Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Jatuh Cinta


__ADS_3

Arla sudah memberi kode kepada Satria , tapi laki-laki itu tetap tidak mengerti.


"Nyonya Khalisa, apa Nyonya butuh sesuatu?" tanya Arla yang membuat mata Satria melotot lalu dia berbalik badan.


"Saya cuma mau lihat kondisi kamu saja, sepertinya kamu baik-baik saja Juminten, nama kamu Juminten kan, bukan Arla?" tanya Khalisa yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Melihat ada yang tidak beres dari sikap istrinya, Satria tersenyum sambil mengiring tubuh Khalisa. "Kita istirahat di kamar saja, nanti biar Frans yang periksa Juminten, sebentar lagi dia akan segera sampai," kata Satria.


"Tapi, aku mau tahu dia itu beneran sakit, atau cuma cari perhatian aja sama kamu, kamu gak lihat apa sayang, dia tuh baik-baik aja, dan apa yang kamu katakan tadi dia muntah-muntah itu cuma akal-akalan dia saja biar kamu perhatian! Benar begitu kan Juminten?!" bentak Khalisa.


Arla menggeleng lesu mendengarnya. Memang Khalisa sungguh keterlaluan menuduhnya hanya berpura-pura saja.


Ting tong!


Bel berbunyi tanda Frans sudah datang, Satria segera berjalan untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, tampak Frans yang sudah basah kuyup akibat kehujanan saat keluar dari mobil.


"Masuk!" kata Satria pada sahabatnya.


Frans sudah terbiasa dengan sikap Satria yang tidak ramah. Dia berjalan mengikuti langkah sahabatnya.


"Apa maksud kamu berpura-pura sakit hah?! Kamu cuma mau cari perhatian suami saya saja kan? Jangan mimpi kamu Juminten, kalaupun kamu cantik, Satria tidak akan pernah tergoda sama wanita kampung seperti kamu!" kata Khalisa saat Frans dan Satria datang.


"Sudahlah Khalisa, jangan cemburu berlebihan, jangan menuduh yang tidak-tidak juga pada Juminten," kata Satria.


"Kamu selalu saja membela dia, udah ah, aku mau ke kamar saja, dari pada harus terus emosi di sini!" Khalisa pergi dengan menghentakakn kakinya menuju kamar.


"Masuk aja Frans!" suruh Satria pada Frans yang masih berdiri.


"Iya,"


"Tunggu dulu! Saya sudah baik-baik saja, tadi saya sudah minum obat masuk angin," cegah Arla pada Frans yang akan masuk ke kamarnya.


Frans memandang ke arah Satria lalu dengan wajah juteknya dia kembali memandang ke arah Arla. "Terserah!" jawabnya dingin.


"Frans, cepat masuk dan periksa dia!" titah Satria.


Frans hendak melangkah, tapi Arla menahan tubuhnya membuat Frans yang tadinya tak memandang ke arahnya kini menatap wajah Arla.


pembantu kok secantik ini! ujarnya dalam hati.


Satria melihat ke arah Frans yang begitu serius memandang Arla. Dia tidak ingin sampai sahabatnya itu terpesona akan kecantikan pujaan hatinya. Segera Satria menyenggol lengan Frans.


"Cepat masuk!"

__ADS_1


"Saya sudah baik-baik saja Tuan Satria, dan saya tidak mau di periksa, apalagi kalau Dokternya laki-laki!" tegas Arla beralasan.


Arla kekeh tidak ingin di periksa bukan dengan alasan yang sudah dia katakan. Melainkan, dia tak ingin ada satu orangpun yang tahu atas kehamilannya itu apalagi Satria.


Pagi tadi Arla sudah membeli tespack dan mencobanya saat itu juga, karena merasa berfirasat buruk tentang kondisi fisiknya dan juga mual muntah yang selalu saja terjadi di pagi hari.


Tes kehamilan itu menunjukkan dua garis merah yang menandakan jika dia tengah mengandung benih Satria. Sedih rasanya, hancur juga merasa tak percaya akan semua itu.


Arla bertekad akan menyembunyikan kehamilannya sampai satu bulan mendatang karena dia tidak memiliki cukup uang untuk bertahan hidup. Maka dari itu, Arla mencoba bertahan bekerja sampai bulan depan, setelah itu dia akan pergi dari kehidupan Satria.


"Sudahlah! Kalau begitu aku akan pulang saja!" Frans berjalan kembali menuju pintu.


"Frans, loh, kok lo malah cabut sih?!" tanya Satria yang mengikuti Frans.


"Yang mau di periksanya gak mau!"


"Lo harus periksa dia, pastikan kalau dia baik-baik saja, dan pastikan kalau dia tidak hamil," kata Satria.


"Apa? Hamil?" tanya Frans.


Frans dan Satria tidak berhasil membujuk Arla untuk di periksa, akhirnya Frans menginap di rumah Satria karena bajunya yang basah kuyup juga malam yang sudah semakin larut.


********


Frans memperhatikannya dari Sofa saat Arla tengah mencoba memasak menggunakan masker. Dia merasa curiga pada Arla karena sejak tadi subuh Arla selalu saja ke toilet seperti mual muntah.


"Sayang...Mamah datang!" suara seorang perempuan terdengar mendekat berjalan menuju dapur.


"Eh, Nak Frans, kapan datang?" tanya perempuan itu.


"Semalam Tante, Frans nginap disini," jawab Frans sambil mencium punggung tangan Yulia.


"Ooh, iya, Satria sama Khalisa mana? Apa mereka belum bangun?" tanya Yulia lagi.


"Ya, sepertinya begitu Tante," jawab Frans singkat.


"Benar-benar kayak pengantin baru saja mereka berdua itu, selalu saja bangun kesiangan," Yulia tak sengaja melihat Arla yang tengah memasak di dapur.


"Eh, kamu siapa?" Yulia berjalan menghampiri Arla.


"Saya pembantu di rumah ini, nama saya Juminten," jawab Arla.


"Ooh, Juminten? Kayak nama orang dulu aja, kampungan banget sih! Pasti kamu orang miskin ya!" kata Yulia sambil memandang Arla dari atas sampai bawah.

__ADS_1


Di lihatnya kulit putih bersih nan mulus milik Arla dari atas sampai bawah. Yulia penasaran dengan wajah Arla yang memakai masker, dia melepas masker dari wajah Arla.


"Kalau sedang bekerja jangan pakai masker! Sekarang sudah bebas covid! Bikin orang risih aja lihat nya!" kata Yulia.


Ya ampun, ini pembantu kok cantik amat sih, udah gitu putih bersih, mulus lagi. Bisa-bisa menantuku jadi jatuh cinta sama dia, ini tidak boleh di biarkan!


Yulia berbicara dalam hati memuji kecantikan Arla yang luar biasa. Dia akan merencanakan sesuatu agar Arla sgera di tendang dari rumah itu.


*******


"Tadi Mamah lihat pembantu kamu di dapur lagi masak, dia pake masker segala lagi, dia bener pembantu kamu kan?" tanya Yulia yang kini berada dalam mobil bersama Khalisa di sampingnya.


"Iya, dia pembantu di rumah, baru bekerja dua minggu lebih, emangnya kenapa Mah?"


"Dia itu cantik banget Khalisa, kamu seharusnya gak mempekerjakan pembantu cantik kayak gitu, bisa-bisa Satria jadi suka sama dia!" kata Yulia pada putri semata wayangnya.


"Iya, tapi kan aku sudah terlanjur memecat semua pelayan dan di jaman sekarang ini susah mencari pegawai tang mau di gajih dengan gajih yang kecil kayak si Juminten ini Mah, aku juga berpikir sama dengan Mamah, tapi aku sudah merencanakan sesuatu agar pembantu kampung itu tidak kurang ajar!" jawab Khalisa.


"Memangnya apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Yulia penasaran.


"Nanti Mamah akan tahu sendiri,"


******


Frans tak pergi bekerja karena ini hari liburnya. Dia berniat berdantai di rumah Satria sambil mencuri pandang pada Arla yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Saat Arla menaruh kopi di atas mejanya, dia menahan tangan Arla yang hendak pergi. "Saya tidak suka kopi moca, saya mau kamu buatkan kopi hitam saja," kata Frans.


Karena risih, Arla melepaskan diri dari Frans yang baru tersadar sudah memegang tangannya. "Astaga, apa yang aku lakukan?" ujarnya lirih sambil mengusap wajah setelah Arla pergi.


"Arla, buatkan aku kopi moca!" kata Satria yang baru saja datang.


Hanya mengangguk saja, Arla melirik Satria tanpa berkata apapun. Dia segera menyiapkan kembali pesanan dua orang laki-laki di rumah itu.


Satria juga meliburkan diri hari ini. Dia merasa tak enak jika harus bekerja sementara sahabatnya sedang berlibur di rumahnya. Satria berjalan lalu duduk di sebrang sofa Frans yang masih memandang ke arah Arla.


"Ngapain lo senyum-senyum sendiri?!" tanya Satria.


Frans tersadar Satria melihat tingkahnya yang aneh. Dia buru-buru mengganti pandangannya yang kini salah tingkah.


"Enggak, gue gak apa-apa!" jawabnya.


Karena merasa curiga, Satria nelihat ke arah Arla. Dia yakin, jika Frans tadi sedang memperhatikan Arla sambil tersenyum sendiri. Tidak biasanya Frans yang di kenal dengan sikap dimginnya itu bisa tersenyum saat melihat Arla yang tengah sibuk bekerja.

__ADS_1


__ADS_2