
"Lebih baik kamu telpon dia sekarang, atau kalau ingin lebih jelas lagi sebaiknya kalian berdua bertemu dan bicara secara langsung saja," usul Arla.
"Iya, sepertinya akan lebih baik jika membicarakannya secara langsung, agar tidak ada kesalah pahaman lagi, agar semuanya jelas juga," balas Satria menerima usulan itu.
"Kalau begitu, aku permisi Pak," ucap Sekertaris baru sambil pergi.
"Iya," jawab Satria.
"Ayok kita pergi sekarang Arla, kita harus segera membicarakannya bersama Andi sebelum laki-laki itu melarikan diri,"
"Iya, memang lebih baik seperti itu,"
Mereka keluar dari ruangan, sebelum meninggalkan kantor, Satria memberi pekerjaan ke pada seorang laki-laki paruh baya yang menjadi kepercayaannya juga.
Dia segera pergi bersama Arla mengendarai mobilnya sendiri setelah urusannya di kantor selesai.
"Tenangkan pikiranmu Satria, jangan terlalu terburu-buru, mungkin saja ini adalah kesalah pahaman saja," ucap Arla yang melihat Satria begitu kencang melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Dia merendahkan kecepatan mobilnya, menuruti istrinya. Lalu mengambil tangan Arla untuk kemudian menciumnya.
"Terimakasih honey, kau memang selalu membuat hatiku tenang," ucap Satria.
"Jangan panggil aku honey, aku tak enak mendngarnya," pinta Arla sedikit manja.
"Hahaha..., memangnya kenapa? Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"
"Apa saja, yang terpenting jangan itu,"
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyebutmu Sweety saja, seperti sebutanmu ke pada boneka bebek kecil yang selalu berdiam diri di atas nakas," goda Satria lagi sambil terkekeh jahil.
Tawa terdengar dari keduanya, benar-benar sebuah hubungan yang manis. Meskipun begitu, mereka tidak akan tahu sampai kapan hubungan itu akan tetap terjaga, karena di luar sana begitu banyak godaan dan cobaan datang menerpa.
Ckieet!
Mobil Satria berhenti di depan rumah Andi. Dia segera keluar dari mobil bersamaan Arla yang mendampinginya.
__ADS_1
Satria memencet bel di pintu gerbang. Seorang satpam datang menghampirinya.
"Iya, ada keperluan apa Tuan? Ingin bertemu siapa?" tanya Satpam itu.
"Aku ingin bertemu dengan Andi, katakan saja aku Satria ingin bertemu dengannya." Jawab Satria.
"Baik, saya akan bicarakan ini terlebih dahulu dengan Tuan Andi, tunggu sebentar," kata Satpam itu lagi.
Arla dan Satria menunggu di depan gerbang. Beberapa saat kemudian Andi datang menyuruh Satpamnya membuka gerbang. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju ruang tamu.
"Apa maksud kedatangan anda ke sini Pak?" tanya Andi tak mau basa-basi lagi.
"Maksud kedatangan saya kesini yaitu saya ingin membiacarakan perkara data proyek waktu lalu yang sudah kamu kerjakan, ada kejanggalan dalam data itu, dan Sekertaris baru saya mengatakan kalau itu terjadi sebelum dia bekerja. Apa yang sudah kamu lakukan Andi? Selama ini saya sudah percaya sama kamu, kenapa tiba-tiba kamu menghianati saya seperti ini?!" kata Satria penuh emosi tapi masih bisa mengontrolnya.
Andi yang duduk bersebrangan bersama Arla dan Satria malah tersenyum. Dia terlihat santai sekali dan tak merasa melakukan kecurangan data ataupun mengambil uang dari proyek yang sudah di percayakan padanya.
"Saya tidak melakukan korupsi apapun, dan saya tidak melakukan kecurangan data. Yang sudah melakukan semuanya itu istri anda sendiri Pak," jawab Andi.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kenapa kamu malah menuduh orang lain yang melakukannya, bukankah semuanya sudah saya serahkan sama kamu saja? Khalisa tidak tahu soal ini!"
"Yang benar saja dia tidak tahu, selama ini kami sudah berhubungan sebelum kalian menikah, bahkan semua aset perusahaan yang sedang Bapak kelola itu semua sudah atas nama saya." Balas Andi santai sekali membuat Satria membulatkan matanya.