
Mendengar ucapan Frans membuat Arla mengerti dengan keadaannya selama ini. setelah mereka nerbincang cukup lama Frans meminta Arla untuk pergi.
"Pergilah, aku tidak akan mengganggumu lagi Arla," ucapnya tanpa menoleh.
Arla menurut, dia berjalan perlahan menghampiri Satria dan beberapa anggota kepolisian segera mendekat membawa Frans. Arla memeluk suaminya dengan penuh haru.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Satria.
"Tidak Satria, aku baik-baik saja," ucap Arla.
Mereka lalu menaiki mobil untuk segera pulang dan beristirahat. Tak lupa Satria berterimakasih kepada Andi karena sudah membantunya.
Setibanya di rumah, Satria sengaja menggenggam tangan Arla di depan semua orang membuat mereka tercengang.
"Satria, kenapa kalian berpegangan tangan?" tanya Diana.
"Memangnya kenapa Mah, dia juga istriku," jawab Satria membuat ibunya melotot.
"Apa maksudmu Satria, Papah tidak mengerti maksud kamu?" Andri bangkit setelah membaca sebuah koran di atas meja.
"Baiklah, sekarang Satria akan menjelaskan semuanya. Jadi, Satria dan Arla sudah menikah waktu itu tanpa sepengetahuan siapapun. Satria minta maaf Mah, Pah, Satria tidak memberitahu kalian karena tidak memungkinkan untuk memberitahu kalian tentang pernikahan ini," jelas Satria.
"Mamah tidak setuju dengan hubungan kamu sama pembantu ini, Mamah minta, kamu ceraikan dia sekarang juga!" bentak Diana.
"Maaf Mah, Satria tidak akan melakukan itu, Satria mencintai Arla dan akan tetap hidup bersamanya, Satria akan menceraikan Khalisa!"
"Astaga! Kenapa begitu Satria, kenapa jadi seperti ini, apa alasannya kamu ingin menceraikan Khalisa?" tanya Andri.
"Papah bisa tanya sendiri kepada Andi dan Khalisa, apa yang sudah mereka perbuat sebelum bahkan sesudah pernikahan aku dan Khalisa," Satria hendak melangkah, tapi kembali membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"O, ya Mah, tindakan merubah wajah orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya dan juga tanpa iba mengancamnya juga akan terkena pidana!" jelas Satria lagi pada ibunya.
Diana semakin membulatkan matanya. Dia tidak menyangka, putranya akan secepat itu mengetahui semua rahasia yang selama ini dia lakukan.
"Apa lagi ini?" Andri semakin bingung dengan keadaan di rumahnya yang me dadak kacau.
"Papah bisa langsung tanyakan saja pada Mamah, Satria akan membereskan semua pakaian dan pergi dari sini!" Satria pergi bersamaan Arla yang tak pernah dia lepas menuju kamar.
"Apa yang sudah Mamah perbuat hah?!" bentak Andri pada istrinya yang ketakutan.
"Mamah...mamah...tidak berbuat apapun Pah, mungkin dia salah paham saja,"
"Awas saja kalau Papah menemukan fakta tentang ucapan anak kita, Papah tidak akan segan melaporkanmu ke polisi!" ancam Andri.
"Jangan Pah, Mamah mohon jangan, percayalah ini hanya kesalah pahaman saja," Diana memegang tangan suaminya yang kemudian di tepis lalu Andri pergi meninggalkannya.
"Lepas! Papah mau pergi dulu!"
Satria dan Arla kini tinggal di sebuah Appartemen. Mereka tidak ingin ada yang mengganggu kebahagiaan mereka kali ini.
Beberapa minggu tinggal di Appartemen, Satria dan Arla hidup bahagia layaknya pasangan baru. Mereka terlihat begitu romantis menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan.
Di sisi lain Khalisa sudah pergi dari rumah kediaman orang tua Satria. Dia sadar diri. Dia mencari Andi karena Satria sudah menceraikannya dan sidang perceraian sudah berakhir. Khalisa tidak ingin anaknya hidup tanpa sosok seorang Ayah.
Mereka bertemu kembali tapi bukan sebagai pasangan. Andi memang mau bertanggung jawab atas putranya. Tapi, dia tidak bersedia menikahi Khalisa.
Sedangkan Diana kini sudah menekam di penjara karena ulahnya. Suaminya sendiri yang sudah melaporkan dia ke pihak berwajib. Andri mencari tahu sendiri kebenaran yang di ucapkan putranya. Sungguh kecewa dia mengetahui sebuah fakta mengejutkan yang dilakukan istrinya.
Karena itu dia tidak ingin berlama lagi melaporkan istrinya ke polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
__ADS_1
Kembali pada kehidupan Satria dan Arla yang kini tengah duduk di balkon. Mereka berbincang sambil menikmati secangkir teh hangat di pagi hari. Tiba-tiba saja Arla berlari menuju kamar mandi.
"Ada apa sayang?" Satria menyusul berlari mengejar istrinya.
Arla muntah-muntah di wastafel kamar mandi. "Sepertinya kamu hamil sayang," ucap Satria.
"Iya, mungkin aku hamil, aku sudah telat datang bulan selama tiga minggu," ucap Arla.
"Horeee...!!" Satria memeluk lalu menganggkat tubuh istrinya.
"Tunggu dulu, aku belum mengeceknya," kata Arla.
"Kalau begitu kita ke dokter sekarang,"
"Tidak perlu ke dokter, aku punya alatnya," Arla pergi ke kamar untuk mengambil alat tes kehamilan.
"Kamu keluar dulu,"
"Iya sayang,"
Satria menutup pintu untuk istrinya dengan tidak sabar terus saja bertanya. "Sudah?" tanyanya.
"Belum muncul,"
Beberapa saat kemudian Arla keluar dengan wajah sumringah. Dia lamgsung memeluk Satria sambil menunjukkan hasil tes pack yang terdapat garis dua di dalamnya.
"Aku hamil Satria!" serunya sambil terus memeluk suaminya.
"Horee...sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Syukurlah kalau kamu hamil sayang, jaga janin ini dengan baik ya," ucapnya sambil mengecup kening sang istri lalu memeluknya tak hentinya.
__ADS_1
Kehidupan mereka kini di penuhi dengan kebahagiaan. Tanpa adanya gangguan orang-orang jahat yang selalu mengusik dan juga berniat akan menjatuhkan.
Tamat