
"Pak, saya sudah bilang Arla tidak ada di sini!" kata Rianti kesal juga takut jika Satria nekad mendobrak pintu.
"Kalau begitu, buka pintunya sekarang, kalau orang tua kamu sedang istirahat, otomatis mereka akan terganggu dan membuka pintu, tapi kenapa mereka diam saja? Berarti kamu sedang berbohong ke pada saya!" jawab Satria.
Rianti terkejut, dia semakin gugup saja. Satria memang keras kepala, dia memutuskan untuk mendobrak pintu.
"Hentikan Pak, bagaimana kalau pintu saya rusak?" teriak Rianti.
"Aku akan menggantinya!" kata Satria terus saja mendobrak pintu yang kemudian terbuka.
Saat pintu terbuka, tidak ada siapapun di sana. Sebuah kamar berukuran sedang yang terlihat rapih, pandangan Satria sekarang tertuju pada kaca jendela yang terbuka.
"Arla!" teriaknya sambil berlari menuju jendela.
Sayang sekali Arla sudah pergi dari tempat itu melalui jendela kamar. Melihat hal itu Satria merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, dia segera berlari mencari Arla siapa tahu gadis itu masih ada di sekitar sana.
Setelah mencari kesana-kemari Satria tak kunjung membuahkan hasil. Dia menelpon beberapa pesuruhnya untuk segera mencari Arla di daerah dekat dengannya.
"Arrghh! Sial! Kenapa kau harus pergi dariku Arla?!" ujarnya sambil mengacak rambut.
Merasa kecewa juga rasa bersalah selalu saja menghantuinya, membuat Satria kesal terhadap dirinya sendiri yang belum kunjung menemukan Arla. Dia juga merasa kesal pada Arla karena mengetahui mantannya itu kini kembali pergi darinya.
Beberapa jam lalu Satria mencari Arla di kediaman Frans, dia juga sibuk mengerahkan parapesuruhnya untuk mencari keberadaan gadis itu. Setelah mengetahui Arla tak ada di rumah ataupun appartemen Frans, Satria kembali mencari Arla ke rumah Rianti.
Sungguh hari yang sangat melelhkan sekali baginya. Tapi, dia tetap tak ingin menyerah mencari keberadaan Arla karena Satria ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Arla sebelum Frans kembali menemukan mantannya itu.
******
Arla berjalan sendiri di trotoar jalan. Wajahnya pucat juga tubuhnya yang lemas tak mampu membuat kakinya melangkah cepat dan terlalu jauh. Dia duduk di sebuah kursi pinggir jalan untuk seledar melepas penat.
"Awas! Hati-hati sayang!" kata seorang laki-laki yang berjalan sambil menggandeng istrinya yang berbadan dua melewat ke hadapan Arla.
"Hampir saja jatuh, makasih ya Mas," ucap perempuan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, sayang, kamu mau makan apa lagi? Ngidam apa hari ini? Kalau kamu pengen sesuatu nanti Mas belikan buat kamu," tanya lelaki itu.
"Aku pengen di gendong, hehehe...,"
"Apa? Di gendong? Kayak anak kecil aja, hehehe, baiklah, sini Mas gendong!" laki-laki itu menggendong istrinya yang tengah hamil berjalan menuju sebuah restauran sambil tertawa.
Sedangkan Arla memandang mereka dengan tatapan sendu, dia melihat ke arah perutnya yang masih rata. Air mata kembali berjatuhan di pipinya.
"Maafkan Mamah sayang, Mamah akan tetap berjuang untuk kehidupan kita, maaf ya, Mamah belum bisa penuhi keinginanmu makan mangga muda," ucap Arla sambil mengelus perutnya.
Di hapusnya air mata yang sedari tadi tumpah begitu saja. Arla merasa ini bukanlah sepenuhnya salah Satria, dia sendiri juga merasa bersalah atas hidupnya sendiri juga atas cabang bayi yang kini tengah di kandungnya.
Jika saja waktu itu Arla tidak meluapkan emosinya dengan cara mabuk-mabukkan, mungkin saat ini kehidupannya tidak akan menderita seperti sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, dia hanya harus menerima takdir yang sudah terjadi akibat kesalahannya sendiri.
Arla bangkit dari duduknya, dia bersiap kembali untuk berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Drt..drt..
Tiba-tiba saja Handphonennya berdering tanda panggilan masuk. Arla segera mengangkat telpon itu.
"Arla, lo ada dimana sekarang? Pak Satria udah gak ada disini, lebih baik lo datang kesini lagi, gue khawatir sama lo!" kata Rianti yang menelpon Arla.
"Aku...," Arla mengedarkan pandangannya, dia menyapu seluruh tempat yang ada di sana.
Arla tidak tahu pasti dimana dia berada sekarang."Aku gak tahu sekarang ada dimana Rianti,"
"Apa? Lo nyasar la?!" Rianti terdengar panik dan merasa cemas, sesekali dia melirik ke pada seseorang yang kini berada di hadapannya tengah menodongkan sebuah pisau.
"Iya, aku nyasar Rianti, aku gak tahu ini lagi dimana," jawab Arla.
"Arla, coba lo jelaskan apa aja nama toko yang ada di sana, lihat bacaan jalannya, disana pasti ada toko kan?"
"Iya,"
__ADS_1
Arla menjelaskan nama toko yang ada disana dan jalan yang tertera. Sesudahnya panggilan terputus begitu saja.
"Hallo, Rianti? Hallo?!" Arla menjauhkan Handphomenya dari telinga dengan perasaan khawatir karena kini sajabatnya juga terancam karena dirinya.
Arla sudah bisa menebak sendiri jika Rianti kini juga sedang di ancam oleh seseorang. Entah siapa yang sedang mengancamnya. Pikirannya kembali tertuju pada Satria, dia mengira Satria sedang mengancam Rianti sekarang.
"Benar-benar jahat kau Satria!" ujarnya kesal.
********
Satria masih mengemudikan mobilnya walau malam hampir larut. Dia tak hentinya mengedarkan pandangan dari balik kaca mobil, untuk memastikan jika saja Arla sedang berjalan kaki di pinggir jalan.
Hujan yang deras membuat kaca mobil di penuhi dengan percikan air yang suaranya menderu berisik. Satria melihat seorang wanita yang dia anggap mirip dengan Arla tengah berdiri di sebuah pohon sambil menggigil kedinginan.
Buru-buru dia melajukan mobil mendekat ke arah wanita itu. Ternyata benar, itu Arla. Dia berdiri di bawah pohon besar menahan dinginnya air hujan sampai membuat tubuhnya menggigil kedinginan.
Tanpa di ketahui oleh Arla, Satria datang memeluknya dari belakang. Arla menoleh dengan persaannya yang terkejut mendapati pelukkan mendadak dari Satria.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon..., aku akan bertanggung jawab, aku mohon jangan pergi lagi Arla," ucap Satria.
"Satria, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" Arla berontak, berusaha melepas tangan Satria yang memeluk perutnya.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu! Kita akan menikah sekarang!" kata Satria tegas.
"Ma-maksudmu?" tanya Arla tak percaya.
Satria melepas pelukannya, memutar tubuh wanita itu agar berhadapan dengannya."Aku akan menikahimu malam ini!" ucapnya lagi.
Entah perasaan apa yang kini di rasakan oleh Arla, dia tertegun merasa terkejut. Bukankah malam hampir larut? Bagaimana bisa Satria akan menikahinya malam ini juga?
"Ayok, ikut aku!" Satria menggandeng tangan Arla menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh.
"Satria, aku tidak ingin menikah denganmu!" kata Arla tiba-tiba melepas tangannya.
__ADS_1
Satria menoleh."Kenapa kau tidak mau menikah denganku Arla?" tanya Satria.
"Kau pikir mudah menjadi istri kedua? Ingat! Kau sudah punya istri, dan aku tidak mau menjadi perusak rumah tanggamu!" ucap Arla padahal hatinya ingin sekali menerima permintaan Satria.