
"Jangan sentuh wanita kotor itu! Dia hanya ingin memanfaatkanmu saja Frans! Mamih tidak habis pikir denganmu, kenapa kamu malah memilih ingin menikahi wanita murahan seperti ini ketimbang menerima perjodohan dari Mamih?!" Erlita berteriak merasa kecewa terhadap putra ketigannya.
Sedangkan Frans membantu Arla berdiri. Tapi, Erlita kembali menjambak rambut wanita itu.
"Ini semua gara-gara kau ******!" ujarnya tak memberi ampun pada Arla yang meringis kesakitan.
"Cukup Mamih! Kenapa Mamih malah menyiksa wanita tak berdosa ini, dan darimana Mamih tahu kalau Frans akan menikahinya?" tanya Frans sambil memegang tangan ibunya yang akan kembali menjambak rambut Arla.
"Kamu tidak perlu tahu hal itu Frans! Mamih mau sekarang juga, usir wanita sialan ini, dan jangan sampai Mamih sendiri yang akan menyeretnya pergi dari sini!" bentak Erlita.
"Tidak Mamih, Frans akan tetap menikahinya!" jawab Frans tegas.
"Apa kau bilang?!" Erlita terkejut mendengar jawaban dari putranya. Dia berpura-pura pingsan agar Frans merasa simpati.
"Mamih!" panggil Frans sambil menghampiri ibunya.
*****
Satria mondar-mandir sambil berpikir keras ingin segera melancarkan aksinya membawa Arla pergi agar pernikahan itu tak terjadi. Dia berhenti berjalan saat Khalisa datang menghampirinya yang kini sedang berada di kantor.
"Pagi sayang," sapa Khalisa.
"Pagi juga!" jawab Satria sambil duduk di kursinya lalu berpura memainkan laptop.
"Satria, aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tapi ini adalah hal yang paling penting sekali," kata Khalisa yang kini duduk di meja Satria.
"Duduklah yang benar di kursi," kata Satria lagi sambil matanya memandang ke arah laptop berbeda sekali dengan pikirannya yang tidak fokus.
"Kalau aku duduk disini boleh kan?" Khalisa malah duduk di atas paha Satria, dia mengalungkan tangannya pada tengkuk suaminya yang merasa risih.
"Jangan seperti ini Khalisa, bagaimana jika ada karyawan yang lihat, aku bisa malu!" Satria melepaskan tangan Khalisa.
Khalisa cemberut mendapatkan balasan itu. Dia menggebrak meja dengan keras membuat Satria terkejut.
BRAK!!
__ADS_1
"Kenapa kau selalu bersipat seperti ini saat kita berduaan Satria? Berbeda sekali jika kita sedang bertemu dengan orang lain, aku kan sudah bilang padamu kalau aku akan menghapus semua perjanjian pra nikah yang pernah kita tandatangani dan aku ingin kita menikah sungguhan Satria!" bentak Khalisa.
BRAK!!!
Satria berdiri sambil menggebrak meja membuat Khalisa terkejut.
"Aku tidak ingin kita menikah sungguhan, dan aku tidak akan pernah melanggar perjanjian pra nikah yang pernah kita tanda tangani! Bukankah kau yang meminta sendiri kalau pernikahan ini hanya akan berlangsung dua tahun saja?" tanya Satria balik.
Khalisa terdiam sejenak mencerna ucapan Satria barusan. Dia baru ingat sekali jika waktu lalu, dia tidak pernah mengharapkan pernikahan ini menjadi pernikahan sungguhan. Makannya Khalisa sengaja memutuskan sendiri batas waktu pernikahannya dengan Satria agar dia bisa kembali menjalin kasih bersama pacarnya Andi.
Dia juga terpaksa menerima perjodohan dari kedua orang tua mereka sampai harus meninggalkan kekasihnya untuk menikah dengan Satria. Tapi, kini dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Satria meski dia sendiri masih menjalin kasih bersama Andi.
"Aku tahu kau masih mencintai mantanmu itu, tapi kita sudah menikah sekarang Satria, dan aku hanya ingin kau menjadi suamiku yang sesunggguhnya untukku, aku ingin tetap bersamamu selamanya, bukan hanya dua tahun saja," jelas Khalisa.
Satria memandang Khalisa lalu dia pergi setelahnya karena tak ingin mendengar apapun lagi dari istrinya.
Satria menelpon seseorang agar bisa diminta bantuan untuk merencanakan sesuatu. Dia berjalan cepat meninggalkan kantor agar Khalisa tidak bisa menguping pembicaraannya.
"Lakukan sekarang!" perintah Satria sambil melirik kesana-kemari takut ada seseorang yang mendengarnya.
Lelaki tampan bertubuh tinggi itu segera kembali berjalan menuju ruangannya. Dia sama sekali tak menyadari sedari tadi Andi berdiri di balik tembok mendengar semua pembicaraannya.
"Hallo, Khalisa, kita harus segera merencanakan sesuatu, sebelum Satria kembali membawa Arla!" ucap Andi saat panggilannya sudah tersambung.
"Apa yang dia katakan tadi? Apa dia juga sudah merencanakan sesuatu untuk membawa mantannya itu?!" tanya Khalisa.
"Kita bicarakan saja nanti," Andi menutup telpon karena seseorang kini sedang memandang ke arahnya.
Dia jadi salah tingkah lalu segera pergi mnyusul Satria.
*********
Di tempat lain Frans membawa Ibunya ke rumah sakit, sedangkan Arla mencari kesempatan untuk kabur. Dia tak punya pilihan lain selain pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Arla baru sadar siapa yang kini bisa dia hubungi. Dia segera pergi menuju kediaman Rianti sahabatnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah kontrakan Rianti, Arla menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Dia meminta Rianti untuk merahasiakan keberadaannya jika ada seseorang yang mencarinya.
"Lo tenang aja Arla, gue pasti bakal selalu lindungin lo, sekarang lo ganti baju dulu ya, setelah itu istirahat," kata Rianti.
"Iya, makasih Rianti, gue gak tahu harus berkata apalagi sama lo, makasih untuk tumpangannya," ucap Arla sambil tersenyum.
"Iya, gue ke kamar dulu ya, lo istirahat aja!" kata Rianti sambil pergi meninggalkan Arla sendiri di kamarnya.
Arla kembali meneteskan air mata mengingat beberapa kejadian buruk yang bertubi-tubi selalu saja datang menghampirinya. Dia mengelus perutnya perlahan, lalu berbicara dengan janinnya.
"Sayang...maafin Mamah ya, Mamah belum bisa kasih tahu sama Ayah kamu tentang keberadaanmu," ucapnya.
Arla membersihkan diri, lalu dia mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaian dia mendengar ada suara Satria di dalam ruang tamu.
"Dimana Arla?" tanya Satria pada Rianti.
"Maaf Pak, Arla tidak ada di sini," jawab Rianti gugup.
"Boleh saya coba periksa kamar dan beberapa ruangan?" tanya Satria.
"Eu..., tidak bisa pak, di kamar orang tua saya sedang istirahat, jadi mereka tidak bisa di ganggu," jawab Rianti terpaksa berbohong.
"Tapi saya hanya ingin memastikan saja!" Satria ngotot berjalan menuju kamar.
Rianti segera menghadang Satria yang akan membuka pintu kamar.
"Maaf Pak, seharusnya anda bisa menjaga sopan santun anda! Jika tuan rumah tidak mengijinkan, kenapa Bapak ngotot mau nerobos masuk?!" ujar Rianti kesal.
"Saya hanya ingin memastikan, itu saja!" jawab Satria.
"Lebih baik Bapak pergi sekarang, orang tua saya sedang tidak ingin di ganggu!" balas Rianti sambil mengarahkan tangannya ke pintu menyuruh Satria untuk segera pergi.
Satria tak ingin menggubris, dia yakin Arla pasti ada di kamar itu. Kemudian Satria menyingkirkan Rianti dari pintu, dia mengedor pintu demgan keras.
"Arla! Apa kau ada di dalam?! Kalau benar, keluarlah, aku akan membawamu pergi, aku akan terus melindungimu Arla, ayok keluar!" teriak Satria.
__ADS_1
Mendengar teriakan itu Arla malah ketakutan. "Ya ampun, bagaimana ini? Kenapa dia tahu jika aku berada disini?" gumam Arla.