Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Melepaskan cinta


__ADS_3

"Siapa yang kau hubungi barusan? Jawab!" bentak Frans pada Rianti yang kesakitan.


"Maaf, Frans, ta-tadi...,"


"Jawab yang benar atau kau akan tahu akibatnya jika berbohong!" sangkalnya sambil terus menjambak kuat rambut Rianti yang menangis kesakitan.


"Aku menghubungi Pak Satria," jawab Rianti jujur dengan terpaksanya karena dia takut Frans berbuat nekad.


Setelah puas mendapat jawaban itu dan mengetahui jika Arla sudah melarikan diri, Frans mendorong tubuh Rianti sampai wanita itu terjatuh.


"Kurang ajar, ternyata kau yang sudah menyelamatkan Arla dengan mengirim orang-orang ahli bela diri itu, awas saja kau Satria! Akan ku balas kau nanti!" kata Frans dengan tangan mengepal.


...****************...


Di dalam mobil yang terparkir jauh dari kediaman Frans. Arla, Satria juga Andi menunggu perkelahian anggota karate bersama bodyguard mereda. Seharusnya mereka memanfaatkan waktu itu. Tapi, Satria dan Andi kembali menimbang takut saja Frans sedang mengatur rencana jahatnya setelah mengetahui Arla sudah bersama mereka.


"Bagaimana ini?" tanya Andi.


"Kita tunggu dulu sebentar, aku akan menelpon polisi, dan kau atur semua anggota karate untuk segera meninggalkan lokasi!" perintah Satria.


"Baik, Satria!" jawab Andi yang segera melakukan perintah mantan atasannya.


Mereka bekerjasama dengan polisi untuk segera menangkap Frans yang sudah melakukan tindak kriminal. Polisi sudah datang dan berjaga di tempat persembunyian. Sedangkan Satria mencoba menelpon Frans agar dia mau keluar dari kediamannya.


"Jangan bersembunyi Frans, serahkan Rianti pada kami, kalau tidak kau akan tahu akibatnya!" ujar Satria dalam panggilan telpon.


"Hahahaha..., ancaman macam apa itu? Bahkan aku tidak takut sama sekali!" jawab Frans membuat Satria kesal.


Arla turun tangan, dia mengambil handphoen suaminya, lalu bersuara. "Dengar Frans, jika terjadi sesuatu dengan sahabatku, aku tidak akan memaafkanmu, jadi lepaskan Rianti sekarang juga!" bentak Arla.

__ADS_1


"Oh, ternyata ini suara kesayanganku, kenapa memangnya kalau aku tetap menyandra temanmu? Apa kau cemburu? Apa kau hanya ingin dirimu saja yang aku jadikan sebagai....,"


Mendengar ucapan Frans yang berhenti Arla mengerti jika Rianti begitu menderita di jadikan sebagai budak para orang-orang kejam. Air mata Arla menetes berjatuhan.


"Jika kau manusia, kau pasti punya hati Frans, ibumu seorang perempuan, bagaimana jika yang kau lakukan ini terjadi ke pada ibu atau saudara perempuanmu?" ucapan itu membuat Frans sedikit terasadar. Nyalinya menciut saat mendengar kata ibu.


Frans menutup telpon dengan tubuh lemasnya. Dia ingat sekali dengan kejadian beberapa waktu lalu yang harus menimpa ibunya. Ya, Arletta meninggal saat mengalami kecelakaan. Pesan terakhirnya hanya menginginkan Frans menikah dengan seseorang yang dia cinta.


Maka dari itu, Frans ngotot sekali ingin menikah dengan Arla. Membuat mata hatinya buta tak menerima bahwa Arla milik orang lain.


Isak tangisnya terdengar memenuhi ruangan menyadari ucapan Arla barusan. Hatinya teriris saat mengingat kepergian ibu tercinta. Meskipun mereka kurang dekat, tapi Frans begitu menyayangi ibunya.


"Maafkan Frans Mamih, mungkin Frans tidak bisa memenuhi keinginan terakhir Mamih untuk menikah dengan seseorang yang Frans cintai, dia tidak akan pernah menerima cinta Frans, dia sudah menjadi milik orang lain," ujarnya dengan lutut bertumpu di atas lantai.


Masih di dalam mobil, Arla dan Satria kebingungan karena telpon terputus begitu saja. Polisi sudah memberi kode untuk segera menangkap Frans di dalam bersama para anggotanya.


Terlihat Frans yang berjalan gontai dengan lemasnya keluar dari tempat persbunyiannya. Dia tidak menyadari beberapa polisi yang kini bergerak menodongkan p*stol padanya.


Frans kaget, dia merasa sudah di bodohi, lalu kembali mendekap Rianti sambil menodongkan senjata tajam pada leher gadis itu. "Kalau begitu, aku akan melakukan sesuatu pada perempuan ini, jangan berani mendekatiku, atau dia akan musnah!" ancam Frans.


"Arla, tolong aku..., hiks..hiks...," ucap Rianti ketakutan pada Arla yang sudah berdiri bersama Satria dan juga Andi di depan mobil mereka.


"Jika kamu ingin temanmu selamat, sebagai gantinya, kamu harua ikut denganku Arla!" kata Frans.


Memandang wajah Rianti yang begitu pucat dan juga mengiba meminta pertolongan membuat jiwa simpati Arla tergugah. Dia maju satu langkah, tapi Satria segera menangkap tangannya.


"Jangan lakukan itu, ini hanya tipu daya Frans saja!" kata Satria.


Cepat Arla menoleh ke arah suaminya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. "Aku akan baik-baik saja Satria, percayalah," ucap Arla kembali melangkah.

__ADS_1


"Arla, untuk apa menuruti Frans, di sini sudah ada polisi yang akan menangani, jangan pergi!" cegah Satria lagi.


"Nyawa Rianti dalam bahaya Satria, dia sudah berkorban banyak untukku!" Arla berlari menghampiri Frans yang langsung melepaskan Rianti.


Dengan kesal Satria meluapkan emosinya berteriak. Arla memasuki mobil yang di kendarai Frans. Entah akan kemana Frans membawanya.


Para polisi penegak hukum sulit bertindak membuat Satria kecewa. Mereka kembali mengikuti mobil yang di kendarai Frans.


"Arla, tenanglah, kali ini aku tidak akan berbuat aneh lagi," kata Frans di tengah-tengah mengemudikan kendaraannya.


Arla menoleh sambil berlikir keras tentang ucapan Frans barusan. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Arla.


"Aku akan membawa kau ke suatu tempat, di sana kau akan mengerti kenapa selama ini aku mengejarmu buta mata dan hati tidak peduli kau milik orang lain." Kata Frans tanpa melihat Arla.


Mendengar ucapan itu membuat Arla semakin penasaran dan juga yakin kalau Frans tidak akan bersikap buruk lagi.


Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di sebuah pemakaman umum. Melihat pemandangan di depan matanya kening Arla semakin mengerut.


"Apa maksudnya ini? Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Arla. Dia menoleh ke belakang. Tampak Satria juga para anggota polisi sudah siap siaga berjaga di sana.


Kini perempuan cantik itu tak perlu khawatir lagi jika saja Frans berbuat hal aneh padanya.


"Ikuti aku!" suruh Frans pada Arla yang menurut.


Dia terus saja berjalan berdampingan dengan Arla sambil menggenggam kuat tangan pujaan hatinya.


Langkahnya berhenti di sebuah batu nisan bertuliskan nama ibunya. "Lihat, makam siapa itu?" suruh Frans lagi. Segera Arla meliriknya. Dia terkejut saat membaca nama dari makam itu.


"Tante Arletta? Dia sudah meninggal?" tanya Arla lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa tak percaya.

__ADS_1


"Iya, sebelum dia meninggal, dia berpesan agar aku segera menikah dengan orang yang aku cintai. Itulah alasannya mengapa selama ini aku selalu mengejarmu, aku ingin memberikan kebahagiaan untukmu Arla, karena aku sangat mencintaimu," ucapan Frans terjeda. Pandangannya kini berganti pada makam ibunya.


"Tapi, aku salah mengartikan kata cinta. Cinta itu tidak seharusnya memiliki, dan cinta tidak seharusnya berbahagia dengan orang yang tidak mencintai kita. Bukan cinta namamya jika harus bertepuk sebelah tangan, seharusnya aku bisa merelakanmu bersama orang yang kau cinta." Sambung Frans.


__ADS_2