pingsan, lalu membawa wanita itu menuju kamarnya di susul Satria yang merasa khawatir.


Frans mengambil alat Dokternya, lalu dia memeriksa keadaan Arla. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui ada sebuah janin yang kini tengah di kandung Arla. Frans sungguh tak percaya, rasanya hatinya hancur saat mengetahui hal itu.


Apa mungkin wanita ini sudah berkeluarga? batinnya.


"Gimana keadaan dia Frans?" tanya Satria.


"Dia cuma kecapekan saja, sepertinya dia masuk angin biasa saja," jawab Frans berbohong. Dia takut Arla tengah menyembunyikan kehamilannya dari keluarga Satria, makannya dia mencoba membantu Arla dengan cara berbohong.


"Syukurlah kalau cuma masuk angin," kata Satria.


Frans mengangguk, dia memandang wajah Arla yang pucat serta tubuhnya yang kurus karena mungkin kekurangan banyak vitamin apalagi janin yang sedang di kandungnya.


"Belikan dia buah-buahan yang segar, jangan sampai dia kecapekan lagi, suruh istrimu cari pembantu lebih banyak, jangan hanya mempekerjakan satu orang pembantu dengan kondisi seperti ini," kata Frans, lalu dia pergi.


Satria lagi-lagi merasa heran dengan sikap sahabatnya yang begitu peduli dan perhatian. Tapi, dia menganggap itu biasa saja karena Frans adalah seorang Dokter, pastinya dia akan perhatian ke pada semua pasiennya.


Satria memandang sendu pada mantan kekasihnya, dia pergi karena tak ingin Frans beranggapan buruk juga padanya berlama-lama di kamar pembantu.


******


"Kita harus merencanakan sesuatu sama si pembantu sialan itu Andi!" kata Khalisa yang kini berada di ruangannya bersama dengan Andi.


"Apa rencana yang akan kamu lakukan pada Arla?" tanya Andi pada Khalisa yang terkejut mendengar nama Arla di sebut.


"Apa kau bilang? Arla? Maksudmu pembantu di rumah kami?" tanya Khalisa.


"Iya, namanya Arla kan? Dia juga pernah bekerja di kantor ini sebelum pada akhirnya Satria memecatnya tanpa alasan yang pasti, kenapa kau terkejut Khalisa?" tanya Andi seperti sudah akrab dengan atasannya.


"Kurang ajar! Ternyata Satria sudah berbohong padaku selama ini! Ternyata Juminten itu adalah Arla mantannya!" kata Khalisa sambil meremas kertas di tangannya.


"Apa?! Arla mantan Satria?!" Andi tak kalah terkejut dengan Khalisa.


"Iya, aku yang memintanya untuk memPHK wanita sialan itu agar dia tidak mengganggu, tapi dia malah mempekerjakan mantannya itu di rumah kami, sungguh hebat aktingmu kali ini Satria, tapi aku tidak akan tinggal diam!" Khalisa menggebrak meja membuat Andi juga terkejut.

__ADS_1


"Kenapa harus repot-repot mengurus kehidupan laki-laki bodoh itu? Bukankah yang kalian mau hanya harta dari Satria saja hah?!" tanya Andi.


Khalisa baru saja tersadar dengan misi keluarganya selama ini. Keluarganya memang orang kaya dan terpandang, tapi semua harta serta kekuasaan itu bukanlah milik ayahnya yang sesungguhnya. Melainkan milik orang lain yang di atas namakan kedua orang tua Khalisa.


Sejak Khalisa berusia sepuluh tahun, orang tuanya bekerja di perusahaan yang kini menjadi milik mereka. Mereka berhianat dengan cara menjebak pemilik perusahaan agar menjatuhkan semua warisannya ke pada kedua orang tua Khalisa.


Lalu mereka merencanakan pembunuhan ke pada pemilik perusahaan beserta seluruh putranya agar harta itu menjadi hak milik keluarga mereka.


Tapi, masih ada satu orang anak yang berhasil lolos dari rencana jahat itu. Anak itu adalah hal yang paling di takutkan oleh keluarga Khalisa jika tiba-tiba saja dia muncul lalu membongkar semuanya membuat bisnis haram yang selama ini mereka jalankan sirna begitu saja.


"Aku tidak ingin Satria jatuh cinta sama wanita itu, lalu menikahinya, meninggalkanku dan kita tidak akan dapat apa-apa Andi!" kata Khalisa.


"Benar juga, jadi, apa rencanamu selanjutnya agar wanita itu tak merebut Satria darimu?"


"Biar nanti aku pikirkan saja rencananya, pergilah bekerja, aku sedang badmood hari ini!" Khalisa duduk di kursi kebanggaannya dengan wajah cemberut.


Andi mendekatinya lalu memeluknya dengan lembut. "Jangan marah sayang, tenangkan pikiranmu agar kita bisa menyingkirkan wanita sialan itu bersama!" ucap Andi pada Khalisa yang kini tersenyum manis.


"Terimakasih Andi, kau memang selalu bisa menghiburku," ucap Khalisa sambil mencium pipi Andi.


Khalisa hanya berpura baik saja di hadapan Andi agar dia bisa memanfaatkan kekasih gelapnya itu.


**********


Saat Satria sedang pergi untuk membeli buah-buahan. Frans sengaja datang ke kamar Arla membuat wanita cantik itu menjerit ketakutan.


"Pergi kamu dari sini! Kenapa pintunya di kunci?!" teriak Arla yang langsung mulutnya di bekam oleh Frans.


"Diam! Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu," kata Frans yang kini duduk di ranjang yang sama dengan Arla.


"Apa kau sudah punya suami?" tanya Frans pada Arla yang menggeleng ketakutan.


Arla menangis dengan perasaan ketakutan yang amat sangat, karena dia berpikir buruk tentang Frans yang kini tengah membekam mulutnya. Dia berpikir Frans akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Satria padanya.


"Lalu, siapa yang sudah menghamilimu?" tanya Frans penasaran.


Arla menggeleng cepat tak ingin menjawab. Karena merasa tak tega, Frans melepaskan tangannya dari mulut Arla.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku yang akan menikahimu!" ucap Frans pada Arla yang membuka matanya lebar.


"Apa?!"


"Kenapa? Bukankah jika kau terus saja seperti ini lambat laun semua orang yang ada di sini akan mengetahuinya. Jadi, biarkan aku yang akan menikahimu mumpung kehamilanmu masih berusia dua minggu lebih, dengan begitu tidak akan ada orang yang curiga terhadap kehamilanmu!" usul Frans serius sekali.


"Tapi...,"


Frans segera membekam mulut Arla membuat Arla bersuara seakan tengah melakukan persetubuhan dengan Frans. Dia sengaja melakukannya, bahkan mencium Arla setelah melepas tangannya karena suara Satria sudah terdengar dari luar.


"Frans!" panggil Satria.


Frans melepas ciumannya lalu membuka bajunya, mengacak rambutnya sendiri agar Satria mengira jika dia sudah berbuat sesuatu pada Arla.


Dia juga merobek baju Arla agar terlihat seperti sungguhan mereka melakukannya.


"Jangan!" teriak Arla sambil menangis saat Frans merobek roknya.


"Maaf, aku rasa begini cara agar kau terhindar dari masalah!" kata Frans.


Satria menoleh ke arah pintu kamar Arla. Dia berjalan cepat, dengan cemas hendak mengetuk pintu, tapi pintu sudah terbuka oleh Frans yang kini sedang merapikan bajunya.


"Apa yang udah lo lakukan Frans?!" tanya Satria dengan mata nya yang seolah berapi-api.


"Seperti yang lo lihat, seorang laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, tidak mungkin main petak umpat kan?" jawab Frans.


"Brengsek lo!" Satria menghajar Frans habis-habisan di depan Arla yang hanya menangis melihatnya.


Dia juga tengah merasa syok dengan sikap buruk Frans tadi. Arla tidak menyangka jika Frans akan setega itu padanya, membuat fitnah seolah mereka sudah melakukan sesuatu.


"Aaaaa!!"


"Stop-stooop!! Ada apa ini?! Kenapa kalian berkelahi?!" Yulia menjerit saat melihat menantunya tengah menghajar Frans tanpa ampun.


"Satria! Sudah!" Khalisa segera memeluk suaminya dari belakang agar membuatnya berhenti menghajar Frans.


"Apa yang sebenarnya terjadi hah?! Kenapa kalian seperti ini?!" tanya Khalisa.

__ADS_1


__ADS_2