Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Bertemu Arla Secara Langsung


__ADS_3

Saat baru sampai di rumah sakit, Satria tak sengaja berpapasan dengan Frans. Mereka hanya saling berlirikkan dengan tatapan permusuhan.


"Dimana kau sembunyikan Arla?" Frans yang hendak melangkah menoleh ke arah Satria yang berdiri di sampingnya.


Mereka saling berhadapan sekarang. "Aku tanya di mana kau sembunyikan Arla?!" Satria meremas kerah baju Frans yang hanya terdiam memandangnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kau yang selama ini sudah menyembunyikannya, dan kau malah bertanya padaku?" Frans tersenyum sinis menjeda ucapannya.


"Aktingmu sungguh bagus Satria, kau memang pantas menjadi Aktor utama dalam film!" Frans melepas genggaman tangan Satria di kerah bajunya.


Mendengar hal itu Satria terdiam, dia melihat ke arah punggung Frans yang baru saja berlalu. Sepertinya dia sudah salah menuduh Frans sebagai pelaku penculikkan istrinya. Kemudian dia berjalan menuju ruangan perempuan yang selama ini belum di ketahui bahwa itu adalah istri keduanya.


Perlahan Satria membuka pintu, terlihat seorang suster tengah melakukan pemeriksaan di ruangan Arla. Satria juga melihat Arla kini sudah siuman. Senyumnya terukir lalu dia melangkah menuju perempuan yang duduk di atas ranjang yang wajahnya masih di penuhi dengan perban.


"Tunggu! Anda mau kemana Pak?" cegah suster perempuan itu menahan tangan Frans.


"Saya mau menjenguk wanita ini," jawab Satria sambil terus melihat ke arah Arla yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Maaf, Pak, sebaiknya anda tunggu di luar terlebih dahulu, pasien baru saja siuman, dan seharusnya pasien lebih banyak istirahat," kata suster cantik itu.


"Tapi, sus...,"


"Saya harap anda mengerti, dan tolong kerja samanya demi kesembuhan pasien,"


"Baiklah Sus," Satria mengalah meski hatinya ingin sekali berbicara dengan Arla.


Isak tangis pecah seketika saat Satria sudah keluar dari ruangan itu. Arla menangis tersedu-sedu karena rasa rindu juga rasa sakit kehilangan cabang bayi mereka beberapa minggu yang lalu setelah kecelakaan itu terjadi. Percakapannya dengan Diana ibunda Satria membuatnya hatinya terus saja teriris.


"Aku harap kamu akan menepati janji kamu, jangan biarkan saya gagal di beri imbalan oleh bu Diana!" kata suster itu lalu pergi setelah mengucapkannya.

__ADS_1


Arla hanya menangis mendengarnya. Dia tak kuasa menahan sakit hati karena beberapa menit yang lalu dia sudah menyepakati sebuah janji dengan ibu Satria. Perjanjian yang begitu berat untuk bisa dia terima, namun itulah yang kini sudah terjadi.


Arla terpaksa menyepakatinya demi kebaikan dia dan juga Satria.


"Maafkan aku Satria," ucap Arla sambil menangis.


Hatinya menjerit, dia tidak tahu jika apa yang akan sebenarnya terjadi nanti. Sungguh menyakitkan rasanya jika harus berpisah dengan orang terkasih untuk yang kedua kalinya.


"Satria, kenapa kamu nunggu di luar? Kenapa gak langsung masuk aja?" Herman tiba-tiba datang menghampiri putranya yang tengah duduk.


"Eh, Pah, tadi suster tidak mengizinkan Satria masuk, katanya pasien baru saja siuman dan tidak boleh di ganggu demi kesehatannya,"


"Loh, baru dengar Papah tentang pasien yang baru siuman tidak boleh di ganggu, bukankah kita ini termasuk wali nya? Kita yang bertanggung jawab atas dia, kenapa malah di larang masuk segala? Udahlah, Papah mau masuk saja!" Herman tak peduli dengan ucapan putranya, dia langsung masuk saja.


"Eh, tapi Pah...," ucapan Satria terhenti karena Herman tidak mendengarkannya.


Satria mendengkus melihat sikap ayahnya yang memang selalu seperti itu. Dia menyusul ayahnya masuk ke ruangan VVIP yang kini menjadi tempat di Arla di rawat.


Mata Arla kini tertuju pada Satria yang baru saja masuk.


Deg!


Jantungnya berdetak melihat Satria yang kini berdiri di samping Herman.


"Saya ingin mengucapkan rasa terimakasih ke pada kamu karena kamu sudah menyelamatkan nyawa istri saya, dan saya ingin meminta maaf atas semuanya, karena kejdian ini kamu mengalami...,"


"Saya mengerti Pak, saya menolong istri anda sangat ikhlas, saya harap dia baik-baik saja sekarang," ucap Arla terpaksa memotong ucapan Herman karena takut jika Satria akan mendengar jika bayi yang tengah di kandungnya sudah meninggal.


"Sekali lagi terimakasih banyak nak, saya tahu jika kamu pasti orang yang sangat baik, jika saya boleh tahu, siapa nama kamu?" tanya Herman.

__ADS_1


"Nama saya...., nama saya Andini Pak," ucap Arla lagi-lagi berbohong.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya itu kening Satria mengerut. Dia merasa suara itu tak asing di telinganya. "Kenapa suara wanita ini mirip dengan suara Arla?" batin Satria.


"Baik, nak Andini, sebagai rasa terimakasih saya, saya ingin mengajak kamu untuk tinggal di rumah saya, setelah kamu pulih nanti, sekarang wajah kamu kan belum bisa di lepas perbannya. Jadi, kalau nanti kondisi kamu sudah membaik, saya akan mengajak kamu untuk tinggal di rumah kami, apa kamu tidak keberatan? Atau mungkin kamu masih punya keluarga di sini?" tanya Herman.


"Papah, mungkin saja Andini sudah mempunyai keluarga, kenapa Papah tiba-tiba memintanya untuk tinggal di rumah?" sambung Satria yang merasa heran pada ayahnya.


"Satria...,"


"Iya, saya tidak punya keluarga Pak, saya setuju untuk tinggal bersama kalian, maaf jika jawaban saya terlalu cepat," ucap Arla menahan tangisnya sebisa mungkin.


"Kamu tidak punya ayah dan ibu? Sudah tidak punya keluarga?" tanya Satria.


Arla menggeleng menjawabnya. Melihat hal itu jiwa simpati Satria muncul, dia merasa iba dengan keadaan perempuan itu. Harapannya yang begitu yakin jika wanita itu adalah Arla kini sudah pupus karena baru saja wanita itu berbicara jika dia hidup sebatang kara.


Tring!


Suara panggilan telpon dari Handphone Herman membuat laki-laki bertubuh gempal itu segera pamit keluar untuk menerima panggilan telpon. "Maaf, saya keluar sebentar ya," ucapnya sambil pergi.


Tinggallah Satria dan Arla yang kini malah saling memandang. Arla menjadi salah tingkah di perhatikan oleh suaminya sendiri, dia takut Satria akan mengenalinya. Mengingat janji kesepakatan yang sudah dia lakukan bersama Diana.


"Apa kamu sudah pernah menikah?" tanya Satria yang kini merubah posisinya menjadi duduk di kursi.


"Bagaimana ini? Kenapa dia malah terus saja bertanya yang memojokkan?" batin Arla ketakutan.


"Tidak apa-apa kalau tidak mau menjawab. O, ya, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih padamu, berkatmu ibuku masih hidup sekarang, kamu hampir kehilangan nyawamu karena menyelamatkannya, aku harap kamu akan mendapatkan balasan yang baik dari Tuhan, terimakasih Andini," ucap Satria sambil tersenyum.


"Lekas sembuh ya, aku harus segera ke kantor lagi, istirahatlah yang banyak agar cepat pulih," ucap Satria yang terlihat begitu lemas sekali. Dia membalikkan tubuhnya berjalan perlahan menuju pintu.

__ADS_1


Sedangkan Arla hanya memandangnya dengan air mata yang kini menetes membasahi perban yang menutupi wajahnya.


"Semoga kau sehat selalu Satria, maafkan aku," ujar Arla lirih.


__ADS_2