
Baru saja akan mengungkung Arla, seorang bodyguard datang menerobos membuka pintu kamar. Sontak saja Frans menoleh kesal ke arah bawahannya itu.
"Bos!"
"Astaga! Kau ini mengganggu sekali!" ujar Frans kesal lalu berjalan menghampiri bodyguardnya.
"Maaf mengganggu waktunya Bos, di depan ada keributan!" katanya dengan nafas turun naik.
"Keributan apa?" tanya Frans penasaran.
"Coba Bos liat dulu ke depan!" ucapan bodygyard itu membuat Frans melngkah meninggalkan kamar.
Sementara, tiba-tiba saja dua orang bermasker memasuki kamar Arla. Melihat dua orang yang menurutnya asing, Arla merasa ketakutan. Dia menangis karena takut kembali menjadi tawanan orang lain selain Frans.
"Ini aku, Satria!" ujar Satria sambil membuka masker saat mendekati Arla.
Mata Arla berbinar penuh haru, matanya juga berkaca-kaca. Dia langsung saja memeluk Satria dengan eurat sambil mnangis.
"Satria, tolong selamatkan aku," ucapnya sambil menangis.
"Iya sayang, aku akan menyelamatkanmu sekarang, ayok kita pergi dari sini," balas Satria yang juga memeluk istri keduanya itu tak kalah euratnya.
"Cepatlah Satria, kita tidak punya banyak waktu lagi!" ujar Andi sambil melirik kesana dan kemari takut Frans datang kembali.
"Iya, ayok kita pergi sekarang sayang," Satria membantu Arla berdiri.
Mereka bertiga mengendap-endap berjalan melalui pintu keluar dengan hati-hati. Suara perkelahian di luar masih terdengar riuh.
Frans yang baru datang melihat keadaan luar juga terkejut. Bagaimana bisa secara tiba-tiba ada beberapa orang jago karate menyerang markas tersembunyi miliknya.
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengirim mereka kesini?" tanya Frans pada bodyguard yang berada di sampingnya.
"Aku tidak tahu bos!"
PLAK!
__ADS_1
"Kau selalu saja bilang tidak tahu, kau pikir aku tidak menggajihmu? Kerja yang benar sekarang! Aku tidak mau tahu, perintahkan mereka untuk mengalahkan orang-orang suruhan itu, dan biarkan mereka berlutut di hadapanku!" perintah Frans dengan nada kemarahan.
"Ba-baik Bos!"
"Awas saja jika semua itu gagal, kau tidak akan pernah mendapatkan sepeserpun imbalan dariku!" tambah Frans lagi yang membuat bodyguardnya meringis.
"Siap Bos, tenang saja, ku pastikan semuanya beres!" balasnya santai.
Tanpa mereka ketahui Arla sudah melarikan diri bersama Satria dan Andi melewati pintu belakang. Mereka kini berhasil keluar dari tempat asing nan terpencil yang terletak di daerah bukit pegunungan.
"Akhirnya kita bisa kelur juga!" ucap Andi merasa lega yang baru memasuki mobil.
"Huaaahhhh...aku juga merasa lega sekali, terimakasih Andi, kau sudah membantuku menemukan istriku," ucap Satria sambil tersenyum melirik Arla di sampingnya. Dia merangkul bahu istrinya sambil mendaratkan kecupan di pipi Arla.
Arlapun membalasnya dengan mengecup bibir suaminya tanpa merasa malu di lihat Andi dari kaca spion dalam.
Andi tersenyum melihat kemesraan mereka. Dia jadi berandai-andai bisa melakukan adegan romantis dengan pasangan. Tapi sayang, orang yang selama ini dia cinta, selalu saja membuatnya kecewa dengan berbuat jahat ke pada orang lain.
Ya, meskipun niat awalnya hanya ingin membalaskan dendam pada kedua orang tua Khalisa dengan memanfaatkan putrinya, setidaknya Andi malah merasakan jatuh cinta sungguhan. Tak jarang dia selalu memikirkan Khalisa di sela-sela kesibukkannya.
Bunyi handphone Satria bergetar tanda panggilan masuk dari seseorang. Dia merogoh benda pipih itu, melihat siapa si penelpon yang kini memanggilnya.
"Siapa?" tanya Arla.
"Tidak tahu, ini nomer tak di kenal," jawab Satria hendak menolak panggilan itu.
"Jangan di tolak, angkat saja siapa tahu penting!" cegah Arla.
"Baiklah!" Satria mengangkat telponnya karena permintaan dari istri tercinta.
"Hallo, siapa ini?" ucap Satria memulai obrolan.
"Aku Rianti, aku teman Arla, hiks...hiks..., tolong aku," ucap seseorang di sebrang sana.
"Rianti?" ucap Satria sambil melirik Arla yang terkejut merasa heran juga kenapa Rianti bisa menelpon ke nomer suaminya.
__ADS_1
Satria menyerahkan handphone itu ke tangan istrinya yang mungkin saja mereka akan lebih nyaman jika berbicara sesama perempuan.
"Rianti, ini aku Arla, apa yang terjadi?" tanya Arla cemas.
"Arla, sudah lama aku di kurung di tempat biadab ini! Tolong aku, menelpon ke nomor ini saja aku hanya punya waktu sedikit, aku mohon tolong aku, aku sudah tidak sanggup lagi menjadi budak nafsu para lelaki b@jing@n itu!" mohon Rianti sambil menangis.
"Astaga, Rianti, baiklah, aku akan menolongmu, dimana kamu sekarang?"
"Aku di sekap oleh Frans, aku berada di sebuah rumah yang terletak di bukit pegunungan. Aku sudah tidak tahan lagi, cepat kesini tolong aku!" ucap Rianti lagi.
Mata Arla memebelalak, ternyata Rianti juga di sekap di rumah yang sama dengan Arla. Karena masih syok, Arla terdiam sejenak.
"Arla, kenapa diam? Cepat tolong aku di sini!" kata Rianti lagi tak sabar ingin segera mendapat bantuan agar bisa terlepas dari jeratan kej@m orang-orang b@jing@n itu.
"Iya-iya, aku dan satria akan segera kesana, kamu tenang dulu Rianti, kita pasti akan segera menyelamatkanmu, tenang ya," ucap Arla lagi.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Rianti?" tak hentinya Satria bertanya.
"Rianti ada di tempat itu juga, dia meminta bantuan padaku agar aku segera menolongnya. Bagaimana ini? Kita tidak mungkin kembali, tapi sahabatku membutuhkan aku." Kata Arla.
"Kita kembali saja," jawab Satria tegas.
"Iya, tapi apakah Frans tidak akan kembali menangkapku? Aku takut Satria," Arla memeluk suaminya dengan perasaan gelisah. "Maksudku bukannya tidak ingin menyelamatkan Rianti, aku sangat ingin menyelamatkannya, tapi aku tidak mau kalau Frans kembali menangkapku." Jelas Arla kemudian.
"Iya, aku mengerti maksudmu Arla, kamu pasti sangat ketakutan. Tapi, aku yakin, Frans tidak akan bisa melawan kita lagi atau menangkapmu karena kita mempunyai banyak orang karate yang bisa di andalkan, jangan khawatir Arla, kamu akan baik-baik saja bersamaku sekarang." Satria mencoba menenangkan istrinya.
"Iya, menurutku juga seperti itu, tidak ada salahnya kita kembali ke sana," sambung Andi yang berada di bagian kemudi.
Sementara itu, Rianti baru saja bangkit setelah menelpon Satria. Sebelumnya dia menemukan sebuah kertas kecil berisikan nomer Satria. Makannya Rianti memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan menghubungi nomer itu saat beberapa bodyguard pergi ke depan.
Baru saja dia bangkit, Frans sudah berdiri di hadapannya. Frans menyeringai, sambil melipat tangan dengan santai di dadanya, dia memandang Rianti menggambarkan ekspresi kecewanya.
"Mulai berani kau melawanku dengan meminta bantuan ke pada orang lain. Kau pikir aku tidak tahu?" Frans menjambak rambut lurus Rianti seperti waktu itu.
Beberapa waktu yang lalu dia sempat menodongkan senjata tajam ke pada Rianti saat Arla pergi dari rumah Rianti. Dia meminta Rianti agar memancing Arla untuk kembali ke rumahnya. Tapi sayang, rencananya malah gagal. Sampai pada akhirnya Frans menyuruh para bodyguardnya untuk menyekap Rianti.
__ADS_1